My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 Who there



...Sudah dua hari tepatnya, Hanna tidak mendapat kabar sama sekali dari Aji, bahkan nomornya sulit di hubungi....


Hanna mencoba bertanya pada Bram pun hanya mendapat jawaban yang tidak ingin dia dengar.


" Hallo, pak Bram, ini Hanna " ucap Hanna lewat sambungan gawainya. Waktu itu malam hari selesai shalat isya dia langsung menghubungi Bram.


^^^" Eh iya, mbak Hanna, ada apa yaa malam begini telepon, ada yang bisa ku bantu ?" tanya Bram di seberang sana.^^^


" Bli Aji, apa dia sudah pulang ?" tanya Hanna.


^^^" Oh, Aji, belum mbak, mungkin dia masih survei lokasi konstruksi dengan pak Yoka disana " jawab Bram.^^^


" Emh... begitu ya, tapi, apa pak Bram tahu dia pergi kemana sekarang ?" tanya Hanna mencoba mengorek informasi.


^^^" Dia pergi ke NTB, dengan pak Yoka dan timnya, disana agak sulit sinyal, jadi kadang Aji menghubungiku lewat sambungan telepon rumah yang ada disana milik rekanan bisnis " jawab Bram.^^^


" Oh... begitu ya, yasudah, maaf yaa aku ganggu pak Bram lagi istirahat "


^^^" Gapapa mbak Hanna, santai aja, lagian saya lagi di arena fitnes lagi penyisiran sama tim " jawab Bram.^^^


" Oh... masih kerja, yaudah kalau gitu lanjut aja yaa, makasih sudah mau kasih informasi, eh iya, nanti kalau bli Aji hubungi pak Bram, tolong suruh dia hubungiku secepatnya " ucap Hanna.


^^^" Baik mbak, nanti saya sampaikan "^^^


Jawaban Bram mengakhiri percakapan mereka malam itu lewat sambungan teleponnya malam itu.


Hanna hanya bisa menarik nafas dan melepasnya perlahan. Entah mengapa dadanya begitu sesak.


...Dan, tanpa terasa kini satu minggu sudah Hanna masih menunggu kabar dari Aji maupun kehadirannya....


Setiap harinya, setelah selesai beraktivitas, berjalan - jalan di sekitar panti, maupun bermain di taman dengan anak - anak panti, ia lalu hanya duduk di ruang tamu sambil menatap ke arah pintu masuk rumah bu Shinta.


...Bu Shinta yang kadang berada di rumah merasa heran dengan sikap Hanna yang terlihat seperti sedang menunggu seseorang itu. Karena setiap kali ia mendengar suara langkah kaki mendekat pada rumahnya, Hanna langsung memasang mode siaga, untuk melihat siapa orang yang berada di balik pintu tersebut....


Tapi, lagi - lagi Hanna harus kecewa karena orang yang bolak - balik keluar masuk pintu rumah itu hanyalah para pengurus panti yang datang untuk mencari bu Shinta, mencari bi Lastri, dan atau beberapa anak panti yang sudah besar yang sengaja menjenguk Hanna dan mengajaknya bertukar pikiran seputar lagu - lagu hits zaman sekarang.


...Di panti, kini Hanna memiliki dua orang teman bernyanyi dan bermain musik kala ia sedang suntuk. Di waktu senggang kedua temannya itu selalu mengajak Hanna bertukar informasi mengenai perkembangan musik saat ini....


Mereka memang terbilang masih muda, umurnya berbeda jauh dengan Hanna, mereka masih anak kuliah namun karena hobi mereka sama akhirnya meskipun baru sebentar saling mengenal, mereka langsung bisa akrab.


...Siang itu, bu Shinta yang baru pulang dari acara pertemuannya dengan tamu yang sering berkunjung ke panti, saat ia pulang ke rumah, ia mendapati Hanna tengah tertidur di sofa ruang tamu....


Bi Lastri yang sedang berada di dapur pun langsung di wawancara oleh bu Shinta.


" Bi, itu kenapa Hanna tidur di ruang tamu ?" tanya bu Shinta.


