
Hari sabtu di minggu kedua di bulan nopember siang itu, Hanna sungguh tidak menyangka akan bertemu Siwan di tempat yang tidak terduga.
Mereka bertemu di Woods Art Studio yang menjadi kantor Siwan mencari nafkah selama ini selain dari bisnis properti, villa and resort, kuliner dan investasi saham di bidang lainnya.
Sebuah gedung berlantai 3 yang bergaya Scandinavian dengan banyaknya jendela kaca di tiap sudut ruangannya membuatnya nyaman dan sejuk karena cahaya alami dan udara segar yang masuk melalui bukaan jendela kaca yang lebih besar. Terutama Masih terdapat pepohonan besar di beberapa sudut halaman luar sekitar studio.
Di lantai satu merupakan coffe shop dan mini cafetaria khusus untuk para karyawan dan tamu yang datang ke studio. Semua orang bebas memilih dan menggunakan fasilitas yang tersedia di lantai satu itu sesuka hati mereka. Selain itu terdapat ruang khusus pertemuan atau meeting bersama klien, toilet, tempat ibadah dan pantry khusus pegawai kebersihan.
Di lantai dua, ruangan yang sangat luas dengan interior minimalis dan furniture modern dan sesuai fungsinya tertata dengan rapih di pinggiran ruangan, beberapa meja gambar teknik baik mekanik maupun hidrolik yang menjadi ciri khas pekerjaan seorang arsitek maupun engineer berjajar rapih di tengah ruangan. Sebuah rak buku yang cukup besar khusus untuk para karyawan demi meningkatkan hobi membaca di kala banyak waktu luang di sela pekerjaan mereka. Tak lupa berbagai jenis sofa santai, bean bag chair, maupun beberapa gantung hammock di balkon lantai dua melengkapi suasana nyaman bagi para karyawan.
Lalu, di lantai tiga, disana terdapat beberapa ruangan khusus staff termasuk ruangan Siwan berada.
Woods Art studio merupakan biro konsultan Arsitek dan Arsitektur serta home interior desaign yang di dirikan oleh Siwan dan temannya yang merupakan warga negara Indonesia, warga lokal Pulau Bali.
Siwan yang merancang kantor mereka 5 tahun lalu. Dan resmi di buka satu tahun kemudian setelah pembangunan selesai.
Kembali pada saat pertemuan Hanna dan Siwan di kantornya.
" Chagiya... " Siwan merasa terkejut melihat kekasihnya berdiri di hadapannya kini, di kantornya berada.
" Ahjussi... " ucap Hanna yang nampak terkejut pula. Dia terlambat menyadari bahwa kini ia sedang berada di kantor Siwan.
Siwan menghampiri Hanna yang masih berdiri di depan samping tangga lantai 2.
" Kau kemari, ada apa ?" tanya Siwan.
" Aku dari dari kantor langsung kemari ahjussi, ini, aku mengantarkan ini, dan ada amanat dari pak Wayan " jawab Hanna.
" Oh... iya, pak Wayan PT PAM ya... ?" tanya pria yang sedang bersama Siwan sejak tadi, pria itu pun menghampiri Hanna.
" Betul pak, saya dari PT PAM, nama saya Hanna " Hanna menyatukan kedua telapak tangannya dan menyimpannya di dada sambil membungkukkan badan sedikit dan menganggukkan kepalanya.
" Saya Yoka " jawabnya, dan melakukan gestur yang sama seperti Hanna tadi. " iniloh Im, proyek renovasi kantor pusat PT PAM, aku yang ambil proyeknya, lupa belum kasih tahu kamu, habisnya kamu sangat sibuk sekali " sambung Yoka, pria yang mungkin usianya di atas Siwan.
" Ah... begitu, dia pacarku " ucap Siwan sambil membuka kacamata kerjanya.
" Seriously ? wah... sejak kapan ? bohong pasti, bukannya kau baru patah hati, sudah punya gandengan baru lagi ?" tanya Yoka, " ops... keceplosan deh " sambungnya.
