My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 Finally



Sore hari, di sebuah lokasi perbelanjaan di salah satu kota di pulau Bali, Hanna bersama ketiga sahabat wanitanya sibuk berbelanja mencari oleh - oleh untuk di bawa pulang ke Bandung.


Rayhan menggendong Hwan ala koala menghadap ke depan menggunakan hipseat, begitupula dengan Gani, ia menggendong anaknya Jani dengan menggunakan hipseat pula.


Para lelaki sudah merasa lelah karena harus mengikuti langkah para wanita yang penuh semangat menguras habis dompet mereka.


Kalau saja di beri pilihan, para lelaki lebih baik menunggu dan mengasuh anak mereka saja di villa daripada harus ikut para wanita berbelanja.


Tidak cukup hanya satu jam saja, sudah hampir dua jam mereka berkeliling, shopping, bahkan sempat membeli jajanan kaki lima.


"Lapar nih, udah mau maghrib ini, ayo pulang, anak - anak dah bau keringet belum pada mandi lagi," ucap Gani.


"Yaudah, kita makan dulu yok, biarin lah nak anak mah bisa di lap doang ntar nyampe di rumah, " jawab istrinya Yasmin.


"Iya nih, yu cari makan di depan sana, enak lho, halal lagi, " ajak Hanna.


Namun, belum juga sampai di lokasi resto, Rayhan lupa meninggalkan sebuah paper bag belanjaan milik Hanna di toko terakhir mereka berbelanja.


Akhirnya Hanna dan Rayhan pun memutuskan kembali kesana, yang lainnya lebih dikit menunggu di resto.


Lokasi Resto menyebrangi jalanan area perbelanjaan saat itu. Yang lain menyebrang, sedangkan Hanna, Hwan dan Rayhan berbalik arah menuju toko yang tadi mereka kunjungi.


Setelah mendapatkan barang mereka, ketiganya pun berjalan kembali ke arah jalan raya untuk menyebrang menuju resto.


Namun, saat di sebuah belokan yang lokasinya cukup sepi, karena saat itu sudah menjelang malam, tiba - tiba ada dua orang pria yang menghadang langkah mereka.


Salah satu pria bertubuh tinggi dan besar mengenakan jaket kulit berwarna coklat terdengar menghubungi seseorang yang artinya, "aku menemukannya, " dengan bahasa mandarin. Hanna bisa memahaminya karena dia sempat belajar bersama Siwan dulu.


Wajah Hanna mendadak pucat, ia langsung menarik lengan Rayhan dan mengajaknya mundur. Rayhan masih belum paham dengan maksud Hanna, karena Rayhan pikir mereka adalah tim yang di tugaskan Aji untuk menjaga mereka.


"A Rey, kita harus pergi dari sini secepatnya," ucap Hanna dengan lirih, menggunakan bahasa sunda.


Rayhan pun kini paham, ternyata mereka sedang dalam bahaya.


Hanna dan Rayhan pun berlari menuju ke arah keramain, namun, saat Hanna dan Rayhan sedikit lagi sampai di keramaian, tiba - tiba dua orang pria lagi mencegah langkah mereka.


Dua orang pria berbadan tinggi dan kekar tersenyum pada mereka.


"Nyonya, tidak usah terburu - buru, aku tidak akan bertele - tele, serahkan bayi itu padaku, " ucap seorang pria.


Hanna menyilangkan tangannya ke depan Rayhan, berniat melindungi Hwan.


"Kau, apa maksudmu, dia anakku, untuk apa aku menyerahkannya padamu," Hanna menyilangkan lengannya ke depan Hwan.


Lalu kepalanya memutar ke belakang melihat dan mengawasi pria yang lebih dulu menahan langkah mereka.


Dengan mode awas, kedua mata Rayhan pun berkeliling mencari dimana Aji berada, "dia bilang akan mengawasi kami dari dekat, dasar pembohong !!" gumam Rayhan.


"Serahkan saja dia padaku, aku jamin, dia akan baik - baik saja, dan kalian pun kalau mau, ikut saja dengan kami, kami hanya akan mengajak kalian jalan - jalan sebentar, " ucap pria itu kembali. Pria berwajah Asia itu terlihat mengejek Hanna.


