My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 AUSTIN



Ketika sarapan pagi berlangsung...


...Aji dan Austin terlihat seperti seorang sahabat yang tengah bermusuhan....


Tidak.. tidak.. lebih tepatnya Aji yang sedang menganggap Austin seperti musuhnya. Dia sendiri yang menganggapnya begitu, karena Austin sendiri hanya cuek bebek seolah tidal terjadi apapun di antara mereka.


...Bu Shinta duduk di kursi tengah, sedangkan Hanna di samping Austin, dan bi Asih di samping Aji di seberangnya....


Seperti biasa, saat makan Hanna merasa mual, dan tangan Austin secepat kilat berpindah dari atas meja menuju pundak Hanna.


...Hanna menutup mulutnya dengan kedua tangannya....


" Tahan, jangan sampai keluar, paksakan saja, oke... sedikit sedikit saja " ucap Austin sambil memijat pundak dan tengkuk leher Hanna.


...Bu Shinta dan bi Asih hanya memberi dukungan pada Hanna....


" Tarik nafas non, hembuskan perlahan... " ucap bi Asih.


" Minum dulu teh manisnya Han, sedikit saja " ucap bu Shinta sambil menggenggam tangan Hanna yang sudah berada di atas meja kembali.


...Sedangkan Aji, matanya menyipit menatap Austin seolah sedang mencoba menyayat Austin dengan tatapan mata tajamnya bagaikan pedang. ...


Austin kembali memeletkan lidahnya sedikit pada Aji.


...Bu Shinta yang melirik pada mereka merasa keheranan melihat tingkah keduanya, namun fokusnya kembali teralihkan hanya pada Hanna....


" Jangan lupa minum multivitaminnya ya, dan untuk nanti siang, coba kau bayangkan kau mau makan apa, nanti kami yang belikan untukmu " ucap bu Shinta.


" Aku, sebetulnya mau makan chiken krispy kaepsi bu, juga sundae nya " ucap Hanna.


" Kalau begitu nanti siang kita pergi ke plaza saja, nanti kalau beli sundae di bawa kemari keburu meleleh, oh iya, sekalian membeli kebutuhanmu, bajumu sebentar lagi tidak akan muat, perutmu sudah mulai terlibat membesar soalnya " ucap bu Shinta.


" Baik bu, terima kasih !!" sahut Hanna.


" Jangan terlalu kelelahan, kau belum boleh banyak jalan - jalan " ucap Austin.


" Jadi tidak boleh... " Hanna menoleh pada Austin dan menatap wajahnya dengan kesedihan dan penuh harap.


" Ah... itu... aku tidak bilang tidak boleh, hanya saja jangan terlalu lelah, kau masih rentan... " Oz jadi serba salah.


...Bu Shinta dan bi Asih kembali terlihat menahan tawa mereka....


" Aku akan ikut, nanti kalau dia kelelahan aku yang akan menggendongnya, kau tenang saja " sahut Aji.


" Betul itu, setuju, kau harus ikut " ucap Hanna penuh keceriaan.


" Kau, bukannya mau ada pertemuan di resto Jepang dengan suplier baru... " Austin mengangkat sebelah alisnya.


" Aku bisa memajukan jam pertemuan setelah selesai sarapan, jadi siang nanti aku bisa pergi menemani Hanna dan bibi pergi berbelanja " jawab Aji.


" Terserah kalian saja lah... " timpal Austin.


" Kak Oz memangnya masuk kerja jam berapa ?" tanya Hanna.


" Aku masuk jam 12 siang hari ini, ada jadwal operasi pasien jam 1 " jawab Austin.


" Han, makan lagi ya, kau baru makan sedikit, jangan lupa nanti juga makan buah, sedikit saja, yang penting sering, ibu sudah selesai, mau mengerjakan sesuatu dulu sebelum siang nanti pergi " bu Shinta bangkit dari kursinya, begitu juga dengan bi Asih yang sudah selesai sarapan, langsung membereskan piring kotor yang ada di meja.


Tak lama kemudian Aji menyusul keduanya, selesai sarapan ia buru - buru pergi untuk menelepon seseorang dan masuk ke dalam kamar bersiap pergi bekerja.


Hanna masih di temani Austin di meja makan, meskipun Oz sudah selesai sarapan, namun dia ingin memastikan Hanna memasukkan semua makanannya ke dalam perutnya. Padahal porsi makannya hanya seperempat dari porsi makannya sebelumnya namun, dia masih saja kesulitan untuk melahap semuanya karena bau - bau yang menyeruak di indera penciumannya.


