
Sore itu, Hanna dan bi Asih kembali ke kediaman Siwan di antarkan oleh Bram setelah makan siang bersama Austin.
Sebetulnya saat itu Austin ingin mengantarkan Hanna hingga ke rumah Siwan, sekalian bernostalgia karena merasa merindukan tempat yang pernah ia tinggali sebelum akhirnya kini ia hidup mandiri karena pindah tugas di salah satu rumah sakit di luar kota Denpasar.
Saat itu, ketika Austin dan Hanna sudah di parkiran, hp milik Austin bergetar di saku celananya, ternyata dia menerima sebuah panggilan darurat dan mengharuskannya untuk segera pergi, itulah alasannya mengapa ia tidak jadi mengantarkan Hanna ke kediaman Siwan.
Sesampainya di kediaman Siwan...
Saat Hanna keluar dari mobil, Bram pun keluar dan menyusulnya, mencegahnya masuk ke dalam rumah karena ingin menyampaikan sesuatu.
" Mbak, tunggu... !" ucap Bram.
Hanna dan bi Asih yang tidak jauh posisinya menengok ke arah Bram.
" Ada apa pak ?" tanya Hanna.
" Mbak marah kan sama saya gara - gara kejadian tadi di parkiran klinik ?" tanya Bram, balik.
" Udah lah pak, lupain aja, lagipula aku ngerti kok, emang tugas pak Bram jagain aku, jadi... santai saja ok !" jawab Hanna.
" Bener mbak ? gapapa ?" tanya Bram.
" Iya pak Bram, kenapa sih, takut banget aku marah, hihi... " Hanna mengjahili Bram ternyata.
" Ah... syukurlah... " Bram merasa lega.
Hanna melanjutkan kembali perjalanan menuju ke dalam rumah.
Sesampainya di dalam rumah, Hanna di sambut oleh bi Lastri yang langsung menanyakan hasil pemeriksaannya tadi siang di klinik kandungan.
Hanna menjelasakannya sambil beristirahat di sofa ruang tengah, sambil di pijat oleh bi Lastri.
" Bi, aku mau curhat, nih, leherku dan ketiakku menghitam, kupikir itu kotoran tubuh, tapi setelah ku gosok terus menerus, tetap tidak hilang, malah jadi lecet, aku jadi kurang percaya diri kalo pakai baju agak terbuka bagian atas, sedangkan setiap hari aku merasa kepanasan, keringatku jadi bertambah banyak, maunya pakai baju pendek dan terbuka " ucap Hanna.
" Itu karena hormon kehamilan neng, wajar kok, nanti juga hilang setelah lahiran !" sahut bi Lastri, yang masih dengan telaten memijat betis Hanna.
" Bibi dulu begitu tidak saat hamil ?" tanya Hanna.
" Iya neng, dan, katanya bayi yang di kandungan berarti laki - laki, tapi gak tahu juga yaa, tapi pengalaman bibi pribadi sih begitu !" ucap bi Lastri.
" Terus, kayaknya di punggungku ada tumbuh jerawat, padahal aku kan rajin mandi... huwaaa... " Hanna pura - pura menangis.
" Itu biasanya gara - gara keringat berlebih di tubuh, coba konsultasikan dengan dokter kandungan neng aja, tadi cerita gak sama dokternya ?" tanya bi Lastri.
" Enggak bi, aku malu, dokternya cowo, masih muda, ganteng lagi... aku malah terus natap mukanya pas dia lagi jelasin soal kondisiku, bener - bener gak sopan ini mata.. hihihi !" Hanna terlihat senang bercerita dengan bi Lastri.
" Hih... dasar, dokter kan biasanya lebih tahu, siapa tahu ada solusinya, nanti kalau periksa lagi tanyakan semuanya pada dokter ya, jangan malu - malu " ucap bi Lastri.
" Iya deh iya... nanti aku tanya sama pak dokternya !" ucap Hanna.
...***...
