
Oh, ey
You don't know, babe
When you hold me
And kiss me slowly
It's the sweetest thing
And it don't change
If I had it my way
You would know that you are
You're the coffee that I need in the morning
You're my sunshine in the rain when it's pouring
Won't you give yourself to me
Give it all, oh
I just wanna see
I just wanna see how beautiful you are
You know that I see it
I know you're a star
Where you go I follow
No matter how far
If life is a movie
Oh you're the best part, oh oh oh
You're the best part, oh oh oh
Best part
Best Part - Daniel Caesar feat H.E.R.
Siwan terus memutar video yang Austin kirim ke hpnya malam itu. Video wanita yang sangat ia rindukan selama 6 bulan terakhir ini. Wanita itu terlihat sedang bernyanyi di rekaman video itu.
Meskipun kualitas videonya tidak sebagus video yang di rekam oleh alat perekam khusus, namun tidak mengurangi keindahan suara sang wanita yang terdengar sangat merdu dan mendayu - dayu kala membawakan lagunya malam itu.
Siwan terus menatap dan menyentuh wajah wanita itu lewat layar kaca hpnya.
" Apa kau bahagia ? apa kau tahu bagaimana perasaanku selama ini ? apa kau tahu bagaimana.... ?" ucap Siwan yang kala itu sedang duduk di sebuah sofa yang di belakangnya terdapat jendela kaca yang sangat besar yang tak tertutupi tirai sehingga pemandangan malam di luar tercetak sangat jelas. Kelap - kelip cahaya yang berasal dari cahaya lampu beberapa bangunan di luar sana menjadi hiasan malam selain rembulan yang menyebarkan seluruh cahayanya di langit, malam itu.
Setelah pergi dari cafe Eriko, Siwan dan Austin memutuskan untuk menginap di salah satu hotel terdekat dari lokasinya. Karena Austin yang sudah lelah dan mengantuk tidak mungkin menyetir mobil, apalagi Siwan yang pikirannya sedang kalut dan kembali tersulut emosi karena tidak berhasil bertemu dengan kekasihnya saat itu, Austin takut akan terjadi hal - hal yang tidak di inginkan nantinya, makanya dia mengusulkan untuk pulang besok pagi saja, kebetulan dia juga sedang kebagian tugas shift siang.
Austin sudah tertidur lelap di kamarnya, namun tidak dengan Siwan. Dia terus duduk dan tak bergerak di posisinya sambil terus memutar ulang video Hanna yang sedang bernyanyi di Soul Cafe, malam itu. Hingga hpnya lowbat dan mati sendiri, barulah Siwan beranjak dari kursinya, mencharge hpnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya.
*
*
Di sisi lain...
Malam itu, saat Hanna di kejar - kejar oleh Austin, dia sempat bersembunyi di balik meja kasir. Bahkan saat Austin menelpon Siwan pun Hanna sempat mendengarnya dengan telinganya sendiri.
Setelah Austin menutup telponnya dan pergi dari dekatnya, Hanna pikir Austin sudah pulang berasama teman - temannya.
Namun, saat Hanna hendak pulang menuju pintu keluar, langkahnya seketika terhenti, dan dia mundur kembali saat melihat wajah Austin yang sedang mencarinya ke sekeliling cafe, beberapa meter di depannya, yang terhalangi oleh waitress yang sedang berlalu lalang mengantarkan pesanan di are outdoor cafe.
Hanna berlari kembali masuk ke dalam area indoor cafe. Dia pikir Austin tidak akan segigih itu mencarinya.
Hanna pun masuk ke dalam sebuah ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
" Koh Erik, bantuin aku pliss... " ucap Hanna menghampiri Eriko si pemilik cafe yang sedang bekerja di mejanya.
" Ada apa Han ? ada yang maksa ngajak kamu kencan lagi ? " tanya Eriko.
" Bukan koh, itu, kak Oz, dia ada di depan, lagi nyariin aku " ucap Hanna.
" Siapa Oz ?" Eriko tidak kenal, karena dia hanya mengenal Aji, yang selalu menemani Siwan kemanpun Siwan pergi.
" Dia, dokter pribadi ahjussi, dia juga yang tinggal serumah dengannya selain bli Aji " jawab Hanna.
" Waduh... gawat, berabe ini kalo Siwan datang kemari terus salah paham, bentar, aku cek dulu " Eriko menghampiri layar yang terhubung dengan cctv are cafe. " Yang mana ?" sambung Eriko.
