My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Hanya mimpi



Keesokan harinya...


Hanna mulai bergerak, tubuhnya terasa pegal, saat membuka mata, kepalanya terasa pusing, wajahnya mengernyit, ia mencoba mengingat kejadian semalam.


Hanna baru menyadari kalau dia kini berada di kursi belakang sebuah mobil. Semalam sepertinya dia tertidur di dalam mobil dengan jendela yang sedikit teebuka di bagian atasnya.


" Sudah bangun... " suara seseorang mengejutkannya.


Hanna langsung fokus menatap seorang pria yang tengah duduk di kemudi dan tangannya berpangku pada setirnya.


" Bli... semalam, apa yang terjadi ? kenapa kepalaku terasa berat " tanya Hanna.


" Semalam, kau menghabiskam sebotol minuman yang tidak kita pesan, pelayannya salah masuk ruangan, kau mabuk tuan putri... !!" ucap Aji.


" Astagfirullah, minuman itu, kupikir cuma minuman rasa buah, soalnya rasanya manis sekali sih... !!" sanggah Hanna.


Aji hanya menatapnya sekilas lalu kembali membuang wajahnya dari hadapan Hanna. Dia seolah sedang menyembunyikan sesuatu di wajahnya.


" Terus kenapa gak masuk ke dalam, semalam aku tidur disini rasanya pegal banget nih... mana jendelanya kebuka gitu, masuk angin aku kayaknya... " Hanna mengernyit dan memijat pundaknya.


" Aku gak tahu pasword baru pintu rumahmu, kalau aku menelpon kak Wan dan tanya padanya, kau dan aku bisa habis di lalap sama dia, mau... ?" Aji mencoba berkilah.


" Iya juga sih... yaudah, aku mau masuk, kau mau ikut sarapan di rumahku gak ? aku mau masak dulu !!" Hanna mulai merapihkan rambutnya yang nampak berantakan.


" Tidak, aku mau pulang saja, badanku juga pegal semalam tidur sambil duduk di sini, cepat turun sana !!" Aji mengusirnya.


" Cih... dasar... " Hanna pun turun perlahan dari mobil. Kepalanya yang masih terasa berat membuatnya hampir beberapa kali terjatuh karena tersandung kakinya sendiri.


Aji dari dalam tidak bisa berbuat apa - apa, dia ingin turun membantunya masuk ke dalam rumahnya, namun, dia malu dengan keadaan dirinya sendiri saat ini.


Pandangannya tertuju pada bagian bawahnya yang kini tertutupi oleh jaketnya dan dia menyingkapnya sebentar dari pahanya.


Celana Aji yang berwarna biru itu, nampak basah sebagian.


" Ya dewa, bisa - bisanya aku semalam mimpi bergulat bersamanya di atas ranjang, bisa mati aku kalau hal itu benar - benar terjadi " Aji menutup matanya sesaat dan menghembuskan nafas kasar. Lalu dia mulai menyalakan mesin mobilnya dan pulang ke markasnya untuk membersihkan dirinya.


Jadi, semalam itu dia mimpi basah gaes...


Malam itu, Aji kembali memasukkan Hanna ke dalam mobil karena dia tidak tahu pasword baru kunci rumah Hanna. Aji menidurkan Hanna di kursi belakang. Dan dia duduk di kursi kemudi.


Aji yang merasa lelah karena tenaganya terkuras setelah menggendong Hanna berkali - kali mencoba bersantai sejenak di kursinya. Namun, lama kelamaan dia mulai kesulitan membuka matanya. Aji pun mendorong kursinya agak ke belakang dan merebahkan dirinya di atasnya.


Sebelum benar - benar memejamkan matanya, Aji sempat menatap wajah Hanna yang sedang tertidur pulas beberapa sentimeter di depannya. Dan, mimpi indah itu pun di mulai. Sekian.


...****...


Siangnya....


Hanna kembali harus beraktifitas seperti biasanya...


Kali ini, yang mengantar jemputnya adalah Bram.


" Pak Bram, aku kira bli Aji lagi yang mengantarku " Hanna sedikit kecewa.


" Si Aji tidur dia mbak, katanya semalam kurang tidur jagain mbak takut ada yang nyulik pas lagi tidur " jawab Bram.


Hanna tidak berkomentar, dia hanya memajukan bibirnya seperti bebek.


Padahal, pada kenyataannya bukan seperti itu.


Beberapa jam yang lalu...


Sepulangnya Aji ke markas, dia langsung mandi dan membersihkan diri dan pikirannya dari mimpinya semalam.


Di bawah kucuran air shower, Aji nampak melamun sesaat. Bayangan mimpinya semalam nampak begitu nyata. Namun, raut wajah senangnya berubah menjadi sendu.


