My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Harapan



Beberapa hari kemudian, bertepatan dengan 1 hari menjelang natal, Hanna sudah kembali bekerja seperti sedia kala. Meskipun tangan dan kakinya masih ada sisa memar, namun, dia sudah bisa melakukan pekerjaannya kembali sebagai seorang servis crew di departemen store. Ia selalu merasa malu terlalu lama tidak masuk bekerja, karena ia memiliki tanggung jawab terhadap perusahaan. Ia ingin mendedikasikan diri sebaik mungkin selama terikat kontrak dengan perusahaan tempatnya mencari nafkah.


Rama sebagai supervisornya mengingatkan sesama rekan kerja Hanna agar tidak memberikannya pekerjaan yang berhubungan dengan pengangkatan barang dan pekerjaan berat lainnya.


Karena selain sebagai seorang servis crew atau yang memberi pelayanan kepada setiap costumer yang datang untuk berbelanja, karyawan kadang mengambil dan mengangkat barang - barang dari gudang untuk di pajang di area penjualan.


Hanna sudah merasa malu sendiri dengan perhatian sang supervisor, dia merasa tidak enak dengan rekan kerja yang lainnya.


" Tidak apa Han, kita juga maklum kok, kondisi kamu kan masih belum seratus persen fit, jadi kamu berdiri saja di depan, jadi patung selamat datang, Hahaha... " ucap Melly menggoda.


" Ih, kak Melly mah gitu orangnya !!" sahut Hanna memajukan mulutnya.


" Iya Han, udah tenang aja, lagi pula, kalo toko rame kaya gini, jangan keseringan beresin area pajangan, tuh liat, bentar lagi pas datang costumer apalagi emak - emak, dalam hitungan detik pajangan yang super rapih dan cantik ini akan tumpah ruah ke lantai, percaya deh... " ucap Putri.


" Kebiasaan emak - emak emang gitu yak, gak tahan kalau gak ngubek - ngubek barang diskon, ritualnya pasti dari wagon ke wagon lainnya, dari hanger depan, tau - tau udah menclok di hanger ujung !!" timpal Melly.


Hanna hanya tersenyum mendengar cerita kedua rekan kerjanya. Ia jadi teringat ibunya di Bandung, kebiasaan ibunya juga sama persis seperti emak - emak lainnya saat berburu barang diskon di toko.


Menjelang malam natal, toko tutup lebih awal, namun, sebelum karyawan kembali merapihkan kondisi toko seperti semula, mereka belum boleh pulang meskipun gerbang sudah di tutup dan sudah tidak terlihat konsumen lagi.


Maka dari itu, setiap divisi yang lebih dahulu merapihkan konter mereka, akan membantu konter lainnya yang belum selesai.


Hal itu di berlakukan guna mengantisipasi penumpukan pekerjaan pada keesokan harinya. Karena setiap hari raya umat beragama, toko akan buka lebih siang dari jadwal biasanya. Maka saat toko mulai buka kembali, karyawan sudah siap melayani konsumen, bukannya sibuk membereskan dan merapihkan konter.


Satu jam kemudian, para karyawan/ti pun sudah mulai berhamburan keluar lewat pintu keluar masuk khusus karyawan.


Hanna melihat Aji sudah berdiri di dekat mobil, beberapa meter dekat parkiran.


" Bli, aku pikir ahjussi yang menjemputku !!" ucap Hanna.


" Memangnya dia tidak menghubungi mu, dia sedang ke gereja bersama ibunya, malam misa ini kan !" jawab Aji.


" Oiya lupa... aku belum buka hp lagi soalnya "


Hanna pun masuk ke dalam mobil. Dan kini, mereka sudah berada dalam perjalanan menuju rumah Hanna.


" Maaf ya bli, gara - gara harus menjemput ku, kau jadi tidak bisa ke gereja melakukan misa " ucap Hanna merasa menyesal mengganggu ibadahnya.


" Kau tidak tahu, aku kan penganut agama Hindu !!" tegas Aji.


" Oh... begitu ya, hehehe... maaf, aku baru tahu, lagi pula tidak sopan menanyakan agama seseorang bagiku !!" ucap Hanna, padahal dulu ia begitu santainya bertanya masalah agama pada Siwan.


" Lalu, apa kau selalu melakukan sembahyang ?" tanya Hanna.


" Ish... tidak sopan menanyakan hal itu " jawab Aji, di iringi dengan senyum tengil.


" Bukan begitu, sebanyak apapun dosamu, ibuku bilang, jangan pernah lupa untuk sholat, sebagai tiang agama, hal itu juga berlaku untuk agama lain bukan ? kita harus tetap mengingat Tuhan yang menciptakan kita, sebagai wujud rasa syukur kita karena masih di beri kesempatan untuk bernafas, di beri kemudahan dalam menjalankan hidup, walaupun tidak semua keinginan kita terkabul, mungkin Tuhan sedang menguji kita agar lebih berusaha dengan keras dan tetap memohon pada - Nya dan mengingat - Nya " ucap Hanna panjang lebar.


" Iya, betul mamah dedeh... " sahut Aji yang melirik Hanna dengan tatapan tengil.


" Hei... , bertaubat lah... " ucap Hanna menirukan suara mamah dedeh.


Hanna dan Aji tertawa bersamaan.


Sesampainya di depan rumah.


" Han, besok mungkin aku yang mengantarmu pergi bekerja, mau ku jemput jam berapa ?" tanya Siwan.


" Emh... baiklah, jam 10 saja, aku masuk kerja jam 11 siang " jawab Hanna.


Aji pun pamit pulang pada Hanna.