" Kak, bisa tidak sumber energiku di ganti selain nasi, jujur saja sebetulnya, melihat nasi jadi agak kesal, entah mengapa seperti ada yang memprovokasiku untuk tidak memakannya " ucap Hanna.


" Bisa, banyak sih, kau maunya apa ? harus sesuai mood si ibu dan si jabang bayinya, coba di search dulu di google, nanti pulang dari rumah sakit aku belikan buku panduan ibu hamil yang lengkap, nanti aku tanyakan pada temanku yang dokter spesialis kandungan, dia pasti sudah paham cara mengatasi masalah ibu hamil muda " ucap Austin.


" Oke, makasih banyak ya kak, aku merasa beruntung punya keluarga di sekitarku yang selalu mendukungku, jujur, rasanya aku sangat terpukul dengan kejadian belakangan ini, aku juga sebetulnya sangat ingin tinggal di samping ibuku di saat kondisiku seperti ini, ibuku pasti lebih tahu apa yang harus di lakukan saat anaknya tengah hamil seperti ini " Hanna jadi kembali bersedih hati mengingat keluarganya terutama ibunya di Bandung.


" Sudahlah, kami disini juga keluargamu kan, kami juga pasti bisa menjaga dan membimbingmu supaya kau tidak kebingungan nantinya, makanya, komunikasi dua arah itu sangat penting, jadi kau jangan sungkan, apapun yang kau mau dan kau rasakan, katakan saja, mencari solusi itu mudah, dan yang terpenting ibu hamil itu harus happy, supaya si jabang bayi juga merasa bahagia di dalam sini... " Oz mengusap perut Hanna.


...Sejujurnya Hanna agak terkejut, namun ini bukan yang pertama kalinya bagi Hanna, Austin sudah berkali - kali mengusap perutnya semenjak bertemu di rumah sakit kemarin, dan dia juga sudah berkali - kali di usap - usap perut oleh bu Shinta dan bi Asih selain oleh keluarganya di Bandung sebelum pergi kemari, jadi, dia sudah mulai terbiasa dengan sikap orang yang selalu terlihat ingin mengusap perut ibu hamil....


Dan, ketika Austin tengah asyik mengusap perut Hanna dan mendekatkan kupingnya pada perutnya pula, Aji yang sudah terlihat rapih menghampiri mereka dan melihat kemesraan mereka kembali naik pitam.


" Kau... jaga jarak... apa - apaan kau ini, seenaknya terus seperti ini !!" Aji menarik tubuh Austin hingga ia duduk tegak kembali di kursinya.


...Hanna nampak terkejut dengan sikap Aji kali ini....


" Kau kenapa sih, aku hanya.... " ucapan Asutin terpotong oleh bi Asih yang datang menghampiri mereka yang hendak beradu mulut.


" Haish... masih pagi udah mau ribut lagi, udah sana salah satu dari kalian pergi sana, jangan bikin non Hanna shock begitu, lihat tuh... " ucap bi Asih.


...Aji menghembuskan nafasnya kasar....


" Awas ya, jaga tangan lu... " Tegas Aji pada Austin.


" Bi, aku pergi dulu ya "


" Han, nanti siang aku pulang, jaga dirimu baik - baik " ucap Aji menatap Hanna dengan tajam.


" I-iya bli, hati - hati di jalan yaa !!" jawab Hanna.


" Nak Oz, kau jangan mancing - mancing emosinya terus !!" Tegas bi Asih.


" Apa sih... ada apa ini, memangnya aku kenapa ?" tanya Austin.


...Bi Asih tidak menjawabnya, hanya mendelik dan berlalu kembali ke area dapur....


Hanna yang sepertinya paham apa maksud dari keributan yang terjadi sejak tadi pagi hanya tersenyum.


...Beberapa menit kemudian, kini Hanna sedang berada di ruang tv di temani Oz yang sedang bercerita seputar pengalamannya yang pernah melayani pasien ibu - ibu hamil di rumah sakit yang kelakuan dan kebiasaannya aneh - aneh, sambil bersenda gurau....


" Mudah - mudahan aku tidak seaneh mereka " ucap Hanna yang kemudian memasukkan potongan buah melon ke dalam mulutnya.


" Menurut penilaianku, sepertinya belum, kau pasti seperti mereka juga nanti hahaha... " Austin tertawa nyaring.


" Hih... kau mendoakanku, jangan dong, semoga aku menjadi ibu hamil yang saleha dan tidak serumit ibu - ibu hamil lainnya " sahut Hanna.