Sudah dua hari Hanna merasa kesepian, meskipun ada bi Asih dan bi Lastri menemaninya di rumah, tapi dia sudah mulai bosan dengan kegiatan sehari - harinya yang hanya itu itu saja.
Bahkan, saking tidak ada kerjaan, dia berhasil menjajal hampir seluruh isi kulkas ke dalam perutnya, di sela waktunya membaca buku dan menonton tv.
Semenjak nafsu makannya kembali normal, sepertinya perut Hanna selalu siap untuk melahap habis makanan apapun yang ia lihat oleh kedua mata kepalanya.
Perutnya selalu merasa lapar, tentu saja sebuah hal yang normal bagi seorang wanita yang sedang hamil, selama apa yang ia makan merupakan makanan sehat dan aman untuk perutnya, tidak ada yang mencegahnya untuk menguras seluruh isi kulkas dan lemari penyimpanan makanan di dapur.
Keesokan harinya...
Pagi hari yang cerah di sudut kota Denpasar, menghangatkan tubuh orang yang berlalu lalang di bawah sinar mentari yang sudah nampak terik menembus kulut lapisan terdalam setiap insan.
Hanna yang tengah memilih berbagai jenis sayur di salah satu kios yang ada di pasar tradisional, merasa terkejut kala tanpa sengaja kedua matanya melihat seseorang yang sangat ia kenali dan ia rindukan sebetulnya.
Seorang wanita yang tengah sibuk melayani beberapa pelanggan di kiosnya sambil tersenyum dan sesekali mengobrol dengan mereka berhasil mencuri perhatian Hanna yang berada beberapa meter di depannya.
" Bibi, lanjutkan saja ya, aku mau ke sebelah sana, sepertinya dia temanku, aku mau menyapanya dulu " ucap Hanna, menunjuk ke arah wanita yang sejak beberapa detik lalu ia tatap dengan seksama.
" Oke, di temani Bram yaa... jangan sendirian !" jawab bi Asih.
Hanna mengangguk lalu pergi menuju kios dagangan wanita itu, di ikuti oleh Bram di belakangnya.
Dan, setibanya Hanna di kios wanita tersebut.
" Kak Siska.... !" ucap Hanna, merunjuk pada wanita itu.
" Hanna... ini kamu kan ?" tanya Siska.
" Kakak... iihh.... lupa sama aku ?" Hanna terlihat cemberut kesal.
" Engga lah, cuma takut salah aja, sebentar yaa, diem di situ !" pinta Siska. Lalu dia berbicara pada seorang pria yang berdiri membelakanginya yang tengah melayani seorang pembeli di kiosnya. Lanjut dengan mencuci tangannya, membuka apronnya dan menghampiri Hanna yang masih setia menunggunya.
" Ya ampun Han, kangen aku " Siska memeluk Hanna sesaat, dan begitu melepaskan pelukannya, dia mengelus perut Hanna yang sudah mulai membesar
" gak nyangka ketemu kamu dalam kondisi begini, gak ngundang ih, tau - tau udah hamidun aja !" sahut Siska.
" Ceritanya panjang kak, maaf yaa ! lagian, kakak lost contac gitu aja, pindah gak bilang - bilang, nomor telepin juga di ganti, aku kan bingung mau kontek siapa !" ucap Hanna.
" Eh... ngobrol disana yuk, biar nyaman, pasar lagi padat kalo pagi gini, lagian berisik disini " ajak Siska.
" Yuk... "
Dan, mereka pun duduk di bangku salah satu pedagang lontong kari yang tidak jauh dari area pasar.
Sebelumnya Hanna tentu saja laporan pada bi Asih, supaya dia tidak bingung mencarinya.
Yang tadinya judulnya Hanna mau menemani bi Asih berbelanja stok sayur dan buah untuk di kulkas, kini ia malah bergosip di pasar bersama teman lamanya.
Siska adalah temannya yang dulu pernah tinggal satu gedung kost bersama Hanna ketika awal kepindahannya ke kota Denpasar, di awal episode.