Keesokan harinya...


Pagi yang cerah, matahari bersinar, Hanna bangin kesiangan karena semalam terlalu fokus menonton pr drakor kesayangannya, hingga ia mengabaikan panggilan dari Siwan.


Hanna sedang memberi waktu untuknya agar lebih intim berkumpul bersama ibunya dan keluarganya.


Pukul 07.30 wita, Hanna baru menyiapkan sarapan di dapur, sekalian memasak untuk bekal pikirnya.


Tebak, berapa pesan masuk ke aplikasi whatsuppnya hari ini....


30 pesan, belum panggilan suara dan video call yang tak terjawab.


Hanna terkekeh membaca setiap pesan Siwan.


Dan, dia membalas cukup dengan satu pesan " YA ", lalu mengirimkannya pada Siwan.


Tidak lama, hanya 1 menit Siwan langsung menelponnya.


Sebelum menerima telepon darinya, Hanna terlihat mengatur nafasnya dan menstabilkan suaranya supaya tidak terdengar seperti sudah tertawa.


" Hallo... " Siwan.


" Ya, Hallo, ahjussi " Hanna.


" Chagiya, apa kau sedang mengerjaiku ?" tanya Siwan.


" Tidak, aku kemarin terlalu fokus marathon drakor, maaf yaa aku gak lihat hp dari semalam " ucap Hanna sambil menahan tawa.


" Ish... aku khawatir, aku tidak bisa tidur nyenyak semalam aku takut kau sakit atau kenapa - kenapa " Siwan menghela nafas panjang dan membuangnya perlahan di udara.


" Maafkan aku ahjussi, aku terlalu asik, sampai tidak sadar waktu sudah jam 3 subuh " ucap Hanna tanpa beban.


" Apa, selama itu... kau...' Siwan terlihat ingin mengumpat, hanya saja dia menahannya ' jaga kesehatan mu, jangan di biasakan seperti itu " ucap Siwan dengan lembut.


" Iya... iya, maaf, ahjussi kau sedang apa, seharusnya kau berkumpul dengan ibu dan saudaramu, bukannya malah menelponku " sahut Hanna.


" Iya, aku melipir sebentar, karena sangat merindukan mu !!" ucap Siwan terdengar gombal.


" Ck.. ck.. ck... kemarin pun padahal kita bertemu pagi harinya, kau selalu menggombal !!" sahut Hanna.


Siwan nampak menebar senyuman, padahal tidak ada seorang pun yang melihatnya.


Hampir lama mereka berdua mengobrol, hingga rasanya kuping masing - masing terasa panas, meskipun saat itu Hanna akhirnya mengaktifkan speakrnya dan Siwan memakai handsfree, gelombang elektromagnetik di antara mereka terlalu kuat seperti cinta mereka satu sama lainnya.


Selesai menelpon, Hanna melanjutkan beres - beres rumah dan mencuci baju. Lalu, bersiap mandi untuk pergi bekerja.


Di sisi lain....


Siwan kini tengah duduk bersama ibunya di kursi yang berada di sebuah taman belakang rumah.


" Siwan, apa kau pura - pura atau memang tidak tahu ?" tanya bu Shinta, ibunya Siwan.


" Maksud ibu ?" Siwan memang sedang menahan agar sesuatu yang mengganjal di hatinya tidak meluap.


" Kekasihmu sungguh tidak mengatakan sesuatu ?" tanya bu Shinta.


" Sebenarnya ada apa ? apa ibu menyembunyikan sesuatu dariku !" Siwan pura - pura penasaran.


Memang sebetulnya dia masih penasaran tentang apa yang di perbincangkan oleh Hanna dan ibunya.


" Kau ini, seperti tidak ada perempuan lain saja, aku tidak masalah dengan kepribadian ataupun latar belakangnya, hanya saja, kalau dia sudah berkata tidak akan mungkin menggadaikan agamanya hanya demi dirimu, untuk apa kau masih bertahan dengannya " ucapan ibu Siwan akhirnya dapat di pahami oleh Siwan tentang apa yang menjadi rasa penasaran nya saat itu.


Siwan tidak mampu berkata apapun lagi di hadapan ibunya. Dia hanya menundukkan kepala, menatap rumput - rumput yang sedang di pijaknya.


" Ingatlah umurmu, aku hanya ingin kau segera berkeluarga, aku juga ingin menggendong seorang cucu dari darah dagingku sendiri, selama ini aku selalu di kelilingi anak - anak di panti, tapi itu semua tidak membuatku puas, aku masih berharap padamu Siwan !!" ucapan terakhir bu Shinta terdengar penuh penekanan.


" Maaf, aku selalu mengecewakan ibu !!" Siwan hanya berkata seperti itu dan menundukkan kepalanya di hadapan ibunya.


" Terserah kau saja, aku tahu, hanya buang - buang waktu aku memberi penjelasan panjang lebar padamu !!" ucap sang ibu, lalu pergi meninggalkan Siwan yang masih termenung dan terpaku di taman yang begitu teduh dan indah, hamparan rumput hijau dan pepohonan rindang serta rumah pohon tempat bermain anak - anak panti asuhan milik ibunya, memanglah sangat cocok menjadi tempat mendinginkan pikiran Siwan selama ini.


Wangi semerbak bunga - bunga khas Indonesia pun tercium oleh indera penciuman setiap insan yang berada di sekitar taman.


Sejak ia mulai menginjakkan kakinya lagi di negara kelahiran ibunya, di sini lah tempat Siwan merenung dan menikmati indahnya pemandangan taman belakang rumah panti asuhan milik ibunya.