Hanna hanya tersenyum saat itu, padahal tahu, dia sendiri orang yang membuat Siwan patah hati.
" Mari duduk, masa pacarnya di suruh berdiri terus, mau ku buatkan minuman apa ?" tanya Yoka.
Mereka bertiga berjalan menuju sofa yang ada di dekat rak buku.
" Tidak usah repot - repot pak, saya tidak akan lama, ada yang menunggu saya di bawah " jawab Hanna.
" Siapa ?" tanya Siwan terlihat penasaran.
" Itu, supirnya pak Wayan, aku di antar dia sampai kesini, dan dia akan mengantarkan ku pulang setelah dari sini " jawab Hanna.
" Tidak, kau pulang denganku saja, aku yang akan mengantarmu " sahut Siwan.
" Tapi... " belum juga selesai perkataan Hanna.
" Sudah, masa di anter pacar sendiri nolak, sekalian malam mingguan kan, asik banget tuh, iya gak... " ucap Yoka selalu merecoki.
" Tapi aku harus memberitahu supir pak Wayan dulu, dia pasti sedang menungguku " sahut Hanna.
" Ayo kita turun, kita beritahu dia kalau kau tidak akan pulang bersamanya " Siwan bangkut dari duduknya dan menarik lengan Hanna menuju tangga lantai dua dan turun ke bawah.
" Im, jangan dulu pulang, belum selesai " teriak Yoka pada Siwan dan Hanna yang sudah mulai menuruni anak tangga.
Saat Hanna dan Siwan sudah berada di lantai 1, beberapa pasang mata para karyawannya disana menatap heran ke arah mereka.
" Mau kemana bos, masih siang... " ucap salah seorang pria.
" Wah, malam mingguan masih lama bos, kerjaan masih numpuk " ucap salah seorang pria lainnya.
" Ciyeee.... " sahut yang lainnya saat melihat Siwan merangkul pundak Hanna saat mereka berada di ambang pintu keluar.
Siwan tidak menghiraukan perkataan mereka, dia hanya tersenyum gembira dan mengedipkan sebelah matanya pada pria yang tadi meledeknya.
Di parkiran mobil, Hanna dan Siwan menghampiri supir pak Wayan yang masih menunggunya di dalam mobil sambil bermain game di gawainya.
" Eh... bu Hanna, sudah selesai " ucap sang supir yang nampak terkejut dengan kehadiran Hanna, dia pun buru - buru keluar dari mobilnya.
" Sudah pak, tapi maaf, saya sepertinya pulang sendiri saja, saya masih ada urusan disini, ternyata ini kantor pacar saya, jadi nanti saya pulang di antar dia ya pak, maaf bikin pak Ade menunggu lama " ucap Hanna.
" Tidak apa bu, saya mengerti, kalau begitu saya pamit ya, mari bu, pak... " ucap Ade sang supir pribadi Wayan atasan Hanna di kantornya.
Setelah mobil dan supirnya pergi...
" Chagiya, kau pasti sudah makan siang ?" tanya Siwan.
Hanna menggelengkan kepalanya, " belum, jangan sok tahu... " Hanna mencubit hidung Siwan yang kini berdiri sangat dekat di hadapannya.
" Belum, kenapa ? apa gara - gara mengantarkan berkas - berkas tadi, kau sampai tidak sempat makan siang dulu ?" tanya Siwan kembali.
Hanna menganggukkan kepalanya.
" Ck... benar - benar ya, atasan mu di kantor sangat kejam, kalau begitu ayo kita makan sekarang " Siwan kembali menggenggam tangan Hanna.
" Tunggu, ahjussi, kau juga belum makan siang ?" tanya Hanna, menahan langkah Siwan.
" Belum, tadi aku belum mau, tapi sekarang aku sudah mau makan, bersamamu... " Siwan tersenyum genit.
" Hih... kebiasaan, kau pasti seperti itu, terlalu workaholic sampai lupa jam makan " ucap Hanna sambil mendelik.