Sebelum Siska memulai obrolan, berkali - kali ia melirik ke arah Bram yang duduk di belakang Hanna memperhatikannya dan dirinya.
" Kak, udah biarin aja, udah tugasnya dia kok jagain aku, dia gak akan nguping, tenang aja !" ucap Hanna.
" Dia anak buah suami loe ?" tanya Siska.
" Iya kak, pak Bram namanya " jawab Hanna.
" Eh... berapa bulan sekarang, ya ampun gak nyangka ya, akhirnya loe nikah juga sama kak Wan, artinya salah satu dari kalian pindah keyakinan, ya kan ?" tanya Siska.
Hanna menggelengkan kepalanya.
" Maksud loe ?" Siska merasa tidak paham dengan sikap ambigu Hanna.
" Nanti aku ceritain deh, kakak main dong ke tempatku, udah lama gak ngobrol panjang, aku kangen ih... " ucap Hanna.
" Loe tinggal dimana sekarang ?" tanya Siska.
" Aku tinggal di rumah ahjussi kak, di jalan xxx, kalo kak Siska sendiri sekarang dimana ? udah nikah belum ? yang tadi suaminya yaa ?" tanya Hanna, terlihat penasaran.
" Iyyy... gelay... bukan lah, dia bosku Han, masih temen juga sih, bininya udah 2, amit - amit deh jadi bini ketiganya... hiiih... " Siska bergidik ngeri.
" Hahahaha.... ya sapa tau, minat !" celoteh Hanna.
" Gak, gila banget... eh, aku tinggal di deket pasar sini, gak jauh kok, aku bantu jualan di pasar dari jam 3 subuh ampe jam 12 siang, ntar sorenya aku kerja di resto depan perempatan ampe jam 10 malem jadi tim kebersihan di dapur, lumayan lah Han, buat nyambung hidup, kebetulan restonya juga punya temen, jadi jam kerjanya bisa di atur lah "
" Semangat banget kak, semoga kak Siska sehat dan kuat yaa... salut aku sama kak Siska yang mau kerja apa aja, seandainya aku juga punya kesempatan, aku juga pasti mau kerja apa aja yang penting halal !" ucap Hanna, menyentuh tangan Siska, memberinya semangat.
" Yaelah... kamu udah enak lah, jadi istrinya orang kaya semuanya udah serba ada, mau cari apalagi sih, udahlah... kamu tinggal menikmati hidup sambil nemenin suami membangun rumah tangga impianmu dan impian semua orang, jangan di sia siakan, okey... " ucap Siska.
Hanna hanya tersenyum mendengar perkataan Siska.
Siska nampaknya belum tahu fakta tentang kehidupan Hanna yang sesungguhnya.
" Eh kak, gak enak ah aku ganggu jam kerja kakak, aku minta nomor kak Siska aja deh, lain kali kita ngobrol lagi, ketemuan dimana gitu kalo kak Siska ada waktu luang " ucap Hanna.
" Ah, iya, setuju "Siska mengeluarkan hpnya dari saku celananya dan mulai bertukar nomor dengan Hanna.
" Ntar aku kontek kalo lagi libur di resto, jadi pulang dari pasar abis istirahat sorenya bisa maen ke rumahmu !" sambung Siska.
" Yups... beneran ya, awas jangan ganti nomor lagi, kalo ganti juga kasih tahu lagi kali " sahut Hanna.
" Of course honey... !"
" Yaudah, aku pamit ya kalo gitu, sehat selalu ya kak !" ucap Hanna lalu bangkit dan berdiri dari kursinya, di susul oleh Siska, juga Bram yang sejak tadi memperhatikan mereka dari belakang.
Siska memeluk Hanna kembali, lalu mengelus perut Hanna.
" Jaga bayimu ya Han, jaga kesehatan kalian, semoga kalian selamat dimanapun kalian berada !" ucap Siska.
" Aamiin, makasih banyak ya kak, bye... !"
