
Sesampainya di halaman rumah, Aji tidak membangunkan Hanna yang masih tertidur lelap saat itu. Ia dengan sabar menunggu Hanna sampai terbangun.
Saat Hanna mulai membuka matanya, perlahan ia terbangun dan membetulkan posisi kursi jok nya, lalu matanya berkeliling menatap ke arah luar lewat jendela, dia melihat langit sudah semakin gelap. Saat melihat hpnya, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 16.05 wita.
Dan masih di dalam mobil, matanya berkeliling kembali mencari keberadaan Aji yang sudah tidak ada di sampingnya. Ternyata Aji sedang berada di luar, duduk di bagian belakang mobil sambil merokok.
Hanna perlahan membuka pintu mobilnya, dan, saat ia hendak turun, tiba - tiba ia meringis, kaki dan pinggangnya terasa sakit.
" Aww... aduh mak, sakit. " Ucap Hanna saat turun dari mobil.
Aji sepertinya mendengar suara Hanna, ia lalu mematikan rokok nya dan menghampiri Hanna.
" Kenapa ?" tanya Aji, pada Hanna yang terlihat repot saat turun dari mobil.
" Kaki dan pinggangku, rasanya agak sakit dan linu begini bli. " Jawab Hanna.
" Itu wajar, efek pertama pasti seperti itu, apalagi kau orang yang malas berolahraga sebelumnya." Ucap Aji.
" Ish... " Hanna menatapnya dengan raut kesal. Ia berjalan perlahan dengan terpatah - patah karena merasakan nyeri di betisnya saat berjalan.
Aji ingin membantu nya, namun ia segan untuk menyentuh Hanna saat itu. Ia hanya mengikuti Hanna dari belakang dan menjaganya.
Sesampainya di dalam rumah, Hanna dan Aji duduk di atas sofa.
" Aku panggilkan seseorang ya, kau harus di pijat supaya otot - ototmu tidak terlalu tegang, supaya rasa sakitmu cepat hilang. " Ucap Aji lalu merogoh hpnya di saku jaket miliknya.
Hanna sempat ingin menjawab nya, namun ia mengurungkan niatnya karena ia memang sepertinya membutuhkan pijatan di seluruh tubuhnya saat itu.
Selesai menelpon, Aji pun bertanya pada Hanna, apa dia lapar ? mau makan apa ?.
" Bli, aku memang lapar, aku masih ada stok masakan sisa tadi siang, tinggal di panasakan saja." Jawab Hanna.
" Baiklah, kau tunggu saja di sini, aku akan menyiapkannya. " Ucap Aji lalu pergi menuju dapur.
" Terima kasih ya, bli !!" ucap Hanna dengan suara keras.
Hanya sebentar Aji menyiapkan semuanya, kini ia kembali ke ruang tengah mengajak Hanna untuk makan di meja makan.
Hanna berjalan sendirian merayap - rayap, lalu karena merasa kasihan, Aji pun membopong Hanna, ia terpaksa menyentuh kekasih Siwan saat itu.
Setelah selesai makan malam, Aji menyuruh Hanna untuk bersantai saja, kali ini ia sendiri yang akan mencuci piring dan membereskan meja makan.
Hanna masuk ke dalam kamar untuk membersihkan wajahnya dengan cairan pembersih wajah. Lalu ia kembali ke luar dari kamar menuju kamar mandi sambil berjalan terpatah - patah perlahan.
Tidak lama kemudian, terdengar suara bel berbunyi, Aji langsung menghampiri pintu dan menyuruh seseorang masuk ke dalam.
Ternyata dia adalah bi Asih, di antarkan oleh Austin.
" Kenapa kau ? " tiba - tiba Austin yang baru datang bertanya pada Hanna yang baru keluar dari kamar mandi dan berjalan perlahan merayap - rayap.
Hanna tidak menggubris pertanyaan Austin, dia hanya fokus pada bi Asih.
" Bi Asih, apa kabar ?" tanya Hanna.
" Baik cah ayu, kamu kenapa sayangku, kaki mu lagi sakit ?" tanya bi Asih.
" Iya nih bi, tadi habis latihan karate, hehe... " Jawab Hanna.
" Ish... giliran aku yang bertanya tidak di hiraukan, padahal aku kemari mau memeriksa kaki mu. " Ucap Austin terdengar kesal.
" Hehe... bercanda pak dokter, kau ini, sensitif sekali... " Ucap Hanna lalu berjalan menuju sofa di bantu oleh bi Asih.
Saat Hanna sudah duduk di sofa, Austin menghampiri nya, lalu dengan cepat ia menyentuh betis Hanna.
Aji yang melihatnya nampak terkejut dan marah, ia bahkan sempat menarik tangan Austin dari betis Hanna.
" Kau ini, apa - apaan sih ?" tanya Austin menatap Aji, sinis.
" Awas ya, jangan macam - macam !!" Seru Aji pada Austin.