" Chagiya, tapi aku lupa dompet dan kunci mobilku ada di ruanganku, kita ambil ke atas dulu ya "
Siwan dan Hanna pun kembali masuk ke dalam studio. Mereka tidak menyadari bahwa sejak tadi banyak orang yang mengintip mereka melalui jendela dari dalam studio itu. Dan saat Hanna dan Siwan berjalan hendak kembali ke dalam, orang - orang yang mengintip mereka langsung bubar jalan, sebagian masih di posisi mereka seperti semula, sebagian lagi ada yang berlarian menuju lantai 2.
Siwan dan Hanna berjalan kembali naik ke lantai 2. Dan, kini disana sudah ada orang lain selain Yoka yang masih duduk di depan meja dekat jendela kaca yang ada di dekat pintu balkon, Yoka terlihat sedang meneliti sebuah sketsa desain gambar di tangannya dan beberapa gulungan kertas yang berada di paper bag yang tadi di bawa Hanna sudah berceceran di atas meja.
Hanna dan Siwan menghampiri Yoka yang terlihat sangat serius kali ini, mereka duduk di hadapannya terpisahkan oleh sebuah meja persegi panjang yang besar.
" Dik Hanna, apa ada sesuatu yang ingin di sampaikan dari pak Wayan untuk saya ?" tanya Yoka.
" Iya pak, maaf saya tadi belum sempat mengatakannya, jadi begini... bla bla bla... " Hanna menyampaikan amanat yang di sampaikan atasannya untuk konsultan mereka.
" Oh... baiklah, kalau begitu terima kasih banyak sudah mau jauh - jauh datang kemari untuk menemui kami " ucap Yoka.
" Sama - sama pak, saya hanya menyampaikan saja, untuk lebih jelasnya mungkin pak Yoka atau mister Im bisa menghubungi pak Wayan langsung di lain waktu " jawab Hanna.
Hanna yang sedang berbicara bersama Yoka terus menerus di tatap oleh Siwan dari arah sampingnya. Bahkan Hanna jadi sedikit gugup dan belepotan saat berbicara dengan Yoka karena sudut matanya menangkap Siwan kini tengah melamun di sampingnya.
" Im... ingat, ini di kantor Im, tahan dulu lah, kerjaan masih numpuk, inget deadline kita " ucap Yoka, membuyarkan lamunan Siwan yang sejal tadi terus menatap Hanna penuh kemesraan.
" Ahjussi... " ucap Hanna dengan suara pelan, menoleh dan melotot pada Siwan.
" Iya, aku tahu, kau lapar kan, makanya, stop dulu mengobrolnya, ayo kita makan dulu " ucap Siwan.
Hanna mencubit paha Siwan agak keras hingga Siwan meringis kesakitan.
" Kau belum makan siang ? ya ampun, kalian sama - sama workaholic ternyata, sudah sana, kalian makan dulu saja, pekerjaan tunda dulu lah, kencan kalian juga tunda saja nanti malam, cepat sana kalian pergi, nanti kalau sakit aku yang harus bertanggung jawab " ucap Yoka.
" Cerewet... " sahut Siwan, lalu beranjak dari kursinya dan menarik lengan Hanna.
" Maaf pak, kalau begitu saya permisi dulu ya, maaf sudah mengganggu " ucap Hanna.
" Tidak apa, saya senang bisa berkenalan dengan dik Hanna, yang notabene nya kekasih si Im, saya berani jamin, kalau bukan karena hari ini kita bertemu, Siwan pasti tidak akan pernah memperkenalkanmu secara langsung padaku, hahaha... " Yoka lalu tertawa.
Siwan hanya menyipitkan mata dan mengerling, dan pergi dari hadapan Yoka saat itu juga.
Siwan membawa Hanna menuju ruangan pribadinya di lantai 3. Sepanjang perjalanan, mata Hanna nyalang, berkeliling meneliti setiap sudut ruangan yang ada di sana.
" Wah, ahjussi, kantormu keren ya, terlihat seperti coffe shop di lantai 1, perpustakaan di lantai 2, tapi di lantai 3 baru kelihatan seperti ruang kerja, ah tidak, malah seperti warnet di Korea yang sering aku tonton di drakor " ucap Hanna saat mereka sudah berada di dalam ruangan kerja pribadi Siwan.
