
Februari, 11 - 2017...
Suasana pagi di hari sabtu....
" Teh, udah siap semuanya ? gak ada yang tertinggal ?" tanya bu Hani, Siti Hanifah, ibu Hanna.
^^^" Insyaalloh mah " jawab Hanna yang sedang kembali mengepak barangnya ke dalam koper.^^^
Tak lama kemudian sebuah mobil Inovi berwarna hitam masuk ke halaman rumahnya.
" Bapak udah pulang tuh, nanti nunggu dia istirahat dulu aja ya, baru pergi ke Yogya " ucap bu Hani, menatap anaknya dengan wajah sendu.
^^^" Iya mah, gapapa santai aja " jawab Hanna kembali.^^^
Pak Bagyo masuk ke dalam rumahnya.
" Assalamualaikum !!" ucap pak Bagyo, Subagyo Setiawan, ayah Hanna.
^^^" Waalaikum salam " jawab Hanna dan bu Hani bersamaan.^^^
" Si Abdul mau ikut gak ?" tanya pak Bagyo menghampiri anak dan istrinya yang sedang berada di kamar Hanna.
^^^" Engga pak, katanya udah mulai banyak tugas kampus, dia mau jaga rumah saja " jawab bu Hani menatap suaminya.^^^
" Yasudah, bapak mau istirahat dulu ya sebentar, nanti bangunkan bapak jam setengah 10 aja " pinta pak Bagyo.
Dua jam kemudian...
Bu Hani membangunkan suaminya yang nampak masih terlelap dalam tidurnya, meskipun sebenarnya dia tidak tega, namun sesuai pesannya maka bu Hani pun terpaksa membangunkannya.
Siang itu, mereka berencana pergi ke Yogyakarta untuk mengungsikan Hanna sesuai keinginannya yang meminta kedua orang tuanya merahasiakan kehamilannya.
Selain karena alasan malu, Hanna tidak mau kedua orang tuanya menanggung beban dan derita yang akan mereka dapatkan dari lingkungan sekitar. Bahkan ketiga sahabatnya pun belum ada yang tahu tentang kondisi kehamilannya.
Karena ayah dan ibunya tidak ingin Hanna kembali stress akibat memikirkan omongan tetangga nantinya, maka terpaksa ayah dan ibunya menyetujui permintaan Hanna dengan, berat hati, mereka siang ini akan mengantarkannya untuk tetirah tinggal di Yogyakarta di rumah Eyang dari keluarga ayahnya.
Tepat pukul 10.00 wib, Hanna sudah siap untuk pergi, semua barangnya telah masuk ke dalam bagasi mobil ayahnya.
Hanna yang masih berdiri di balik pintu meneliti situasi dan kondisi luar rumah lewat jendela yang ada di samping pintu. Dia takut ada tetangga mereka yang melihatnya dan kepo bertanya - tanya ini dan itu dan banyak sekali jadinya nanti malah bergosip.
Ketika Hanna sudah meresa situasi cukup aman, ia pun melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam mobil ayahnya.
Ibunya di belakang masih sibuk mengunci semua pintu rumah dan memastikannya tidak ada yang terlewat, karena saat itu adik Hanna belum pulang dari kampusnya.
Baru saja Hanna duduk di dalam mobil dengan santai dan tenang, tiba - tiba dia di kejutkan oleh kehadiran dua orang yang dia kenal berjalan mendekat ke arah pagar rumahnya.
Matanya membelalak, mulutnya menganga, seakan tidak percaya tentang siapa saja yang kini tengah berdiri di depan pintu pagar rumahnya.
" Teh, ada tamu, siapa ya, bentar bapak samperin dulu " ucap ayahnya yang kemudian mematikan kembali mesin mobilnya dan turun.
Hanna pun dengan hati - hati ikut turun dari mobil menyusul ayahnya.
..." Ibu... bli.... " ucap Hanna pada kedua orang yang kini berdiri di hadapan ayahnya....
Ayah Hanna menoleh ke belakang menatap anaknya yang terlihat seperti orang yang shock. Kacamata hitam dan masker yang di kenakan anaknya kini sudah terlepas. Padahal sejak tadi anaknya sendiri yang heboh menutupi tubuhnya dari atas sampai ke bawah, dengan topi, kacamata, jaket hoodie dan juga masker, supaya tidak ada tetangga maupun orang lain yang melihatnya.
Beberapa menit kemudian, kini Hanna, ayahnya, serta Aji dan bu shinta, ibunya Siwan, mereka semua sudah berada di dalam ruang tamu rumah Hanna siang itu.
