My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
PMS



Kesokan harinya, Hanna kembali bekerja seperti biasanya, saat itu, dia sedang shift pagi.


Siwan mengantarkannya pergi bekerja. Selama Siwan berada di Bali, mulai saat ini, dia lah yang akan mengantar jemput kemana pun Hanna pergi. Atau, paling tidak, Aji yang akan menggantikan nya saat dia sedang ada urusan pekerjaan.


Hanna tidak bisa menolaknya untuk saat ini, meskipun dia sebenarnya agak risih, tapi, karena dia sedang tidak mau ada perdebatan apapun lagi, maka dia mengalah untuk kebaikan dan keharmonisan hubungannya bersama Siwan.


Setibanya di tempat kerja, seperti biasa dia selalu langsung menuju loker untuk menyimpan barang dan merapihkan dirinya.


Tiba - tiba, dari belakang, ada seseorang yang menepuk pundaknya. Hanna yang merasa terkejut secepat kilat meraih tangan orang itu dari depan dan memplintirnya hingga orang tersebut kesakitan.


" Aww... ampun Han, ini saya !!" ucap pria itu. Ternyata dia Rama.


Hanna melepaskan tangannya dan meminta maaf hingga membungkukkan badannya karena merasa bersalah.


" Saya bener - bener minta maaf ya pak, saya kaget !!" ucap Hanna.


Ternyata hasil dari latihan karate membuatnya jadi parno atau hati - hati ? saat ada yang orang menyentuhnya dia jadi mudah terkejut.


Tapi, sebenarnya sih itu semua terjadi gara - gara kejadian kemarin lusa, dia jadi berpikir harus lebih berhati - hati terhadap orang lain apalagi terhadap seorang pria.


" Oke oke.. " jawab Rama sambil memutar lengannya yang tadi Hanna plintir.


" Ada apa pak ?" tanya Hanna baru bertanya.


" Bisa ikut saya sebentar, ada hal yang harus saya katakan. " Jawab Rama.


Hanna mengikuti Rama dari belakang, yang ternyata menuju ke ruang personalia saat itu.


Di pintu luar, sebelum masuk, Hanna sempat enggan untuk masuk ke dalam, namun, Rama meyakinkan bahwa tidak akan terjadi apa - apa padanya, dan memberitahunya bahwa tidak ada Satria di dalam.


Hanna pun masuk, dan ternyata di dalam sudah ada bu Merry sang manajer toko tempatnya bekerja saat itu. Dia mempersilahkan Hanna duduk di sampingnya di kursi tamu saat itu.


" Sini Han, duduklah di sini !!" Ucap Merry.


" Ada, apa ya bu ?" tanya Hanna dengan nada se sopan mungkin.


" Saya sudah tahu kejadian rabu malam dari pak Rama, saya bener - bener merasa kecewa sekali terhadap Satria, saya juga prihatin sama kamu, jujur, sebagai tante nya saya kecewa sekali pada Satria. Saya benar - benar minta maaf ya, mewakili dia sebagai keluarganya !!"


" Hah, tante nya !!" ucap Hanna di dalam hati. Dia terkejut mendengar nya.


" Tidak apa bu, saya sudah mencoba melupakan kejadiannya !!" ucap Hanna menatap bu Merry.


" Saya akan beritahu kelakuannya pada orang tuanya, kamu tenang saja ya, tetap fokus bekerja, kalau dia datang lagi ganggu kamu, tolong jangan segan beritahu saya, jujur, saya tidak bisa memecatnya karena alasan pribadi, namun saya akan tetap memantau nya selama di tempat kerja, saya jamin, dia tidak akan berani mengganggu mu lagi !!" ucap bu Merry.


" Iya bu, tidak apa, saya mengerti, terima kasih banyak sudah mau mengkhawatirkan saya." Ucap Hanna merasa lega.


" Baiklah, kalau begitu ayo kita mulai doa pagi nya, pokonya kamu jangan segan ya, kalau dia macam - macam lagi, laporkan sama saya !!" ucap bu Merry menegaskan kembali.


" Baik bu. " Jawab Hanna.


Kini Hanna, bu Merry dan pak Rama keluar dari ruangan personalia dan berjalan menuju area doa pagi.


Beruntung sekali dia, di sekitarnya banyak orang yang mau mencoba melindungi nya saat itu. Pikir Hanna.


Sebelum masuk ke area doa, pak Rama sempat memberitahu Hanna bahwa mungkin Satria akan mulai bekerja kembali hari senin. Dia sedang beristirahat dan menyembuhkan lukanya dari ujung kepala hingga ujung kaki yang di buat oleh Aji dan Austin rabu malam kemarin.


Untuk beberapa hari Hanna masih bisa bernafas dengan lega dan bekerja dengan tenang.


Selesai doa pagi Hanna langsung menuju lantai 3 bersama Reni rekan satu konternya.


