My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Seratus persen



Satu bulan berlalu....


Hanna masih dengan penuh harap menunggu Siwan agar segera kembali ke Bali. Di sela - sela aktifitas dan pekerjaannya, mereka berdua nampak selalu menyempatkan waktu untuk sekadar berbalas pesan dan video call.


Di awal bulan desember, Hanna mengambil sisa cutinya untuk pulang ke Bandung bersama adiknya, sekalian mengantarkan adiknya pulang setelah proses negosiasi yang cukup lama bersama ayahnya.


Di bandara....


" Hati - hati ya, semoga kalian selamat sampai tujuan dan dimanapun kalian berada !!" ucap Aji yang mengantarkan Hanna dan Abdul sampai bandara.


" Aamiin, terimakasih banyak ya bli, maaf aku selalu merepotkan " sahut Hanna.


" Tidak apa, jangan lupa kabari aku ya kalau sudah sampai di rumah !!" seru Aji.


" Pasti, nanti aku kabari " jawab Hanna.


Aji mengusap kepala Hanna. Dan, nampaknya Hanna merasa terkejut sekaligus merasa terpaku, Hanna dan Aji saling menatap.


" Ekhem.... "


Tiba - tiba dari samping mereka datang Abdul yang baru selesai menelpon ayahnya dari jarak beberapa meter, kini menghampiri mereka.


" Sudah waktunya kak, ayo kita pergi !!" ajak Abdul.


" Ah... i-iya... " jawab Hanna dengan kikuk.


" Bli, terimakasih banyak ya, senang sekali bisa berjumpa, maaf aku dan kakakku selalu merepotkan mu !!" ucap Abdul.


" Tidak, sama sekali tidak, ku tunggu kedatanganmu kembali ya, nanti ku ajak berlibur lagi !!" sahut Aji.


" Siyap... !!" jawab Abdul.


Beberapa menit kemudian, Hanna dan Abdul kini sudah berada di dalam pesawat.


" Teh, aku yakin seratus persen kalo bli Aji suka sama kamu !!" ucap Abdul.


" Dih... jangan ngadi - ngadi lu, emang kamu cenayang " jawab Hanna.


" Aku juga cowo lah, pasti tau gimana ciri - ciri orang cowo yang suka sama cewe cuma dari tatapannya aja " ucap Abdul kembali.


" Udah ah, diem, berdoa sana, bentar lagi mau take off nih.. " ucap Hanna menepis ucapan adiknya.


Sejujurnya, di dalam hati, Hanna pun berpikir seperti itu. Tapi, ia selalu mencoba mengingat kembali bahwa ia adalah kekasih Siwan, ia harus mampu menjaga sikap dan batasannya pada Aji.


Pernah suatu hari, sekitar dua minggu yang lalu, saat Hanna sedang latihan karate bersama Mina, saat itu, Hanna dan Mina sedang mencoba bertanding untuk mengukur sejauh mana kemampuan yang sudah Hanna kuasai dari hasil latihannya selama ini.


Beberapa kali, Hanna terkena serangan dari Mina, tendangan dan pukulan Mina terasa sangat sakit di rasa oleh Hanna. Namun, ia tidak menyerah, Mina pun memberi Hanna semangat dan memberinya beberapa tips perlawanan saat lawan menyerangnya seperti yang Mina lakukan tadi.


Hanna pun menganggap ini semua hanya bagian dari sesi latihannya saja. Ia kembali bangkit mencoba menyerang Mina walaupun berkali - kali ia gagal kembali.


Hingga saat pada di detik terakhir, Mina menyerang Hanna di bagian kaki tanpa ampun dan membuat Hanna terkulai lemas dan kesakitan, tiba - tiba Aji menghampiri Hanna yang sedang terkapar di lantai.


Aji lalu berdiri dan membentak Mina saat itu juga.


" Ap maksudmu ? apa kau sengaja melakukannya ?" tanya Aji.


" Apa ?" pekik Mina.


" Apa kau lupa dia masih belajar, kenapa kau menyerangnya terus menerus dengan teknik yang belum dia mengerti, apa kau... " ucapan Aji terhenti saat Hanna memanggilnya.


" Bli... sudah lah... " ucap Hanna lalu meringis.


Tanpa berlama - lama, Aji kembali pada Hanna yang sedang meringis kesakitan lalu mengangkat tubuhnya dan membawanya keluar dari ruang latihan menuju ruang kesehatan yang berada di lantai 1.


Setelah mendapat perawatan dari seorang ahli, Hanna pun merasa lega karena rasa sakitnya berkurang.


