My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Teman anakku...



Pukul 05.00 wita, jam beker mulai berdering lagi.


Hanna meraih jam bekernya yang berada di atas nakas untuk mematikannya. Tangannya agak sulit menjangkaunya karena nakas berada di samping sebelah kanan, sedangkan ia tertidur di samping kiri.


Siwan menjadi penghalang di antara posisinya danbjam beker saat itu. Hanna terpaksa menindih tubuh Siwan yang tak bergeming sedikitpun oleh suara berisik jam beker.


Setelah berhasil mematikannya, tiba - tiba lengan Siwan melingkar di tubuh Hanna.


" Ahjussi, bangun, aku harus bekerja hari ini " ucap Hanna.


" Hemh... sebentar lagi " jawab Siwan.


Hanna pun kembali terkulai di samping Siwan dan mencoba menjahili Siwan yang masih menutup matanya rapat - rapat.


Dia menusuk - nusuk pipi Siwan yang mulus dan memainkan kumis dan janggut tipisnya.


" Om, bangun om, aku bisa terlambat nanti " ucap Hanna terdengar jahil.


" Om... " Siwan membelalak.


" Iya om, cepat bangun om. Hihihi... " Hanna tertawa melihat ekspresi kekasihnya yang wajahnya nampak berkerut.


Lalu, Siwan menggelitik perutnya selama beberapa menit tanpa ampun.


" Stop... please... aku ingin ke toilet... " ucap Hanna.


Dan, saat Siwan menghentikan aksi jahilnya, Hanna buru - buru turun dari ranjang dan berlarian keluar dari kamar menuju kamar mandi.


Selesai dari kamar mandi, ia mulai menyiapkan sarapan untuknya dan Siwan.


Siwan sendiri nampaknya tidur lagi di kamar.


Selesai menyiapkan sarapan, Hanna masuk ke kamar dan, benar saja, Siwan tidur lagi dengan begitu lelapnya.


" Ish... ahjussi, bangun, cepat heh... " Hanna menggoyangkan tubuh Siwan dan menarik selimutnya.


Siwan malah mencoba menarik selimutnya kembali.


" Ahjussi, cepat bangun, aku sudah menyiapkan sarapan, aku mau mandi dulu, cepat lah, kau bilang mau mengantarku bekerja " ucap Hanna.


Siwan menggeliat, lalu terbangun perlahan.


" Kau cuci muka di wastafel cuci piring saja, aku mau mandi sudah siang !!" seru Hanna lalu keluar dari kamarnya sambil menenteng handuk.


Selesai mandi, memakai seragam dan bermake up dengan rapih, Hanna pun bergabung dengan Siwan di meja makan.


" Masih belum selesai sarapanmu, ish... dari tadi sedang apa di meja makan " ucap Hanna.


" Aku, kedinginan, aku malas mandi " ucap Siwan.


" Di sini kan ada kran air panas, mandi sana cepat, kau harus membersihkan dirimu !!" ucap Hanna.


" Baiklah, aku mau mandi dulu, mandi besar... " ucap Siwan lalu memasukkan suapan terakhir sandwich nya.


Hanna yang mendengar nya merasa malu, semalam memang terjadi sesuatu padanya. Hal yang mereka lakukan seperti saat berada di villa malam tahun baru kemarin. Secara tidak langsung mereka kembali melakukan sebuah dosa.


Beberapa menit kemudian, kini Hanna dan Siwan sudah berada di dalam mobil menuju departemen store tempat Hanna bekerja.


" Ish ish ish... aku hampir kesiangan di hari pertamaku bekerja kembali " ucap Hanna sambil menggelengkan kepalanya.


" Hehe... maaf, masih ada waktu kan !!" ucap Siwan sambil menyalakan mesin mobilnya dan mulai melaju.


Sesampainya di tempat kerja, seperti biasa, Siwan selalu berhenti di dekat parkiran di depan toko.


" Terima kasih banyak ya, aku pergi dulu " ucap Hanna.


" Tunggu, itu saja... " ucap Siwan menahan kekasihnya yang hampir mau turun dari mobilnya.


" Lalu, apalagi ?" tanya Hanna.


Siwan menyodorkan pipi pada Hanna.


" Ish... kau ini, apa semalam tidak puas !!" ucap Hanna lalu mengecup pipi kekasihnya sebentar dan turun dari mobilnya.


Siwan tersenyum merasa menang, lalu menyalakan kembali mesin mobilnya dan pergi setelah Hanna menghilang dari pandangannya.


