
Keesokan harinya...
Hanna yang hari senin itu sedang masuk shift siang, bangun pagi hari dan berleha - leha di atas ranjangnya sejenak. Perutnya yang terasa sakit karena jawal PMS sudah tiba membuatnya ingin terus merebahkan dirinya di atas ranjang.
" A-ku... bu-tuh... ja-jamu pelancar haid... " ucap Hanna terbata - bata.
Dia pun terpaksa turun dari ranjangnya dan merayap - rayap menuju dapur untuk membuat ramuan pelancar haid sendiri.
Hanna sudah sering membuatnya, berbagai resep ramuan pernah ia coba. Kali ini dia akan membuat kunyit asam dan minumannya teh jahe hangat.
Tapi, tetap saja, meskipun sudah meminumnya, rasa nyeri nya tidak kunjung hilang, hanya mengurangi dan mempercepat proses kelancaran banjir bandang nya saja sepertinya. Karena nyeri yang di rasa olehnya biasanya dua hari menuju detik - detik banjir bandang tiba setiap bulannya.
" Nyeri melahirkan lebih dari itu kali, nikmati saja, nanti juga kalau udah lahiran biasanya gak bakal sesakit itu tiap bulannya "
Hanna selalu teringat perkataan ibunya dulu saat dia di Bandung, ibunya yang selalu membuatkannya ramuan herbal pelancar haid dan membantunya mengusap dan memijat pinggannya hingga ia tertidur.
" Emak... aku kangen... hiks... " tanpa terasa air mata Hanna mulai menetes kembali karena merindu akan keluarganya di Bandung.
Tahun ini, karena merupakan tahun terakhirnya berada di Bali, dia belum berencana mengambil cuti dan pulang ke Bandung. Dia sudah berbicara pada ayah dan ibunya kalau dia akan memanfaatkan jatah cutinya tahun ini untuk bersenang - senang mengelilingi pulau Bali dan sekitarnya, bersama teman - temannya.
Dan, dia sudah merencanakan akan pergi ke pulau Lombok bersama Melly, Teguh dan Ardi. Serta Reni yang sudah resaign pertanggal 20 Januari bulan lalu.
Setelah meminum semua ramuan herbal buatannya, Hanna hanya merebahkan tubuhnya di sofa sambil terus memegangi perutnya.
Tiba - tiba Siwan menelepon..
" Hallo, chagiya, sedang apa ?" tanya Siwan di seberang sana.
" Aku, hanya diam di sofa... " suara Hanna terdengar serak di telinga Siwan.
" Kau kenapa ? suaramu terdengar berbeda, apa kau sakit ?" Siwan merasa cemas.
" Aku hanya sakit perut, tamu bulananku hampir tiba " ucap Hanna.
" Oh.. begitu, sudah minum obat... bla bla bla... "
Mereka berdua terlihat fokus saling bersahutan membicarakan hal - hal ringan melalui hp masing - masing.
Hingga pada akhirnya Siwan hanya meminta maaf karena sejak kembali ke Denpasar dia belum bisa menemuinya karena harus meeting bersama kliennya sebelum jam makan siang tiba. Hanna sangat memaklumi nya, dia tahu dan mau mengerti, Siwan sangat profesional terhadap pekerjaan dan tanggung jawabnya.
Selesai menelepon, Hanna tetap mengkerut di atas sofa, bersandar pada sandaran tangan dan melupakan perutnya yang belum terisi apapun selain cairan herbal yang ia teguk tadi.
Dia hanya fokus berselancar di media sosial dan menyapa sahabatnya di Bandung terutama Yasmin yang katanya sedang hamil muda.
Hanna begitu senang mengetahui salah satu sahabatnya akan memiliki seorang bayi dalam waktu beberapa bulan yang akan datang, dia memberi semangat sahabatnya agar Yasmin mau menjaga kondisi kesehatan dan tidak makan sembarangan.
Lalu, Hanna sempat mengupload beberapa hasil jepretannya saat pergi jalan - jalan bersama Aji saat melihat senja beberapa hari yang lalu.
Baru beberapa menit sudah banyak like dan komentar dari netizen budiman di akun instagremnya meskipun ada beberapa komentar dari netizen nyinyir, Hanna tidak begitu memperdulikannya, hanya menguras emosi, waktu dan tenaga nya.
Tentu saja karena moodnya sedang baik melihat komentar netizen yang positif, Hanna sempat membalas beberapa orang di kolom komentar foto tadi.
Tanpa terasa, hari sudah semakin siang, dia lupa waktu kalau sudah memegang hpnya dan menjadi stalker oppa - oppa Koreanya.