" Tidak ada yang serius, hanya mungkin akan bengkak selama beberapa hari !!" ucap seorang pria yang berada di samping Hanna kini.


" Terima kasih banyak bli " ucap Hanna pada pria itu.


" Lebih baik sekarang kau pulang saja, aku akan membawa barangmu dulu, kau tunggu sebentar di sini ya !!" seru Aji.


Hanna hanya menganggukan kepalanya.


" Kau, pacarnya Siwan bukan ?" tanya pria yang menolong Hanna tadi.


" Iya, betul " jawab Hanna.


" Panggil saja Gusti, aku salah satu staff pengurus di sini " ucap Gusti.


" Baik bli " jawab Hanna.


Lalu, beberapa menit kemudian, seseorang masuk ke dalam ruangan. Dia adalah Mina.


" Hanna, bagaimana keadaan mu ?" tanya Mina.


" Tidak apa, hanya bengkak, nanti juga sembuh " ucap Hanna sambil tersenyum.


Mina mendekat dan duduk di samping Hanna.


" Maafkan aku, mungkin tadi aku memang terlalu kasar padamu, aku lupa kalau kau masih dalam proses belajar " ucap Mina dengan wajah penuh penyesalan.


" Tidak apa Mina, aku tahu, kamu tidak ada maksud lain padaku tadi, ucapan bli Aji, tolong jangan di masukkan ke dalam hati ya !!" seru Hanna.


Mina hanya tersenyum, lalu ia memeluk Hanna dan kembali berkata..


" Aku sungguh tidak sengaja, aku benar - benar minta maaf " ucap Mina.


" Iya - iya, sudah lah, tidak apa - apa " jawab Hanna.


Sepersekian detik, Aji pun masuk ke dalam sambil membawa tas milik Hanna.


" Ayo, sebaiknya kau pulang saja sekarang " ucap Aji lalu menghampiri Hanna dan membantunya berdiri.


" Terima kasih banyak ya bli, aku pulang dulu, Mina, aku pulang ya... " ucap Hanna.


Dan, saat Hanna berjalan, kaki nya merasa sedikit kesakitan, dan Aji yang menyadarinya pun langsung berinisiatif untuk menggendong Hanna.


" Ayo, naiklah " ucap Aji lalu membungkukkan badannya di depan Hanna.


Setelah Hanna dan Aji keluar dari ruangan.


" Apa kau yakin, kau tidak sengaja melakukannya ?" tanya Gusti pada Mina yang berdiri terpaku menatap ke arah pintu.


" Tentu saja " ucap Mina dengan Tegas dan mata mendelik pada Gusti, lalu ia pun keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Gusti sendirian yang sedang tersenyum sinis menatap Mina yang semakin menjauh.


Beberapa menit kemudian, Hanna dan Aji sedang berada dalam perjalanan pulang menuju rumah Hanna.


" Sebaiknya, aku mengganti pelatih karate mu mulai sekarang. Nanti kalau kaki mu sudah benar - benar sembuh, aku akan menjadwal ulang lagi latihan mu !!" ucap Aji.


" Bli, apa kau tidak terlalu berlebihan pada Mina, aku yakin dia melakukannya tanpa sengaja !!" ucap Hanna.


" Kau pikir aku tidak memperhatikan nya, aku melihat dari awal proses latihanmu tadi, seorang pelatih tidak seharusnya bertindak seperti itu, dia bahkan sudah hafal aturan dan tata tertib sebagai seorang pelatih, tapi dia seperti sengaja melanggarnya ingin mencelakai mu !!" ucap Aji terdengar emosi.


Hanna terlihat berpikir sejenak sambil menatap wajah Aji yang masih fokus menyetir dan menatap jalanan di depan.


Hanna menghela nafas dan menghembuskan nya perlahan.


" Oke, baiklah, terserah bli saja, tapi, kejadian ini, tolong jangan beritahu ahjussi ya !!" pinta Hanna.


" Aku tidak akan memberitahu nya, tapi aku tidak menjamin kak Wan tidak akan tahu kejadian ini, entah Mina atau Gusti yang akan memberitahu nya nanti, yang pasti bukan aku orang yang pertama kali mengadu padanya " jawab Aji.


Hanna mengerutkan kedua alisnya, ia merasa kesal mendengar ucapan Aji barusan.


" Kenapa ?" tanya Aji yang melihat perubahan wajah pada Hanna.


" Kau, hari ini terlalu banyak bicara, aku kesal padamu !!" ucap Hanna lalu memalingkan wajahnya dari hadapan Aji.


Sesampai nya di depan rumah Hanna.