Hanna menghampiri Eriko dan fokus pada layar kaca di depannya, mencari sosok Austin yang tengah berkeliling di sekitar lokasi cafe, " nah ini, dia yang rambutnya kriting, sama denganmu " ucap Hanna.
" Hih... dasar !! yaudah, kamu pulang lewat belakang aja, ngapain kemari juga !" Eriko terlihat kesal.
" Tadi aku terpaksa masuk kesini, soalnya tadi posisi dia deket banget sama aku " jawab Hanna terdengar sedih.
" Ish... jangan nangis, yaudah tunggu bentar, aku suruh si Frenky bawa kamu kabur dari sini " Eriko mengangkat gagang telepon yang berada di atas meja.
" Koh... tunggu... boleh minta sesuatu lagi gak?" tanya Hanna.
" Apaan lagi sih, aku lagi sibuk nih ngecek laporan keuangan " jawan Eriko.
" Aku tahu dia bakalan datang kesini, malam ini, pasti, aku mau melihatnya sebentaaaar saja, dari jauh aja, aku bakal ngumpet dulu, ya... temenin aku yaaa " rengek Hanna.
" Haish... masalah rumah tangga tetangga ribet sekali, kalo kangen ngapain sembunyi segala sih, temuin aja langsung " Eriko benar - benar tidak habis pikir dengan kelakuan wanita yang kini berada di hadapannya. " Yaudah, lu tunggu aja disini sambil duduk manis, liatin tuh cctv kalo perlu peluk cium tuh layarnya kalo si Siwan nongol disitu " sambung Eriko terdengar sinis.
" Oke koh, makasih banyak ya, maaf ngerepotin " Hanna kembali tersenyum.
Dan, satu jam kemudian...
" Koh, dia dateng, aduh, aku sembunyi dimana, aku harus kemana... " Hanna gelagapan, belingsatan kesana kemari di dalam ruangan kerja Eriko saat itu, terlebih lagi saat ia melihat Siwan dan Austin yang menuju ke dalam area cafe yang ternyata menuju ruangan Eriko.
" Aish... mati gue kalo dia liat kita berduaan gini, lu cepet masuk kesana " Eriko mendorong Hanna masuk ke dalam ruangan rahasia Eriko yang pintunya berada di belakang rak buku.
Setelah memastikan Hanna masuk ke dalamnya, Eriko kembali duduk di kursinya dan pura - pura sibuk dengan pekerjaannya.
Saat seorang pegawainya mengetuk pintu dan membuka pintunya perlahan, Siwan dengan sifat tidak sabarannya menerobos masuk ke dalam dan menghampiri Eriko di ikuti Austin di belakangnya.
Tanpa basa - basi Siwan langsung bertanya tentang Hanna, dan mengacuhkan Eriko yang tebar pesona di depannya dan Austin.
Hanna yang tidak merapatkan pintu persembunyian Eriko, bisa mendengar dengan jelas percakapan antara keduanya. Rasa hati ingin sekali dia mengintip dan melihat wajah Siwan, barang sedikit saja, namun ia tak kuasa dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, pasti dia ingin sekali menghampirinya sesegera mungkin dan jatuh ke dalam pelukannya.
Setelah Siwan keluar dari ruangan Eriko, perlahan Hanna keluar dari tempat persembunyiannya dan menghampiri Eriko yang masih mematung di depan pintu keluar ruang kerjanya.
Eriko menatapnya dengan tatapan bingung, sambil menggelengkan kepalanya dia menghembuskan nafasnya dengan kasar.
" Mau sampai kapan kau bersembunyi darinya ?" tanya Eriko pada Hanna.
Hanna hanya menatapnya dengan wajah sendu, air matanya tak tertahan lagi, akhirnya tangisnya pun pecah, Hanna menangis tersedu - sedu di sofa Eriko untuk beberapa saat.
Eriko membawakan air minum dan memberinya sekotak tissue, menyimpannya di atas meja di hadapan Hanna.
" Maaf ya, kau jadi berbohong padanya " sahut Hanna.
" Sudahlah, lagipula dia gak curiga apapun tuh " jawab Eriko.
Setelah tenang, Hanna pun pamit pergi dari hadapan Eriko.
Ketika di ambang pintu...
" Han, sebaiknya kau tidak perlu menghindar lagi, selesaikan masalah kalian, jangan seperti ini, kau harus bisa lebih bersikap dewasa " ucap Eriko.
Hanna tersenyum dan menganggukan kepalanya, lalu pergi dari ruangan Eriko.
