
Flashback
Awal bulan desember, Sammy terlihat di bandara Ngurah Rai, sedang berdiri menenteng tas jinjingnya sambil menelpon seseorang.
" Hallo, aku baru sampai, kau dimana ?" tanya Sammy pada seseorang di sebrang sana.
Lalu, tidak lama terlihat seorang pria melambaikan tangan ke arahnya.
Sammy berpelukan dengan pria itu.
" Wah, selamat datang bro.. " ucap pria itu.
" Thank you, bro.. "
Lalu mereka berdua pergi meninggalkan bandara menuju suatu tempat.
Ternyata mereka menuju sebuah galeri seni, di salah satu sudut ibu kota provinsi Bali.
Terlihat beberapa orang menyambut kedatangan Sammy di sana. Tidak lama kemudian, Sammy di ajak oleh seseorang menuju salah satu ruangan di lantai 3 galeri seni tersebut. Ternyata ruangan itu merupakan sebuah kamar mess, yang akan Sammy tempati untuk beberapa waktu.
Ternyata, Sammy akan bekerja sebagai pelukis, pemahat dan pembuat tembikar di galeri seni tersebut.
Sammy memang mempunyai dua sisi yang salah satunya tanpa Hanna ketahui saat mengenalnya dulu di sekolah. Hanna hanya mengetahui bahwa Sammy merupakan orang yang hobi berolahraga, Hanna tidak mengetahui bahwa Sammy pandai membuat berbagai karya seni, dan tidak pernah mau mengenal Sammy lebih dalam lagi karena memang dulu dia hanya menganggap Sammy sebagai pacar hanya untuk menutupi status jomblo saja.
Kembali pada Sammy dan Hanna,
" Sudah lama di Bali ? " tanya Hanna.
" Baru sekitar dua minggu." jawab Sammy.
" Kenapa tidak mengabariku ?" Hanna merasa kecewa.
" Aku takut mengganggu mu. " Jawab Sammy.
" Kau tinggal dimana sekarang? "
" Aku, tinggal di galeri seni di jalan xxx, aku bekerja di sana. Kalau ada waktu, datanglah kesana, barangkali kau berminat untuk ku lukis. " Sammy tersenyum.
" Wah, terimakasih banyak. Lain kali aku akan kesana, ya. Penampilanmu banyak berubah, aku sampai hampir tidak mengenalimu."
Sammy hanya tersenyum.
" Sudah malam, kau tinggal di sini kan, kalau begitu, masuklah, kau pasti lelah. " Tukas Sammy.
" Oke, kalau begitu, sampai jumpa di lain waktu ya. " Hanna melambaikan tangganya lalu pergi meninggalkan Sammy di depan gerbang.
Keesokan paginya, seperti biasa, setiap pagi saat dapat bagian shift kerja siang, setelah selesai sarapan dan beres - beres, Hanna selalu bersantai di dalam kamar kostnya.
Tiba - tiba dia ingin menelpon sahabatnya di Bandung.
" Hallo, assalamualaikum Yasmin, i miss u so much.... muach.. "
" Waalaikum salam sayang, imiss u too.. muach...muach..." suara Yasmin di sebrang sana.
" Yas, kapan sih, katanya mau pada liburan ke Bali. "
" Insyaalloh say, nanti awal tahun deh, kamu udah dapet cuti kan nanti ?"
" Yups, tapi paling mulai di minggu ke dua awal tahun say, nanti aku minta pengajuan dulu sama supervisorku, oke. "
" Siyap deh, kontek lagi tanggalnya oke. Eh btw, kamu udah ketemu Sammy belum ?" tanya Yasmin.
" Eh iya, kemarin malam, dia udah kaya stalker aja kelakuannya, bikin merinding deh. "
" Gimana gitu ? stalker apa maksudnya ?"
Lalu, Hanna menceritakan soal pertemuannya dengan Sammy kemarin.