Ibu yang baru saja menghidangkan minuman di meja pun duduk untuk ikut berbincang bersama mereka.
" Silahkan, di minum, mohon maaf, hanya ada air putih saja " ucap bu Hani.
^^^" Tidak apa, ini sudah cukup, terima kasih banyak ya " sahut bu Shinta yang kemudian meminum air di gelas yang sudah di suguhkan oleh bu Hanni, di ikuti oleh Aji.^^^
Sebelumnya bu Shinta sempat memperkenalkan dirinya pada ayah Hanna dan menanyakan kabar tentang Hanna.
" Maaf, kalau saya boleh tahu, maksud kedatangan bu Shinta dan nak Aji kemari ada apa ? apa hanya ingin menjenguk anak saya ?" tanya pak Bagyo.
^^^" Aku, datang kemari ingin meminta maaf atas kesalahan anak aku, sebagai ibu dari anakku yang sebelumnya telah menjalin hubungan dengan anak bapak, yaitu Hanna, sebagai seorang ibu, orang tuanya, aku benar - benar meminta maaf atas segala kesalahan yang di perbuat anakku yang sudah menodai anak bapak sebelum adanya ikatan pernikahan, aku teramat sangat menyesalinya " ucap bu Shinta.^^^
" Anak saya sudah menceritakan semuanya, saya turut berduka cita atas kepergiannya, saya sudah mencoba untuk memaafkannya, karena yang saya lihat saat ini adalah kondisi anak saya dan calon bayinya " sahut pak Bagyo.
Dan, tiba - tiba Hanna menyela obrolan keduanya.
" Maaf, apa ibu sudah tahu kalau aku... " Hanna tidak melanjutkan perkataannya.
^^^" Aku sudah tahu, aku jauh - jauh datang kemari karena sangat merasa penasaran, boleh kah aku bertanya, apa benar bayi di dalam kandunganmu adalah anak dari Siwan ?" tanya bu Shinta.^^^
Hanna menundukkan kepalanya karena tidak kuasa menahan tangisnya.
..." Iya " jawab Hanna lirih, di iringi oleh air mata yang menetes dari sudut matanya....
" Puji Tuhan, syukurlah, aku merasa lega... " ucap bu Shinta.
Ayah yang mendengar ucapan bu Shinta merasa heran dengan apa yang baru saja dia dengar, " apa mungkin aku yang salah dengar ?" batin pak Bagyo.
" Maaf, sebentar, boleh saya bertanya satu hal pada bu Shinta ?" Pak Bagyo menatap bu Shinta dengan serius.
^^^" Silahkan... " jawab bu Shinta.^^^
" Apa bu Shinta dan anaknya non muslim ?" tanya pak Bagyo.
..." Pak... " secepat kilat Hanna menengadah dan menatap raut wajah ayahnya....
" Betul, saya seorang Protestan, dan anak saya Khatolik hanya saja dia bukan penganut Tuhan yang baik, maafkan saya, semua salah saya yang tidak bisa mendidiknya dengan baik " Bu Shinta tetap terlihat tenang di tengah situasi yang mulai memanas ini.
Ayah Hanna begitu terkejut mendengarnya. Dia sungguh tidak menyangka selama ini anaknya berani berhubungan bahkan berbuat hal terlarang dengan pria yang tidak seiman dengannya.
Sebetulnya ibu Hanna melarang Hanna memberitahukan tentang status agama Siwan sewaktu di rumah sakit. Terlebih lagi saat Hanna bersikukuh tidak mau kalau dia ataupun ayahnya meminta pertanggung jawaban pihak keluarga kekasihnya atas perbuatan anaknya.
...Lalu, darimana bu Shinta tahu kalau Hanna kini sedang hamil ??...
" Astagfirullahhaladzim teteh, beraninya kau berhubungan dengan pria yang tidak seiman denganmu, k-kau... " ayah Hanna terlihat sangat murka, dia ingin menampar anaknya kini, dia sangat merasa berdosa mendapati kelakuan anak sulungnya berbuat dosa yang sungguh berkali - kali lipat.
Aji yang sedari tadi hanya terdiam di samping bu Shinta seketika nyalang dan terkejut saat melihat ayah Hanna yang begitu emosi dan hendak menampar wajah anaknya itu.
" Pak, tahan pak, sabar, malu pak malu... " bu Hani yang berada di tengah antara Hanna dan suaminya, kini sekuat tenaga menahan suaminya itu yang sudah mencondongkan tubuhnya dan hendak mendaratkan tangannya yang sudah melayang di udara menuju pipi Hanna.
