My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 Shopping day



Beberapa hari berlalu....


Setelah kepulangan keluarganya kembali ke Bandung, Hanna menjalani kembali aktifitas kesehariannya dengan belajar ilmu manajemen bisnis dan keuangan.


Nampaknya ia telalu bersemangat untuk belajar hingga ia melupakan sesuatu hal yang mungkin bisa di bilang cukup penting bagi seorang wanita.


Skincare....


Selesai mandi pagi, hari itu, saat dia terduduk di depan cermin meja rias, saat hendak mengoleskan berlayer - layer cairan skincare di wajahnya, ia terkejut karena berkali - kali ia mencoba memijat tube moisturizer miliknya, tapi tak kunjung keluar.


" Ya ampun... Udah abis ternyata " lirihnya.


Kedua bola matanya berputar dan mengecek satu persatu dari deretan skincare yang berdiri di hadapannya di atas meja.


Ternyata ada beberapa juga yang sudah habis, seperyi sunscreen, day and night krim, parfume, dan body lotionnya ternyata sudah kempes. Sedangkan untuk make up masih terlihat tidak terlalu memprihatinkan karena semenjak hamil Hanna jarang memakai make up, cukup dengan hanya mengoleskan beberapa skincare supaya kulitnya tetap lembab dan liptint supaya bibirnya tidak terlalu pucat.


" Mesti belanja lagi nih... Oke, siang nanti, aku harus berburu alat tempurku !!" ucapnya, sambil membuka laci dan mencari sesuatu di dalamnya.


" Aha.... !!" Hanna menemukan gunting, lalu mengambilnya, dan memotong badan moisturizer tube miliknya hingga terbelah menjadi 2, kemudian ia mengorek sisa moisturizer tersebut yang masih menempel di dalamnya hingga tak bersisa dengan ujung jari - jari tangannya.


" Oke... sudah !! yang penting kulitku masih terjaga kelembapannya " sambungnya, sambil menepuk - nepuk kedua pipinya.


Ketika bercermin, ia nampak memainkan pipinya, mengembang kempiskannya hingga terlihat lucu, namun tidak baginya.


" Aish... bb ku naik berapa kilo yaa terakhir periksa, pipi dan leherku sudah terlihat membengkak begini "


Ketika masih asik berbicara sendirian di depan cermin, tiba - tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya.


Hanna pun bangkit untuk membuka pintu kamarnya yang masih terkunci.


" Bli... " ucap Hanna.


Ternyata Aji yang mengetuk pintu kamarnya dan kini tengah berdiri di hadapannya di ambang pintu.


" Ku pikir belum bangun, sedang apa ? buruan sarapan !" ucap Aji.


" Iya, ini baru selesai mandi kok " jawab Hanna, lalu keluar dari kamarnya dan menutup pintunya.


Hanna di temani Aji menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai 1, tepatnya menuju ruang makan.


" Pagi bi, maaf yaa hari ini aku gak ikut bantu siapin sarapan !" ucap Hanna.


" Gak apa - apa toh neng, kan ada Lastri yang bantu !" jawab bi Asih.


Hanna, Aji bi Asih dan bi Lastri pun kini sudah mulai duduk dan menyendok menu sarapan ke atas piringnya masing - masing.


" Oh iya bli, siang ini, habis belajar, aku mau ke plaza yaa, skincare ku habis !" ucap Hanna.


" Mau di antar siapa ?" tanya Aji.


" Terserah !" jawab Hanna.


" Neng, celana neng juga udah gak ada yang muat kan, harus beli lagi kayaknya !" sela bi Lastri.


" Oh iya ya, aku jadi sering pakai rok gara - gara gak ada celana yang masuk di pinggangku, yaudah, sekalian beli baju sama celana !" sahut Hanna.


" Neng, kapan mau belanja perlengkapan bayi ? menurut bibi udah bisa kok belanja bulan ini !" sela bi Asih.


" Oh iya, udah bisa yaa bi... emh... kapan ya kira - kira, kalo buat belanja perlengkapan bayi butuh waktu yang lama kayaknya, terus, dimana, aku kurang paham soal kebutuhan bayi " ucap Hanna.


" Nanti bibi coba tanya ke beberapa teman bin ya, mereka mungkin lebih tahu soalnya mereka udah punya cucu, pasti lebih berpengalaman dan tahu toko mana yang komplit dan berkualitas !" sahut bi Asih.


" Oh... yang di rumah penduduk di ujung area kampung ini ya bi, yaudah, aku serahkan sama bibi ajalah !" ucap Hanna.


Siang harinya...


