
...Malam harinya......
Pukul 19.30 wib...
Abdul, adik Hanna, mengajak ngobrol kakaknya yang nampak masih bersedih karena kejadian siang hari tadi.
Dia tahu karena ibunya bercerita padanya sepulang dia kuliah sore hari tadi.
^^^" Teh, sekarang teteh maunya gimana ?" tanya Abdul.^^^
" Gak tahu, Dul, teteh bingung !!" jawab Hanna.
" Ayolah teh, kau harus tentuin mulai dari sekarang, demi calon anak yang ada di perutmu " sahut adik Hanna.
^^^" Kau gak tahu sih bapak ngomong apa tadi siang, dia gak bakal lagi ngasih kebebasan sama teteh, pergi ke Yogya aja di cancel apalagi kalo teteh minta di anter pergi ke Bali lagi " Hanna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan sesenggukan menangis.^^^
" Oh... jadi sebenernya teteh mau tinggal sama bu Shinta dan tetirah disana sampe bayinya lahir !!" Abdul langsung bisa mengambil intisari perkataan kakaknya.
^^^" Maksudku... " ucapan Hanna terhenti.^^^
" Ssst.... aku hanya mencoba jadi perantara dan penengah dalam masalah ini, kau pun dulu pernah menolongku, anggap saja kita impas, aku akan mencoba membujuk ayah supaya mau mengizinkanmu tinggal bersama ibu pacarmu itu " Abdul pun beranjak dan pergi keluar dari kamarnya.
Hanna sepertinya belum mencerna ucapan adiknya, dia hanya terdim dengan mulut terbuka menatap punggung adiknya yang semakin menjauh dan menghilang di balik pintu kamarnya.
...Esok harinya......
Pukul 09.30 wib...
Kini, Hanna dan keluarganya sudah berada di bandara, mereka memeluk Hanna secara bergantian.
Dari kejauhan seorang wanita paruh baya dan dua orang pria muda berjalan di belakangnya. Mereka menghampiri Hanna dan keluarganya.
" Bu Shinta, tolong, jaga putri saya, kebahagiaannya lebih penting di bandingkan ego kami sebagai orang tuanya, saya titipkan anak saya pada bu Shinta, tolong rawat dan didiklah dia, sebagai sesama perempuan, saya percaya bu Shinta akan mengerti bagaimana perasaan saya, tolong, sayangilah dia " ucap bu Hani sambil berderai air mata.
^^^" Pasti, aku akan berusaha semampuku menjaga dan melindungi keduanya, aku akan memperlakukannya seperti putriku sendiri, percayalah " jawab bu Shinta.^^^
Pak Bagyo yang terlihat menahan tangis sambil memalingkan wajahnya ke arah lain tak mampu berkata - kata lagi, yang dia lakukan hanya menarik putrinya ke dalam pelukannya kembali.
" Jaga dirimu dan bayimu baik - baik, jangan lupa beri kami kabar, kau harus menurut pada bu Shinta, jangan bandel lagi, kalau tidak aku akan menyeretmu pulang kembali ke rumah " ucap pak Bagyo.
^^^" Iya pak, terima kasih banyak, maafkan Hanna ya pak, hanya sebentar Hanna pulang ke rumah " jawab Hanna sambil berlinang air mata.^^^
" Kami keluargamu, rumahmu disini, kalau kau sudah merasa letih, pulanglah, bersandarlah padaku selain pada Alloh " sahut pak Bagyo.
^^^" He.emh " Hanna mengangguk dengan penuh semangat dan mencoba tersenyum dalam tangisnya.^^^
" Terima kasih banyak, aku sangat berhutang pada kalian, kami tunggu kedatangan kalian, kapanpun itu, beritahu kami, aku akan menyambut kalian dengan tanganku sendiri " ucap bu Shinta.
^^^" Baik, terima kasih, nanti kami akan menjenguk putri kami di rumah bu Shinta " sahut bu Hanni.^^^
Mereka pun berpamitan karena harus segera naik ke dalam pesawat.
^^^" Dul, jaga mamah dan bapak untukku, hanya kau satu - satunya harapan mereka, tolong, jangan kecewakan mereka sepertiku, kumohon " ucap Hanna menggenggam tangan adiknya.^^^
" Insyaalloh teh, jangan khawatir, aku tidak akan kemana - mana " jawab adiknya yang kemudian memeluk kakaknya dengan begitu erat dan hangat.