Tubuh Hanna mengkerut sambil terus tertunduk dan terisak - isak.
" Maafkan Hanna pak " ucap Hanna.
Pak Bagyo memalingkan wajahnya dari hadapan Hanna.
Pak Bagyo nampak kembali frustrasi seperti saat pertama kali ia mengetahui kenyataan bahwa anaknya kini sedang hamil.
Pak Bagyo menunduk dan menopang wajahnya dengan kedua tangannya sambil beristigfar dengan lirih.
Setelah di rasa cukup tenang, bu Shinta kembali melontarkan suaranya.
" Aku benar - benar ingin bertanggung jawab, seandainya aku di beri kesempatan untuk melakukan apa saja, aku pasti akan menuruti segala permintaan kalian, terutama kau, Hanna, apapun itu akan aku lakukan kalau memang aku mampu " ucap bu Shinta.
Hanna terkejut dan menatap wajah bu Shinta dengan wajah yang sudah basah karena air mata.
" Bu, bolehkah aku tahu, darimana ibu mengetahui bahwa aku sedang mengandung ?" Hanna nampak penasaran.
^^^" Rumah sakit, hari itu, tanggal 4 februari, aku kembali ke rumah sakit dan bertanya pada pegawai disana tentang hasil pemeriksaanmu, kebetulan kepala rumah sakit disana temanku, salah satu donatur di panti " jawab bu Shinta.^^^
" Aku paham, bukan hal yang sulit untuk ibu mengorek informasi maupun keberadaanku seperti sekarang ini " sahut Hanna.
^^^" Saya tidak ingin apapun, sungguh, kalau anakmu masih hidup saya hanya menginginkannya, tidak ada yang lain lagi " pak Bagyo tiba - tiba kembali angkat bicara.^^^
" Bu, aku pasti akan menjaga bayiku, ibu tidak usah khawatir, aku akan tinggal di Yogyakarta mulai besok, jadi kalau ibu mau menemuiku ataupun bayiku nanti kalau sudah lahir, dari Bali tidak terlalu jauh jaraknya, aku tidak akan melarang ibu menemui cucu ibu sendiri " ucap Hanna.
" Apa kalian akan pindah rumah ?" tanya bu Shinta menatap Hanna dan ayah ibunya bergiliran.
..." Begini bu... bla bla bla... " bu Hani mulai menceritakan keinginan Hanna untuk tetirah selama masa kehamilannya demi kondisi psikisnya....
" Kalau begitu lebih baik kalian ikut bersamaku saja, aku akan dengan senang hati menerimamu dan cucuku di rumahku " ucap bu Shinta.
^^^" Apa... ?" pak Bagyo kembali naik pitam.^^^
" Saya bukannya mengusir anak sulung saya dari rumah ini, saya hanya menuruti kemauannya untuk sementara waktu pergi demi kesehatan mentalnya, saya tidak akan menyerahkan anak saya pada orang lain tanpa adanya ikatan atau hubungan apapun, bagaimana saya bisa mempercayai orang lain, anak saya sendiri pun sudah menyia - nyiakan kepercayaan saya sendiri, bagaimana bisa saya... "
..." Pak... " bu Hani menyentuh lengan suaminya agar menghentikan ucapannya sambil menggelengkan kepalanya....
" Sepanjang hidupku, bahkan anak terlantar yang tidak tahu asal usulnya ataupun anak yang kedua orangtuanya sudah tidak mampu menafkahinya, aku selalu menerima, mengurus dan mendidik mereka dengan sepenuh hatiku, mereka tidak ada ikatan darah ataupun keluarga dari pihak manapun, tapi mereka menjadi keluargaku setelah aku benar - benar mencurahkan seluruh kasih sayang ku terhadap mereka, jadi, Hanna yang kini bahkan mengandung darah dagingku sendiri, mana mungkin aku tidak memberikan kasih sayangku padanya !!" ucap bu Shinta.
Aji mulai mengeluarkan suaranya di tengah pembicaraan ini.
..." Mohon maaf pak, bu, jadi bu Shinta ini pemilik yayasan panti asuhan di salah satu kota yang ada di pulau Bali, beliau selama ini selalu mengharapkan rumahnya akan penuh dengan canda tawa maupun tangisan anak - anak, terutama anak anak cucunya sendiri, bu Shinta pasti akan dengan sepenuh hati mengurus dan menjaga Hanna serta buah hatinya nanti " ucap Aji, mencoba memberikan penjelasan pada keluarga Hanna....
