My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 KAMAR



Aji mengerjap dan terbangun dalam tidurnya saat itu karena seorang pramugari membangunkannya dan memberitahunya untuk memasang sabuk pengaman karena pesawat akan segera mendarat.


Aji terlihat berkeringat, wajahnya terlihat pucat, ia kembali bermimpi tentang kejadian hari itu, hari dimana Siwan pergi meninggalkannya dan orang - orang yang di cintainya untuk selamanya.


Setelah memasangkan sabuk pengaman, Aji menoleh pada Hanna. Dan ternyata sejak tadi Hanna sedang memperhatikannya.


" Kau kenapa ?" tanya Hanna dari kejauhan.


^^^" Tidak apa - apa " jawab Aji.^^^


20 menit kemudian, kini Hanna, Aji dan bu Shinta sudah berada dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk memeriksakan kondisi Hanna dan kandungannya.


Mereka di jemput oleh Bram.


...Di rumah sakit......


" Tidak apa - apa, kondisi janinnya baik - baik saja, hanya saja tolong asupan nutrisinya lebih di perhatikan lagi ya, janinnya sangat kecil, kondisinya masih rentan " ucap seorang dokter obgyn wanita yang sedang melakukan usg terhadap janin di perut Hanna.


Hanna di temani oleh bu Shinta dan Austin saat melakukan pemeriksaan di dalam. Aji hanya menunggu mereka di luar ruangan pemeriksaan.


" Akhirnya, Siwan junior hadir juga, Hanna, aku akan 24 jam siap menjagamu " ucap Austin sambil mengelus perut Hanna yang sudah mulai terlihat membuncit beberapa senti.


^^^" Ish... enak saja " bu Shinta mengerlingkan matanya di depan Austin.^^^


Selesai pemeriksaan di rumah sakit, mereka langsung meluncur ke kediaman Siwan untuk beristirahat disana. Karena rumah bu Shinta berada di kota yang cukup jauh dari kota Denpasar. Bu Shinta takut Hanna yang sedang hamil kelelahan jika harus langsung pulang ke rumahnya.


Bi Asih yang sudah menunggu mereka di halaman nampak sangat antusias kala mobil yang membawa Hanna dan majikannya masuk ke dalam halaman rumah Siwan kala itu.


" Bi Asih, apa kabar ?" tanya Hanna yang baru turun dari mobil.


^^^" Baik non, hati - hati, pelan - pelan " bi Asih membantu memapah Hanna saat baru keluar dari mobilnya.^^^


Apa bi Asih sudah tahu tentang kehamilan Hanna ??


...Flashback On...


...Tanggal 5 februari 2017...


Pukul 12.10 wita...


Bu Shinta di temani supirnya sedang dalam perjalanan menuju rumah Siwan. Sebelumnya ia menelepon bi Asih menanyakan tentang Aji, karena ia ingin bertemu dengannya. Bu Shinta sudah berulang kali menelepon Aji namun tidak di angkat.


Sesampainya di kediaman Siwan, bu Shinta melihat Aji dan bi Asih sudah berdiri di halaman menunggunya.


" Masuklah, kita bicarakan di dalam " ucap bu Shinta yang terus berjalan menuju ke dalam rumah.


^^^" Ada apa ini, apa jangan - jangan bu Shinta sudah tahu kalau.... " gumam Aji.^^^


" Ji, kita bicara disini saja " sela bu Shinta yang kini sudah berdiri di samping sofa ruang tengah.


^^^" Bi, bibi juga duduklah, aku juga ingin bertanya padamu juga " ucap bu Shinta.^^^


" Baik mbak yu " jawab bi Asih.


" Apa kalian tahu, Hanna saat ini sedang hamil " ucap bu Shinta secara tiba - tiba.


^^^" Apa... hamil ?" Aji sangat terkejut mendengarnya, begitu juga dengan bi Asih.^^^


" Jangan katakan kalau kalian juga memang tidak tahu " ucap bu Shinta.