Setelah memasuki gate pemberangkatan, dari kejauhan, Hanna melambaikan tangannya pada keluarganya sebelum akhirnya ia naik ke dalam pesawat.
Ya, pada akhirnya Hanna di izinkan tinggal bsrsama bu Shinta Karena kedua orang tuanya tidak mau Hanna menjadi tertekan, stress memikirkan nasibnya dan nasib mereka sebagai kedua orang tuanya.
Padahal, sebagai kedua orang tua baik ayah maupun ibunya sudah siap menjadi pelindung dan tameng, sudah siap memasang badan untuk melindungi anggota keluarganya yang tengah menghadapi masalah dan cobaan hidup yang begitu pelik.
Apapun yang akan orang dan tetangga bahkan saudara mereka bicarakan nantinya, mereka sudah siap dengan segala resiko yang ada.
Hanya saja, kembali lagi pada kondisi mental Hanna, kedua orang tuanya tidak mau anak mereka menjadi seperti orang yang kehilangan semangat hidup, ada nyawa lain yang harus di pertanggung jawabkan selain diri Hanna sendiri. Orang tua Hanna tidak ingin kalau nantinya Hanna menyiksa diri dengan pikirannya yang akan berakibat fatal pada kesehatan psikis maupun fisik serta janinnya.
Setelah adik Hanna mencoba membujuk kedua orang tuanya, dengan berat hati ayahnya mengatakan, " baiklah, pergilah, kalau kau memang bisa menjamin kebahagiaanmu berada disana, kami tidak mau kau tertekan tinggal di dekat kami dan membahayakan kesehatanmu dan bayimu, pergilah, aku akan mengantarmu kapanpun " ucap pak Bagyo yang menghampiri Hanna yang masih terduduk di atas kasurnya.
Hanna kembali meneteskan air mata.
Ayahnya langsung pergi meninggalkan kamar Hanna setelah mengatakan hal tersebut.
Setengah jam kemudian, Hanna menelepon Aji yang masih berada di Bandung untuk mengabari tentang keputusannya pergi bersamanya dan ibunya Siwan esok harinya.
Aji dengan penuh semangat memberitahu bu Shinta yang sudah berada di kamarnya di kamar hotel terdekat dari rumah Hanna.
" Pesankan tiket tambahan untuknya kalau begitu sekarang juga, Puji Tuhan, terima kasih " bu Shinta sangat gembira mendengar kabar yang Aji sampaikan.
Karena waktu yang sangat terbatas, akhirnya Hanna, keluarganya dan bu Shinta serta Aji hanya dapat bertemu di bandara, dan melakukan perpisahan disana sebelum naik ke dalam pesawat.
Di dalam pesawat, Hanna dan bu Shinta duduk berdampingan.
" Nak, jangan sungkan, apapun yang kau butuhkan, katakan saja padaku, aku ingin kau menganggap rumahku seperti rumahmu sendiri, kau dan bayimu, adalah hadiah yang Tuhan berikan untukku sebagai ganti kepergiannya " ujar bu Shinta dengan nada sedih.
^^^" Baik bu, terima kasih banyak, bimbinglah aku, dan tegurlah aku bila memang aku melakukan kesalahan, aku akan menganggap ibu seperti ibuku juga " jawab Hanna. Setelah itu, Hanna menoleh pada Aji yang duduk di seberangnya di samping kirinya. Hanna tersenyum sangat lebar padanya sambil matanya berkaca - kaca.^^^
Aji pun sama, ia tersenyum pada Hanna, meskipun begitu namun sorot matanya nampak tidak bisa berbohong, ia pun merasakan kesedihan yang teramat dalam melihat kondisi wanita yang sempat mengisi relung hatinya, ada rasa kecewa namun juga rasa sedih, perihatin, namun juga senang, merasa lega lebih tepatnya karena tugasnya untuk menjaga Hanna sebagai amanat dari Siwan bisa berjalan tanpa halangan. Dia kini berada dalam jangkauannya kembali.
Flashback...
...November, 14 - 2016...
Pukul 06.30 wita
Siwan kini tengah berada di dalam mobil bersama Aji dan Tio. Mereka sedang di perjalanan menuju sebuah lokasi di salah satu kota di pulau Bali.