" Tapi memang hampir rata - rata, kebanyakan dari mereka akan bermanja - manja dan membuat rumit para suaminya, banyak para suami yang curhat tentang kehamilan istrinya yang benar - benar aneh dengan dalih ' ini permintaan si jabang bayi loh, mau bayinya nanti ileran ' hahaha... untung aku belum menikah " ucap Austin tanpa beban.


...Seketika raut wajah Hanna berubah masam....


" Astaga... " Oz yang baru menyadari perkataannya benar - benar menyesal telah mengatakan hal yang menyinggung perasaan Hanna.


" Maaf, aku tidak bermaksud, jangan menangis, kumohon... " wajah Oz jadi beringsut kala melihat Hanna memasang ekspresi sedih dan menitikan air mata.


" Seandainya ah-jussi ma-sih a-da, ddia, pasti akan jadi orang yang paling bahagia " ucap Hanna terbata - bata dalam tangisnya.


" Seandainya dia ada disini, dia pasti akan menjadi orang yang paling ku repotkan setiap harinya " ucap Hanna kembali masih terisak - isak.


" Seandainya dia masih ada, dia akan menjadi orang yang selalu memelukku setiap waktu " Hanna benar - benar larut dalam kesedihannya.


...Tanpa mereka sadari, dari atas bu Shinta mendengar dan melihat interaksi keduanya ikut hanyut terbawa suasana....


" Kemarilah, ' Austin menepuk dadanya ' aku siap memelukmu, bersandarlah di dekapanku, aku akan menjaga kalian segenap jiwa dan ragaku " ucap Austin.


Bu Shinta sangat terkejut mendengarnya, " apa, berani - beraninya dia menggoda kekasih anakku, awas kau Oz " gumam bu Shinta sambil mengepalkan tangannya.


" Kau mau apa ? kau sedang mencoba merayuku ?" tanya Hanna.


Blarrr...... bagaikan di sambar petir seketika tubuh Oz kaku dan menjadi lemas dalam sekejap.


" Aku hanya tidak mau kau merasa kesepian, meskipun tidak ada sosok yang kau inginkan di sampingmu, aku hanya mau membantumu menghilangkan kesedihanmu, itu saja, jangan ge.er ya, jangan berpikir aku mencari kesempatan padamu, kau bukan tipe ku... " ucap Austin, berdalih.


" Benarkah, baguslah kalau begitu, ingat ya, aku hanya menganggapmu sebagai kakak, juga pada bli Aji pun begitu, tidak lebih " Tegas Hanna.


" Iya, aku tahu, kau sangat setia, kau tidak mungkin berpindah kelain hati secepat itu, aku sudah tahu itu " ucap Austin.


" Kenapa aku jadi merasa kecewa begini ya, huh.. " batin Austin.


...Bu Shinta merasa lega mendengar kelanjutan percakapan mereka. Pikirnya ia memang telah salah menilai Hanna, ternyata dia tidak seperti wanita yang ia pikirkan, yang akan dengan mudahnya menerima uluran hati dari pria lain, dia kembali masuk ke dalam ruang kerja Siwan. ...


" Eh, tapi kak Oz, bagaimana kabar Pat, apa kau masih bekomunikasi dengannya ?"


" Tidak, sudah lama sekali, sejak terakhir kali bertemu, kami sudah tidak ada komunikasi apapun lagi, hubunganku dengannya sudah benar - benar berakhir, tidak akan pernah bisa di satukan lagi, lagipula, masih banyak yang antri, kenapa harus pusing - pusing mikirin si Pat, hah... buang waktuku saja " Austin dengan gaya tengil dan sok kerennya mulai mencicipi potongan buah yang berada di piring yang sedang Hanna pangku.


...Hanna menatap wajah Oz dengan seksama....


" Cih... lalu, kenapa sampai sekarang kau masih menyendiri, kau sudah cukup umur untuk berumah tangga, apa kau mau menunggu rambutmu beruban dulu "


" Heh... hati - hati kau, ucapan ibu hamil tidak boleh seenaknya menghina orang lain " sahut Austin.


" Astagfirullah, maafkan aku ya Alloh, maafkan aku kak Oz yang tampan, maafkan aku ya... jangan di masukkan ke dalam hati, oke... !!" pinta Hanna sambil mengusap pipi Austin.


" Diam kau, jangan sentuh aku, aku ini pria normal, kalau kau terus menggodaku aku tidak akan menyerah mengejarmu " ujar Austin dengan wajah mode usil.


" Hih... tidak mau, kau itu si dokter aneh, dokter tapi hobi dugem dan mabora, hih... " Hanna bergidik ngeri.


" Hahahaha.... dokter juga manusia, aku harus bisa mencari kesenangan hidup di sela - sela kesibukanku " sahut Austin.


