
Faktanya....
Pulang bekerja hari itu, Hanna memang pergi ke toko buku, namun dia harus kembali berderai air mata saat melewati lokasi pertemuan pertama antara dirinya dan Siwan dulu.
Dia sampai tidak jadi memburu buku keluaran terbaru hari itu. Hanna pun kembali menuju parkiran motor toko buku itu dan menangis selama beberapa menit sambil menelungkupkan wajahnya pada stang motornya.
Beberapa orang sempat bertanya padanya karena merasa khawatir, Hanna sepertinya menjadi tontonan beberapa orang yang berada di sekitar sana.
" Belum pernah lihat orang patah hati ya... " jawab Hanna, agak nge gas.
" Owh... patah hati... yasudah, lanjutkan " ucap tukang parkir yang kepo dan bertanya pada Hanna tentang keadaannya. " Broken heart, mister... " tukang parkir itu berteriak pada beberapa orang yang berkerumun disana. Dan akhirnya mereka bubar saat tahu bahwa Hanna sedang bersedih karena patah hati.
Saat Hanna sudah merasa tenang, dia pun bersiap untuk pulang, memakai helm dan menyalakan motornya.
Dia mengeluarkan dua lembar uang seribuan untuk ia berikan pada penjaga parkirnya.
" Mbak, gapapa kan, bisa bawa motor sendiri ?" tanya tukang parkir yang merasa khawatir melihat kondisi Hanna.
" Aku masih waras kok pak, ini buat bapak " Hanna menyodorkan uang padanya.
" Makasih banyak ya mbak, maaf saya cuma khawatir aja !" sahut tukang parkir.
" Hemh... di dalem, tempat pertama kalinya aku bertemu sama dia pak, aku jadi sedih pas tadi lewat lagi kesana, aku jadi inget lagi sama dia, dia pacar pertamaku aku sayang banget sama diaaaaa.... " Hanna kembali menangis di depan tukang parkir tersedu - sedu.
Ekspresi tukang parkirnya jadi bingung, merasa kasihan dan merasa malu karena di lihat oleh beberapa orang yang lewat di depan mereka dan orang yang ada di sekitar sana.
" Patah hati bos...." pekik sang tukang parkir sambil menunjuk Hanna.
Beberapa orang menggelengkan kepala mereka karena mengira Hanna patah hati oleh sang tukang parkir.
" Gak tahu malu banget sih pak, cewe secantik ini di putusin " ucap seorang ibu - ibu yang lewat di depannya.
" Bukan... bukan... bukan saya yang mutusin, saya cuma tukang parkir... " sanggah sang tukang parkir berbicara pada orang - orang yang masih memperhatikan mereka, padahal ibu - ibu tadi yang nyinyir di depannya sudah pergi jauh dari hadapannya.
" Udah mbak, udah, malu di lihatin orang - orang, udah ya mbak... " ucap sang tukang parkir mencoba menenangkan Hanna.
Hanna pun menyeka air matanya dengan ujung sweater yang di pakainya, lalu menarik nafas dalam - dalam, menghembuskannya perlahan dan menancap gas motornya, pergi dari area parkiran toko buku tersebut.
" Huft... amsyong deh... " sang tukang parkir merasa lega Hanna sudah pergi dari areanya.
...***...
Sesampainya di rumah...
Hanna langsung memasukkan motornya ke dalam garasi. Setalah itu ia masuk lewat pintu samping rumahnya.
Hanna yang merasa lapar langsung menuju kulkas mencari makanan di dalamnya yang bisa langsung ia makan.
Namun, dia hanya menemukan sebungkus mini pao. Itupun harus ia kukus terlebih dahulu.
Setelah memasukkan mini paonya ke dalam panci kukusan, Hanna pun pergi ke kamar untuk mengganti bajunya dan membersihkan wajahnya dengan micellar water dan kapas.
Saat dia duduk di depan meja rias, matanya malah tertuju pada sebotol parfum milik Siwan. Dengan tangan bergetar Hanna meraihnya, lalu mengendus bau parfum tersebut.
Air matanya kembali pecah membanjiri pipinya saat ia mencium bau parfum yang sering di pakai oleh Siwan.
Hatinya seolah terbakar api rindu yang menjalar di sekujur tubuhnya. Hanna benar - benar merindukan Siwan. Dia terlihat menyesali semua perbuatannya. Entah berapa liter air yang keluar dari matanya sejak beberapa hari yang lalu, seolah tiada habisnya kelenjar air matanya memproduksinya secara terus menerus.
Namun, karena ingat dia sedang menyalakan kompor, Hanna menyudahi tangisannya. Dia kembali ke dapur tanpa membersihkan riasan di wajahnya. Tanpa perlu menggunakan micellar water pun sebetulnya riasan di wajahnya sudah terkikis habis oleh air matanya sejak sore tadi. Poor Hanna.
Hanna duduk sendirian di meja makan sambil menikmati mini pao rasa kacang hijau yang masih panas itu. Ia tidak menyadari bahwa hampir 10 biji sudah ia masukkan ke dalam perutnya.
Setelah merasa perutnya penuh, ia menuju ruang tengah untuk menonton tv.
Dan lagi, di ruang tengah dia hanya bersedih dan menitikkan air matanya karena teringat Siwan lagi. Terlebih lagi dia memandang sofa di depannya dimana posisi Siwan selalu duduk di atasnya.
Bayangan Siwan yang sedang duduk di atas sofa, yang sedang menyeruput air teh hangat buatannya melintas di kepalanya.
Bayangan Siwan yang sedang duduk santai sambil memainkan ipadnya untuk mengecek laporan keuangan di pesan masuk emailnya.
Bayangan Siwan yang sedang memakai kacamata dengan wajah serius menatap lembaran - lembaran berkas di tangannya.
Bayangan Siwan yang sedang melakukan aksi jahil padanya yang selalu menggelitik perutnya tanpa ampun.
Bayangan Siwan yang sedang membelai lembut rambutnya saat ia sedang tiduran di atas pangkuannya.
Dan bayangan Siwan yang mencium mesra dirinya seraya memeluk erat tubuhnya.
Semua melintas di kepalanya bahkan seperti tercetak jelas di kornea matanya seolah dia sedang menonton film dokumenter tentang kehidupan Siwan dan dirinya kala itu.
" Cukup... " Hanna berdiri dari duduknya.
" Bisa gila aku... " ucap Hanna, lalu mematikan tvnya kembali dan membanting remotnya di atas sofa.
Hanna pun pergi ke dalam kamarnya dan naik ke atas ranjang. Dia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dan berniat tidur tanpa membersihkan wajahnya dan menggosok giginya terlebih dahulu, atau melakukan skincare rutinnya setiap malam.
Lalu bagaimana dengan Siwan...
Seharian itu, Siwan hanya berdiam diri di kamarnya di kediamannya. Atau paling dia hanya pergi ke dalam ruang kerjanya. Bolak balik berkali - kali antara kamar dan ruang kerjanya.
Siwan tidak turun ke bawah walau hanya untuk makan atau sekedar bermain bersama Luca anjing kesayangannya. Dia bahkan membatalkan meeting bersama kliennya beberapa hari yang lalu.
Aji hari itu tidak pergi kemana - mana juga karena merasa mengkhawatirkan Siwan. Namun dia tetap menyuruh Tio untuk mengawasi Hanna dari kejauhan, serapih mungkin dan terus melaporkan semua kegiatannya pada Aji. Tanpa sepengetahuan Siwan.
Bi Asih berkali - kali mengantarkan makanan ke atas namun Siwan selalu menolaknya.
Aji merasa dia harus segera turun tangan menasehati bos yang sudah ia anggap seperti kakaknya karena mencemaskan kondisi perutnya yang belum terisi oleh apapun sejak kemarin.
Aji naik ke lantai 2, menuju ruang kerja Siwan, dimana Siwan berada.
Aji masuk tanpa mengetuk pintunya. Dia berjalan mendekat pada Siwan yang kini sedang menenggak anggur merah di tangannya.
" Kak, cukup, kau tidak bisa seperti ini !!" ucap Aji dan merebut gelas dan botol yang ada di atas meja kerja Siwan.
" Beraninya kau... seperti itu kau padaku sekarang... aku selalu melindungimu tapi ini balasanmu, aku menjagamu siang dan malam tapi inikah balasan darimu hah... " ucap Siwan.
Aji sudah tahu bahwa maksud ucapan Siwan bukan untuk dirinya.
" Kak, tidurlah, kantung matamu sudah sangat pekat... " ucap Aji.
" Tidur... hah... tidur... bagaimana aku bisa tidur saat kau selalu menghantui setiap mimpiku, kau ingin aku menjadi gila... " ucap Siwan yang matanya sudah teler.
Aji mencoba menarik Siwan dari kursinya, berniat membawanya ke kamarnya dan menidurkannya.
" Ish.... jangan sentuh aku, pacar, aku sudah punya pacar, dia cantik, dan juga sexy " Siwan menepis tangan Aji.
Namun Aji tetap memaksanya berdiri dan memapahnya hingga keluar dari ruang kerjanya.
Siwan terus meracau sepanjang perjalanan menuju kamarnya.
Austin yang baru pulang dari kerjanya, saat di tangga ia melihat Aji sedang menyeret Siwan dengan penuh perjuangan karena Siwan menolaknya dengan penuh tenaga.
" Ji, kenapa dia ?" tanya Austin.
" Gak usah banyak bacot, bantuin gue buruan, berat nih, mabok dia.. " jawab Aji.
Saat Siwan melihat Austin yang kini sudah berada di hadapannya.
Austin bergidik ngeri, namun menghampiri Siwan untuk membantu Aji memapahnya hingga ke kamarnya.
" Chagiya, aku merindukanmu, i miss you... " Siwan melepaskan lengannya dari cengkraman Aji dan memeluk Austin sambil mencium pipinya.
Austin nampak pasrah, dia cukup pengertian dengan kondisi Siwan, dia membiarkan pipi mulusnya jadi korban ciuman Siwan.
Saat sudah sampai di kamar, Austin merebahkan tubuh Siwan di atas kasurnya. Dan, saat Austin hendak pergi, Siwan langsung menarik tangannya.
" Chagiya, jangan pergi, tidurlah bersamaku, peluk aku, aku ingin menciummu, kemarilah... aku sangat mencintaimu... " Siwan terus mengira Austin adalah Hanna.
Aji yang berada tidak jauh dari sana terus berusaha menahan tawanya.
Austin jadi berubah ngeri mendengar ucapan Siwan.
Dia menahan jidat Siwan yang semakin mendekat padanya dengan telunjuknya, kemudian Austin menoyor jidat Siwan lalu berlari sekencangnya keluar dari kamar Siwan.
Aji sungguh tidak bisa menahan tawanya lagi. Dia tertawa terpingkal - pingkal melihat punggung Austin yang semakin menjauh, dan setelah tertawa dia menghampiri Siwan, merebahkan tubuhnya dan menyelimutinya. Aji menjaga Siwan di kursi samping ranjangnya sampai Siwan tertidur pulas.
Setelah itu Aji keluar dari kamar Siwan dan menghampiri Austin yang tengah makan malam di ruang makan.
" Dia tidur ?" tanya Oz.
" Yap... " jawab Aji lalu menggigit apel merah yang kini sudah di tangannya.
Bi Asih menghampiri mereka.
" Beneran mereka udah pisah ?" tanya bi Asih
" Mungkin bi, kita gak tahu esok dan nanti, tapi sepertinya mereka memang sedang butuh waktu menyendiri " jawab Aji.
" Baru kali ini dia kayak gini Ji, setelah kematian kak Yuri, dia gak pernah sepatah hati ini lagi, terakhir sama si model gak gini amat patah hatinya... " ucap Oz.
" Itu beda lagi ceritanya kali, si Eliz kan selingkuh jadi kak Wan gak terlalu ambil pusing " sahut Aji.
" Tapi pas putus sama non Diana juga gak gini loh, sebelum sama Eliza kan sama non Diana udah lumayan lama, hampir 1 tahun juga, tapi kelihatannya biasa aja tuh den Wan " timpal bi Asih.
" Ah... terus kita harus gimana, kita gak bisa ikut campur masalah mereka lebih dalam, apalagi Hanna benar - benar tidak mau merubah keyakinannya " ucap Oz.
" Kau tahu, apa yang Tio laporkan padaku hari ini ?" tanya Aji.
" Apaan... ?" Oz nampak penasaran, begitu juga bi Asih.
Aji menceritakan laporan Tio tentang Hanna yang menangis di parkiran toko buku sore tadi.
Beberapa menit kemudian....
" Hahaha... serius loe Ji... " Austin merasa tidak percaya.
" Lu bayangin aja gimana tu perasaan tukang parkir yang dikira orang bikin si Hanna nangis bombay gara - gara di putusin cinta, yang orang pikir tu tukang parkir biang kerok nya... " sahut Aji.
" Hahaha.... kasihan nasib tu tukang parkir, kalo ada yang rekam pasti viral, judul headline nya pasti ' Tukang Parkir Tidak Tahu di Untung' terus di bawahnya ' seorang wanita muda nan cantik dan sexy menangis meraung - raung meratapi kesedihannya karena di putuskan cintanya oleh pacarnya yang berprofesi tukang parkir di halaman sebuah toko buku di daerah Denpasar, Bali ' keren kan.... " ucap Austin.
" Hahaha... " Aji tertawa, namun seketika raut wajahnya berubah menjadi datar " bodoh " ucap Aji.
" Ish... udah ah kalian ini malah tertawa di atas penderitaan orang lain, udah ya, bibi mau ke kamar dulu, pokonya jagain den Wan, kalau bisa suruh dia makan, nanti dia bisa sakit kalau gak makan berhari - hari " ucap bi Asih, lalu pergi meninggalkan dua pria jomblo yang tengah asyik bergosip di ruang makan.