" Aku kan cuma mau periksa, aku kan seorang dokter !!" Tegas Austin, lalu kembali menghadap pada Hanna. Ia menyuruh Hanna mengangkat kakinya ke atas sofa untuk di julurkan, dan menyuruh Hanna untuk rileks sesaat.
Saat Austin meraba - raba betis dan kaki Hanna, berkali - kali pula Hanna tertawa geli merasakan sentuhan Austin di beberapa titik pada betis dan kaki nya.
Aji yang melihatnya tidak bisa berbuat apa - apa, padahal ada sedikit rasa kesal di hatinya.
Setelah selesai memeriksa Hanna, Austin yang sedang duduk di sofa bersama Hanna pun menyuruh bi Asih untuk memijat dari paha sampai ujung kaki Hanna.
" Yuk cah ayu, di kamar saja di pijatnya, di sini nanti ada yang ke enakan melihat paha mulus mu !! " Seru bi Asih.
Lalu Hanna pun terbangun dari duduknya, ia berdiri dan berjalan perlahan di bantu oleh bi Asih.
Namun, karena Aji merasa kasihan dan kesal melihatnya berjalan sangat lama, dia lalu menawarkan punggungnya pada Hanna. Dan, Hanna pun mau di gendong oleh Aji sampai ke dalam kamarnya. Seandainya Siwan berada di sana, pasti Siwan lah yang akan menggendong nya ala - ala bridal style.
Saat Hanna dan bi Asih berada di dalam kamar, kini Aji dan Austin sedang mengobrol di sofa ruang tengah.
" Kau kenapa ?" tanya Austin.
" Aku, memangnya kenapa aku ?" tanya Aji kembali.
" Cih, jangan bilang kau jadi menyukainya, ingat, dia kekasih kakakmu, bos mu !!" Ucap Austin.
" Jangan sembarangan bicara kau, mana mungkin aku menyukai nya. Aku hanya sedang mencoba membantunya untuk melindungi dirinya sendiri." Jawab Aji.
" Oke, baguslah kalau kau sadar diri." Ucap Austin menatap Aji penuh curiga.
Aji membalas tatapan Austin dengan tatapan dinginnya.
Beberapa menit kemudian, bi Asih keluar dari kamar Hanna, dia mencuci tangannya di wastafel lalu menghampiri Aji dan Austin yang sedang mengobrol.
" Bagaimana bi, sudah ?" tanya Austin.
" Bi, sebaiknya bibi menginap di sini dulu saja, ya, temani aku !!" Seru Aji.
" Tentu saja, udah pasti bibi bakal nemenin kamu di sini." Sahut bi Asih.
Setelah mendengar ucapan bi Asih, Aji pergi menuju kamar yang berada di pinggir kamar Hanna, yang nampak menjadi kamar tamu, lalu Aji membersihkan tempat tidurnya untuk bi Asih.
Dan, setelah Aji selesai, ia langsung memberitahu bi Asih bahwa kamarnya sudah siap untuk di tiduri.
Lalu Austin yang merasa sudah tidak di butuhkan pun pamit. Dia bilang bahwa dia sendiri yang akan menjaga rumah bersama Luca.
Aji dan bi Asih tersenyum senang melihat wajah Austin yang cemberut seperti itu.
Hari sudah semakin malam, bi Asih nampaknya sudah tidur di dalam kamarnya.
Kini, nampak Aji yang masih menonton tv di ruang tengah sambil berbaring di atas sofa. Namun, matanya hanya fokus menatap langit - langit rumah. Sudah di pastikan bahwa dia sedang banyak pikiran saat itu.
Aji pun mencoba untuk menutup matanya. Dan, entah dia sudah tertidur pulas ataupun masih mencoba untuk masuk ke dunia mimpinya, terlihat dari kerutan di wajahnya yang hilang timbul dan beberapa kali sempat berguling - guling merubah posisi, sepertinya dia belum tertidur.
Keesokan paginya...
Seperti biasa, pukul 05.00 wita Hanna selalu terbangun mendengar alarm nya berbunyi. Ia terbangun perlahan lalu turun dari ranjangnya berniat ke kamar mandi mengambil air wudhu.
Lalu, saat keluar kamar, ia mendengar suara tv menyala, ia berjalan perlahan, sambil masih menahan rasa sakit di kaki, dan dadanya berdebar sangat kencang, dia takut ada seorang pencuri ataupun orang jahat lainnya yang masuk ke dalam rumahnya.
Perlahan ia menghampiri ruang tv sambil mengendap - endap.
Dan, ternyata, saat melihat wajah seseorang yang terbaring di atas sofa, ia langsung menghela nafas dan menghembuskannya perlahan, merasa lega bahwa dia adalah orang yang di kenalnya.
" Ternyata, semalam bli Aji tidur di sini. " Ucap Hanna, lalu mencoba mengecilkan volume suara tv nya, lalu mengambil selimut yang masih terlipat rapih di atas sandaran sofa, dan menyelimuti Aji yang sedang tertidur pulas.
