My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Sensitif



Satu bulan tiga hari berlalu, Siwan masih belum kembali ke Bali. Dia benar - benar sibuk membantu adiknya mengerjakan sebuah proyek besar di Seoul.


Tapi, namanya perempuan, secara alamiah selalu penuh kecurigaan terhadap pasangannya. Hanna berpikir "apa jangan - jangan disana dia menikah dan sedang berbulan madu." Hal itu membuat hati Hanna sedih bukan kepalang, tanpa terasa air mata mengalir di pipinya. Malam itu, hari rabu, sekitar pukul 21.00 Wita, Hanna sedang melamun di balkon kamar kostnya. Yang tidak lama kemudian dia menjadi menangis tersedu - sedu karena memikirkan hal yang belum pasti tentang kekasihnya.


Kini, hari berganti menjadi pagi, sekitar pukul 06.00 Wita, Hanna baru terbangun dari tidurnya, karena alarm sengaja dia matikan di hari liburnya.


Setelah pergi ke kamar mandi, dia mulai menyiapkan sarapan di dapurnya. Saat sedang mengoles selai pada rotinya, tiba - tiba ada seseorang yang mengetuk pintu ruang kostnya.


" Pasti kak Siska, paling mau minta telur. " Ucap Hanna. Lalu dia menghampiri pintu dan membukanya.


Saat dia membukanya, dia merasa terkejut, di depan matanya kini ada seseorang yang berdiri sedang memegang satu buket bunga mawar merah dan satu buah kantong keresek ukuran besar.


" Sammy..." Ucap Hanna.


" Hai, pagi.." Sapa Sammy.


" Tumben Sam, ada apa?" tanya Hanna merasa heran.


" Iya nih, maaf ya, aku soalnya buru - buru, habis ini mau pergi lagi. " Ucap Sammy.


" Emh.. kalau gitu, masuk yuk, ngobrol di dalem aja. "


Mereka berdua pun masuk dan duduk di karpet ruang tv Hanna.


" Mau kemana sih Sam, buru - buru gitu. " Ucap Hanna.


" Iya Na. Eh... ini bunga buat kamu." Sammy baru menyerahkan buket bunga tersebut pada Hanna.


" Wah.. makasih banyak ya Sam." Ucap Hanna.


" Na, aku mau ke Amerika. Aku akan berangkat tiga jam lagi. Makanya aku kesini mau pamitan. " Ucap Sammy.


Hanna merasa terkejut, " Kok ngasih tahunya mendadak sih Sam, aku jadi gak nyiapin apa - apa buat kamu sebagai kenang - kenangan. " Hanna terlihat kecewa.


" Tidak usah repot - repot. Aku, akan selalu mengingatmu. Aku tidak akan pernah melupakanmu." Ucap Sammy yang membuat Hanna tidak bisa mengeluarkan kata - kata dan hanya menatapnya lebih dalam.


" Eh iya Na, ini, aku ingin mengembalikannya padamu." Sammy menyodorkam kantong keresek besar yang kini berada di sampingnya.


" Aku, sepertinya harus memberikannya padamu saja. Aku, sudah tidak bisa menyimpannya lagi. Aku sangat ingin, tapi aku merasa hatiku selalu terluka setiap menatapnya. " Ucap Sammy.


" Apa ini Sam ?" Sekilas, Hanna melihat isi dalam kantong keresek besar tersebut.


" Ini, lukisan wajahku bukan?" tanya Hanna.


" Iya, aku ingin kau saja yang memilikinya. Ini karya pertamaku sejak aku debut jadi pelukis."


" Wah, akhirnya aku bisa melihatnya lagi. " Ucap Hanna merasa senang. " Tapi Sam, gara - gara lukisan ini, kau sempat...." Hanna tidak meneruskan ucapannya, karena Sammy langsung memotong pembicaraannya.


" Ssttt... tidak usah kau teruskan, ini semua salahku. Aku harusnya meminta maaf padamu dan pacarmu itu. Maafkan aku ya !!"


" Sejujurnya, aku memang sangat marah saat mendengar kau di hajar habis - habisan waktu itu, tapi aku juga tidak tahu alasan apa yang membuat Aji sampai tega melakukannya padamu. Aji tidak memberitahu ku, katanya itu urusan antara pria saja, aku tidak perlu tahu."


" Iya, memang sebaiknya kau tidak perlu tahu, aku terbawa emosi dan menyesali semuanya. Kumohon, masihkah kita tetap berteman seperti dulu ?" Terlihat begitu banyak penyesalan di wajah Sammy, dan Hanna sungguh tidak tega untuk membenci Sammy, apalagi dia masih belum benar - benar mengetahui apa yang terjadi saat itu.