^^^" Iya bu, saya sudah suruh neng pindah padahal tadi sebelum dia tidur, tadi dia disana lagi baca buku sambil makan ubi rebus, katanya lagi gak mau makan nasi, tapi untungnya makan ubi rebusnya banyak bu " jawab bi Lastri.^^^


" Dia kenapa sebenarnya, apa dia curhat sama kamu ?" tanya bu Shinta.


^^^" Anu, tapi saya takut salah, sebetulnya begini bu... bla bla bla.... " bi Lastri mencoba menjelaskan sesuatu pada bu Shinta.^^^


" Oh... baiklah, nanti saya coba ajak dia mengobrol dulu " jawab bu Shinta dan berlalu meninggalkan bi Lastri yang masih mempersiapkan bahan masakan untuk makan malam nanti.


...Sore harinya.......


Setelah Hanna terbangun dari tidur siangnya satu jam yang lalu, ia langsung bergegas masuk ke dalam kamar dan melanjutkan kembali tidurnya di atas kasurnya.


...Dan, ketika ia terbangun, bu Shinta pun datang mengetuk pintu kamarnya sebelum ia masuk ke dalam kamar Hanna....


" Hanna, apa kau sakit ?" tanya bu Shinta.


^^^" Tidak bu, aku baik - baik saja !" jawab Hanna.^^^


Hanna membetulkan posisi duduknya di atas ranjangnya. Ia bersandar pada sandaran belakang dan mengelus - elus perutnya yang sudah mulai buncit.


...Bu Shinta kini duduk di samping ranjang Hanna dan ikut mengelus perutnya....


" Sudah ada pergerakan ?" tanya bu Shinta.


^^^" Iya bu, aku sudah bisa merasakan getaran di dalam sini " jawab Hanna.^^^


" Sudah 4 bulan berarti, bukannya biasanya di keluargamu selalu mengadakan acara syukuran 4 bulanan, begitu kan ?" tanya bu Shinta.


^^^" Iya bu, tapi tidak apa - apa, doa dari kedua orangtuaku sudah cukup, aku sudah memberitahu mereka dan mereka langsung mengadakan acara doa bersama di rumah dan menyantuni anak - anak yatim piatu di panti asuhan daerah sekitar rumahku di Bandung " jawab Hanna.^^^


" Kalau kau mau mengadakan syukuran dan pengajian disini, aku bisa mencarikan masjid dan jamaahnya untuk berkumpul mendoakanmu dan bayimu, beberapa kilometer dari sini ada sebuah masjid, nanti aku carikan informasi dengan bi Lastri, dia pasti sudah paham dengan hal seperti itu, karena dia seorang muslim sepertimu dan dia sudah lebih berpengalaman kan !" ucap bu Shinta.


^^^" Tidak apa bu, aku tidak ingin merepotkan ibu, doa dari kedua orangtuaku dan juga dari ibu sendiri sudah merupakan kekuatan bagiku dan calon bayiku ini " sahut Hanna yang lagi - lagi mengelus perut buncitnya.^^^


" Yasudah, kalau begitu, mungkin nanti 7 bulanan saja ya, kita adakan acara pengajian, bi Lastri bilang kalau selain 4 bulanan kalian juga kadang melakukan tradisi 7 bulanan dan 9 bulanan kan... " ucap bu Shinta.


^^^" Oh... jadi bi Lastri cerita pada ibu kalau aku agak merisaukan hal itu ?" Hanna tersenyum dengan mode penasaran pula.^^^


" Ya... itu karena aku khawatir padamu, akhir - akhir ini kau terlihat seperti mencemaskan sesuatu, jadi aku bertanya pada Lastri apa yang sedang mengganggu pikiranmu akhir - akhir ini " jawab bu Shinta.


^^^" Hahaha... bukan itu bu, aku tidak terlalu memikirkan hal itu, karena orang tuaku sudah memberikan solusi untukku " sahut Hanna.^^^


" Lalu, apa yang membuatmu cemas selain itu ? pasti ada kan ?" tanya bu Shinta.


^^^" I-itu... emh... " Hanna menarik nafas panjang dan berkata " tidak bu, aku hanya sedang suntuk " sambil membuang nafas perlahan.^^^


" Oke, baiklah, apa mau kucarikan kegiatan untukmu ? supaya kau lebih bergairah menjalani kehidupanmu disini... "


^^^" Boleh bu, apa itu ? aku sebetulnya ingin melakukan pekerjaan, apapun itu, aku ingin hidupku lebih bermanfaat " ucap Hanna.^^^


" Baiklah, nanti akan aku pikirkan, tapi kau tidak boleh terlalu lelah, aku hanya bisa memberimu pekerjaan ringan, dan tidak menguras pikiran dan tenagamu " jawab bu Shinta.