" Tapi, ngomong - ngomong, dia tau tempat kostku di sini darimana ya ? perasaan cuma keluarga sama kalian sahabat dekat ku aja yang ku kasih tau lokasinya." Hanna merasa penasaran.
" Sumpah, aku gak ngasih tau loh ya, emh... tapi gak tau juga ya kalo yang lainnya. Tapi beneran aku mah engga say... " Yasmin meyakinkan Hanna.
" Iya, oke, oke, aku percaya.. eh, udah dulu ya, lain kali ku telpon lagi, lupa belum setrika baju buat kerja ntar. " Ucap Hanna.
" Oke sayangku, jaga kondisi ya, awas jangan kebablasan pacarannya sama oppa oppa Korea nya. Hahaha.. " Yasmin tertawa.
" Ih... bukan oppa, tapi ahjussi tau.. oke deh, salam buat keluargamu ya di rumah. Assalamualaikum. "
" Waalaikum salam." Yasmin lalu menutup telepon nya.
Beberapa waktu berlalu, tanpa terasa hari demi hari Hanna lewati dengan rutinitas normal seperti biasanya, pergi bekerja, pulang ke kostan, tidur, bangun, makan, tidur lagi, bangun lagi, bekerja lagi dan tetap seperti itu hingga hari libur tiba.
Sudah beberapa hari pula Hanna dan Siwan tidak bertemu, mereka hanya berkomunikasi lewat telepon maupun video call. Siwan sedang sibuk mengurus bisnis barunya di luar kota Bali. Karena hari menjelang libur natal dan tahun baru, maka dari itu, Siwan tidak bisa menunda meeting nya dengan para klien nya dan selalu mensurvei beberapa lokasi konstruksi yang akan di jadikan lahan bisnis baru nya itu. Siwan sangat profesional, dia tidak bisa meninggalkan semua pekerjaannya itu hanya untuk sekedar melepas rindunya pada kekasihnya itu.
Dan Hanna pun mengerti akan kondisi mereka yang mengharuskan seperti itu, bahkan sebetulnya Hanna pun sedang sibuk di tempat kerjanya.
Setiap menjelang liburan natal dan tahun baru, libur hari raya idul fitri, semua toko retail, toserba dan departemen store bahkan para pedagang kaki lima atau sekedar toko - toko kecil di sepanjang jalan, selalu terlihat sibuk, apalagi karyawan di bagian fashion baik itu bagian fashion pria, wanita, anak dan bayi. Semua selalu sibuk membeli baju - baju dan perlengkapan lainnya untuk menyambut hari raya.
Hari liburnya Hanna kali ini, bertepatan dengan tanggal merah perayaan natal umat kristiani. Sebetulnya, Siwan sudah pulang kembali ke Bali, tapi dia harus merayakan natal bersama keluarganya, berkumpul bersama ibunya di sana.
Hanna memaklumi nya, dan dia berencana untuk pergi ke galeri seni tempat Sammy bekerja. Sebetulnya, galeri seni sedang tutup karena tanggal merah, akan tetapi, Sammy sudah mendapatkan izin dari sang pemilik untuk mengajak Hanna melihat - lihat karya seni di sana.
Hanna pergi sendiri menemui Sammy dengan mengendarai bus umum seperti biasanya. Pukul 09.00 wita, Hanna sudah berada di depan pintu galeri seni, dia lalu menelpon Sammy, memberitahunya bahwa dia sudah sampai.
Lalu tidak lama kemudian, Sammy keluar dari arah samping galeri, dia lalu mengajak Hanna masuk dari pintu samping karena galeri sedang tutup.
Sammy mengajak Hanna melihat - lihat beberapa lukisan, patung, aksesories dan beberapa karya seni lainnya. Baik itu hasil karya pemilik galeri seni, seniman lainnya bahkan hasil karya Sammy sendiri.