Kruyuk... kruukk...
Perutnya keroncongan, terpaksa dia menghampiri dapur dan membobol isi kulkasnya mencari stok fastfood karena sudah tidak bisa menahan laparnya. Dia hanya menggoreng beberapa potong nugget dan sosis.
Selesai makan dia bersiap mandi dan tepat pada waktunya, jemputannya sudah sampai tiba di halaman depan rumahnya.
Sebetulnya dia sempat berkali - kali memohon pada Siwan agar di izinkan kembali membawa motornya sendiri, tapi sejak kejadian kecelakaan terakhir, Siwan dengan tegas menolaknya, apalagi Hanna sempat di culik oleh musuhnya, Siwan semakin was - was, dia takut Richard kembali berniat mengusik kehidupannya bersama Hanna.
Kasihan sekali nasib scooby si motor matic miliknya, hanya jadi pajangan di garasi saja.
Setelah selesai memakai riasan dan seragam kerjanya, Hanna keluar rumah, berjalan menuju mobil yang sudah menunggunya di halaman.
Namun, tiba - tiba Hanna tertegun ketika melihat orang yang tidak dia kenali berdiri di samping mobilnya.
" Maaf, siapa ya ?" tanya Hanna.
" Perkenalan mbak, saya Tio, saya yang akan mengantar jemput mbak selama Bram mengerjakan tugas lainnya, kalau tidak percaya, silahkan telepon saja Aji atau kak Wan " ucap Tio.
" Oke... sebentar ya !!" Hanna merogoh hpnya di dalam tas. Dan ternyata sudah ada pesan masuk di aplikasi whussup nya, Siwan memberitahu tentang supir baru dan mengirim fotonya. Pesannya baru terbaca karena sejak Hanna makan tadi dia belum menyentuh hpnya kembali.
" Baiklah, aku sudah di kasih tahu ahjussi barusan, berangkat sekarang ya pak !!" ucap Hanna.
Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil dan pergi menuju tempat kerja Hanna.
" Maaf ya pak, saya bukannya gak percaya tadi, tapi cuma memastikan aja !!" ucap Hanna.
" Tidak apa mbak, santai saja, dan jangan panggil saya bapak, saya belum menikah, saya seumuran sama Aji " pinta Tio.
" Hihihi... " Hanna jadi teringat obrolannya dengan Bram " Baiklah, bli Tio atau mau ku panggil apa ?" tanya Hanna.
" Tio saja, tidak apa !!" ucap Tio.
" Gak sopan aku, umurmu kan lebih dariku, mana berani aku, mas Tio aja !!" ucap Hanna.
" Jangan, saya gak enak sama kak Wan, bang Tio aja mendingan " pinta Tio kembali.
" Cih... apa bedanya sih, yang penting aku gak panggil bang Tio sayang, beiby, honey sweety, takut amat sih sama ahjussi !!" ucap Hanna.
Tio mengernyit dan tersenyum.
" Saya dari Padang mbak, biasanya sapaan kita di kampung tuh abang kalau sama yang lebih tua " ucap Tio.
" Saya dari Bandung, harusnya panggil aku neng dong kalau di kampungku begitu sapaan buat cewe yang umurnya lebih muda " Hanna tidak mau kalah.
" Ya Alloh, bener apa kata Bram, pacar si bos pinter ternyata, pinter berkelit, hehehe " Tio terkekeh di dalam hatinya.
" Tetep aja, saya maunya manggil mbak !!" ucap Tio.
" Kalau gitu saya juga tetep mau panggil mas Tio " Hanna masih tidak mau kalah.
" Terserah mbaknya saja !!" Tio mengalah.
" Oke, terserah masing - masing aja kalau gitu !!" ucap Hanna ketus.
" Ni orang apa sih, serius amat, gak asyik ah, gak kayak pak Bram, hih... " gumam Hanna.
Sesampainya di tempat kerja...
" Bentar deh, kayaknya kita pernah ketemu sebelumnya, tapi dimana ya... bener kan pernah ketemu ?" tanya Hanna.
" Iya bener, tapi aku lupa... ah sudahlah, aku turun dulu ya takut kesiangan " Hanna membuka seatbeltnya dan turun dari mobil.
" Hehe... kayaknya dia lupa kejadiannya " ucap Tio.
Sedikit flashback...
Tio adalah orang yang berkali - kali membuntuti Hanna dari kejauhan, mereka sempat bertatap muka hanya saja Tio berpura - pura berakting mengobrol dengan orang yang ada di dekatnya untuk menghilangkan jejak pengintaian, padahal dia tidak kenal sama sekali orang yang dia ajak obrol itu, orang lain pun jadi sering menatap Tio dengan wajah heran dan risih.