" Sudah ah... aku jadi mengatuk, lebih baik aku tidur di atas " Hanna bangkit dan membawa piringnya yang kini sudah kosong ke dapur.


...Setelah itu dia berjalan menuju tangga ke atas....


Di depan tangga, Austin mematung seperti sengaja menunggu Hanna.


" Sedang apa kau disitu kak ?" tanya Hanna.


" Aku menunggumu, bibi bilang tidak boleh membiarkanmu naik turun tangga sendirian, cepat naik ! aku akan menjagamu dari belakang " ujar Austin.


...Hanna pun berjalan perlahan menapaki setapak demi setapak anak tangga menuju kamar Siwan, bersama Austin yang menjaga selangkah di belakangnya....


" Terima kasih... " ucap Hanna saat sudah sampai di depan pintu kamar Siwan.


...Austin pun berlalu, pergi menuju kamarnya....


Di dalam kamar, saat menuju tempat tidur, Hanna tersenyum sendirian mengingat percakapannya bersama Austin di bawah tadi.


" Dasar konyol... " ucapnya dengan lirih.


...Hanna duduk di bibir ranjang sambil menatap foto dalam figura di atas nakas di kamar Siwan....


Ia menatap fotonya yang tengah di dekap oleh Siwan dari belakang ketika mereka tengah berada di sebuah pantai di pulau Bali.


...Siwan yang memakai kemeja putih celana kulot hitam serta memakai kacamata mendekap Hanna dengan sebelah tangannya dari belakang. Mereka yang sedang duduk di atas pasir putih di senja hari kala itu di foto oleh Aji sang fotografer handal kebanggaan Siwan....


Angin yang menderu sore itu membuat rambut keduanya melayang acak di udara namun jadi menambah poin pada hasil fotografinya.


" Ahjussi... jangan khawatirkan aku, di sekelilingku masih ada orang yang peduli padaku, semua orang - orang pilihanmu, mereka menjagaku dengan baik, semoga seterusnya mereka seperti itu " ucap Hanna sambil menyentuh wajah Siwan di foto itu.


...Hanna pun termenung sambil mendekap foto dirinya dan Siwan di atas dadanya....


Rasa kantuk yang sebelumnya mendera kini tiba - tiba hilang tergantikan oleh rasa rindunya pada Siwan yang terpatri dalam ingatannya.


...Namun, lama kelamaan tanpa di sadari kini ia sudah berpindah ke alam mimpi. ...


Mimpi bertemu dan bercengkerama kembali bersama kekasihnya.


" Apa kau tahu, apa yang membuatku bertahan bersamamu di tengah perbedaan kita yang menjadi satu - satunya penghalang hubungan kita ini ?" tanya Hanna.


" Apa ? aku belum tahu !!" jawab Siwan.


" Itu karena kau sangat menghargaiku, kau selalu menjagaku dan kehormatanku, tidak pernah sekalipun aku melihatmu merengek demi menyalurkan nafsumu padaku, justru malah aku yang banyak bertingkah dan mencoba menggodamu, dasar... otakku ini kadang tidak sinkron dengan perbuatanku " Hanna menepuk jidatnya sendiri.


...Siwan tersenyum melihat keluguan yang di lakukan kekasihnya saat itu. ...


Mereka tengah berjalan di pesisir pantai menikmati waktu senja setelah sebelumnya bermain air menyambut ombak yang menerjang kala itu.


...Hanna yang memakai sebuah dress berwarna putih panjang dengan model kancing dan v neck di bagian atas, serta rambut panjangnya yang terurai dan melayang di terpa angin pantai nampak begitu anggun dan menawan di mata Siwan. ...


Sore itu mereka sedang menikmati acara liburan bersama Aji, Austin serta Pat.


Mimpi yang begitu nyata itu menari - nari di atas ingatannya di alam bawah sadar Hanna siang itu. Dan foto yang ia dekap saat itu merupakan foto yang di ambil pada hari kebersamaan mereka saat itu.


Masih belum bisa move on yaa.... sama kayak Hanna....


Move on atuh, udah 2021 ini tuh...


Hahaha....


Author lagi mode jahat


Lagi PMS kayaknya


Makasih banyak yang masih setia menanti cerita selanjutnya.


Jangan kecewa, mungkin akan ada kejutan di tengah cerita, atau mungkin ke uwuan Hanna bersama pujaan hatinya yang baru mampu meluluhkan hati para readers...


Tapi maaf yaa, othor gak mau kasih harapan palsu, alias gak mau PHP.


Jangan lupa like vote dan komennya yaa dears..


Love u all... have a nice day !!