" Han, maaf ya, aku udah tahu kejadiannya dari Melly, dia ngasih tahu aku bukannya mau membocorkan rahasia, tapi dia mau aku membantu melindungi mu dari pria itu." Ucap Reni.


" Tidak apa kak, aku mengerti, terima kasih banyak ya kak mau jadi pelindungku selama di tempat kerja, aku jadi terharu. " Hanna memeluk Reni dari samping.


" Jangan lebay deh, hihi... " ucap Reni membuat Hanna pun tertawa.


" Pokonya, aku, Melly, Teguh dan pak Rama sudah janji gak bakal bocorin rahasia, seandainya malam itu aku juga ikut kesana, aku pasti ikutan menghajar si Satria itu. " Ucap Reni dengan nada kesal.


" Syutttss... udah kak, nanti ada yang denger. " ucap Hanna.


Beberapa jam kemudian, tiba waktu Hanna untuk mengakhiri pekerjaannya. Saat di pintu keluar, ia buru - buru menghampiri mobil Siwan yang sudah terparkir beberapa meter dekat parking area.


Saat sudah dekat, Siwan terlihat keluar dari dalam mobil dan membuka kan pintu untuk Hanna agar masuk ke dalam.


Dengan wajah penuh senyuman, Hanna merasa sangat bahagia di perlakukan begitu spesial oleh orang terkasihnya.


" Mau langsung pulang ? atau mau pergi jalan - jalan dulu ?" tanya Siwan yang sudah siap dengan setir nya.


" Langsung pulang aja ya, aku sudah tidak enak duduk, aku sedang pms hari ini, perutku rasanya sakit !!" jawab Hanna.


Siwan pun melajukan mobilnya menuju rumah Hanna.


Setibanya di rumah, Hanna yang merasa lengket langsung mengambil handuk setelah menyimpan tas nya di dalam kamar. Dia lalu pergi ke dalam kamar mandi.


Siwan terlihat sedang membuat teh hangat di dapur. Dan menyiapkan beberapa camilan yang ada di dalam kulkas.


Selesai mandi, Hanna menghampiri Siwan yang sedang fokus menatap layar tv, menonton berita sore hari layaknya seorang pria tua yang hobi menonton berita di tv.


" Ahjussi, perutku sakit sekali. " Ucap Hanna, duduk di samping Siwan sambil memegang perutnya.


" Mau ke dokter ? atau mau ku belikan obat ?" tanya Siwan.


" Ish... lebay... cuma sakit gara - gara haid tidak usah ke dokter segala, setiap bulan aku sudah terbiasa. " Jawab Hanna.


" Emh... baiklah, kalau begitu kemarilah, aku akan membantumu menghilangkan rasa sakitnya !!" ucap Siwan yang menarik kekasihnya untuk tertidur di pangkuannya.


Tanpa menunggu bermenit - menit apalagi berjam - jam, Hanna pun tertidur di pangkuan Siwan. Entah mungkin dia pun merasa lelah setelah bekerja seharian.


Siwan pun memindahkan Hanna untuk tidur di kamarnya. Lalu, karena ia pun merasakan kantuk. Ia tertidur di sampingnya dengan posisi menyamping menghadap pada kekasihnya. Selama beberapa detik ia mengelus - elus pipi kekasihnya itu dengan lembut, lalu, ia pun tetidur lelap bersamanya.


Beberapa jam kemudian, hari sudah malam, sekitar pukul 20.10 wita, Hanna mulai bergerak dari tidurnya, saat ia membuka mata, ia melihat Siwan ada si sampingnya sedang tertidur pulas.


Ia lantas turun dari ranjangnya lalu keluar dari kamar menuju kamar mandi.


Setelah itu ia mencari stok makanan di kulkas karena ia merasa lapar. Dan, karena tadi pagi dia tidak sempat memasak, akhirnya Hanna berencana untuk membuat nasi goreng malam itu.


Beberapa menit kemudian, saat ia sedang fokus mengaduk - aduk nasi di wajan, tiba - tiba ia merasa terkejut karena ada orang yang memeluknya dari belakang.


Refleks ia langsung menaruh sutilnya dan menyikut perut orang tersebut lalu menarik lengannya.


" Aww... chagiya, ini aku !!"


Siwan meringis kesakitan.


" Maaf, ahjussi, aku kaget, sebentar ya... " Ucap Hanna sambil mematikan kompornya lalu kembali menghadap pada Siwan.


" Maafkan aku, sungguh, ku pikir orang jahat !!" Hanna lalu memeluk kekasihnya itu.


" Apa ini hasil dari latihan karate mu ?" tanya Siwan sambil memeluknya erat lalu mencium keningnya.


Hanna hanya tersenyum merasa malu mendengarnya.


5 menit kemudian, kini Hanna dan Siwan sedang berada di meja makan menyantap nasi goreng karya chef Hanna di dapur.


Mereka membahas tentang latihan karate Hanna selama ini.


Hanna memberitahu Siwan bahwa mulai besok dia akan kembali latihan bersama Mina.