Selesai belajar bersama seorang pengajar khusus yang Aji cari untuknya, Hanna duduk selonjoran di sofa sendirian sambil memijat punggung, pinggang dan betisnya.


Lalu, datanglah Aji, yang baru pulang dari mengunjungi Woods art studio dan berkeliling mengecek ke lapangan beberapa bisnis yang sedang ia awasi.


" Kenapa ? sakit ? pegal ?" tanya Aji.


Hanna hanya menatapnya sekilas lalu mendelik kesal.


" Udah tahu gitu, banyak tanya, hih dasar gak peka !" ucap Hanna, lirih.


" Bukannya mau pergi belanja ? Kenapa Bram belum datang ?" tanya Aji kembali.


" Mana kutahu lah, aku dan bi Lastri juga lagi nungguin dia... " jawab Hanna, dengan ketus.


Dan Aji pun mengeluarkan hpnya dari saku celananya.


Dia menelepon seseorang...


" Hallo, Bram, dimana ??" tanya Aji, ternyata dia menelepon Bram.


" Oh... oke, biar gue aja !"


Aji menutup sambungan teleponnya.


" Ban mobilnya bocor di jalan xxx dia gak bawa ban cadangan, dia gak punya pulsa, kuota habis, jadi gak kasih kabar !" ucapnya.


" Emh... yasudah, aku di anter bang Seno aja kalo gitu, kayaknya dia baru pulang tuh !" sahut Hanna, yang mendengar ada suara mobil masuk ke garasi rumah saat itu.


" Eh... bentar, aku aja yang anter, kerjaan udah pada beres kok, aku ganti baju dulu sebentar, tunggu yaa, kau siap - siap aja !" ucap Aji.


10 menit kemudian...


Kini Hanna dan bi Lastri sedang dalam perjalanan menuju salah satu Plaza yang ada di ibukota provinsi, di antar oleh Aji.


Dalam perjalanan, Hanna terlihat kepanasan, padahal Ac mobil sudah full, bahkan bi Lastri malah kedinginan.


" Bli, turunkan saja Acnya, kasihan bi Lastri, aku buka jendela sala " ucap Hanna yang juga mengipas tubuhnya dengan koran yang ada di dalam mobil.


" Neng, kayaknya neng emang harus segea beli perlengkapan bayi deh, biar tenang gitu " ucap bi Lastri.


" Iya bi, nanti bi Asih yang cari tahu dulu toko alat perlengkapan bayi yang komplit katanya, biar sekalian, gak bolak balik " jawab Hanna.


Aji sesekali melihat ke belakang lewat kaca spion dalam mobilnya.


Dia melihat Hanna memang sudah terlihat banyak perubahan pada fisiknya, bahkan akhir - akhir ini dia sering mendengar keluhan dari mulut Hanna tentang apa yang ia rasakan selama ini.


Sesampainya di basement Plaza, Hanna yang baru keluar dari mobil nampak terkejut melihat seorang pria yang tidak jauh dari mobilnya yang terparkir, berjalan sendirian menuju ke arah lift yang ada beberapa meter di depannya.


" Kak Oz... " teriak Hanna.


Austin menghentikan langkahnya dan menoleh ke samping. Lalu ia melambaikan tangannya pada Hanna dari kejauhan ketika mata mereka bertemu.


Aji dan bi Lastri yang baru keluar dari mobilnya hanya saling berpandangan kemudian tersenyum pada Austin.


Austin mendekat pada Hanna.


" Kalian jalan - jalan gak ngajak, tega sekali !" ucap Austin.


" Ih... ini dadakan tahu, kak Oz sendiri ngapain disini ? gak kerja ? libur ?" tanya Hanna.


" A-aku " Austin malah tersenyum. " Maaf, maksudku, aku lagi libur, mau ketemu temen di atas, eh... hallo baby, gimana kabarnya nih !" Austin mengelus perut buncit Hanna.


" Makin aktif kak Oz, dia makin pintar membuatku terkejut setiap harinya !" jawab Hanna.


" Baguslah... tandanya dia sehat !" sahut Oz.


Lalu beralih menatap Aji.


" Hai Ji, lama gak ketemu, makin tampan aja kau ini !" sambut Austin.


" Cih... " Aji mengerlingkan matanya.


Hanna memangkas interaksi keduanya.


" Udah ah... disini panas, ayo kita ke atas barengan saja " ucapnya, kemudian berjalan bersama di samping Austin menuju lift ke lantai 2.


Ketika sampai di lantai 2..


" Oh... oke... bye... " ucap Hanna.


Di lantai 2, Hanna berjalan mengelilingi beberapa toko dari satu pintu ke pintu toko lainnya untuk berburu skincare dan bodycare yang sedang ia perlukan.