Lalu, tiba - tiba, mata Hanna tertuju pada sebuah lukisan seorang wanita, terlihat muda, memakai kebaya adat sunda, dengan rambut di kepang menyamping ke sebelah kanan. Dia seperti mengenali siapa sosok wanita di dalam lukisan tersebut.
Hanna menatap Sammy dan bertanya,
" Siapa gadis ini ? Apa itu aku ?" Hanna menatap Sammy dan menunjuk ke arah lukisan tersebut.
" Kau sangat pintar. Iya, dia adalah kamu. " Jawab Sammy.
Flashback..
Tahun 2019, saat acara perpisahan di sekolah di selenggarakan, Hanna dan Sammy sebetulnya sudah putus. Mereka putus hubungan saat sedang acara rekreasi setelah pengumuman kelulusan ke pantai Pangandaran.
Tiba - tiba, di malam hari sebelum kepulangan mereka kembali ke Bandung, Sammy mengajak Hanna jalan - jalan menaiki odong - odong, sejenis becak malam dengan lampu kerlap - kerlip. Mereka berdua mengayuh becak odong odong bersama - sama. Sebetulnya becak tersebut untuk empat orang, hanya saja, para sahabat Hanna dan sahabat Sammy saat itu seperti sengaja membiarkan mereka berdua saja untuk menciptakan moment romantis di malam hari.
Tapi nahas, Hanna malah mengakhiri hubungan mereka. Hanna meminta Sammy untuk melupakannya. Tentu saja Sammy menolaknya dan meminta alasan yang tepat, yang bisa benar - benar meyakinkan Sammy agar mau putus hubungan juga dengannya.
" Aku tidak bisa meneruskannya lagi, Sammy, maafkan aku. Lebih baik kita akhiri saja sampai disini. " Ucap Hanna.
" Kenapa ? apa alasannya ?" tanya Sammy.
" Aku, tidak bisa menerima perasaanmu lagi, di hatiku, sudah ada pria lain. " Hanna tertunduk merasa tidak tega menatap wajah Sammy.
" Apa kau tidak bisa memberiku kesempatan kedua ? Apa salahku ? katakan saja kalau kau memang merasa aku bersalah, aku akan memperbaikinya, pliss.. !!" Sammy menggenggam kedua tangan Hanna.
" Aku sudah memberimu kesempatan, tapi, aku tetap tidak bisa melupakan perasaan ku pada pria itu, Sam. Aku takut kamu semakin menderita. Aku bersamamu, di sampingmu, tapi hatiku berada di tempat lain, aku tidak mau terus menerus menyakitimu, Sam. Kumohon, mengertilah, aku juga merasa tersiksa karena terus membohongimu. " Hanna menatap Sammy dengan mata berkaca - kaca.
" Kau merasa menderita, tertekan dan tidak bahagia saat bersamaku. Baiklah, aku mundur. Aku tidak bisa memaksamu untuk tetap bersamaku. " Sammy melepaskan genggaman tangannya dari tangan Hanna.
" Berbahagialah Sam, berbahagialah bersama kehidupan mu dan dengan jalanmu sendiri. Walaupun tidak bersamaku. Aku yakin, suatu hari nanti kau akan menemukan seseorang yang tulus yang mau menerima perasaan mu setulus hatinya."
Hanna pun pergi meninggalkan Sammy menuju kamarnya di penginapan.
Di sisi lain, saat mereka sedang berbincang - bincang, ternyata para sahabat mereka menguping tidak jauh dari lokasi Hanna dan Sammy berada. Kebetulan saat itu suasananya malam hari dan gelap, sahabat mereka beriringan bersembunyi di balik sebuah pohon dekat dengan gerbang penginapan.
Setelah Sammy dan Hanna pergi, semua sahabat mereka saling berjanji untuk tidak ikut campur dan pura - pura tidak tahu saja demi menghargai perasaan sahabat mereka itu. Dan mereka pun menyetujui nya.