
Beberapa minggu berlalu, Hanna kembali bekerja dan melakukan rutinitas seperti biasanya. Namun, kali ini ada yang berbeda, dia tidak pulang dan pergi bekerja dengan transportasi umum lagi, kali ini, dia pulang dan pergi menaiki motor matic yang baru ia beli. Sesuai perjanjian, ayahnya dari Bandung mentransfer uang pada Hanna untuk membeli motor baru. Semua jadi lebih mudah dan lebih hemat waktu bagi Hanna, dia jadi bisa lebih bersantai setiap kali bangun pagi tanpa harus merasa cemas takut kesiangan sampai di tempat kerja.
Dan, suatu ketika, saat Hanna pulang bekerja shift siang, di sebuah perempatan lampu merah, tiba - tiba ada seseorang yang ia kenal sedang berlari dari kejauhan dan menghampiri Hanna yang sedang menunggu lampu hijau menyala.
Dengan nafas terengah - engah dia berkata, " bisa beri aku tumpangan? aku sedang terburu - buru nih.. "
" Kamu kenapa bang ?" tanya Hanna.
Saat lampu berubah jadi hijau, pria itu langsung duduk di jok belakang motor Hanna dan menyuruh Hanna menancap gasnya.
Tanpa pikir panjang Hanna pun menurutinya, karena dari arah belakang sudah banyak klakson mobil yang menyuruhnya untuk segera melaju kan motornya.
" Kamu kenapa sih bang Andre? terus mau ku anter sampai mana?" tanya Hanna.
" Itu, di depan ada pom bensin kan, aku berhenti di sana saja. Tolong lebih cepat sedikit ya.. !!" pinta pria itu yang ternyata adalah Andre.
Hanna sepertinya tahu alasannya kenapa bang Andre berkelakuan seperti itu. Dia dengan cepat melajukan motornya menuju pom bensin dan berhenti di depan sebuah toilet yang berada di dalamnya.
Tidak lama, Andre langsung turun dan menuju masuk ke dalam salah satu toilet pria yang berada di sana.
Hanna tidak dapat menahan tawanya, dia tertawa cekikikan di malam hari gara - gara melihat kelakuan Andre.
Beberapa menit kemudian, Andre keluar dari dalam toilet dan merasa kaget saat seseorang tiba - tiba menyapanya.
" Lancar bang? Laki atau perempuan yang keluar?" tanya Hanna.
" Kau masih disini nona manis.. " jawab Andre.
" Hahaha.. " Hanna tertawa melihat wajah terkejut Andre.
" Emh.. tapi, terima kasih banyak ya, tadi aku kebanyakan makan cabe jadi perutku mules - mules. "
" Yaudah ah, aku mau pulang dulu ya." Hanna menyalakan motornya.
" Ih... kau tega sekali meninggalkanku sendirian disini, aku nebeng ya, sampai ke kostan. " Pinta Andre.
" Oke, nih, bang Andre yang nyetir ya. " Lalu Hanna mundur ke jok paling belakang motor maticnya.
" Siyap... " ucap Andre.
" Eh... awas loh, jangan ngebut, bahaya tau.. !!" seru Hanna.
" Iya, oke, gak bakalan ngebut kok, nona manis."
Di perjalanan pulang, Andre melajukan motornya perlahan, mereka mengobrol ringan dan bercanda tawa dengan lelucon Andre yang ternyata dia berbakat menjadi seorang komedian.
Sesampainya di depan gerbang kostan, Andre pun langsung pamit dan berterima kasih pada Hanna atas tumpangannya. Dia lalu pulang menuju gedung kostnya yang tidak jauh dari gedung kostan Hanna.
Setelah memarkirkan motornya di parkiran dalam gedung, dia lalu naik ke lantai dua menuju kamar kostnya. Dan, sesampainya Hanna di dalam, tiba - tiba hpnya bergetar, ada panggilan masuk dari Siwan.
" Hallo, kau sudah pulang ?" tanya Siwan di sebrang sana.
" Sudah, ini baru sampai di kamar. Ahjussi, kenapa belum tidur ?" tanya Hanna.
" Emh... aku ingin memastikan dulu kalau kau sudah sampai di tempatmu dengan selamat. "
" Ya ampun, sungguh, aku terharu mendengarnya."
" Kalau begitu kau istirahat lah, jangan tidur terlalu malam ya. Aku akan menjemput mu besok, kau libur kan ?" tanya Siwan.
" Baiklah, aku jemput jam 11 ya. "
" Oke. Bye.. "
Mereka pun menutup teleponnya masing - masing. Hanna terlihat sangat senang mendapat perhatian dari kekasihnya itu, dia tampak masih menatap layar hp yang terpampang foto Siwan di dalamnya.