Hari pertama bekerja kembali, rasanya dia menjadi seorang karyawan baru di sana. Perubahan layout di beberapa konter di lantai tempat ia bekerja membuat dia harus kembali menghafal area yang ada di lantai tersebut.


" Aduh... aku pusing, di mana t - shirt dengan brand xxx sekarang ?" tanya Hanna pada Putri, rekan kerjanya.


" Tenang, aku sudah minta lampiran denahnya kok dari pak Rama, ada di laci, kau lihat saja dulu sana !! seru Putri sambil menunjuk laci bon yang ada di belakang mereka.


Hanna pun berjalan ke belakang menuju laci bon dan mengambil secarik kertas yang ada di dalamnya.


Biasanya, tempatnya bekerja, terutama bagian fashion, menjelang akhir tahun selalu mengadakan acara diskon dan cuci gudang.


Semua barang dari mulai barang stock lama higga barang keluaran terbaru di diskon dengan variant besaran diskon yang berbeda.


Setiap menjelang akhir tahun pasti seluruh karyawan lebih sibuk di banding hari - hari biasanya.


Saat Hanna sedang berkeliling mencari sebuah barang di konternya, tiba - tiba dari kejauhan ia melihat seseorang yang ia kenal.


Hanna berjalan mendekat padanya.


" Bu, apa kabar ?" ucap Hanna menyapa ibu Siwan.


" Eh... Hanna, kamu kerja di sini rupanya, baik, kabar ibu baik, kau sendiri bagaimana kabarmu ?" tanya ibu Siwan sambil merangkul dan cipika cipiki.


" Baik juga bu, sedang belanja, sendiri saja bu ?" tanya Hanna.


" Ah, ini, ibu datang sama seseorang " jawab ibu terdengar menggantung.


Lalu, dari belakang, datang seorang wanita menghampiri mereka.


Wanita itu berbicara bahasa Korea dan bertanya pada ibu.


Hanna begitu tercengang, ia masih mengingat dengan jelas bahwa wanita itu adalah wanita yang ia lihat di cafe dan memeluk Siwan di villa tempo hari.


Wanita itu bertanya dengan bahasa Korea " Siapa bu ?" tanya nona Seo.


" Teman anakku " jawab ibu dengan bahasa Korea pula.


Deg... dada Hanna berdebar, dadanya terasa sakit, seperti tergores, perih namun tidak berdarah. Ia mengerti apa yang mereka bicarakan. Namun, ia mencoba berakting, pura - pura tidak memahaminya.


" Can you speak english ?" tanya nona Seo.


" Of course !!" jawab Hanna.


Lalu, nona Seo meminta bantuan pada Hanna, ia sedang mencari hadiah untuk Siwan.


Seketika ia ingin menjerit, ia sudah mengira bahwa nona Seo pasti lebih dari hanya sekedar rekan bisnis. Namun, apa hubungan mereka yang sebenarnya, ia bahkan pergi berbelanja bersama ibu Siwan.


Hanna mencoba tetap profesional, ia melayani nona Seo dengan penuh senyuman, walaupun hatinya sedang teriris - iris oleh macam - macam kemungkinan yang ada, dia tetap mencoba berlapang dada di hadapan orang lain.


Hanna bahkan menyarankan beberapa pilihan yang mungkin akan di sukai oleh Siwan.


Saat Hanna sedang menawarkan barang pilihannya pada nona Seo, ibu pamit hendak menerima telepon dari seseorang dan pergi meninggalkan mereka.


Berdialog bahasa enggres lagi pemirsa...


Cuma langsung terjemahan nya saja ya, biar gak pusing !!


" Kau sepertinya sangat mengenal Siwan oppa !!" ucap nona Seo.


" Aku, teman dekat asistennya, Aji " jawab Hanna bersandiwara.


" Benarkah ? wah, pantas kau sepertinya tahu selera Siwan seperti apa dalam memilih fashion. Terima kasih banyak ya... " ucap nona Seo.


" Sama - sama " ucap Hanna dengan penuh senyuman.


" Aku, tentu saja tahu sekali, apa yang dia suka maupun tidak suka, aku ini pacarnya, kau tahu, PACAR !!" Hanna bergumam di dalam hatinya.


" Baiklah, aku akan memilih yang ini, dan yang itu, ukurannya, apa kau tahu persis dia memakai ukuran apa ?" tanya nona Seo.


" Tentu, Aji sering berbelanja barang di sini untuk ahjussi " ucap Hanna.


" Ahjussi... ?" nona Seo merasa aneh mendengar Hanna memanggil Siwan seperti itu.