" Ji, bagaimana kabar ibumu ? sehat ?" tanya Siwan.
^^^" Sehat kak, ibu tadinya mau ikut bersamaku kemari, hanya saja mendadak ada pesanan partai besar, jadi ibu batal ikut bersamaku untuk berlibur disini " jawab Aji.^^^
" Wah, toko kue ibumu sepertinya sudah sangat maju ya sekarang " sahut Siwan.
^^^" Semua berkat bantuan darimu kak, terima kasih banyak " timpal Aji.^^^
Siwan hanya tersenyum lalu mengeluarkan hpnya dari saku tuxedo warna krem miliknya.
" Aku mau menelponnya dulu " ucap Siwan yang sedang menyentuh layar di hpnya.
Di layar hpnya tertera nama Chagiya di daftar kontak hpnya.
Siwan menelpon Hanna saat itu juga.
" Hallo, chagiya, kau dimana ?" tanya Siwan pada Hanna di seberang sana.
" Hallo, ahjussi, aku masih di bus, belum sampai kantor, ada apa ? tumben telepon sepagi ini " ucap Hanna.
" Aku sedang dalam perjalanan menuju kota xxx, maaf, aku ada pertemuan bisnis dadakan, disana aku akan langsung menuju ke NTB " Siwan terlihat malas.
" Lama tidak ? kesana naik apa ? apa ahjussi sudah sarapan dulu ?" tanya Hanna.
Siwan tersenyum riang.
" Sudah, aku sudah sarapan, dan mungkin hanya 3 hari, dari kota xxx aku akan naik helikopter bersama rekan bisnisku menuju NTB " jawab Siwan.
" Baiklah, hati - hati ya, kabari aku kalau sudah sampai tempat tujuan, semangat yaa, jangan lupa makan dan minum air putih, jangan sering mabuk apalagi di depan wanita, awas yaa " ucap Hanna.
Beberapa penumpang yang duduk di kursi samping nya menatap ke arahnya dengan tatapan tajam namun sambil mengatupkan bibirnya seolah menahan senyum mereka.
" Hahaha... iya, baiklah, akan aku ingat, bye... " ucap Siwan, mengakhiri perbincangan mereka lewat telepon pagi itu.
Beberapa jam berlalu, sesampainya di kota tujuan.
Beberapa meter di belakang Siwan dan Aji, sebuah helikopter sudah menyala, terlihat beberapa orang sudah mendekat dan naik ke atasnya.
" Ji, tolong, jaga dia untukku, namun, pastikan dia tidak tahu aku yang menyuruhmu mengawasinya, jaga jarak, aku akan kembali secepatnya " ucap Siwan.
Lalu berpindah pada Tio.
" Tio, jaga kak Wan, kabari aku secepatnya " ucap Aji.
^^^" Oke Bro... " Tio menjabat tangan Aji ala ala anak muda.^^^
Dan, setelah melihat helikopternya pergi, Aji pun pergi meninggalkan lokasi penerbangan di kota xxx.
...Satu jam kemudian......
Aji yang masih berada di perjalanan pulang ke Denpasar, mendapat telepon dari seseorang. Dia memakaikan handsfree di telinganya sebelum mengangkat telepon dari nomor tidak di kenalnya.
" Hallo... " Aji mengangkat teleponnya dan mendengarkan suara orang yang meneleponnya dengan seksama.
" Apa ?" Aji yang terkejut secepat membanting setirnya ke samping menuju trotoar jalan.
Untung saja saat itu jalanan tidak macet, beberapa mobil di depan dan di belakangnya berada dalam jarak yang cukup jauh.
Aji langsung memutar balik mobilnya dan melajukan mobilnya di atas kecepatan rata - rata.
Sesampainya di sebuah lokasi penyewaan helikopter yang ada di salah satu kota di pulau Bali.
Aji yang baru keluar dari mobilnya berlarian menuju sebuah gedung dan masuk ke dalamnya.
" Ji... " panggil seorang pria bertubuh tinggi dan kekar, berambut cepak dengan warna kulit tan sepertinya.
" Bagaimana, apa sudah ada kabar terbaru ?" tanya Aji dengan nafas terengah - engah.