Kepala Hanna dan Rayhan berputar bergantian berjaga - jaga supaya keempat pria itu masih tetap berada di posisi mereka dan tidak mendekat sedikitpun.


Namun, saat pria yang sejak tadi berbicara memberi isyarat pada temannya, dua orang yang berada di belakang Hanna dan Rayhan pun bergerak maju berniat mengambil Hwan dengan paksa.


Salah seorang pria menjegal Hanna, seorang lagi mendekat pada Rayhan.


"Lepaskan... !" teriak Hanna.


"Aji, kalian dimana ?" gumam Rayhan.


"Ahjussi, bli, kalian dimana ?" gumam Hanna.


Dan, tiba - tiba seseorang datang dan menyerang orang yang berniat merebut Hwan dari tangan Rayhan, setelah itu ia membantu Hanna untuk lepas dari cengkraman penjahat lainnya.


Di sisi lain...


"Hanna sama Rey mana sih, kok lama yaa," ucap Yasmin.


"Coba telepon deh, sapa tau mereka nyasar," sahut Audrey.


"Eh, tas si Hanna kan ini, dia titipin gue tadi sama belanjaannya, " timpal Karina.


"Si Rey aja keles, buruan telepon, " sahut Yasmin.


Saat Audrey mencoba menelepon Rayhan, tiba - tiba seseorang datang menghampiri mereka.


Pria itu adalah Aji.


"Hanna dan Hwan mana ? bukannya mereka bareng kalian daritadi ?"


Aji merasa heran, mengapa sejak beberapa menit yang lalu ia memantau mereka, Hanna dan Hwan tidak muncul di depan matanya.


"Dia tadi balik lagi ke toko, ada barang yang ketinggalan, jadi kita duluan kemari, eh, tapi, udah lama banget kita nunggu dia belum balik juga," jawab Karina.


"Iya bli, apa mungkin dia masih nyari barangnya, dia lupa kali tokonya yang mana, " Audrey menambahkan.


"Jadi, kalian berpisah disini ?" tanya Aji lagi.


"Engga, tadi kita nyebrang kesini, dia balik lagi ke pusat perbelanjaan di sana, " tunjuk Yasmin ke arah sebelah kirinya.


Aji mencoba mengingat kembali kejadian sesaat dia berada di persimpangan jalan sebelum membuntuti Hanna dan temannya ke resto beberapa menit lalu. Saat itu, Aji yang sedang memperhatikan mereka saat hendak menyebrang menuju resto, ia mendapat telepon dari Siwan, dan dia sempat terhalangi oleh bis yang melewat di dekatnya hingga sempat kehilangan jejak mereka.


Setelah mendengar penjelasan Yasmin, Aji pun langsung pergi menuju lokasi yang di sebutkan oleh sahabat Hanna tadi, ia kembali ke area perbelanjaan yang sempat ia lalui tadi. Aji mencari mereka dengan perasaan penuh kekhawatiran, karena hari sudah mulai gelap, ia sangat mengkhawatirkan Hwan kecilnya, dan juga Hanna.


"Si A Rey gak aktif lagi, ini hpnya kayaknya lowbat deh," ucap Audrey.


"Duh, pada kemana sih mereka, gue jadi khawatir banget ini, " Yasmin menjadi gelisah.


...***...


"Elsa, kau benar Elsa kan ?" tanya Hanna, ia merasa yakin bahwa wanita yang menolongnya dan Rayhan saat itu adalah Elsa. Meskipun saat itu rambutnya berubah menjadi blonde, dan sorot matanya nampak berbeda, namun Hanna yakin sekali kalau wanita itu adalah Elsa.


"Nanti saja ku jelaskan, sekarang tidak ada waktu, " jawab Elsa dengan sorot mata mode awas.


Rayhan yang sepertinya sudah mengenali penampilan Elsa yang asli merasa lega sejak kedatangannya, ia tidak terkejut seperti Hanna tadi.


"Waw, Phoenix, lama tidak berjumpa !" ucap seorang pria yang tadi sempat mengajak Hanna berbicara.


"Tiger, ku kira kau sudah bertaubat, ternyata kau masih sama seperti yang ku kenal dulu, pengecut, cuih... !!" Elsa membuang ludahnya dengan kasar.


Nampaknya terjadi pertemuan antara kawan lama, ataukah mungkin saja mereka adalah...