^^^" Terima kasih bu " ucap Hanna.^^^


Sebelum bu Shinta keluar dari kamar Hanna, ia mengusap perutnya dan menyapa calon cucunya yang ada di dalam perut Hanna.


Bu Shinta sudah masuk ke dalam kamarnya, karena sudah merasa mengantuk. Sedangkan bi Lastri masih asyik menonon tv di ruang tengah.


...Hanna yang membaca buku di ruang tamu pun kini menghampiri bi Lastri yang nampak heboh saat menonton sinetron favoritnya....


" Hadeuh... kelakuan emak - emak, nonton sinetron aja hebohnya kayak nonton pertandingan bola " gumam Hanna yang masih menyeret kakinya perlahan.


Setelah duduk di samping bi Lastri, Hanna menatap tajam padanya dari arah samping. Namun, bi Lastri masih tidak bergeming dengan tatapan mengerikan yang di layangkan oleh Hanna saat itu.


" Ck... si bibi, ampun banget dah, gak nyadar aku udah mepet - mepet gini sama dia, hih... " batin Hanna.


" Bibi.... " pekik Hanna.


^^^" Eh... neng, ada apa neng, udah mau tidur ? mai bibi anter ke atas ?" bi Lastri bertanya sambil melirik Hanna sekali dan kembali fokus pada layar datar tv di depannya.^^^


" Bi, serius amat sih nontonnya, aku mau nanya nih sama bibi " ucap Hanna.


^^^" Iya neng, sebentar... " bi Lastri mengambil remote tv dan mengecilkan volumenya.^^^


" Bibi tadi curhat apa sama ibu ? kok ibu jadi tahu soal acara syukuran 4 bulanan !" Hanna mulai mengeluarkan rasa penasarannya.


^^^" Ya, itu soalnya bu Shinta tanya sama bibi, kenapa neng sikapnya aneh gitu belakangan ini, bibi jawab aja mungkin lagi resah soal acara 4 bulanan yang tempo hari kita bahas itu " jawab bi Lastri.^^^


" Ya Alloh bi, kalau masalah itu sih aku udah gak ambil pusing, kan bibi tahu orangtuaku sudah kasih solusi, bukan itu bi... " ucap Hanna.


" Oh... bibi kira soal itu " bi Lastri mulai menyadari kalau dia keliru memikirkan keanehan sikap Hanna " Lah terus, mikirin apa atuh ?" sambung bi Lastri.


^^^" Aku, cuma lagi mengkhawatirkan seseorang bi, sudah satu minggu dia gak ngasih kabar, aku cuma takut terjadi apa - apa sama dia, aku gak mau lagi kehilangan orang yang aku sayang dengan cara yang sama seperti pada ahjussi, aku gak mau bi, aku takut... " ucap Hanna sambil menundukkan kepalanya.^^^


" Aji kan ?" tanya bi Lastri.


...Hanna hanya menganggukan kepalanya sambil menunduk menatap lurus ke bawah....


" Doakan saja neng, semoga dia baik - baik saja, mungkin dia lagi sibuk menggantikan tugas - tugas kak Wan yang sangat banyak, dia sangat di percaya oleh bu Shinta, jadi, doakan saja yaa, jangan berpikiran negatif terus.. " ucap bi Lastri.


^^^" Iya bi... " ucap Hanna, lirih.^^^


" Jadi, akhirnya mengakui yaa kalau neng ada perasaan sama Aji " ucap bi Lastri.


^^^" Ssst.... bibi, jangan keras - keras, nanti ibu denger " mata Hanna berkeliaran melihat situasi sekeliling rumah.^^^


" Eh iya neng, maaf !!" ucap bi Lastri.


Beberapa menit kemudian, kini Hanna sudah berada di dalam kamar. Setelah menyudahi percakapan dari hati ke hati bersama bi Lastri, kini Hanna bersiap untuk tidur.


...Namun, ucapan bi Lastri kembali terngiang di telinganya....