" Maaf, usiaku dengannya sangat jauh, jadi aku memanggil beliau ahjussi !!" jawab Hanna.


" Apa jangan - jangan kau bisa bahasa Korea juga ? " tanya nona Seo.


Hanna tersenyum dan menjawab, " Sedikit " singkat.


Beralih percakapan mereka pun menjadi bahas Korea.


Langsung terjemahan nya saja ya... Hehe...


" Daebak, kau belajar bahasa Korea juga ?" tanya nona Seo menggunakan bahasa Korea.


" Iya, seseorang mengajarkanku, dan aku senang menonton drama Korea, jadi aku sangat antusias mempelajarinya " jawab Hanna.


" Apa Siwan oppa yang mengajarimu ?" tanya nona Seo.


Hanna merasa lidahnya kelu, mulutnya pun sangat sulit untuk di gerakkan. Seketika ia terdiam membisu menatap nona Seo yang nampak penasaran akan jawabannya.


Hanna menggelengkan kepalanya. Dan nona Seo berpikir kalau maksudnya bukan Siwan yang mengajarkan Hanna bahas Korea.


Baru saja nona Seo membuka mulutnya hendak mengeluarkan kata - kata, tiba - tiba saja terhenti karena kedatangan ibu Siwan.


" Sudah dapat barang yang kau cari ?" tanya ibu Siwan dalam bahasa Korea.


" Sudah bu, nona Hanna ini sangat membantu ku memilih barang yang tepat untuk oppa !!" jawab nona Seo masih dalam bahasa Korea.


Beralih menatap Hanna.


" Hanna, terima kasih banyak ya, sudah membantu ku, kalau kita bertemu lagi, aku akan mentraktir mu makan ya !!" ucap nona Seo.


" Tidak usah, ini sudah tugasku sebagai karyawan di sini, membantu dan melayani konsumen yang datang ke toko kami !!" jawab Hanna dalam bahasa Korea.


Wajah ibu nampak terkejut mendengar Hanna berbicara dengan bahasa Korea. Ibu menatap Hanna dengan tatapan yang sendu.


Namun Hanna tetap tersenyum walaupun hatinya sedang merasa terbakar api cemburu di dalamnya.


Beberapa menit kemudian, setelah nona Seo membayar belanjaannya di kasir, ia pun kembali ke konter tempat tadi membeli hadiah untuk Siwan dan mengambil barangnya yang sudah di bungkus rapih dalam sebuah kotak.


" Terima kasih banyak ya Hanna, aku akan segera memberikan hadiah ini pada Siwan oppa, aku yakin dia pasti akan menerimanya !!" ucap nona Seo penuh percaya diri.


" Sama - sama, semoga barangnya cocok dengan seleranya !!" jawab Hanna dengan bahasa Korea.


Nona Seo berjalan menghampiri ibu Siwan yang menunggunya di dekat kasir sambil menjinjing kantong berisi belanjaannya.


Sebelum menghilang dari jangkauan Hanna, ibu sempat menatap Hanna menundukkan kepalanya.


Hanna pun membungkuk, memberi salam pada ibu Siwan dari kejauhan.


Saat jam istirahat tiba, Hanna yang terlihat sedang sibuk membereskan pekerjaanya di gudang tidak ingat bahwa saat itu sudah tiba gilirannya untuk makan siang.


" Hanna, kamu gak akan istirahat, hayu buruan !!" ajak Melly.


" Duluan aja kak, aku nanti nyusul ya !!" jawab Hanna.


Hingga 5 menit, 10 menit, 20 menit, 30 menit berlalu, Hanna masih hanyut dalam pekerjaannya mensortir barang yang akan di diskon di penghujung tahun nanti.


Hingga seseorang masuk ke dalam gudang lagi, Hanna pun tidak menyadarinya.


" Hanna, kamu gak istirahat ? bukannya sekarang giliran kamu ?" tanya Rama.


" Iya pak, aku lupa !!" jawab Hanna tanpa menoleh sedikitpun pada Rama yang berdiri di sampingnya.


Rama berjalan mendekat pada Hanna, lalu ia berjongkok di hadapan Hanna yang sedang duduk lesehan di lantai dengan berbagai tumpukan barang di sekitarnya.


" Kamu kenapa ? ada masalah ? atau ada seseorang yang mengganggu mu lagi ?" tanya Rama.


Hanna yang merasa mendapat angin segar langsung terisak - isak, menangis di depan wajah Rama.


" Kenapa ? cerita aja sama saya !!" ucap Rama.


Hanna menggelengkan kepalanya. Lalu mencoba menyeka air mata yang membasahi pipinya dengan tangannya.