" Tim kami sedang memastikan ke lokasi, mereka masih mencari titik terakhir keberadaan helikopter sesuai laporan terakhir " jawab pria itu.
" Aku ingin mengeceknya sendiri, kirimkan tim bersamaku untuk terbang sekarang juga " sahut Aji.
" Oke, tunggu sebentar " jawab pria itu.
Selama 15 menit Aji bersiap dan menunggu tim yang masih berdiskusi untuk memulai pencarian helikopter Siwan yang menghilang di salah satu titik dekat perairan menuju NTB. Helikopter tersebut hilang kontak di titik itu sekitar 1 jam yang lalu.
Dan, kini Aji dan beberapa orang sudah berada di atas ketinggian di atas helikopter menuju lokasi pencarian.
Sang pilot terdengar berbicara dengan seseorang lewat radio komunikasi.
Dan setelahnya sang pilot memberitahukan pada Aji dan timnya..
" Kita sudah menemukan titiknya " ucap sang pilot.
Dia pun memutar arah laju helikopternya.
15 menit kemudian, helikopter yang Aji naiki kini sudah mendarat tepat beberapa kilometer dekat tebing di daerah dataran rendah yang sudah memasuki kawasan Nusa Tenggara Barat.
Setelah turun dari helikopter Aji langsung berlarian menuju ke arah tebing bersama beberapa orang tim yang pergi bersamanya.
Yang ia lihat di depan matanya kini hanya beberapa serpihan helikopter yang sudah hangus terbakar.
Salah seorang tim evakuasi mendekat pada Aji dan memberikan penjelasan mengenai kemungkinan kronologis kejadian yang terjadi saat itu.
Beberapa jam kemudian
Aji menelepon Bram untuk menjemputnya bersama beberapa orang karena dia tidak sanggup pulang menyetir mobil sendirian.
...Malam harinya... ...
Di kostan Hanna dan Reni.
" Kenapa nomor ahjussi sulit di hubungi ya, aku jadi khawatir, cih... " Hanna berdecak kesal, melempar hpnya ke atas kasurnya.
^^^" Coba tanya asistennya kali, itu siapa sih namanya yang kamu bilang orang kepercayaan pacarmu, mungkin dia juga ikut kesana " dahut Reni yang sedang memasangkan sheet mask di wajahnya. ^^^
" Dia gak ikut kak, ahjussi bilang cuma dia sama Tio, tapi aku udah coba telepon bli Aji juga sama gak di angkat " ucap Hanna.
Malam itu, Hanna tidur dengan perasaan tidak enak, berkali - kali ia mengerjap dan terbangun sampai esok paginya ia melihat kondisi di bawah matanya sudah menghitam.
" Kak Ren, aku malas pergi kerja, perasaanku gak tenang begini ya, hatiku rasanya sakit, entah kenapa, alasannya aku gak tahu kenapa " ucap Hanna yang kini sedang menatap wajahnya di cermin kala ia sedang bermake up sebelum pergi bekerja.
^^^" Semangat dong tsayyy, doain aja pacarmu baik - baik aja, nanti coba hubungi lagi aja agak siangan, mungkin hpnya mati dan dia lupa bawa charger, positif thingking aja dulu, oke... "^^^
...Tiga hari kemudian......
Hari kamis sore, sepulang Hanna bekerja, saat ia turun dari bus di halte dekat kostannya, tiba - tiba hujan turun sangat besar. Karena ia sudah merasa sangat dekat menuju rumahnya, ia pun dengan sengaja berlarian hujan - hujanan menuju rumah kostnya.
Terlebih lagi ia melihat ada mobil terparkir di bawah jalan menuju gang rumah kostnya.
" Pasti ahjussi sudah pulang, lagi nunggu aku di kostan, hihi... " Hanna berlari menembus hujan deras yang mengguyur Indonesia bagian Tengah sore itu.
Namun, sesampainya di rumah kost, Hanna nampak sedikit kecewa, karena ia hanya melihat Aji dan Bram di halaman luar.
" Han, kenapa hujan - hujanan, kau ini... " ucap Aji meringis melihat Hanna yang sudah nampak basah kuyup.
^^^" Ahjussi mana, apa dia di dalam ?" tanya Hanna yang sudah mulai menggigil kedinginan.^^^
" Sebaiknya kau ganti baju dulu, kau bisa sakit, ada yang ingin aku sampaikan, aku akan menunggumu " Aji membukakan pintu rumah kost Hanna.