Namun berbeda dengan Siwan, kali itu, setelah menutup telponnya, raut wajah Siwan terlihat sangat kesal. Di tangannya, dia terlihat sedang memegang sebuah foto seorang pria. Samar - samar terlihat pria yang ada di foto itu adalah Andre.
Keesokan harinya, Hanna sedang sibuk dengan aktifitasnya di dalam kostan, dia sedang mencuci baju sambil bolak balik ke dapur seperti sedang merebus sesuatu di dalam pancinya.
Tiba - tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Buru - buru dia mencuci tangannya dan menuju pintu untuk membukanya.
" Na, aku minta telur satu dong, mau rebus mie buat sarapan. " ucapnya yang ternyata dia adalah Siska.
" Ish... kakak gak kerja ?" tanya Hanna.
" Aku lagi izin dulu, pusing kepalaku kena hujan kemarin sore. " ucap Siska.
" Kalau lagi sakit, jangan makan mie dong, makan disini aja, aku udah masak nih. Yuk, makan !!" Ajak Hanna.
" Beneran nih, asikkkkk... " ucap Siska lalu bergegas ke dapur mengikuti Hanna dari belakang.
" Kau sedang mencuci baju ? tadinya ku pikir kau sudah pergi kencan sama pacarmu, tapi aku nyoba aja ngetuk pintu kamarmu, siapa tahu belum pergi. " Ucap Siska.
" Nanti siang kak, aku banyak cucian soalnya. " Ucap Hanna yang sedang mengangkat panci berisi sayur sop. Dan Siska membantu Hanna menyiapkan meja, piring dan sendok di atasnya.
" Wah... makasih banyak loh ya, aku jadi bisa makan makanan bergizi nih pagi ini. " Ucap Siska sambil menyendok nasi dan sayur ke piringnya.
" Kau tidak terlihat seperti sedang sakit kepala kak, jangan bohong padaku, katakan ada apa ?" tanya Hanna.
" Ah.. jangan mengganggu sarapan sehatku kali ini, bisa tidak nanti saja kau bertanya nya. " Siska memutar bola mata bulat besarnya di hadapan Hanna.
" Ish... sudah kuduga. " Timpal Hanna.
Setelah selesai makan, masih pada posisi masing - masing, mereka berbincang hangat sambil memakan pencuci mulut berupa buah jeruk.
" Na, kemarin aku lihat si cinta pertamamu di halte lagi ngobrol sama cewe loh, tinggi, sexy, rambutnya ikal, dia turun dari mobil menghampiri Rey yang lagi nunggu bus. Terus mereka naik mobil bareng loh pas mau pergi kerja. Siapa ya kira - kira... ?" Siska memasang wajah penuh curiga.
" Ih.. mau tau banget urusan orang lain sih. Biarin aja kali, mungkin dia pacar baru nya." Jawab Hanna tanpa ada rasa penasaran sama sekali.
" Serius nih, kamu udah bener - bener menghapus si Rey dari ingatanmu nih kayanya, wah.. selamat ya, kau sudah bener - bener move on darinya. " Siska mengacungkan kedua jempolnya.
" Untuk apa aku masih mikirin dia atuh kak, udah jelas ada orang yang mau bahagiain aku ngapain masih mikirin dia yang bisanya bikin aku nangis terus. "
" Yups.. setuju deh. Terus, gimana sama kak Wan mu itu, kalian masih aman kan?" tanya Siska.
" Aku... sebetulnya, lagi bingung kak, entah sampai kapan kita bisa bertahan dengan perbedaan ini. Aku takut semakin lama semakin gak bisa lepaskan dia dari genggamanku, begitu juga sebaliknya sama dia. Tapi aku belum sanggup pisah sama dia. Aku bener - bener sedih kak, aku udah bener - bener terlanjur suka sama dia. "
" Duh, bingung juga sih kalau udah gini. Gini aja, coba kamu kurangi intensitas pertemuan kamu sama dia, coba tambah kesibukan baru di list kegiatan kamu. Mudah - mudahan berhasil, aku juga lumayan nih udah bisa lupain si tua bangka itu dari pikiranku. " Ucap Siska penuh emosi.
" Ish... kok sama mantan tercinta gitu sih ngomongnya, hahaha..." Hanna menggoda Siska.
" Dih... apaan sih, udah ah aku mau pulang dulu ah, kamu bukannya lagi banyak cucian." Ucap Siska sambil beranjak dari duduknya dan membereskan piring bekas makannya.
" Hehe.. iya ah, aku mau lanjut nyuci lagi nih, nanti keburu ada yang jemput. " Ucapa Hanna sambil membereskan area bekas makan mereka.