Selesai mandi dan berpakaian, dia langsung mengambil kunci mobilnya dan melajukannya menuju suatu tempat.


Di depan sebuah rumah yang kecil dan sederhana, sebuah rumah tradisional masyarakat Bali, Aji menghentikan mobilnya. Begitu dia mematikan mesin mobilnya, dia bergegas turun dan berjalan menghampiri pintu rumah tersebut. Alas kakinya di buka sebelum ia melangkahkan kakinya di teras rumah.


Belum juga dia mengetuk pintunya, Bram sudah muncul di hadapannya.


Aji ternyata mengunjungi rumah Bram karena satu hal.


Kini Aji dan Bram sudah duduk di kursi rotan yang ada di teras depan.


Sebelum Aji dan Bram berbicara, istri dari Bram sempat membuatkan teh hangat untuk mereka berdua.


" Terima kasih banyak, Dayu !!" ucap Aji dengan logat orang Bali.


" Silahkan gus, maaf cuma ada air teh, makan di sini ya, tak masakin dulu sekarang !!" ucap istri Bram dengan logat Bali pula.


" Matur suksma, Dayu, saya hanya sebentar, tidak akan lama " jawab Aji.


Dan setelah istri Bram masuk ke dalam.


" Ada apa bro, jangan bilang ada tugas dadakan !!" ucap Bram, raut wajahnya penuh curiga.


Aji tidak berkomentar, dia hanya menyerahkan kunci mobil pada Bram.


" Gua kan lagi libur, hari ini tugas lu kan ?" Bram agak sewot.


" Pliss Bram, gua udah gak kuat deket dia lagi, gua takut khilaf, bantuin gua kali ini aja, seterusnya nanti gua yang ngomong sama kak Wan biar lu ama Tio yang giliran nganter jemput dia " Aji terlihat penuh harap.


" Semalem lu ngapain emang sama dia ?" Bram nampak curiga.


" Elu sih, kaya gak ada cewe laen aja, yaudah bentar, gua bawa kunci motor lu dulu " Bram pun beranjak dari kursinya dan masuk ke dalam rumah.


Setelah Aji mendapatkan kunci motor, dan berpamitan pada istri Bram, dia pun pulang dengan mengendarai motornya menuju rumah Siwan.


......****......


Malam hari pun, saat Hanna pulang bekerja, Bram yang menjemputnya.


Hanna tidak bertanya tentang keberadaan Aji lagi pada Bram, dia hanya bertanya tentang kejadian malam kemarin.


" Emh... pak Bram, kemarin kan aku sama bli Aji pergi naik motor, kok bisa - bisanya pas aku bangun udah di dalam mobil ini, pak Bram semalam jemput aku, eh kita maksudnya ?" tanya Hanna terlihat penasaran.


" Iya, si Aji khawatir kalau bawa mbak pulang naik motor dalam keadaan mabuk, makanya dia telepon minta di jemput, tapi aku pulang naik motornya mbak, memangnya kenapa ?" tanya Bram, curiga.


" Gak apa - apa, cuma mau tau aja !! emh... pak, jangan bilang ahjussi ya kalau aku mabuk tadi malam, cuma pak Bram sama bli Aji aja yang boleh tau !!" ucap Hanna.


" Iya tenang aja mbak, kasihan si Aji kalau ampe pacar mbak tahu dia bikin pacarnya mabuk " ucap Bram.


" Emang, kalau tahu, ahjussi bakal kayak gimana sama bli ?" tanya Hanna.


" Emh... gak tahu juga sih, kalau sama Aji, kak Wan selalu ada pengecualian biasanya, tapi kalau sama orang lain, ya minimal pipi kiri kanan bengkak, itu minimal loh ya... " ucap Bram, ember bocor banget dia mah.


" Kalau maksimalnya ?" tanya Hanna.


" Ya... lebih dari itu, hehe... " jawab Bram, ambigu.


" Pernah ya... ngalamin ya di bikin bonyok sama ahjussi ?" tanya Hanna.


" Hehe... udah ah, saya jadi ember gini, nanti ketahuan kak Wan bisa - bisa saya di pecat !!" ucap Bram.


" Kenapa sih, kok takut banget sama ahjussi, emang dia nyeremin banget ya ? tapi kalau lagi sama aku meskipun dia marah, belum pernah bikin aku menggigil ketakutan !!" ucap Hanna.


" Yah si mbak ini gimana, ya beda lagi lah, apalagi mbak cewe yang kak Wan cintai, mana berani dia bikin mbak takut apalagi nyiksa kaya ke kita - kita, nanti mbak kabur dia sendiri yang rugi " tegas Bram.


" Oh... jadi ahjussi suka nyiksa anak buahnya ?" tanya Hanna.


" Haduh.... gawat, mati aku !!" gumam Bram.