^^^" Kak Reni sudah pulang, kenapa kalian menungguku disini, di dalam saja, di luar dingin " ucap Hanna. ^^^
" Kau cepat ganti baju dulu sana jangan banyak bicara !!" seru Aji.
^^^" Iya baiklah, sebentar ya " sahut Hanna, kemudian dia masuk ke dalam rumah kostnya meninggalkan Aji dan Bram berduaan menunggunya di teras luar. ^^^
Beberapa menit kemudian
Hanna di temani Reni duduk di sampingnya, kini mereka berempat sudah berada di dalam ruangan tengah di dalam rumah kost, duduk di karpet bulu - bulu saling berhadapan.
Aji menghela nafas dan membuangnya perlahan sebelum akhirnya ia memberitahu Hanna tentang Berit kepergian Siwan.
" Apa ? bohong... kau pasti bohong kan, kau kerja sama dengannya untuk menipuku, mau memberi kejutan padaku kan, hahaha... tidak usah dengan cara klasik seperti ini lah, katakan saja dengan jelas, aku tidak suka berbasa basi " ucap Hanna panjang lebar, di tengah rasa terkejutnya, ia masih mencoba menampik kabar tersebut, ia merasa Siwan sedang melakukan sebuah lelucon di belakangnya kali ini.
Aji mengeluarkan laptop dari tasnya yang sejak tadi ia bawa, lalu memperlihatkan beberapa video rekaman kondisi helikopter yang di naiki Siwan hari itu serta beberapa foto barang bukti milik Siwan berupa hp yang sudah setengahnya remuk dan terbakar serta jam tangan pemberian Hanna yang hanya tinggal setengah talinya yang terlihat masih ada sisa ukiran huruf hangul yang sudah mulai samar serta masih banyak bukti lainnya.
" Tidak, mungkin ahjussi dia di rampok di tengah jalan dan mungkin dia sedang mencari jalan pulang sekarang, mungkin dia sedang berjalan di tengah hutan karena tidak punya ongkos, aku yakin ahjussi ku tidak mati, benar kan kak Ren " Hanna menoleh pada Reni yang sudah mulai berkaca - kaca.
^^^" Han, cukup... " Reni menarik Hanna ke dalam pelukannya.^^^
" Kenapa kalian diam saja, ayo cepat mengaku, ahjussi masih hidup kan, cepat katakan, tidak usah takut, kalian di ancam kan, kalian bekerja sama dengannya kan, mau memberiku sureprise apa sih, apa dia mau melamarku, katakan sejujurnya saja padaku6 sekarang " ucap Hanna yang sudah mulai meneteskan air mata namun masih berusaha tegar di hadapan Aji dan Bram.
^^^" Mbak, tolong, ikhlaskan kepergiannya, dia sudah tidak ada di dunia ini " ucap Bram. ^^^
Sontak Hanna langsung menangis dan menjerit memanggil nama kekasihnya di tengah hujan yang masih mengguyur deras di luar sana.
Reni berusaha sekuat tenaga menahan Hanna yang ingin berlari keluar menerjang air hujan di hari yang mulai menggelap.
Lalu tiba - tiba Hanna pingsan.
Aji langsung menggotongnya ke kamar dan menidurkannya.
Dia berusaha membuat Hanna terbangun namun Hanna kembali histeris dan pingsan.
Aji bahkan sampai menelepon Austin untuk memeriksa Hanna dan memberi Hanna obat penenang.
Selama beberapa hari kondisi Hanna masih seperti itu, bahkan Hanna sampai izin tidak masuk kerja.
Aji membawanya ke rumah kenangan untuk tinggal disana bersama bi Lastri dan Austin sebagai dokter pribadi yang menjaga kondisi Hanna.
Setelah tiga hari Hanna kembali bekerja dengan di antar jemput oleh Bram namun tetap pulang ke rumah kenangan itu karena Aji ingin memastikan kondisi Hanna baik - baik saja.
Kondisi tubuh Hanna memang baik - baik saja, karena untungnya Austin sebagai dokter tahu apa yang harus dia lakukan. Namun tidak dengan kondisi hati dan pikirannya.