^^^" Aku memang tidak tahu bi, sumpah, aku bahkan tidak menyangka kalau dia akan melakukan..." ucapan Aji terhenti.^^^


" Kau bilang imannya tidak di ragukan, kau lihat sendiri kan sekarang seperti apa " sahut bu Shinta.


^^^" Maaf bi, tapi bibi tahu darimana ?" tanya Aji.^^^


" Kemarin aku kembali ke rumah sakit karena aku penasaran melihat tubuhnya yang seperti itu, entah karena masih berkabung atau memang dia sedang sakit parah, makanya aku meminta tolong temanku mencari tahu hasil pemeriksaannya kemarin " ucap bu Shinta.


^^^" Tapi, kenapa dia menyembunyikan hal itu selama ini dariku, apa dia sengaja atau... "^^^


Bu Shinta kembali menyela ucapan Aji kembali.


" Dia juga baru tahu, dokter yang memeriksanya kemarin bilang padaku dia juga tidak tahu dan merasa shock, menurut dokter setelah mencocokkan tanggal terakhir kali dia melakukannya berarti usia kandungannya sekarang sekitar 12 minggu, aku berharap bayinya memang cucuku, tapi kalau bukan...? "


^^^" Tidak bi, aku berani menjamin kalau itu pasti anak kak Wan, hasil pemantauanku selama ini tidak pernah melihat dia bergaul dengan pria manapun kecuali dengan kak Wan, dia juga selalu dalam pengawasannya "^^^


" Kalau begitu, ayo kita temui dia, aku sudah sangat lama menantikan keturunan dari anakku, mana bisa aku mengabaikannya kali ini " ucap bu Shinta.


^^^" Emh... dia pasti sedang di kostannya, aku akan pergi kesana sekarang juga " ucap Aji, bangkit dari kursinya.^^^


" Aku ikut denganmu " bu Shinta pun bangkit mengikuti Aji di belakang.


Bi Asih masih terduduk di kursinya, dia masih belum percaya mendengar fakta kehamilan Hanna saat itu.


Sesampainya di kostan Hanna...


" Bi, tunggu disini saja, aku tidak mau bibi kelelahan, aku saja yang ke atas " ucap Aji.


Bu Shinta dengan sabar menunggu Aji.


Namun, 10 menit kemudian, Aji kembali sendirian dan dengan wajah kebingungan dan masuk ke dalam mobil.


" Dia tidak ada di kostan, hpnya juga tidak aktif, sepertinya dia sedang pergi keluar " ucap Aji.


^^^" Baiklah, kita tunggu saja disini " ucap bu Shinta.^^^


" Aku akan mengirim pesan padanya, mudah - mudahan dia langsung membacanya dan lekas pulang kemari " sahut Aji.


Hampir satu jam mereka menunggu, belum juga ada tanda - tanda kedatangan Hanna.


Bu shinta yang belum makan siang, sampai rela delivery makanan dan makan siang di dalam mobil.


Setelah makan, Aji mencoba menghubungi kembali Hanna, namun nomornya tetap tidak aktif.


Dia pun memutuskan untuk mengantar bu Shinta pulang saja dan selanjutnya dia sendiri yang akan menemui Hanna dan membawanya ke hadapan bu Shinta.


Namun, saat sore harinya Aji kembali ke kostan Hanna, di sana hanya ada Reni sendirian.


" Bli, apa kau mencari Hanna ?" tanya Reni.


^^^" Iya, tadi siang aku kemari tapi dia tidak ada, apa sekarang dia sudah pulang ?" tanya Aji.^^^


Reni mengeluarkan kertas yang terlipat dari saku celananya.


" Aku hanya menemukan ini saat pulang bekerja tadi, sepertinya dia sudah pulang ke Bandung tanpa berpamitan pada kita, kopernya semua sudah tidak ada " ucap Melly.


Aji membaca dengan seksama tulisan tangan Hanna yang di tujukan untuk Melly, temannya.


Wajahnya berkerut, kedua alisnya bertemu dan selesai membaca isi suratnya, Aji meremas secarik kertas itu lalu menyerahkannya kembali pada Melly lalu pergi.