"Dia salah satu pengkhianat di kubu Siwan, " bisik Elsa pada Hanna.


"Jadi, kau juga anak buah Ahjussi, kau ... " ucapan Hanna terhenti karena Rayhan menahannya.


"Dia selalu melindungimu atas perintah Aji dan Siwan, percayalah padanya !" ucap Rayhan.


Elsa maju ke depan dan menahan serangan terlebih dahulu. Rayhan dan Hanna semakin panik, apalagi saat mendengar suara Hwan yang mulai rewel, nampaknya mulai lapar dan mengantuk.


"Aku tidak bisa hanya diam saja, A Rey, cepat telepon seseorang, dan lindungi Hwan apapun yang terjadi, aku akan membantu Elsa,"


Hanna mulai menyerang, membantu Elsa, ia mulai mengeluarkan berbagai jurus karate yang sempat ia pelajari dulu, maupun jurus asal - asalan yang penting bisa menahan musuhnya agar tidak mendekat pada anaknya.


Namun, Hanna sempat terkena beberapa pukulan dan mulai merasa kesakitan saat tubuhnya terpelanting ke belakang sambil berguling - guling.


Rayhan pun mendekat pada Hanna, membantunya untuk terbangun.


"Hanna, kau baik - baik saja ?" tanya Rayhan, penuh rasa cemas.


Hanna terbatuk karena dadanya sempat terkena pukulan. Ia pun merasakan nyeri pada bibirnya karena ujungnya sempat tergores dan berdarah.


Saat Elsa menghadang dua orang, satu orang lagi dengan mudahnya mendekat pada posisi Hanna, Hwan dan Rayhan.


Elsa sempat teralihkan fokusnya karena berkali kali menoleh belakang, ia pun sempat mendapat beberapa pukulan di wajahnya.


Saat pria bernama Tiger mulai mendekat, Rayhan langsung mundur secepat kilat, namun ia terpojok pada dinding di ujung gang, ia tidak bisa lari kemana - mana untuk membawa kabur Hwan.


"kau, apa hanya seperti itu pertahananmu, hah ?" Tiger menyentuh dagu Hanna, lalu melepaskannya secara kasar.


Tiger melangkahi tubuh Hanna yang masih terduduk di lantai merasakan nyeri di tubuhnya.


Namun, baru saja dua langkah, Tiger merasakan ada sesuatu yang menahannya, ternyata, Hanna memeluk kakinya sangat erat agar Tiger tidak bisa menghampiri anaknya.


Tiger sekuat tenaga terus melangkahkan kakinya meskipun Hanna menahannya, hingga Hanna terbawa oleh tenaga Tiger dan badan Hanna menyapu tanah yang begitu kasarnya hingga saat Hanna sudah merasa benar - benar tidak kuat, ia melepaskan tangannya dari kaki Tiger.


"A Rey, lari... " teriak Hanna.


Tiger memberi isyarat pada seorang anak buahnya agar menahan Hanna supaya dia tidak bisa menghalangi aksinya kembali, terlebih lagi satu orang anak buah Tiger mengawasi satu satunya jalan Rayhan untuk keluar, kalau ia berlari, ia takut malah menyakiti Hwan saat itu.


Rayhan kebingungan, ia harus lari kemana, dia hanya melihat dinding tinggi yang mungkin masih bisa ia raih kalau saja ia tidak menggendong Hwan.


Elsa sudah tidak berdaya karena dua orang anak buah Tiger lainnya menahannya, sungguh lawan yang tidak seimbang.


Tiger semakin mendekat pada Rayhan dan Hwan yang sudah mulai menangis.


Hanna pun ikut menangis memikirkan nasib anaknya, ia takut Tiger berhasil merebut Hwan.


Rayhan berusaha menahan Tiger, ia mencoba menyerang Tiger dengan posisi membelakanginya supaya Hwan yang berada di depannya tidak tersentuh olehnya. Namun sayang, Tiger malah berhasil mencekik leher Rayhan.


Saat lengan Tiger melayang dan hendak meraih Hwan yang sedang menangis, tiba - tiba Tiger merasakan nyeri di tangannya, seseorang meremas jari - jari tangannya.


Dan, Tiger langsung melihat sepasang mata yang menatapnya tajam dengan penuh amarah.


"Jangan berani menyentuh anakku !!"