" Hahaha... warnet, kau ini... chagiya, kita makan disini saja ya, aku sudah pesan makanan nanti pegawaiku yang antar kemari, lagipula setelah makan aku harus kembali bekerja, tidak apa - apa ya ?" Siwan mengajak Hanna duduk di sofa.
" Apa aku mengganggu jam kerjamu ? aku jadi merasa tidak enak " sahut Hanna.
Siwan menarik Hanna untuk duduk di pangkuannya.
" Tidak, aku malah jadi lebih bersemangat ada kau disini, kalau bisa hari ini jangan ke cafe ya, temani aku disini " pinta Siwan.
Hanna melingkarkan lengannya di leher Siwan.
" Baiklah, nanti aku hubungi koh Erik kalau begitu, aku akan katakan ini perintah darimu, hihihi... " Hanna mendekatkan hidungnya pada hidung Siwan.
" Kiss me... " ucap Siwan secara tiba - tiba.
Karena suasana romantis yang sangat mendukung, mendengar Siwan berkata seperti itu tiba - tiba Hanna langsung mengecup bibir Siwan. Mereka berdua tersenyum setelahnya, lalu kembali melakukan aktivitas pergumulan bibir mereka selama beberapa detik dengan mesra, dan, tiba - tiba ada seseorang yang mengetuk pintu ruangan Siwan.
Hanna buru - buru turun dari pangkuan Siwan dan duduk di sampingnya.
" Masuk... " pekik Siwan.
Seseorang masuk ke dalam membawa sebuah kantong berisi 2 buah kotak makanan dan menaruhnya di meja dekat sofa.
" Yanto, tolong buatkan kami teh hangat ya " ucap Siwan.
" Baik pak " jawab pria bernama Yanto.
Tanpa menunggu lama, Hanna dan Siwan langsung menyantap makanan mereka dengan penuh semangat.
Beberapa menit kemudian, selesai makan Hanna mulai merasakan kantuk.
" Kau jangan tidur setelah makan, tidak baik " ucap Siwan.
" Aku lelah, apa kau masih lama ?" tanya Hanna.
" Mungkin, mau ikut aku ke bawah ? kau bisa membaca buku atau ke lantai 1 saja, minum kopi atau makan yang ada disana, semua free, bayarannya cukup dengan ciuman dan pelukan hangat darimu untukku " Siwan berusaha menggombal.
" Ish... apa di kantor kau memang selalu seperti ini, gombal, jangan - jangan pada pegawai wanita mu kau pun seperti ini, mana semua cantik - cantik lagi, hih... " Hanna cemberut.
" Aduh... ' Siwan menepuk jidatnya ' padahal aku sedang menggombal padamu, tapi kau malah salah paham, apa aku tidak ada bakat menggombal, begitukah ?" Siwan memeluk Hanna yang cemberut di sampingnya, dan, lama - lama, tangan jahilnya mulai beraksi kembali. Siwan menggelitik perut Hanna tanpa ampun hingga Hanna berguling - guling di sofa dengan tangan terangkat ke atas dan di tahan sekuat tenaga oleh Siwan.
" Ampun, kumohon, ampun... " ucap Hanna yang sudah benar - benar kelelahan menahan tawa dan geli akibat tangan jahil kekasihnya.
Dan, setelah keduanya mengatur nafas, mereka kembali berciuman dengan posisi Siwan di atas menghimpit tubuh Hanna yang terkulai lemas di atas sofa. Rasa hangat kembali menjalar di sekujur tubuh mereka, dengan penuh gairah mereka melakukan aktivitas tersebut tanpa menyadari bahwa mereka sedang berada di kantor.
Lalu, tidak lama kemudian, suara telepon masuk menghentikan aktivitas mereka kali ini.
" Aish... mengganggu saja " ucap Siwan yang kemudian bangkit untuk mengangkat telepon di meja kerjanya.