" Ayolah Sam, kau tetap sama, kau tetap temanku yang dulu aku kenal. Ketika seorang teman berbuat kesalahan pada kita, sudah sepatutnya kita memaafkannya bukan malah membencinya."


" Iya Sam, aku juga pokonya terima kasih banyak ya, buat lukisannya. " Ucap Hanna.


Lalu Sammy pun pamit untuk pergi. Hanna ingin mengantarkannya sampai ke gerbang depan kostnya. Tapi Sammy mencegahnya.


" Tidak usah Na, sampai sini aja. " Ucap Sammy.


" Yasudah, kalau begitu, hati - hati ya, semoga selamat dimanapun kamu berada Sam, jangan lupa beri kabar ya, jangan sampai berubah jadi sombong kalau udah jadi orang besar. Hihi.." Ucap Hanna menggoda Sammy.


Sammy hanya tertawa mendengar ocehan Hanna.


" Sam, kemarilah, kali ini saja. " Hanna membuka kedua tangannya. Dia mengizinkan Sammy untuk memeluknya, mungkin hanya kali ini saja.


Tanpa banyak berpikir, Sammy pun memeluknya. Dia merasa sangat nyaman hingga enggan untuk melepasakan pelukannya.


" Tolong jaga kesehatanmu Sam, jangan telat makan. " Ucap Hanna sambil masih memeluk Sammy.


Barulah Sammy melepaskan pelukannya lalu menjawab ucapan Hanna. " Akan ku ingat. Baiklah, aku harus segera pergi." Lalu Sammy pun pergi. Di Ambang pintu Hanna masih mematung menyaksikan kepergian Sammy.


Dari luar, Sammy nampak masih berdiri menatap pintu kamar kost Hanna dan berkata, " semakin lama aku di dekatmu, semakin sulit aku pergi. Lebih baik aku menjauh, agar bisa melepaskanmu, selamanya. " Ucap Sammy di dalam hatinya.


Selepas kepergian Sammy, Hanna menatap lukisan pemberiannya. Di belakangnya sudah ada tanda tangan Sammy dan sebaris kata tersemat di atasnya. MY FIRST LOVE by SAMMY.


Entah mengapa setelah membacanya Hanna meneteskan air mata, dia begitu sedih mengetahui kenyataan ini, bahwa dia merupakan cinta pertama bagi Sammy. Dia merasa sedih, nasib sammy ternyata sama sepertinya yang tidak bisa memiliki cinta pertamanya.


" Maafkan aku, Sam." Kata - kata itu tiba - tiba keluar dari mulutnya.


Beberapa jam kemudian, Hanna memutuskan untuk pergi ke toko buku, sekedar melepaskan rasa penat dan gundahnya. Dia pergi dengan bus umum, dia sedang banyak pikiran, takutnya dia tidak fokus menyetir dan terjadi kecelakaan.


Sesampainya di toko buku, Hanna sengaja membaca buku - buku dari berbagai genre, dia ingin fokus pada buku - buku yang ada di hadapannya, sejenak dia ingin melupakan kesedihan karena merindukan Siwan, dan kesedihan karena kenyataan tentang Sammy tadi pagi.


Sekitar dua jam dia berada di toko buku, hingga akhirnya dia mulai merasakan kantuk karena sudah beberapa kali menguap.


Akhirnya Hanna memutuskan untuk pulang saja. Dia pulang setelah membeli beberapa macam buku sebagai calon bacaannya nanti di rumah.


Di perjalanan pulang menuju halte bus, saat sedang berjalan diantara keramaian, dia bertemu kembali dengan Andre di jalan.


" Ya ampun... apa kita berjodoh kali ya, ketemu terus nih.. " ucap Andre dengan wajah sumringah.


" Dih... apaan sih bang !!" Hanna menjawab dengan wajah kecut.


" Hahaha... bercanda nona !!"


" Abang sendiri ngapain sih disini? kelayapan terus kerjaannya. "


" Hehe... emang begini pekerjaanku nona, aku tukang kelayapan tapi di gaji.. " Jawab Andre terdengar sombong.


" Wah... bangga sekali ya, oh.. aku tahu, kamu pasti preman kan disini, lagi jaga keamanan sambil keliling malakin para pedagang sekitar, iya kan ?" tanya Hanna penuh curiga.


" Ish... sama aku pikiranmu jelek terus ya. Sudah ah, aku pergi saja kalau begitu.. " Andre pun pergi berlalu meninggalkan Hanna di tengah keramaian.


" Apaan dia, marah ? aku kan cuma bercanda... ish... sensitif sekali ternyata." Ucap Hanna, lalu kembali melanjutkan perjalanannya ke halte bus.