Di kegelapan malam, dengan cahaya lampu seadanya di sebuah lokasi belakang gedung tinggi, Hanna masih bisa mengenali siapa orang yang mengeluarkan suara bariton itu meski dari kejauhan.


"Ahjussi... " ucap Hanna.


Ya, dia adalah Siwan. Tanpa mereka ketahui Siwan datang mendekat pada mereka lewat dinding tinggi yang sempat terpikirkan oleh Rayhan untuk memanjatnya tadi.


Keringat bercucuran di pelipis Siwan. Karena ia berlarian entah berapa jauh dari posisinya menuju area yang memungkinkan Aji kehilangan jejak Hanna dan Hwan serta Rayhan.


Ya, Aji sempat menelepon Siwan ketika pergi dari resto, ia mengatakan bahwa Hanna sedang dalam bahaya saat itu.


Siwan yang sebetulnya tadi pun sempat mengikuti Hanna dan para sahabatnya di lokasi pertokoan pun kebetulan belum pergi jauh. Dan, akhirnya, dia lebih dulu menemukan Hanna dan anaknya di banding Aji.


Kembali pada cerita...


Tiger sempat mundur, namun dia kembali menantang Siwan.


"Kau, pilih mana ? menyelamatkan anakmu ? atau istrimu itu ?" tunjuk Tiger pada Hanna di belakangnya yang kini sudah terhunus pisau lipat di lehernya oleg anak buah Tiger.


Siwan sempat goyah.


"Siapa dia ? kenapa dia menginginkan anakku ?" tanya Siwan.


"Entahlah, aku tidak tahu, dan aku tidak perduli, yang penting adalah... " Tiger memberi isyarat lewat jarinya, yang artinya adalah uang. Dia melakukan tugasnya hanya demi uang. Karena dia adalah seorang pembunuh bayaran.


"Ahjussi, tolong, selamatkan Hwan... !" ucap Hanna.


Tanpa aba - aba, Siwan langsung menyerang Tiger setelah mendengar permintaan dari mulut Hanna. Keduanya pun berkelahi mengeluarkan jurus - jurus terbaik yang mereka miliki. Siwan menyeret Tiger agar menjauh dari posisi Rayhan dan Hwan.


Elsa kembali beringas, ia memberikan perlawanan terhadap kedua orang yang menahannya saat keduanya lengah. Begitupula dengan Hanna yang sempat mengumpulkan tenaganya kembali setelah ia di lumpuhkan, ia mencoba melawan kembali dengan menggigit lengan orang yang melingkar dan menghunuskan pisau di lehernya, kemudian menendang anunya si empunya.


Orang tersebut kesakitan, mendapat hadiah tak terduga dari kaki Hanna, dan ia pun kehilangan pisaunya yang terjatuh di tanah.


Hanna berjalan terseok - seok menahan kakinya yang sakit, berusaha mendekati Hwan dan Rayhan.


Hwan yang sudah mulai melihat wajah ibunya kembali dengan jelas menghentikan tangisannya dan tersenyum.


Namun, pria yang tadi memegang pisau berhasil mengambil pisaunya kembali dan mengejar Hanna.


"Hanna, awas, di belakangmu... !" teriak Rayhan.


Orang itu berlari sambil melayangkan pisau menuju ke arah Hanna.


Hanna terkejut, matanya nyalang, karena orang itu sudah benar - benar dekat padanya. Hanya berjarak satu meter. Ia hanya fokus pada ujung mata pisau yang sangat runcing.


" No... " teriak Hanna.


Sreeetttt...


Pisau menancap di tubuh seseorang. Darah pun mulai bercucuran.


Siwan dan Tiger yang sedang saling menyerang menoleh ke arah Hanna.


Dan, bersamaan dengan itu, suara sirine mulai terdengar, beberapa polisi datang bersama dengan Aji dan anak buahnya.


...***...


Polisi Indihe, datangnya selalu telat pemirsa.


Karena othor mulai sibuk daring lagi nemenin anak, jadi mungkin gak bisa update tiap hari lagi.


Tapi semoga masih sempet sih, hehehe... Harap maklum yaa, tugas emak - emak di rumah kan nambah lahi di zaman kopit ini.


Mudah - mudahan pandemi ini segera usai ya, mari kita berdoa bersama - sama.


Love u all