Aji melajukan mobilnya sangat kencang, memecah jalanan di senja hari yang tidak terlalu padat saat itu.


Aji terlihat sangat marah dan kecewa.


" Bagaimana bisa aku tetap diam kalau dia pergi dalam keadaan seperti itu, cih... sial... semakin rumit saja " Aji berdecak lesal.


Keesokan harinya, Aji memberitahu bu Shinta tentang Hanna yang ternyata sudah pulang ke Bandung tanpa sepengetahuannya.


Bu Shinta pun mengajak Aji menyusul Hanna ke Bandung. Namun, karena bu Shinta sudah ada janji bertemu bersama para donatur, jadi dia baru bisa berangkat tanggal 10 februari, dan sesampainya di Bandung, dia masih harus mencari tahu lokasi alamat menuju rumah Hanna karena jujur saja, Aji belum pernah di ajak Siwan ke Bandung meskipun Siwan sendiri sudah berkali - kali pergi ke sana.


Dan, barulah pada tanggal 11 februari, setelah merasa yakin seratus persen alamat rumah Hanna di temukan, Aji dan bu Shinta pergi menemui Hanna di rumah orang tuanya.


...Flashback off...


Hanna yang baru tiba di kediaman Siwan siang itu merasa sangat senang bisa kembali menginjakkan kakinya di rumah kekasihnya itu.


Mereka sempat mengukir kenangan indah di rumah ini.


Hanna dan bu Shinta di antarkan oleh Bram. Sedangkan Aji, karena harus mengurus pekerjaan penting, dari rumah sakit ia langsung meluncur ke markas.


Bram untuk sementara tinggal di kediaman Siwan untuk berjaga - jaga siapa tahu Hanna maupun ibu Siwan butuh seorang supir di rumah mereka.


" Han, kita makan siang dulu ya, perutmu belum terisi lagi, terakhir makan di pesawat hanya sedikit, makan dulu ya, setelah itu kau istirahat " ucap bu Shinta.


^^^" Iya, baik bu " jawab Hanna.^^^


Bu Shinta dengan sengaja menyuruh bi Asih menyiapkan menu makanan yang aman untuk perut mual ibu hamil. Karena dia tahu, biasanya hingga usia kandungan 4 bulan rasa mual masih sering melanda ibu hamil pada umumnya.


" Wah... terlihat sangat enak bi, terima kasih ya... " ucap Hanna.


^^^" Iya non, coba di cicipi dulu masakan bibi, mudah - mudahan non bisa makan dengan lahap " sahut bi Asih.^^^


Hanna mulai mencicipi sedikit demi sedikit, namun tetap saja ternyata, makanan yang terlihat sangat menggiurkan dari luar, ketika masuk ke mulutnya, rasanya terasa aneh dan hambar, Hanna terlihat ingin memuntahkan isi perutnya, namun ia tahan.


" Maafkan aku bu, bi, lidahku masih merasa sama, belum juga baikan " ucap Hanna.


^^^" Bi, coba beri sedikit jus mangga atau jeruk, gula dan esnya sedikit saja ya... " ucap bu Shinta.^^^


Saat sedang menunggu bi Asih membuat jus, Hanna hanya menatap bu Shinta yang sedang makan dengan lahap.


" Bu, aku cukup kenyang melihat ibu makan dengan lahap " ucap Hanna. Namun kemudian menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


" Ya Alloh, gak sopan banget aku ngeliatin orang tua lagi makan, mulutku gak bisa di jaga banget sih " gumam Hanna.


^^^" Hahaha... tidak apa, aku tahu kebiasaan ibu - ibu hamil kadang seperti itu, tapi kau harus tetap makan ya, dokter bilang itu karena asam lambungmu naik, makanya kau jadi mudah mual, kau harus selalu menyediakan cadangan makanan di dekatmu supaya saat kau lapar kau bisa langsung mengunyah makanan itu, apapun itu yang kau mau, katakan saja, nanti aku bantu siapkan " ucap bu Shinta.^^^


" Iya, baik bu " ucap Hanna.