Saat Siwan mengangkat teleponnya, Hanna berjalan mengendap - endap menghampirinya lalu memeluk tubuh tinggi kekasihnya dari belakang, membuat Siwan tiba - tiba tersenyum saat sedang mendengarkan seseorang berbicara di telepon. Tangan Hanna mulai jahil, dari belakang dia terus meraba dada bidang Siwan, jari - jari lentiknya mulai menelusuk ke dalam sela - sela baju Siwan dan menyentuhnya kulit tubuh Siwan dengan lembut, membuat Siwan bergidik geli.
Tangan Siwan menjegal tangan Hanna agar menghentikan aktivitas jahilnya, Siwan membalikkan tubuhnya menghadap Hanna dan berkata " diam " tanpa suara.
Setelah menutup teleponnya, barulah Siwan membalas perbuatan Hanna, dia mengangkat tubuh Hanna dan mendudukkannya di atas meja kerjanya dan Siwan menyerangnya, menciumnya kembali, menarik tengkuk wajahnya, meraba tubuhnya dengan lembut dan mulai membuka kancing kemeja Hanna satu persatu, menyentuh kulit putih perutnya yang sudah mulai terlihat tanpa pelindung sehelaipun dan meningggalkan tapak kehangatan di atasnya.
Hanna yang mulai tersengat sentuhan Siwan tidak melakukan perlawanan sama sekali, seolah tubuhnya merasa senang menerima perlakuan Siwan yang akan mulai mejamah tubuhnya kembali kali ini.
Bibir Siwan yang terus menyesapnya seakan tidak ingin ada yang menghentikan cumbuannya kali ini. Aroma wangi musk tubuh Siwan yang menjadi candu bagi Hanna menyeruak di indera penciumannya membuat dada Hanna semakin naik turun, terlebih lagi kini tubuhnya mulai merasakan panas, sensasi yang sudah lama tak pernah ia rasakan kini kembali merasuki tubuhnya kala tangan Siwan mulai meraba area sensitif tubuh bagian atasnya.
" Ahjussi.... " ucap Hanna setengah mendesah dengan lembut di telinga Siwan kala bibir hangat Siwan mulai mengh*s*p dan menyesap area sensitifnya.
Siwan seketika tersadar, dengan lembut kedua rentinanya menatap wajah Hanna yang sudah memerah.
" Maaf... " Siwan memeluk kekasihnya dengan erat dan mulai mengancingkan kembali kemeja Hanna satu persatu.
Hanna hanya menatapnya dengan tatapan rasa bersalah, dia sendiri yang membuat Siwan melakukan semua ini, tapi dia sendiri yang membuat Siwan merasa bersalah pada dirinya sendiri dan padanya.
" Sebaiknya aku turun saja, aku harus menyelesaikan pekerjaanku lebih cepat hari ini, kau mau menungguku ?" tanya Siwan.
Hanna menganggukkan kepalanya.
" Baiklah, kau tunggu saja aku disini, kalau kau mengantuk tidur saja di sofa, ada selimut disana ' menunjuk nakas di samping sofa ' atau kalau kau mau turun ke bawah juga tidak apa - apa, kau bebas berkeliaran di kantorku " ucap Siwan.
" Oke, aku mau tiduran sebentar saja ya, kau fokuslah bekerja " sahut Hanna.
Sebelum pergi, Siwan mengecup kening Hanna dan mengusap kepalanya dengan lembut, tersenyum dan pergi dari ruangannya.
Hanna yang masih terduduk di atas meja kerja Siwan hanya bisa menatap punggung Siwan yang semakin menjauh dan menghilang dari pandangannya secara perlahan.
" Huh... " Hanna mendengus " nasib, nasib... " ucap Hanna sambil geleng - geleng kepala, tersenyum lalu turun dari meja, dan masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam ruangan Siwan. Setelahnya Hanna berjalan menuju sofa dan merebahkan tubuh di atasnya lalu menutup matanya perlahan.
Masih siang oy...
Ampun !! Hehe...
Jangan lupa like vote dan komennya pemirsah
Thank you so much