Hanna pun pergi dari hadapan Siska, di ikuti oleh Bram yang setia mengekorinya kemanapun ia pergi.
Siska masih berdiri di posisinya, menatap Hanna dari kejauhan dengan ekspresi sendu dan penuh kekhawatiran, yang lama - lama Hannapun menghilang dari pandangannya.
Hanna dan bi Asih janjian di tempat parkir.
" Bibi, maaf yaa, bibi jadi repot bawa belanjaan sendirian, pak Bramnya jagain aku terus sih !" ucap Hanna.
" Gapapa neng, bibi tadi suruh seorang kuli angkut barang kok tadi sampai kesini !" jawab bi Asih.
" Mau langsung ke supermarket ? atau mau pulang dulu ?" tanya Hanna.
" Pulang dulu kayaknya neng, daging ama ikan nanti bau kalo kelamaan di luar !" jawab bi Asih kembali.
Dan, kini mereka pun sedang dalam perjalanan pulang ke rumah.
Sebetulnya tadinya mereka pagi tadi mau pergi ke supermarket dulu untuk membeli perlengkapan rumah dan kebutuhan Hanna, hanya saja, saat di jalan, karena Hanna mencium bau sate di pagi hari di salah satu warung nasi yang ada di pinggir jalan, mereka memutuskan untuk mampir demi memenuhi keinginan si jabang bayi yang ingin memakan sate saat itu juga.
Dan, selesai makan pagi lagi di luar, mereka memutuskan untuk pergi ke pasar tradisional lebih dahulu agar masih kebagian beberapa kualiata barang yang bagus di pasar, karena biasanya saat siang hari, di pasar, terkadang beberapa sayur maupun kebutuhan pokok lainnya sudah habis atau hanya tersisa barang sisa.
Di dalam mobil...
" Bibi masih ingat kak Siska ? temenku yang sempet mau nikah sama kak Oz, ingat tidak ?" tanya Hanna.
" Owh... jadi yang tadi itu nak Siska toh ? oalah, pangling bibi, soalnya sekarang kelihatannya semok yoo... dulu kan bibi taunya dia lebih kecil dari non Hanna !" ucap bi Asih.
" Ih, mulai lagi manggil non ! emh... kelihatannya kak Siska lebih sehat dan bahagia sekarang, meskipun pekerjaannya padat, dia terlihat lebih bahagia !" ucap Hanna.
" Dia dagang di pasar toh sekarang !" ucap bi Asih.
" Iya bi, malah nanti sorenya dia lanjut kerja di resto jadi tim kebersihan di dapur ! dia kerja keras menghidupi dirinya sendiri, aku jadi iri dengan semangatnya " ucap Hanna " juga kebebasannya " gumamnya, tidak berani mengucapkannya di depan bi Asih dan Bram.
" Setiap orang punya kehidupan masing - masing neng, di syukuri saja, yaa... !!" ucap bo Asih, menenangkan hati Hanna.
Sesampainya di rumah, Hanna di sambut oleh Aji yang sudah berdiri di depan pintu masuk.
Ketika mendengar suara pagar terbuka dan mobil memasuki pekarangan rumah saat itu, Aji yang sedang rebahan di sofa buru - buru bangkit dan berjalan menuju keluar rumah.
" Bli, kapan pulang ?" tanya Hanna yang baru keluar dari mobil.
" Tadi jam 8, kalian habis belanja apa ?" tanya Aji.
" Baru belanja kebutuhan dapur bli, aku belum sempat membeli kebutuhanku sendiri, soalnya keburu lelah !" ucap Hanna.
" Yasudah, istirahat dulu sana, cepet masuk !" tegas Aji.
Hanna mengkerucutkan bibirnya dan masuk ke dalam sendirian, tak memperdulikan barang belanjaan yang tengah di keluarkan dadi dalam bagasi mobil oleh Bram dan bi Asih, lalu di bantu oleh Aji.
Hanna langsung naik ke atas, ke lantai 2, ke dalam kamarnya di temani bi Lastri.