Di tengah perjalanan...


" Bli, kok aku lihat antara bli sama kak Oz jadi kaya ketemu sama musuh, bukan ekspresi kayak ketemu kawan lama " ucap Hanna.


" Ah... itu cuma perasaanmu aja, aku dari dulu memang seperti ini pada Oz, kami baik - baik aja !" jawab Aji.


" Tapi kok... " ucapan Hanna terhenti.


" Eh neng, itu lihat, ada toko baju bayi kayaknya bagus - bagus tuh, mampir dulu yuk " sela bi Lastri.


" Wah... di sebelah mana bi... ?" tanya Hanna.


" Itu neng, sebelah kanan ujung depan sana, yuk... !" jawab bi Lastri.


Nampaknya, malah bi Lastri yang terlihat bersemangat untuk mempersiapkan keperluan calon bayi Hanna nantinya.


Sesampainya di toko babyshop tersebut...


" Wah, lihat neng, bener kan kata bibi, lucu banget ini baju - baju bayi !!" bi Lastri mulai mengambil beberapa potong pakaian untuk anak bayi perempuan.


" Ish... bibi, lupa ya, hasil usg kemarin apa ? dokter Yoga prediksi bayiku ini laki - laki loh... " sahut Hanna.


" Hehe... habisnya lucu banget ini neng " bi Lastri pun menyimpan kembali baju - baju yang berada di genggamannya ke tempat pajangan semula.


Hanna berjalan menuju rak penyimpanan baju untuk bayi newborn dan memilih beberapa pasang baju berwarna netral, selain itu ia membeli beberapa bedong mulai dari yang kain biasa hingga yang instan, popok bayi, gurita, kaos kaki, kupluk, slaber, kain perlak, tas bayi dan beberapa perlengkapan lainnya.


Tanpa di sadari ternyata belanjaan mereka sudah menumpuk penuh di meja kasir.


Aji yang sejak tadi pergi meninggalkan mereka di dalam babyshop pun ikut terkejut melihat hasil belanjaan mereka.


" Katanya gak akan dulu belanja keperluan bayi, ini apa ?" tanya Aji.


" Ssssttt... udah gak usah banyak omong, cepet bayar !" ucap Hanna.


Pada akhirnya, kedua tangan masing - masing dari mereka terlihat penuh menjinjing tas belanjaan hasil perburuan Hanna siang menuju sore itu.


" Bli, aku lapar, makan dulu yaa... !" ucap Hanna.


" Oke, mau makan dimana ?" tanya Aji.


" Di atas aja yuk, aku mau makan steik hari ini !" jawab Hanna.


Mereka pun menuju ke lantai 3, menuju salah satu resto yang menjual steik yang halal langganan Hanna dan Siwan dulu saat berkencan.


Setibanya di salah satu kursi yang ada disana, Aji memutuskan untuk turun ke basement menyimpan dulu barang belanjaan Hanna saat itu, supaya tidak terlalu kerepotan nanti saat mereka kembali berjalan - jalan.


" Kalian tunggu saja disini, aku tidak akan lama !" ucap Aji.


" Bli, apa gak kerepotan bawa barang segitu banyaknya ?" tanya Hanna.


" Ini sih kecil, gak ada apa - apanya di banding barbel di tempat gym !" jawab Aji, dengan penuh percaya diri.


" Hih... pede banget, awas ya, hati - hati jangan ampe jatuh, apalagi parfumku, nanti kali pecah, ganti rugi 2x lipat !" ucap Hanna.


Aji tak mempedulikan ucapan Hanna dan pergi berlalu dari hadapannya menuju pintu lift yang tidak jauh dari resto tersebut.


Beberapa menit kemudian, ketika Aji kembali menghampiri Hanna dan bi Lastri, ekspresi wajahnya menunjukkan rasa tidak suka, karena ia melihat kini ada Austin di antara keduanya.


Namun ia berusaha menyembunyikan perasaannya saat itu dan kembali menghampiri meja mereka.


" Bli, cepet duduk, makananmu keburu dingin !" ucap Hanna yang melihat Aji sudah berdiri di depannya.


" Oz, gak makan ?" tanya Aji.


" Engga Ji, udah makan tadi, sebenernya tadi mau pulang, cuma pas lewat ngelihat Hanna disini gue mampir dulu !" jawab Austin panjang lebar. " Loe makan aja, gak usah sungkan ama gue !" sambung Oz.


" Hemh " Aji tidak membalas ocehannya.


" Han, udah belanja perlengkapan bayi ?" tanya Oz.