" Bukan, bukan nyiksa beneran maksudnya, cuma ngasih pelajaran aja kalau kita karyawan nya gak patuh atau bikin kesalahan yang bener - bener fatal gara - gara kita teledor " ujar Bram.


" Oh... gitu... udah berapa lama sih pak Bram kerja sama ahjussi ?" tanya Hanna.


" Emh... belum lama sih, baru 5 tahun " jawab Bram.


" 5 tahun belum lama menurut pak Bram ?" Hanna terlihat keheranan.


" Iya lah, Aji udah 10 tahun, gak tahu lebih... " ucap Bram.


" Waw... " Hanna merasa takjub.


" Sebetulnya hal yang bikin aku setia sama pekerjaanku dan kak Wan yang harus mbak inget adalah, dia itu setia kawan, dia banyak berjasa selain dari materi, tenaga dan pikirannya, dia gak pernah setengah - setengah kalau belain orang - orang yang berdiri di samping dan di belakangnya. Tapi dia gak pandang bulu kalau masalah pengkhianatan, apapun alasannya, dia bakal babad sampai tuntas " ucap Bram, seolah memberi Hanna peringatan.


Tanpa terasa, mereka sudah sampai di halaman rumah Hanna.


" Makasih banyak ya pak Bram, aku pulang ya !!" Hanna membuka seatbelt nya.


Sebelum turun, Bram berkata sesuatu pada Hanna.


" Mbak, kalau butuh bantuan apapun, jangan sungkan ya, telepon saya aja kapanpun, dimanapun " ucap Bram.


" Wah... makasih banyak ya, siap deh pak Bram " ucap Hanna, lalu turun dari mobil dan berjalan menuju rumahnya.


Setelah memastikan Hanna masuk ke dalam rumah, Bram pun pergi menuju markas yang dekat dengan rumah Hanna.


Di sana, sudah ada Aji yang sedang mengawasi cctv di sekitar rumah Hanna.


" Bro... hutang ama gua lu !!" ucap Bram yang kini duduk di belakang Aji yang masih fokus pada layar tv di depannya.


" Thanks ya bro, gua bayar tunai pake martabak noh... " tunjuk Aji pada meja di depan Bram.


...**%%**...


Di sisi lain...


Malam itu, Siwan sedang berdiri di atas balkon di kamarnya, sambil memegang sebuah gelas berisi wine, dia sedang menikmati dinginnya malam dan merindu pada kekasihnya.


Tiba - tiba, seorang wanita yang memakai jubah tidur berwarna merah yang sexy membuat belahan dadanya terlihat kemana - mana, mendekat perlahan tanpa suara. Dan, wanita itu memeluk Siwan dari belakang dan berbicara padanya dengan bahasa Korea. Ya siapa lagi kalau bukan Seo Jihye.


" Oppa, aku sangat merindukanmu !!" ucap Jihye.


Siwan tentu saja langsung melepaskan lengan Jihye yang melingkar erat di tubuhnya, dengan kasar.


" Jihye, pergi dari hadapanku !!" ucap Siwan.


" Oppa, beri aku kesempatan, aku bisa melayanimu segenap jiwa dan ragaku, kurang apa diriku ini, apa dia selalu memberimu kepuasan di ranjang, aku juga bisa melakukan nya sekarang meskipun kita belum menikah, aku rela menyerahkan tubuhku ini untukmu " ucap Jihye tanpa rasa malu sedikitpun.


" Cukup, kau membuatku kesal, kau tidak ada bedanya dengan wanita jalang di luaran sana rupanya !!" ucap Siwan masih bisa menahan amarahnya.


" Lalu, apa bedanya wanita mu itu, kalian belum menikah tapi sering tinggal bersama, kalian pasti sering melakukan nya kan ?" Jihye agak ngegas.


Siwan mencengkeram pipi Jihye, " dia, wanita yang belum pernah aku sentuh, aku mencintainya dan menjaganya dari luar dan dari dalam, aku selalu menahan nafsuku di depannya karena aku sangat menghargai nya, jadi, jangan pernah berani mengatakan dan menyamakan nya dengan wanita jalang di luar sana, seperti dirimu, pergi.. " Siwan melepaskan cengkeraman tangannya setengah mendorong Jihye ke belakang.


Jihye pun pergi meninggalkan Siwan dengan penuh amarah, matanya merah seperti menahan air mata. Dia pergi menuju kamarnya dan membanting pintu kamarnya saat dia masuk ke dalamnya. Jihye pun menangis dan merasa frustrasi. Saat sedang terduduk dan menangis di pinggir ranjangnya, tiba - tiba hpnya menyala, Jihye langsung mengusap air matanya dan membuka pesan yang masuk di hpnya. Dia pun mendadak tersenyum ceria. Dia tertawa seperti orang kerasukan dan merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya.