
Setelah kejadian obrolan siang hari bersama ibu dan adiknya, Hanna menangis di dalam kamarnya entah berapa lamanya, dan karena merasa lelah dia tidak tahu sejak kapan dia tertidur. Hingga saat sore menjelang maghrib tiba, ibunya mengetuk pintu kamarnya membangunkan Hanna yang tertidur lelap.
Dan Hanna pun terbangun lalu pergi ke kamar mandi mencuci mukanya dan kembali masuk ke dalam kamar.
Terdengar dari luar oleh Hanna percakapan antara ayahnya dan ibunya mengenai rencana kuliah adiknya. Mereka memanggil Abdul menanyakan kembali perihal universitas yang akan dia pilih untuk melanjutkan sekolahnya. Hingga adzan maghrib berkumandang, barulah mereka menghentikan pembicaraan dan pergi mengambil air wudhu untuk pergi ke masjid untuk sholat berjamaah.
Ibu Hanna tahu bahwa anaknya sedang menstruasi, makanya saat ibunya masuk ke dalam kamar hanya menyuruh Hanna untuk segera makan sebelum ayahnya pulang dari masjid. Ibunya khawatir ayahnya akan curiga melihat wajah Hanna yang masih terlihat sembab karena terlalu lama menangis.
Hanna pun menuruti saran ibunya, dia lalu pergi menuju meja makan dan mengisi piring dengan sedikit nasi dan lauk pauk, lalu membawa satu gelas air teh hangat dan kemudian masuk kembali ke dalam kamar. Hanna berniat untuk makan di dalam kamar.
Saat ayah dan adiknya pulang dari masjid, ayahnya bertanya tentang Hanna, kenapa tidak terlihat keluar dari kamar. Lalu ibunya menjawab bahwa Hanna sedang tidak enak badan, tapi sudah makan dan mau ibu beri obat supaya lekas pulih.
Selesai makan, Hanna kembali menyetel radionya. Mendengarkan beberapa lagu yang di putar di channel kesayangannya.
Lalu, tiba - tiba ada telepon masuk ke nomornya. Siapa lagi kalau bukan Siwan yang menelpon. Namun Hanna tidak mengangkat teleponnya, dia hanya mengirimkan pesan pada Siwan bahwa dia sedang bersama keluarganya, jadi mereka hanya bisa berkomunikasi lewat kirim pesan saja.
Siwan memberitahu kabar tentang Siska, bahwa pada saat itu di hari pernikahannya Siska memang kabur kembali ke Bali, dia mengambil barang - barang di kostan lalu pergi entah kemana. Tapi Aji sudah menyuruh beberapa orang untuk mencarinya dan memantau nya. Siwan dan Aji melakukan ini semua karena permintaan Austin. Dia tetap merasa khawatir dengan keadaan Siska yang sedang hamil muda harus hidup seperti dalam pelarian seperti itu.
Hanna pun merasa sedikit lega mendengarnya, setidaknya dia masih baik - baik saja walaupun sekarang entah dia berada dimana.
Karena Siwan merasa ada sesuatu yang aneh dengan isi pesan balasan kekasihnya, lalu dia bertanya pada Hanna apakah dia sedang sakit atau sedang ada masalah, namun Hanna hanya menjawab tidak ada apapun yang terjadi. Hanna menyembunyikan perasaannya dari Siwan. Biar ini semua menjadi masalahnya saja.
Semakin malam, suasana rumah begitu sepi, di luar tidak terdengar sama sekali suara tv ataupun bunyi sendok piring sekalipun di rumah. Bahkan dari sore hari pun, rumah terasa sunyi bagi Hanna. Baik ibu maupun ayahnya tidak terdengar menonton tv atau sekadar mengobrol bersama di ruang tengah. Adiknya memang sudah jarang bergabung bersama keluarga, dia selalu sibuk bermain game di dalam kamarnya.
Hanna pun menceritakan semuanya pada Yasmin dan sahabatnya di chat grup KERANG. Semua sahabatnya tidak bisa memberi masukan apapun lagi pada Hanna, mereka hanya bisa memberi support agar Hanna tidak terlalu sedih menghadapinya, karena sejujurnya mereka pun kurang menyetujui hubungan antara Hanna dan Siwan, apalagi alasannya kalau bukan karena Siwan berbeda keyakinan dengan Hanna.
" Kenapa, semua ini harus terjadi padaku ? apakah salah dengan perasaan yang aku rasakan saat ini ? apakah aku salah memberikan hatiku pada lelaki itu ?" Ucap Hanna di dalam hatinya lalu memejamkan matanya dan mencoba untuk tertidur.
Keesokan paginya, Hanna terbangun karena mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Ibunya membangunkan nya dan menyuruhnya sarapan pagi.
Hanna pun keluar dari kamarnya, pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka lalu kembali ke kamarnya.
Beberapa menit kemudian dia keluar kamarnya dengan keadaan sudah siap untuk lari pagi.
Saat sedang memakai sepatu, adiknya keluar dari kamarnya.
" Mau kemana teh ?" tanya Abdul.
" Mau lari ke Upakarti." Jawab Hanna tanpa basa - basi.
" Ikut dong, tunggu bentar ya !!" seru Abdul.
Dengan secepat kilat adiknya bersiap - siap dan menyalakan mesin motornya.
" Mau pada kemana ?" tanya ibu yang baru pulang dari warung.
" Mau lari pagi mah di Upakarti." Jawab Hanna.
" Udah sarapan belum ?" tanya ibunya.
" Nanti aja disana habis lari." Jawab Hanna lalu mencium tangan ibunya dan berpamitan.
Beberapa menit kemudian, Hanna dan Abdul sudah berada di lintasan lari di lapangan Upakarti kabupaten Bandung.
Sebelum lari mereka melakukan pemanasan terlebih dahulu. Lalu mulai berlari bersama beberapa putaran. Karena sudah merasa lelah, adiknya menyerah dan duduk di antara kursi di bawah pohon rindang sambil berteduh karena terik matahari sudah mulai terasa menyengat.
Namun, Hanna masih tetap berlari, dia terus fokus pada lintasan sambil mencoba menghilangkan berbagai macam pikiran dan kesedihan yang memenuhi isi kepalanya dari kemarin.
Adiknya merasa khawatir melihat kakaknya yang sedari tadi belum berhenti berlari, bahkan sudah lima putaran dia melewati adiknya, di tambah sekitar delapan putaran dari awal datang jadi total tiga belas putaran. Biasanya dulu baru juga lima putaran kakanya sudah banyak mengeluh, capek lah, panas lah, lapar lah, haus lah pokonya ribet banget kakaknya dulu kalau di ajak olahraga, pikir Abdul.
Karena takut kakaknya kesakitan, Abdul mencoba menghentikan kakaknya yang beberapa meter lagi mendekat padanya, dia menghalangi jalan kakaknya dari depan.
" Kak, udah lah, istirahat dulu, nih minum dulu. " Ucap Adbul sambil menyodorkan sebotol air mineral.
Hanna pun berhenti sebentar untuk minum, lalu mengatur nafasnya yang terlihat ngos - ngosan, membuka jaket parasutnya karena merasa kepanasan. Dan, kini kaos yang Hanna pakai sudah terlihat basah karena keringat.
" Teh, udah yuk, pulang aja, bajumu basah banget." Ucap Abdul mengajak kakaknya pulang karena khawatir dengan kondisi kakaknya yang bajunya terlihat sudah sangat basah, terlebih lagi, Abdul takut kakaknya akan kembali meneruskan kegiatan lari berkeliling lintasan lagi. Bisa - bisa kakaknya nanti jadi pingsan bukannya jadi sehat malah nambah - nambah penyakit, mana perutnya kosong belum sarapan. Makanya Abdul dengan sigap mengajaknya pulang saja.
Sesampainya di rumah, Hanna langsung mengganti bajunya, lalu mengambil makan di meja makan bersama Abdul. Saat itu di rumah, ibunya sedang mencuci baju di belakang rumah. Selama di meja makan tidak ada percakapan apapun di antara Hanna dan adiknya. Mereka hanya fokus pada hp, serta pada piring dan sendok masing - masing.
Selesai makan Hanna masuk ke dalam kamar mencoba untuk membuka isi laptopnya, lalu dia mencoba memfokuskan kembali dirinya dengan hobinya yang sempat tertunda akhir - akhir ini, yaitu menonton drama Korea.
Saat sedang fokus menonton drama bagian episode sedih, dia menangis, hingga tanpa terasa tissue di kamarnya pun habis di pakai menyeka air mata dan hidungnya yang basah.
Dari luar, saat adiknya akan mengetuk pintunya, karena mendengar suara isak tangis, ia mengurungkan niatnya. Dia tidak jadi mengetuk pintu kamar kakanya dan pergi menghampiri ibunya yang sedang menjemur pakaian di luar.
" Kenapa Dul ?" tanya ibu melihat anaknya yang duduk di bangku kayu di halaman dengan raut wajah yang terlihat bingung.
" Mah, itu, si teteh kayanya lagi nangis di kamar, barusan pas mau ngetuk pintu kedengaran dari luar." Ucap adiknya mengadu pada ibunya.
Dan, ibunya Hanna tidak mengeluarkan satu patah katapun dari bibirnya untuk mengomentari ucapan anak laki - lakinya itu, ibu terlihat seperti melamun sesaat lalu kembali tersadar.
" Ya udah, jangan di ganggu dulu, kasih dia waktu buat menyendiri. Nanti juga baikan." Ucap ibunya.
" Ih... jangan ngomong yang aneh - aneh deh, awas lu yah sekali lagi ngomong kaya gitu mamah ceburin lu ke dalam sumur di belakang. " Ucap ibunya mengancam.
" Ih... aku kan cuma takut si teteh kaya gitu, kasian atuh mah, biarin aja dulu mereka menjalin hubungan sampe si teteh pulang lagi nanti. Jangan kasih tahu bapak kasihan." Ucap Abdul pada ibunya.
" Percaya aja atuh sama si teteh, dia gak mungkin nekad kawin lari kaya gitu, udah diem ah kamu gak usah ikut campur, cepet urusin aja sana pendaftaran kuliah kamu jadinya mau daftar kemana, pusing mamah punya anak dua - duanya susah di atur. " Jawab ibunya dengan nada kesal.
Selesai menjemur pakaian, karena merasa penasaran, ibunya pun menguping dari luar pintu kamar Hanna. Dan, memang benar saja, ibunya pun mendengar bahwa anaknya sedang menangis tersedu - sedu di dalam kamarnya.
Beberapa jam kemudian, Hanna mulai merasakan gatal di badannya, dia baru ingat bahwa sepulangnya dari lari pagi tadi dia belum mandi, selesai makan dia malah fokus menonton drama Korea di laptopnya.
Hanna pun keluar dan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Selesai mandi Hanna kembali masuk ke dalam kamarnya dan melanjutkan aktifitas menonton drama Korea kembali hingga sore hari.
Karena merasa lelah, Hanna pun memutuskan untuk mengakhiri kegiatan menontonnya dan tidur sebentar saja.
Namun, pada kenyataannya, berjam - jam dia tidur hingga malam hari. Karena merasa cemas, ibunya masuk ke dalam kamar untuk mengecek kondisi anaknya.
Ibunya menggoyangkan tubuh Hanna, mencoba membangunkannya.
" Teh, bangun, teteh belum makan lagi." Ucap ibunya merasa khawatir.
" Iya mah, bentar lagi, masih ngantuk." Jawab Hanna.
" Teh, udah atuh, jangan sedih terus, mamah jadi khawatir, si Dul juga sama. Mamah gak bakal bilang sama bapak masalah ini, jadi, mamah cuma minta tolong, teteh bisa di percaya gak sama mamah ? bisa jaga diri ? bisa tetep janji sama mamah gak bakal pindah keyakinan ? gak akan kawin lari sama pacarmu itu ?" Ucap ibunya.
Seketika Hanna langsung terperanjat dan terbangun dari tidurnya, dia kaget mendengar ucapan ibunya seperti itu.
" Maksud mamah apa sih ?" tanya Hanna.
" Iya mamah sama si Dul khawatir liat kamu sedih terus, jadi, mamah kasih kesempatan sama kamu, kalau memang masih mau menjalin hubungan sama pacarmu itu, tapi, harus janji sama mamah, selesai kontrak kerja langsung pulang ke Bandung ya, akhiri dan tinggalkan semua kenangan sama pacarmu itu di Bali." Ucap ibunya.
" Serius mah ?" tanya Hanna merasa tidak percaya.
" Tapi harus bisa jaga diri, apalagi jangan sampe kebawa - bawa pergaulan disana, terutama jangan sampai kamu merubah keyakinan kamu demi cinta." Ucap ibunya.
" Iya mah, percaya sama aku ya, makasih banyak ya mah !!" Hanna memeluk ibunya.
" Doakan saja aku bisa mengakhiri hubungan ini secara baik - baik nanti. Hanna cuma butuh waktu yang tepat mah, jangan khawatir ya !!" Ucap Hanna merasa senang.
Setelah ibunya keluar dari kamarnya, Hanna terlihat sangat senang, dia menutup seluruh badannya dengan selimut. Di dalam selimut dia terlihat tersenyum dan bahagia.
Beberapa hari kemudian, kini tiba waktunya bagi Hanna untuk kembali ke Bali karena masa cutinya akan segera berakhir.
Ayahnya mengantarkan Hanna ke Bandara. Setelah berpamitan dan berpelukan, dengan hati riang gembira Hanna masuk ke dalam pesawat. Dia sudah merasa tidak sabar ingin bertemu dengan kekasihnya. Dia sangat merindukannya. Dia juga merindukan suasana Bali dan teman - temannya.
Di dalam pesawat, sepanjang perjalanan, dia tidak tertidur sama sekali.
Dia hanya menikmati penerbangannya kali ini, dia terus melihat keluar lewat jendela pesawat, melihat langit yang cerah di sertai awan - awan yang nampak terlihat indah.
Sesampainya di Bali, di bandara, dari kejauhan dia bisa melihat seseorang sedang menunggunya di sana.
Dengan terburu - buru Hanna menghampirinya, saat di dekatnya dia langsung melepaskan tas dan kopernya lalu memeluk orang tersebut. Dia memeluknya sangat erat. Siapa lagi kalau bukan Siwan kekasihnya.
Di dalam perjalanan pulang, Hanna bercerita tentang kegiatannya selama di Bandung beberapa hari terakhir yang lalu. Mereka terlihat bahagia mengobrol bersama dan bercanda tawa sepanjang perjalanan.
Sesampainya di depan gerbang gedung kostnya, Siwan langsung memarkirkan mobilnya dan membantu Hanna mengeluarkan tas dan kopernya lalu pergi menuju kamar kostnya di lantai dua.
Sesampainya di dalam kamar, Hanna sudah merasa gatal ingin membereskan tempat kostnya yang nampak agak berdebu dan terasa lembab.
" Ahjussi, sepertinya aku akan sibuk beres - beres dulu, lebih baik kau menungguku di luar saja." Ucap Hanna.
" Chagiya, kemarilah, duduklah disini, aku ingin bicara sesuatu padamu." Siwan menarik Hanna dan mengajaknya mengobrol sambil duduk.
Siwan menjelaskan bahwa sejak Austin menemukan obat terlarang di kostan Siska, tempat kost ini memang sudah menjadi incaran polisi dari beberapa bulan sebelumnya, hanya saja karena Siwan kenal dengan beberapa intel polisi, dia bisa menahan agar tidak melakukan penggeledahan secara membabi buta.
Siwan meminta Hanna untuk pindah tempat kost karena tidak ingin dia ikut terbawa masalah yang sedang terjadi di gedung kost tersebut. Siwan, Aji dan beberapa timnya pun sedang mencoba mengungkap siapa saja orang yang sekiranya ikut mengedarkan barang haram tersebut bersama Siska.
" Jadi, aku harus pindah kemana ?" tanya Hanna.
" Aku sudah menyiapkan tempat yang cukup aman untukmu, tapi, itu semua keputusan mu, kalaupun kau akan mencari lokasi baru sendiri pun aku akan membantumu untuk memindahkan barang - barangmu dari sini, bagaimana ?" tanya Siwan.
Selama beberapa menit, Hanna terdiam, berpikir dan mencoba mencerna pernyataan Siwan tadi.
" Ahjussi, bolehkah aku bertanya ?" tanya Hanna.
" Silahkan.. !!" Jawab Siwan.
" Apa kau seorang pemakai, atau pengedar juga ?" tanya Hanna terlihat mencurigai Siwan.