Ketika dua gelas jus sudah berada di hadapan Hanna. Ia langsung merasakan kesegaran di mulutnya, namun ia tidak bisa meminum semuanya secara langsung, karena ia tetap harus memakan nasi sebagai tambahan energi untuk tubuhnya. Jus hanya sebagai pendorong agar mulutnya tidak merasa pahit.


Selesai makan, Hanna di antarkan bi Asih ke lantai 2 untuk istirahat di kamar Siwan, sedangkan bu Shinta istirahat di kamar tamu.


" Han, sudah memberitahu orang tuamu ?" tanya bu Shinta.


^^^" Sudah bu, aku tadi baru mengirim pesan saja, nanti aku akan menelepon saat di dalam kamar " jawab Hanna.^^^


" Baiklah, kau istirahat dulu ya, ingat, kalau ada apa - apa, langsung beritahu aku atau bi Asih, kau tidak boleh turun dari lantai ini sendirian.


^^^" Iya, baik bu, terima kasih " ucap Hanna.^^^


Kini, Hanna sudah berada di dalam kamar Siwan, di temani oleh bi Asih.


Di ambang pintu kamar, langkah Hanna sempat terhenti, karena ia kembali mengingat bahkan masih merasakan Siwan berada di dekatnya kini, menghampirinya dan menyambutnya serta menuntunnya hingga terduduk di tepi ranjang.


Di matanya, Hanna melihat Siwan kini tengah berjongkok dan mencium perutnya yang sudah mulai sedikit membuncit.


Air mata mengalir ketika Hanna menutup matanya.


" Astagfirullah... aku tidak bisa terus seperti ini " ucap Hanna sambil menutup matanya.


^^^" Non, kuatkan hatimu, demi janin di perut non saat ini, berjuanglah, Tuhan sedang mempersiapkan kebahagiaan yang sempat tertunda, percayalah " ucap bi Asih.^^^


Hanna menghapus air matanya.


" Iya bi, aku harus kuat, aku pasti kuat " ucap Hanna.


^^^" Baiklah, kalau begitu non istirahat dulu ya, kalau butuh sesuatu, telepon saja ke bawah, nanti bibi langsung ambilkan "^^^


" Iya, makasih banyak ya bi " ucap Hanna.


Sebelum tidur siang, Hanna sempat mengganti pakaian dan pergi ke kamar mandi mencuci wajah dan menggosok giginya.


Setelah itu ia mulai naik kembali ke atas ranjang Siwan.


Tangannya sempat meraba kasur dan bantal dimana posisi Siwan sering berada ketika bersamanya.


" Ahjussi, seandainya kau masih bersamaku, kau pasti akan menjadi orang yang paling bahagia karena kehadirannya " Hanna mulai dilanda kepedihan hatinya kembali.


Namun, untung saja telepon masuk ke hpnya membuatnya terperanjat dan buru - buru menghapus air matanya.


Ternyata yang meneleponnya adalah ibunya dari Bandung. Lalu, Hanna mengganti telepon nya menjadi sambungan video call selama beberapa menit bersama keluarganya. Haru dan bahagia tentu saja menghiasi percakapan mereka kala itu. Ayah Hanna tak lupa selalu mengingatkan agar Hanna rajin beribadah dan berdzikir supaya semua masalah dan kesedihan yang menimpanya hilang secara perlahan.


Selesai video call, Hanna pun teringat bahwa dia belum shalat dzuhur, dia pun langsung bergegas mengambil air wudhu dan mengeluarkan satu set perlengkapan sholatnya yang masih berada di dalam koper. Tak lupa ia mencari arah kiblat lewat kompas kecil yang selalu ia bawa. Setelah meyakini arahnya benar, maka Hanna pun melaksanakan ibadah shalat dzuhur nya dan berdizikir setelahnya, lalu berdoa dan bersimpuh memohon ampun pada Alloh atas segala kesalahan dan dosa yang telah ia perbuat. Tak lupa ia ikut menyisipkan nama Siwan dalam doanya.


...Keesokan harinya... ...