*
*
Keesokan harinya...
Setelah sarapan di restoran hotel tempat mereka menginap, Siwan dan Austin langsung chekout dan pulang kembali ke rumah mereka.
Austin menjadi supir Siwan kali ini. Karena dia masih sayang nyawanya, dia takut Siwan tidak fokus kalau dia yang menyetir mobilnya. Dia bahkan terkejut mengetahui Siwan datang menemuinya di cafe sendirian, biasanya dia meminta Bram atau Aji yang menjadi supirnya.
Sesampainya di kediaman mereka, Aji menyambut di depan pintu pagar, kemudian menghampiri Siwan dan Austin yang baru keluar dari mobilnya.
Siwan terus berjalan ke dalam rumah tanpa menghiraukan Aji sedikitpun.
" Bagaimana ?" tanya Aji penasaran, menyamai langkah Austin.
Austin hanya menggelengkan kepalanya lalu menepuk pundak Aji dua kali dan masuk ke dalam rumah.
Malam harinya...
Hanna terlihat sedang mengisi acara menyanyi yang di adakan oleh sebuah stasiun radio di Bali, dimana stasiun radio tersebut memiliki program di mana bintang tamu mereka akan menyanyi secara live dalam studio siaran yang terletak di pinggir jalan dalam ruangan berdinding kaca yang terletak di sebuah lokasi pesisir pantai.
Hal ini tentunya membuat masyarakat sekitar, turis lokal maupun turis mancanegara dapat melihat secara langsung si penyanyi dari dekat.
Ketika Hanna menyanyi, terlihat orang - orang yang melihat dan mendengarkannya dari luar merasa takjub dengan vokalnya.
Malam itu Hanna menyanyikan sebuah lagu berjudul Secret Love song - Little Mix dengan sangat lantang dan penuh penghayatan.
* Bayangin aja pas Hanna nyanyi, suaranya kaya Morissette Amon penyanyi dari Phillipina, yang pernah cover lagu itu, jenis suara Hanna seperti itu gaess. Bayangin aja. Haha.. *
Selesai menyanyi, setelah berimprovisasi sebentar bersama sang announcer radio, Hanna pun pamit setelah sebelumnya menyapa para pendengar yang mendengarkan suaranya secara live ataupun lewat saluran radio.
Saat keluar dari ruang siaran, baru saja membuka pintunya, saat hendak melangkah keluar, Hanna di kejutkan dengan kedatangan seseorang malam itu, yang langsung mendekatinya dan memeluknya sangat erat. Ya... siapa lagi, dia orang yang sedang readers tunggu kehadirannya agar bisa kembali bertemu, dan kembali menjalin hubungan seperti dulu kala dengan Hanna. Dia adalah SIWAN. Hohoho...
" Ahjussi... " Hanna yang masih terkejut tak bergeming sedikitpun, dia tetap mematung di pelukan Siwan tanpa merespon sama sekali.
Hatinya sangat ingin membalas pelukannya saat itu, merangkul tubuh Siwan dengan erat, mencium Siwan dan melakukan segala aktivitas gila yang melintas begitu saja di pikirannya, terlebih lagi saat ia mulai kembali mencium bau tubuh Siwan, bau parfum yang selama ini sering Siwan pakai yang menjadi favorit Hanna.
" Chagiya, kembalilah bersamaku... " Siwan mulai melonggarkan pelukannya.
Dan Hanna kembali tersadar. Matanya mengerjap beberapa kali seakan masih tidak percaya bahwa pria yang berdiri di depannya saat itu adalah Siwan.
" Ahjussi... kau tahu darima... " ucapan Hanna terhenti kala telunjuk Siwan mendarat di bibirnya.
" Sssttt.... ikutlah bersamaku, ayo kita bicarakan di tempat lain " Siwan menganggukan kepalanya, menarik lengan Hanna dan menggenggam erat tangannya dan berjalan keluar dari area penyiaran stasiun radio tersebut.
Siwan hendak membawanya masuk ke dalam mobilnya yang terparkir tidak jauh dari lokasi stasiun radio itu.
" Masuklah, ayo kita bicarakan lagi semuanya di tempat yang tenang " ucap Siwan.
Hanna mencoba menarik lengannya dari genggaman Siwan.
" Tidak, ahjussi, semua sudah berakhir, aku tidak bisa lagi kembali bersamamu !!" sahut Hanna.
" Chagiya, apa kau tidak bisa memberiku kesempatan untuk memperbaiki semuanya " tatapan Siwan berubah menjadi penuh harap.