" Aku memang sempat menentang hubungan mereka berdua, karena aku tahu pada akhirnya mereka memang sudah sepakat akan mengakhiri hubungan mereka setelah Hanna menyelesaikan urusan pekerjaannya di Bali. Aku begitu menantikan anakku menikah dan membangun keluarga kecilnya dan mengharapkan dia dapat memberiku banyak keturunan, selain karena usianya yang sudah matang, dia pun tidak punya siapa - siapa lagi disini selain diriku, hanya ada beberapa orang kepercayaan yang sudah dia anggap lebih dari saudara, tapi tetap saja, aku menginginkannya membangun keluarga kecilnya sendiri, dulu ia pernah gagal, namun untuk selanjutnya aku berharap dia berhasil dalam membangun keluarga kecilnya, dan di saat aku mengetahui Hanna seorang muslim, aku tahu kalian pun sama, tidak akan merestui hubungan mereka sepertiku, tapi takdir ternyata berkata lain " bu Shinta mulai menitikan air mata, namun dia terus berusaha untuk tetap tegar.
Aji merangkul dan mengusap pundaknya seraya memberinya kekuatan.
" Saya masih sanggup menghidupi anak dan cucu saya, dan saya tidak mau kehilangannya lagi " ucap pak Bagyo yang sudah mulai melunak dan bernada lembut.
^^^" Beri aku kesempatan, di sisa umurku, di akhir hayatku, aku ingin di temani keluargaku sendiri, tidakkah kalian mengiba melihat nasibku yang di tinggal pergi putraku satu - satunya, kumohon, izinkan dia tinggal bersamaku, setelah aku mati, kalian bisa membawanya kembali pulang, anggap saja ini permintaan terakhirku !!" ucap bu Shinta.^^^
" Bu... " Hanna menatap wajah bi Shinta dengan tatapan sendu dengan mata yang sudah membengkak.
^^^" Maafkan saya bu Shinta, Hanna anak saya, hanya saya yang berhak menentukan apa yang harus dan tidak dia pilih terlebih lagi mulai sekarang, saya tidak akan memberikan kebebasan apapun lagi terhadapnya " ucap pak Bagyo.^^^
" Baiklah, maafkan aku yang sangat egois ini, aku terlalu larut dalam harapanku tanpa mempertimbangakan perasaan kalian sebagai kedua orang tua Hanna, aku sangat memahami apapun keputusanmu, maaf aku dan anakku sudah mengusik kedamaian hidup kalian, aku hanya minta tolong, jagalah calon cucuku dan cucu kalian juga sebaik mungkin, kalau begitu aku pamit, maaf sekali lagi sudah mengganggu waktu kalian !!" Bu Shinta bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri Hanna yang juga sudah bangkit dari kursinya.
Bu Shinta mendekat lalu mengelus pipi Hanna dengam lembut, dia lalu memeluk Hanna begitu erat.
" Jaga dirimu baik - baik dan juga bayimu, aku akan menantikan sampai hari kelahirannya, aku akan berdoa pada Tuhan supaya kau dan calon anakmu selalu berada dalam lindungan - Nya, selalu sehat dan bahagia " ucap bu Shinta.
^^^" Aamiin " Hanna menjawab sambil menahan tangisnya.^^^
" Lain kali aku akan datang menemui kalian lagi, boleh kan ?" tanya bu Shinta.
^^^" Tentu bu, terima kasih " ucap Hanna.^^^
Bu Shinta pun pergi setelah sebelumnya sempat bersalaman dengan kedua orang tua Hanna.
Dengan penuh kesopanan kedua orang tua Hanna masih menghargai bahwa bu Shinta merupakan orang yang lebih tua di banding mereka, usianya pasti berada lebih jauh di atas pak Bagyo maupun bu Hani.
Aji pun sama, sebelum pergi dia bersalaman bersama kedua orang tua Hanna dan juga pada Hanna sendiri.
" Berbahagialah, bangkitlah, demi hidupmu dan anakmu !" Aji mengusap kepala Hanna.
Hanna menganggukan kepalanya sambil menatap wajah Aji.
" Terima kasih bli, hati - hati di jalan " ucap Hanna.
Setelah bu Shinta dan Aji pergi, Hanna langsung masuk ke dalam kamarnya dan meringkuk di atas ranjangnya sambil menutup matanya.
Dia menangis di bawah selimut di dalam kamarnya siang itu.
Mereka pun membatalkan rencana kepergian mereka ke Yogyakarta untuk mengantar Hanna tinggal bersama eyangnya.
Ayah dan ibu Hanna masih terduduk di ruang tamu dan larut dalam pikiran masing - masing.