Setelah itu, Hanna pergi menuju kamar mandi sebagai tujuannya dari awal bangun tidur. Setelah itu ia masuk kembali ke dalam kamarnya. Karena dia sedang masuk kerja shift siang, setelah sholat subuh ia kembali membaringkan tubuhnya sejenak di atas ranjang. Dia melihat hpnya, siapa tahu ada pesan masuk ke nomornya.
Namun, dia tidak melihat satu pun pesan yang masuk ke hpnya. Ia merasa kesal, padahal sebetulnya ia sedang menunggu kabar dari seseorang. Siapa lagi kalau bukan dari kekasihnya, Siwan. Biasanya saat malam hari, Siwan selalu menghubungi nya.
Lalu, saat ia mencoba menutup matanya untuk tertidur kembali, seseorang mengetuk pintu kamarnya. Hanna terbangun dan berjalan menuju pintu.
Saat ia membuka pintu kamarnya, ternyata bi Asih sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
" Bi Asih, pagi sekali datang kemari, kenapa bi ?" tanya Hanna.
" Ish.. cah ayu gak tahu ya, semalam bibi menginap di sini." Jawab bi Asih.
" Oh... maaf, aku gak tahu bi, emh... bibi tidur di kamar sebelah ? kalau tahu mau menginap, semalam Hanna bereskan dulu kamarnya."
" Sudah kok, Aji yang bereskan kamarnya. Kamu mau sarapan sekarang ? mau pergi kerja kan ?" tanya bi Asih.
" Aku masuk kerja shift siang bi, jadi tidak apa, nanti saja sarapannya." Jawab Hanna.
" Gimana kakinya sekarang ?" tanya bi Asih.
" Alhamdulillah bi, tidak terlalu sakit seperti kemarin." Jawab Hanna.
" Nanti sebelum bibi pulang, bibi pijit lagi ya kakinya !!"
" Gak usah lah bi, ngerepotin terus aku jadi gak enak."
" Gak apa - apa non, kasihan bibi ngelihat kamu kesakitan begitu. Sekarang bibi mau siapin sarapan dulu ya, bibi pinjam dapurnya."
" Iya silahkan bi, pakai saja, maaf aku ngerepotin terus."
" Ish... engga, udah kamu santai aja dulu ya."
" Makasih ya bi. " Ucap Hanna pada bi Asih yang sedang berjalan menuju dapur.
Hanna kembali naik ke atas ranjangnya dan mengambil hpnya yang kini menyala.
Ternyata ada pesan dari Siwan. Raut wajahnya seketika berubah menjadi lebih ceria. Ia membalas pesannya, lalu, Siwan malah menghubungi nya lewat video call.
Mereka berdua kini sedang berinteraksi lewat video call, Siwan mengatakan semalam dia tahu Hanna sudah tidur makanya dia tidak menghubungi nya. Ternyata Aji yang memberitahu Siwan saat itu. Siwan pun tahu bahwa Aji dan bi Asih menginap di rumahnya.
Selesai berkomunikasi dengan Siwan. Kini Hanna menghampiri bi Asih di dapur yang sedang mencuci piring.
Bi Asih menyuruh Hanna untuk segera sarapan, setelah itu ia akan memijat kaki Hanna kembali. Hanna mengajak bi Asih sarapan bersama.
Saat sedang sarapan, Aji terbangun dan menghampiri Hanna dan bi Asih yang terdengar sedang mengobrol di meja makan.
Hanna kemudian mengajak Aji untuk bergabung bersama mereka. Aji pergi ke kamar mandi sebentar untuk mencuci mukanya, lalu menghampiri mereka di meja makan.
" Bi, mau pulang jam berapa ? nanti aku antar !!" Ucap Aji.
" Ish... masih pagi bli, santai saja !!" Sahut Hanna.
" Nanti setelah mijit kaki non Hanna lagi, bibi baru pulang. Bibi naik taksi online aja gak apa - apa den. " Jawab bi Asih.
" Tidak usah, aku saja yang antar, aku juga mau pulang dulu mandi dan ganti baju. Setelah itu aku kembali kesini, aku akan mengantar jemput nya pergi bekerja..." Ucap Aji sambil melirik Hanna.
" Aku ? ih... aku masih kuat bawa motor sendiri kali bli, gak usah lebay gitu lah !!" Seru Hanna.
" Ini perintah, pacarmu yang menyuruhku !!" Ucap Aji.
" Itu salahmu, kenapa segala sesuatu tentangku harus selalu kau adu kan pada ahjussi, dia jadi khawatir kan di sana." Ucap Hanna lalu menyunggingkan bibirnya.
Aji terlihat ingin menjawabnya, namun bi Asih buru - buru menyela mereka.
" Sudah, sudahlah... ayo habiskan sarapan kalian. Bibi mau nonton acara gosip dulu ya... " Ucap bi Asih yang sudah selesai sarapan, lalu beranjak dari kursinya dan menuju ruang tv.
Hanna dan Aji hanya bisa melongo mendengar pernyataan bi Asih saat itu.