Setelah bangun dari tidurnya, Hanna yang sedang di temani bi Asih di kamarnya kembali merasakan mual. Orang bilang artinya dia sedang menderita morning sickness, usia kehamilan yang masih terbilang muda memang rata - rata mengalami kejadian seperti ini. Namun, setiap ibu hamil pasti berbeda - beda, ada juga yang malah tidak mengalaminya bahkan tidak merasakan kehamilannya sama sekali.


Austin yang kebetulan melewati kamar Siwan dan melihat kondisi Hanna langsung masuk ke dalam karena pintunya sedikit terbuka.


" Kenapa ? mual ?" tanya Oz.


^^^" Iya nak Oz, bibi udah coba kasih teh manis, udah bantu olesin minyak angin juga biar seger " jawab bi Asih. ^^^


" Sini, biar aku pijat, kau maju sedikit " Austin pun langsung duduk di belakang Hanna di atas ranjang.


^^^" Kau pusing juga ?" tanya Oz. ^^^


" Heemh... " jawab Hanna.


Austin pun langsung memijat pundak Hanna dengan lembut, naik ke area tengkuk leher, lalu naik hingga ke area kepala. Dan, saat ia akan memijat pelipis dan kening Hanna, ia menyuruh Hanna bersandar ke belakang, ke dadanya Austin, supaya dia bisa memijat bagian pelipis dan dahi Hanna dengan mudah, serta supaya Hanna lebih rileks.


" Gapapa non, jangan gugup, pijatan nak Oz memang mantul, bibi juga sering di pijat kalau lagi pusing masuk angin " ucap bi Asih.


Hanna pun terpaksa bersandar ke belakang, pada dada Austin, dan terkungkung dalam dekapannya, dengan perasaan malu dan gugup.


Namun, lama kelamaan Hanna mulai merasakan rileks, rasa pusing di kepalanya mendadak berkurang meskipun rasa mual masih menderanya.


Dan, tiba - tiba, Aji yang baru bangun dan melewati kamar Siwan lalu melihat kemesraan antara Austin dan Hanna pun langsung nyalang, awalnya kedua mata yang masih terlihat rapat kini berubah membesar dan membulat seperti akan terlepas.


" Kalian sedang apa ?" tanya Aji menerobos masuk ke dalam kamar Siwan yang pintunya setengah terbuka.


^^^" Kau tidak lihat, aku sedang memijitnya, kau pikir aku sedang apa ?" tanya Austin.^^^


" Jangan mengambil kesempatan, cepat lepaskan tanganmu, bi Asih saja yang memijatnya " sahut Aji.


^^^" Pijatan bibi gak bakal seenak pijatan nak Oz, nak Aji, kenapa sih, biarin aja toh, nak Oz kan dokter, tangannya pasti sudah terlatih menangani pasien " ucap bi Asih membela Austin. ^^^


Austin yang tangannya masih memijat Hanna pun menjulurkan lidahnya ke arah Aji dan tersenyum licik.


" K-kau... awas yaaa... " Aji masih kesal melihat Austin yang belum juga menyelesaikan pijatannya, ia malah semakin memanaskan situasi dengan mendekatkan wajahnya pada Hanna dan berbisik di telinganya sangat dekat.


^^^" Enak... ?" bisik Oz pada Hanna. ^^^


" Heemh... ahjussi juga sering memijatku dulu, tapi tidak seenak ini, tangannya sangat kasar, pasti sama seperti tangannya " Hanna menunjuk pada Aji yang masih mematung di samping bi Asih.


Bi Asih menahan tawa sambil menatap Aji.


" Hahaha... kau dengar kan ? sudahlah, pergi sana, tidak usah cemburu kau... " ucap Austin.


^^^" Cih... aku tidak akan pergi sampai kau menyelesaikannya, aku akan pastikan tanganmu tidak bisa bergerak lagi kalau kau berbuat macam - macam padanya di depan mataku " sahut Aji. ^^^


" Aish.... kalian sungguh berisik, aku mau ke kamar mandi saja !!"


Hanna merasa kesal mendengar perdebatan sengit antara kedua kakaknya, lalu ia turun dari ranjangnya di papah oleh bi Asih hingga ke kamar mandi.