......***......
Hari ini merupakan hari sabtu, Hanna terbangun dari tidurnya pagi sekali. Seperti biasa dia mengambil air wudhu setelah sebelumnya membersihkan wajahnya dengan micellar water karena semalam ia tidak membersihkan wajahnya.
Selesai sholat subuh, dia bersiap - siap akan pergi berjogging di sekitar area komplek perumahan karena hari ini dia masuk shift siang.
Tanpa terasa, sudah 1 jam ia berada di sekitar komplek berkeliling jogging di pagi hari sendirian.
Warga sekitar komplek merasa heran melihat wajah Hanna yang baru mereka temui. Karena kebetulan saat itu Hanna berlari hingga ke ujung komplek, entah berapa blok yang sudah ia lewati.
Hanna pun memutuskan untuk kembali ke rumahnya.
Karena merasa lelah, dia pun hanya berjalan santai sambil mengatur nafasnya.
Dan, saat ia hampir tiba di rumahnya, di seberang jalan, ia melihat seorang laki - laki tengah membersihkan mobilnya di halaman sebuah rumah bercat biru. Rasanya Hanna sangat mengenalnya, ia mengenal plat mobil dan orang tersebut, ia pun memutuskan untuk mengintip dan mendekat padanya.
" Pak Bram.... " pekik Hanna saat sudah berada di halaman depan rumah bercat biru itu.
Bram nampak terkejut...
" Eh... mbak Hanna... " Bram mematikan kran airnya dan mengelap tangannya, lalu menghampiri Hanna.
" Mbak, abis jogging " ucap Bram.
" Iya, pak Bram tinggal disini, kok gak bilang sih rumahnya deket aku " ucap Hanna.
" Ah... itu, anu... " Bram nampak gugup, apalagi saat dari kejauhan dia melihat Tio mendekat ke arahnya.
" Ah... mbak Hanna kerja siang ?" Bram mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
Tanpa Hanna sadari tangan Bram nampak sibuk memberi isyarat pada Tio agar tidak mendekat.
" Iya, aku shift siang... " jawab Hanna.
Hanna menyadari gestur tubuh Bram nampak mencurigakan. Hanna menoleh ke belakang untuk memastikan karena dia merasa sepertinya Bram sedang berkomunikasi dengan seseorang di belakangnya.
Saat Hanna menoleh, secepat kilat Tio langsung bersembunyi di antara pagar rumput rumah tetangga di seberang markasnya.
" Eh... mbak, nanti siang aku yang anter ya... " ucap Bram mencoba mengalihkan kembali perhatian Hanna.
" Pak Bram, mulai dari kemarin aku udah bawa motor sendiri lagi, jadi, makasih banyak ya, pak Bram fokus aja sama pekerjaan yang lainnya ya... " ucap Hanna.
" Ah... iya, maaf lupa " jawab Bram.
" Kalo gitu aku pulang dulu ya pak, salam buat anak istrinya di rumah, maaf aku gak bisa mampir " ucap Hanna.
" Iya mbak, gapapa, hati - hati ya... " sahut Bram.
Hanna pun kembali ke rumahnya.
Saat duduk dan bersandar di sofa, Hanna kembali mencoba memikirkan baik - baik kecurigaannya selama ini.
" Apa mungkin tempat itu markas mereka juga... " ucap Hanna.
Sejujurnya dia memang belum mengetahui masalah markas Siwan yang berada dekat sekali dengan kediamannya.
Selama ini Hanna berpikir kalau siapapun yang mengantarkannya pulang ke rumah selama ini, mereka mengambil jalan lain selain jalur masuk utama komplek perumahan itu. Mungkin pikirnya mereka malas memutar mobilnya.
" Ternyata selama ini aku memang bodoh, aku bahkan gak tahu mereka punya markas disini... cih... keterlaluan " ucap Hanna.
Di sisi lain...
Tio yang bersembunyi di pagar rumput tetangga seberang markasnya nampak bernasib sial, tanpa sengaja dia menyentuh pup anjing sang pemilik rumah, juga, saat dia berdiri, di belakang, saat dia menoleh, si anjing pemilik rumah nampak menunjukkan taringnya begitu seramnya, dan bersiap menerkam Tio yang masih melongo di depan sang anjing.
Saat sang anjing menggonggong, barulah Tio tersadar dan berlari ke markasnya. Untungnya anjing tersebut di ikat sangat kencang oleh sang pemilik rumah.
Sang pemilik rumah pun keluar mengechek anjingnya yang nampak berisik dan terus menggonggong ke arah markas Tio dan Bram.