" Ish... tanganmu pasti kotor, ini pakai sapu tanganku saja " ucap Rama menarik kedua tangan Hanna dan menaruh sapu tangan di atasnya.


Masih sesenggukan, Hanna menyeka air matanya dengan sapu tangan milik supervisornya yang konon katanya sempat menaruh hati padanya.


" Pak, aku gak bawa dompet, aku gak bawa bekal, aku malu, masa pinjam uang apalagi minta bekal sama teman - temanku, belum gajihan sekarang, dompet mereka pasti pas - pasan, cuma cukup buat mereka sendiri " jawab Hanna mencoba mengarang cerita.


" Sejak kapan aku jadi pandai berakting seperti ini, lebih tepatnya berbohong, tapi... masa aku harus bilang sedang patah hati, aku nanti di cap gak profesional, bersedihdi jam kerja " gumam Hanna di dalam hati.


" Ya ampun, ku pikir kenapa, ini dariku saja, kenapa gak bilang dari tadi sih " ucap Rama sambil mengeluarkan dompetnya dari saku dan mengambil selembar uang berwarna merah, seratus ribu rupiah, dan menyodorkan nya pada Hanna.


" Pak, jangan yang merah, kebanyakan, yang biru saja, buat ongkos pulang juga udah cukup !!" jawab Hanna.


" Gak apa - apa, ini ambil saja buat kamu " Rama memaksa.


" Engga mau, yang biru saja, aku mau yang biru !!" ucap Hanna sambil menangis seperti seorang anak yang sedang di paksa melakukan sesuatu yang tidak di sukainya.


" Ck.. ck... ck... yasudah, i-ini yang biru, ssttt... udah jangan nangis lagi, nanti kalau ada yang lihat, di kiranya aku lagi ngapa - ngapain kamu " sahut Rama sambil memasukkan kembali uang berwarna merahnya dan di ganti dengan berwarna biru, lima puluh ribu rupiah.


" Terima kasih pak, besok aku ganti ya uang nya !!" ucap Hanna, menerima uang dari Rama.


" Engga, itu buat kamu aja, aku ikhlas kok !!" ucap Rama.


" Gak mau, pokonya besok aku ganti !!" ucap Hanna kembali memasang wajah sedihnya.


Rama yang takut Hanna kembali menangis pun langsung berkata, " iya - iya, besok kamu ganti ya, besok aku tagih biar kamu gak lupa " ucapnya.


" Oke, makasih banyak ya !!" sahut Hanna mencoba tersenyum.


" Yasudah sana, kamu istirahat saja sekarang,a hitung satu jam saja dari sekarang, nantj aku yang acc absensi ketokan di personalia " ucap Rama.


" Baik pak, aku pergi sekarang !!" jawab Hanna. Lalu berdiri dan keluar dari gudang.


" Ish.. ish.. ish... ada - ada saja !!" ucap Rama menepuk jidatnya. Merasa pusing dengan kelakuan bawahannya.


Selesai istirahat, karena dia sedang merasa tidak mood melayani konsumen, Hanna pun memilih kembali ke gudang mengerjakan pekerjaan yang tadi ia tinggalkan.


Di saat semua orang malas mengerjakan pekerjaan itu, Hanna menawarkan dirinya untuk mengambil alih tugas itu sendirian saja di gudang.


Rata - rata orang tidak mau berlama - lama sendirian di gudang karena cerita horor dan mistis dari beberapa karyawan di sana. Gudang yang nampak luas namun agak gelap dan sepi, membuat suasana baik pagi apalagi malam hari membuat karyawan wanita khususnya, enggan untuk masuk ke dalamnya.


Namun, bagi Hanna yang sedang patah hati, ia tidak memperdulikannya saat itu. Ia bahkan tidak menghiraukan orang yang berlalu lalang mengambil stok barang secara bergantian di gudang. Apalagi untuk memperdulikan makhluk - makhluk tak kasat mata, tidak ada waktu. Hatinya sedang terluka, pikirannya hanya mencoba fokus menatap barang yang berserakan di depannya.


Saat orang sedang patah hati, mereka cenderung berdiam diri dan melamun, mendengarkan lagu mellow dan menangis, air mata bercucuran tiada henti. Hal itu mungkin berlaku bagi sebagian orang, namun, tidak bagi Hanna.


Saat hatinya sedang merasa sedih, ia lebih senang mempersibuk diri dengan segala kegiatan, seraya melupakan kesedihannya yang sedang menderunya saat itu. Kapanpun dan dimanapun.