" Ahjussi... " Hanna tak mampu berkata - kata lagi kala menatap wajah Siwan yang berubah menjadi sendu, hatinya merasa tak kuasa untuk mengacuhkannya lagi.
" Masuklah... " Siwan membukakan pintu mobilnya dan memasukkan Hanna ke dalamnya.
Hanna pun terpaksa menurutinya.
" Oke, kali ini saja, anggap saja aku sedang berpamitan padanya " batin Hanna menggumam.
Hanna pun duduk di kursinya dengan tenang di samping Siwan yang hendak mulai menjalankan mobilnya.
Dan, betapa terkejutnya Hanna saat Siwan mendekat padanya, pikirannya sudah benar - benar mengira Siwan akan menciumnya saat itu, namun ternyata Siwan hanya memasangkan seatbelt pada tubuhnya. Setelah itu Siwan kembali pada setir mobilnya.
" Huft... kelamaan gak naik mobil lagi sih, jadi lupa, dasar, hati dan jantung, tenang yaa jangan bikin ulah lagi.." gumam Hanna sambil menyentuh dadanya perlahan.
Darimana Siwan tahu posisi Hanna saat itu ???
Beberapa jam sebelumnya.
Sore hari
Kita lihat Eriko yang sedang duduk di dekat meja kasir cafenya dan nampak merasa lemas.
" Kenapa bos ?" tanya salah seorang kasir di dekatnya.
" Entahlah, aku sedang merasa berdosa, kenapa ya, padahal harusnya tadi malam aku pertemukan mereka di ruanganku, seperti acara di tv - tv swasta itu, aaaissh.... kalau sampai Siwan tahu, uang investasinya pasti dia ambil lagi hari ini juga, aarrgghhh... kenapa aku malah ada di pihak yang salah... " Eriko berbicara sendirian seperti orang gila, padahal sore itu cafenya lumayan ramai. Ia bahkan seperti tidak memperdulikan beberapa pasang mata yang menatapnya dengan tatapan aneh saat sedang membayar tagihan di kasir.
" Ah... lebih baik aku bertindak sebelum terlambat " ucap Eriko yang tiba - tiba kembali bersemangat.
Dia mengeluarkan hp di sakunya dan mengetik pesan dan mengirimkannya pada seseorang.
" Huh... selesai, mudah - mudahan mereka bertemu disana " Eriko yang sudah merasa lega mulai bisa menebar senyumannya kembali.
Siwan yang sedang melamun di ruang kerja di kediamannya merasa tersadar kembali kala ia mendengar bunyi notifikasi pesan masuk ke hpnya.
ERIKO **LIAU
Dia ada di stasiun radio xxx jam 7 malam, datanglah, kau pasti bertemu dengannya** !!
Secepat kilat Siwan langsung bangkit dan keluar dari ruang kerjanya menuju kamar, mengganti bajunya, menyemprotkan parfum di tubuhnya dan memperbaiki tatanan rambutnya.
Saat turun menuju lantai 1, di tangga, Aji yang melihatnya merasa keheranan melihat Siwan yang tiba - tiba mendadak terlihat senang dan bersemangat.
" Kak, mau kemana ?" tanya Aji.
" Dia ada di stasiun radio xxx malam nanti, aku harus kesana " jawab Siwan.
" Aku ikut.. " pekik Aji.
" Kau menyusul saja dengan motormu, aku buru - buru " jawab Siwan yang sudah berada di ambang pintu keluar rumahnya.
Siwan pergi dengan perasaan gembira, rasanya ia ingin segera sampai di lokasi tujuan. Sore itu jam menunjukkan pukul 17.45 wita, perjalanan menuju lokasi di perkirakan sekitar satu jam lebih.
Dan untung saja dia masih punya waktu yang cukup saat tiba di lokasi, namun dia sudah tidak bisa menemukan Hanna di sekitarnya. Siwan pun bertanya - tanya pada beberapa pegawai di stasiun radio apakah mereka mengenal dan melihat Hanna. Kebetulan ada seseorang yang bisa menjawab pertanyaan Siwan saat itu. Namun dia memberitahukan bahwa Hanna sudah masuk ke dalam studio siaran. Siwan pun di beritahu untuk menunggunya di sebuah tempat supaya bisa melihatnya dari kejauhan dengan sangat jelas.
Siwanpun dengan sabar menunggu Hanna hingga dia selesai melakukan siaran malam itu.