" Neng, kalau memang neng bener - bener mau membuka hati buat orang lain, dan orangnya iti Aji, atau siapapun, sebaiknya bicarakan dulu dengan bu Shinta, meskipun status kalian tidak ada ikatan keluarga, tapi kalian sudah saling menganggap ibu dan anak kan ? meskipun nantinya bibi yakin bu Shinta tidak akan pernah melarang neng untuk menikah dengan pria lain, tapi hati kecil bu Shinta pasti merasa sedih kalau neng tidak meminta izin darinya "


" Ck... menikah lagi, apa aku sanggup hidup bersama pria lain setelah semua kejadian yang menimpaku, aku memang menyukainya, tapi aku tidak tahu apa aku bisa hidup dengannya, lagipula, aku dan dia pun sama - sama berbeda keyakinan " ucap Hanna yang sudah membenamkan wajahnya di atas bantal.


...Keesokan harinya......


Hanna terbangun dengan perlahan, dan duduk di atas ranjangnya sambil menggeliatkan tubuhnya. Karena kondisi perutnya yang semakin membesar, dia tidak bisa bangun dengan seenaknya seperti dulu lagi.


Biasanya saat bangun dari tidurnya dia sellau terburu - buru bangkit dan pergi berlari ke kamar mandi kala melihat jam di dinding yang sudah menandakan waktu subuh akan segera berakhir. Ia selalu berlari sekencangnya mengambil air wudhu dan kembali ke kamarnya.


Namun kali ini ia tidak bisa seperti itu, meskipun ia bangun agak kesiangan dari biasanya, ia harus tetap berlaku santai, selow, dan santuy karena menjaga nyawa lain yang ada di dalam tubuhnya.


Selesai sholat subuh yang agak terlambat, ia pun turun dengan hati - hati ke bawah.


Bi Lastri yang melihat Hanna sudah berada di ujung tangga selalu terburu - buru menghampiri Hanna dan menemaninya turun ke bawah.


" Gak usah repot - repot bi, aku bisa sendiri kok " ucap Hanna.


" Gapapa neng, bibi khawatir aja, oh iya, nanti kalau sudah 7 bulan neng mulai tidur di kamar bawah ya, bu Shinta katanya mau merenovasi kamar tamu supaya jadi lebih luas, jadi kamar bayi juga tidak jauh dari kamar neng Hanna " ucap bi Lastri.


" Wah, masa sih bi, mulai kapan mau renovasi nya ?" tanya Hanna.


" Mulai senin depan neng, bu Shinta lupa mungkin belum cerita sama neng Hanna " sahut bi Lastri.


" Iya bi, gapapa, terus sekarang ibu belum bangun ?" tanya Hanna.


" Belum neng " jawab bi Lastri.


" Ooohhh..." ucap Hanna yang lalu duduk di meja makan.


Selesai sarapan, seperti biasa Hanna selalu mencari udara segar di luar, di taman.


Seperti biasa, setiap pagi selalu ada Bisma yang kabur dari panti setelah bangun tidur untuk melihat ikan - ikan di kolam.


Dan ketika Hanna tengah asyik mengobrol dan bercanda ria bersamanya, dari belakang terdengar suara langkah kaki seseorang mendekat pada mereka.


Suara langkah kaki seseorang yang memakai sepatu pantofel bergesekan dengan bebatuan dan jalan setapak di taman, membuat Hanna penasaran ingin segera menoleh dan melihat siapakah dia.


Dan, saat Hanna yang sedang memeluk Bisma yang duduk sampingnya menoleh ke belakang, tiba - tiba mulutnya menganga dan matanya nyalang, ia terkejut melihat sesosok pria di hadapannya kini sedang berdiri dengan tegak sambil tersenyum.


Hanna langsung bangkit, kemudian berjalan terburu - buru menghampiri pria itu dan memeluknya dengan erat.


" Kemana saja kau selama ini ? aku sangat merindukanmu.... !" ucap Hanna sambil menangis.


" Maaf... " ucap pria itu.


Siapakah dia.... ??


Maafkan othor plisss...


Belum bisa update tiap hari soalnya masih sibuk banget othor jarang bisa santuy


Makasih banyak yang masih setia menanti kelanjutan ceritanya.