Aji buru - buru keluar dari mobil setelah mematikan mesin mobilnya. Ia lalu membukakan pintu mobil untuk Hanna dan membantu nya keluar dari mobil.


" Aku bisa berjalan sendiri " ucap Hanna yang menolak pertolongan Aji, karena masih kesal mendengar ucapan Aji tadi.


" Oke, silahkan " ucap Aji, lalu memberi jalan pada Hanna.


Hanna pun berjalan dengan perlahan seperti sedang menggusur kakinya sebelah karena rasa sakit yang di deritanya. Untung saja hanya kaki sebelah kirinya yang bengkak, tidak keduanya.


Aji pun mengambil tas milik Hanna dari dalam mobil, lalu mengikuti Hanna dari belakang.


Sesampainya di dalam rumah, Abdul, adik Hanna, sedang bermain ps yang di ruang tv.


" Assalamualaikum " ucap Hanna lalu terus berjalan menuju kamarnya.


" Waalaikum salam " jawab Abdul tanpa menoleh sedikitpun pada Hanna.


" Dul... " panggil Aji.


" Eh, bli, ku pikir kakakku sendirian !!" jawab Abdul yang menoleh pada Aji.


" Dul, ini tas kakak mu, tolong bantu dia mengoleskan minyak ini ya di kaki kakakmu nanti !!" seru Aji.


" Kenapa dia ?" tanya Abdul.


" Tadi, dia cedera saat latihan " jawab Aji.


" Owh... oke bli, nanti aku bantu oleskan " sahut Abdul.


" Kalau begitu aku pulang dulu ya, kalau butuh bantuan apapun, langsung telepon saja, oke !!" ucap Aji.


" Siyap, 86 !!" jawab Abdul.


Setelah Aji keluar dari rumahnya, Abdul mengambilkan tas Hanna dan membawanya ke dalam kamar Hanna saat itu.


Abdul bertanya pada kakaknya soal kejadian yang sebenarnya di sanggar latihan tadi. Hanna pun menceritakan kejadiannya secara detail pada adiknya.


" Owh... begitu ceritanya !!" ucap Abdul.


" Hooh, udah ya, aku mau mandi dulu, badanku sudah sangat lengket.


Kembali pada Hanna dan Abdul yang sudah sampai di kota kelahirannya kali ini.


Dari kejauhan, terlihat ayahnya sudah menunggu mereka beberapa meter dari pintu keluar.


Mereka begitu bahagia bisa berjumpa kembali dengan keluarga nya. Ayah nampak sangat bahagia dan memeluk Hanna dengan erat, namun tidak pada Abdul, adiknya, ayahnya malah langsung mengomeli nya karena berani kabur menghindari nya dan masalah yang sedang dia hadapi.


Sesampainya di rumah...


Hanna keheranan karena tidak melihat mobil pick up ayahnya di halaman, dia dan adiknya berpikir bahwa saat menjemputnya tadi, ayah meminjam mobil pak Rw tetangga mereka.


" Pak, si piki ( mobil pick up ) kemana ? di bengkel ?" tanya Hanna.


" Si piki udah bapak upgrade jadi ini " jawab ayahnya sambil menepuk body mobil yang berada di halamannya kini. Sebuah mobil Inovi berwarna hitam.


" Wah... kapan, cie... banyak duitnya nih sekarang " sahut Abdul.


" Iya dong, kamu kan gak jadi kuliah, jadi uangnya bapak pake nambahin beli mobil ini aja, lumayan, biarpun bekas, kondisinya masih oke " jawab ayah.


" Apa ?" pekik Abdul.


" Hahaha... kasihan deh, gak jadi kuliah lu tahun depan juga !!" ledek Hanna lalu pergi ke dalam rumah setelah menurunkan tasnya.


Samar - samar, masih terdengar suara perdebatan antara ayah dan adiknya soal mobil, dan kuliah saat Hanna berjalan masuk ke dalam rumah.


" Assalamualaikum mah " ucap Hanna.


" Waalaikum salam " jawab ibu yang sedang berada di dapur.


Hanna menyalami dan memeluk ibunya.


" Mana bapak sama si Dul ?" tanya ibu.


" Lagi kangen - kangenan mereka, masih di luar, mungkin lagi pelukan mesra " jawab Hanna dengan usil.


Namun, ibunya seperti nya paham apa yang Hanna maksud. Ibu hanya manatap Hanna sambil mengernyit.


Hanna masuk ke dalam kamarnya, dan ibu pergi keluar menghampiri ayah dan anak yang masih berdebat sejak beberapa menit yang lalu.