" Baru sebagian kak, barusan belanjaannya di simpen bli ke mobil dulu, kenapa memangnya ? apa HPL ku bakal lebih cepet dari tanggal sebelumnya ?" tanya Hanna.


" Engga, cuma tanya aja, ya, di usia kandungan segini udah harus prepare kan, lebih awal lebih bagus, emh... oh iya, ranjang bayi, kau mau yang model seperti apa ? aku yang akan membelikannya sebagai hadiah kelahiran keponakanku ini nanti " ucap Oz.


" Benarkah... wah, makasih banyak ya kak, tak usah repot - repot padahal " jawab Hanna.


" Enggak kok, nanti aku kirim ke rumah kak Wan kalau barangnya sudah dapat ya, akan ku belikan model terbaik dan terbaru yang ada di seluruh bumi ini " goda Austin.


" Ck... gak usah berlebihan, lebay tahu gak ! xixixi " sahut Hanna.


" Habis ini kalian mau kemana lagi ?" tanya Austin.


" Aku masih mau jalan - jalan kak, soalnya masih ada yang harus ku beli " ucap Hanna.


" Oz, boleh nanya gak ?" tiba - tiba Aji mengeluarkan kata dari mulutnya, namun memicu reaksi yang berbeda di antara ketiga orabg yang ada di sekitarnya.


" Apaan sih Ji, mau nanya apaan emangnya ? tanyain aja langsung kali... " jawab Oz.


" Tiga hari yang lalu, loe ada dimana ?" tanya Aji.


" Gue, ngapain sih loe nanya gitu, aneh banget !" ucap Oz.


" Kenapa memangnya bli ?" tanya Hanna.


" Gapapa, cuma mau tahu aja kok, yaudahlah gak usah di jawab, gue salah lihat kali !" ucap Aji.


" Salah lihat, emangnya bli liat kak Oz dimana 3 hari yang lalu, emh... eh bentar, tiga hari yang lalu kita masih ada di Nusa Penida kan ?" tanya Hanna.


" Yups... !" ucap Aji.


" Loe liat orang yang mirip gue disana ? emang sih, orang ganteng biasanya mukanya pasaran, apalagi banyak bule yang lagi liburan habis lebaran kemarin, ya wajar lah loe nyangka itu gue !" kilah Austin, menjawabnya dengan penuh senyuman, tanpa meninggalkan rasa penasaran kembali pada yang lainnya.


" Hahaha... najis !" sahut Aji.


" Dih, apaan sih kalian ini, kalian kayaknya saling merindukan !" ucap Hanna.


" Dia yang kangen sama aku Han, ampe dia halusinasi liat aku di Nusa Penida, orang aku lagi ada operasi besar di rumah sakit yyy " ucap Oz dengan nada kesal.


" Owh.. gitu, yaudah, biasa aja kali kalo gak mau ngaku mah ya gapapa juga kali ! hihihi... " Hanna menahan tawanya.


" Baiklah, kalo gitu jangan kecapean yaa, jaga kondisi tubuhmu, aku harus segera pergi, masih ada urusan lain " ucap Oz, lalu kembali mengelus perut buncit Hanna, dan menyapa jabang bayi di dalamnya.


" Oke... hati - hati ya paman Oz... " timpal Hanna.


" Ji, bi Lastri, aku pamit dulu ya, titip Hanna dan calon keponakanku ini " ucap Oz.


" Hemh " Aji hanya bereaksi dingin seperti biasanya.


" Hati - hati ya den Oz " ucap bi Lastri.


Austin bangkit dan tersenyum menatap ketiga orang yang sejak tadi ada di dekatnya, sebelum pergi ia sempat menepuk pundak Aji dan berlalu meninggalkan resto tersebut dengan terburu - buru.


Makasih banyak yang masih selalu menunggu updatean cerita othor yang semakin kesini malah semakin bikin readers jadi kesel dan males baca dikarenakan othor mematikan peran Siwan yang kalian cintai di novel ngawur othor ini.


Mohon maaf banget yaa kalau gak sesuai keinginan kalian jalan ceritanya.


Dan mohon maaf juga kalo jarang update, seperti yang othor beritahu di awal pembuatan cerita di season 2 ini othor gak bisa tiap hari update apalagi ampe sehari 2 atau 3 bab.


Dikarenakan ada satu dan lain hal yang masih harus othor prioritaskan lebih utama.


Makasih banyak sekali lagi yang masih mau berkenan membaca cerita dan menunggu updatean selanjutnya.


Love you all...


Semoga yang menjalankan ibadah puasa tetap di beri kesehatan dan kelancaran


Juga yang tidak menjalankannya semoha di beri kesehatan juga !!