" Bukannya perutmu sedang sakit ?" tanya Siwan.


" Besok biasanya tidak, sakitnya selalu hari pertama sebelum banjir melanda... " ucap Hanna dengan entengnya.


" Maksudnya ?" tanya Siwan tidak paham.


Hanna baru menyadari bahwa ia lupa bahwa Siwan seorang pria, ia malah membahas masalah para wanita tiap bulannya bersama kekasihnya itu.


" Sudahlah, tidak usah di pikirkan ini masalah para wanita, besok pulang kerja aku hanya akan ganti baju di sini, lalu lanjut ke tempat latihan." Ucap Hanna.


Selesai makan, mereka kembali duduk di sofa menonton acara di tv. Siwan masih membantu Hanna mengusap - usap punggungnya untuk membuatnya nyaman saat sedang nyeri haid.


Dan, tiba - tiba, Hanna membahas tentang Satria. Ia menceritakan apa yang di sampaikan bu Merry padanya tadi pagi, pada Siwan.


" Jadi, ahjussi, jangan khawatir kan aku ya, selama di tempat kerja, banyak orang yang akan melindungi ku. Dia juga tidak mungkin macam - macam lagi sepertinya." Ucap Hanna.


Siwan tidak menjawabnya, dia terlihat seperti sedang berpikir dengan keras. Lalu....


" Apa kau tidak bisa berhenti bekerja saja di sana ? aku bisa mencarikanmu pekerjaan lainnya !!" Ucap Siwan.


Hanna terbangun dari pelukan Siwan dan menatapnya, " ahjussi, aku tersinggung, apa kau malu denganku yang hanya seorang pegawai toko ?" tanya Hanna.


Siwan terlihat sangat kikuk, dia tidak menyangka ucapannya saat itu akan membuat kekasihnya tersinggung dan salah paham.


" Bu-bukan itu maksudku, aku hanya tidak mau kau terus berurusan dengan pria itu, aku jadi tidak tenang !!" Sahut Siwan.


" Aku kan sudah bilang, bu Merry sendiri sebagai manajer toko dan sebagai tante nya yang akan langsung menindak tegas dia kalau berani mengganggu ku lagi, apa kau tidak paham ?" tanya Hanna dengan nada tinggi.


" Iya baiklah maafkan aku, sekarang aku paham, maaf sudah menyinggung perasaanmu !!" Siwan menarik lengan Hanna yang kini nampak duduk agak menjauh darinya.


Hanna hanya terdiam sambil cemberut.


Siwan baru kali ini melihat kekasihnya begitu sensitif di hadapannya. Dia berpikir apa mungkin ini akibat dia sedang PMS, terlihat menyeramkan ternyata. Dia harus lebih berhati - hati lagi saat mengeluarkan kata - kata. Pikirnya.


" Maaf, aku sedang sensitif !!" ucap Hanna secara tiba - tiba.


" Ternyata memang benar, gara - gara PMS !!" ucap Siwan di dalam hati, lalu ia menyunggingkan bibirnya dan kembali membuat Hanna bersandar di pelukannya.


Pukul 22.00 wita, Siwan berpamitan untuk pulang karena sudah malam. Sebelum ia pulang, mereka sempat berbaikan. Setelah memastikan bahwa Hanna tidak merasa kesal lagi padanya, Siwan menggoda Hanna dan mencium kekasihnya itu.


Sebetulnya dia sangat merindukan momen romantis bersamanya, namun, semenjak dirinya kembali ke Bali, dia belum sempat melakukan hal - hal romantis lagi bersama Hanna gara - gara insiden di malam hari ulang tahunnya. Bahkan Siwan lupa belum memberikan kado untuk Hanna.


Sebelum pulang, di ambang pintu keluar, Siwan menyuruh kekasihnya untuk menutup matanya.


Lalu Hanna pun menurutinya sambil mulutnya masih tetap bertanya - tanya karena penasaran.


Dan, ternyata Siwan pun mengeluarkan sebuah kotak dari saku blazer panjang bagian dalamnya. Lalu ia membuka kotaknya dan mengeluarkan isinya yang ternyata adalah sebuah kalung.


Siwan langsung memakaikannya pada Hanna yang masih menutup matanya.


" Sudah, bukalah matamu !!" seru Siwan.


Saat membuka matanya Hanna langsung tertuju pada lehernya yang kini nampak tidak kosong lagi.


Sekarang leher cantiknya sudah di hiasi oleh sebuah kalung emas putih dengan liontin berbentuk dua hati yang saling tumpang tindih, yang satu polos silver dan yang satu terdapat permata biru di sekelilingnya.


" Ini kado ulang tahunmu dariku. Happy birth day !!" Ucap Siwan lalu mengecup bibir kekasihnya.


Hanna tersenyum penuh bahagia lalu memeluk kembali kekasihnya sebelum mereka benar - benar berpisah malam itu.