Juga, Tio pernah membantu Hanna memecahkan masalah saat motornya mogok gara - gara kehabisan bensin saat motornya baru keluar dari garasi.
Dan, Tio yang menghampiri Hanna dengan berpura - pura lewat depan rumahnya. Setelah sebelumnya dia dan Bram sempat bersuit untuk memutuskan siapa yang jadi superhero bagi Hanna.
Dan lagi, Tio adalah orang yang babak belur karena di hajar oleh anak buah Richard saat membuntuti Hanna pada malam penculikan. Di wajahnya pun kini masih ada sisa bekas luka berupa goresan - goresan kecil.
Beberapa jam kemudian...
Hanna yang baru selesai beristirahat makan sore bersama beberapa teman kerjanya merasa terkejut saat ada seorang pria tidak di kenal memanggilnya sebelum masuk ke dalam toko kembali.
Hanna menyuruh teman - temannya masuk ke dalam toko terlebih dahulu.
" Siapa ?" tanya Melly.
" Gak tahu, kalian duluan aja !!"
" Bener Han, gapapa ?" Melly merasa khawatir.
" Gapapa, deket sama pos satpam kan, kalo ada apa - apa aku teriak, ada cctv juga kan di atas " Hanna meyakinkan Melly agar tidak terlalu mengkhawatirkan nya.
Hanna pun menghampiri pria di belakangnya yang daritadi menunggunya.
Pria itu tidak berbicara sepatah katapun, dia hanya menyerahkan sebuah amplop coklat besar lalu pergi terburu - buru.
" Hei... ini apa, kau siapa hey... " teriak Hanna.
Namun pria itu malah berlari menjauh. Beberapa orang teman Hanna yang hendak masuk ke dalam toko di depan pintu masuk karyawan bertanya - tanya padanya karena mendengar Hanna berteriak memanggil seseorang.
" Gak tahu, dia ngasih ini terus pergi " ucap Hanna.
" Apaan tuh isinya, buka aja di sini dulu, takutnya bom... " ucap teman Hanna.
" Ih... gue takut, gimana dong, nih lu yang bukain deh... " Hanna menyerahkan amplop tersebut namun tidak ada yang mau menerimanya. Mereka terlihat menghindar karena ketakutan.
Dari pintu karyawan seorang security berteriak..
" Hei... cepet masuk, jam istirahat sudah mau habis "
" Iya bu, sebentar " Hanna masih berdiri di posisinya sedangkan yang lainnya buru - buru masuk meninggalkan Hanna.
Hanna mengumpulkan keberaniannya untuk membuka amplop coklat tersebut.
" Huft... bismillah " ucap Hanna sebelum melihat isinya.
Hanna mengintip perlahan, " Hah... foto... " dia pun mengeluarkan isinya, dan... jeng jeng jeng....
Wajahnya langsung pucat, dia mematung dan shock, dia pun menghiraukan panggilan seorang security yang akan menutup gerbang pintu keluar masuk karyawan.
" Han, kamu gapapa ? apa itu ?" tanya seorang security wanita padanya.
" Ah... i-ini, hanya foto - foto bu, gapapan aku simpan di loker dulu ?" tanya Hanna mencoba tetap tenang.
" Yaudah cepet masuk, mau ku tutup nih gerbang nya !!"
" Iya bu, maaf ya !!" Hanna pun memasukkan kembali foto - foto itu ke dalam dan bergegas menuju loker.
Senja di sore hari kali itu nampak begitu memilukan. Hanna seolah di mendapatkan sebuah hantaman keras di dadanya.
Sakit, perih, batin Hanna ingin menangis dan berteriak. Namun apalah daya, dia harus menyelesaikan kewajibannya sebagai seorang karyawan dan kembali bekerja meskipun tubuhnya terasa lemas.
Sepanjang malam itu Hanna tidak fokus bekerja, dadanya terus berdebar, matanya merah karena berusaha menahan air mata yang terus memaksa ingin keluar dari sarangnya.
" Han, kenapa sih ?" tanya Melly.
" Kak, maafin aku, aku kayaknya masuk angin " ucap Hanna.
" Istirahat dulu aja kalau gitu, minta izin pak Rama aja, wajahmu udah merah gitu, anget lagi nih " Melly mengechek suhu kening Hanna dengan tangannya.
Hanna pun di antarkan oleh Melly menuju ruangan pak Rama. Kebetulan malam itu suasana toko tidak terlalu ramai, jadi Hanna tidak merasa tidak enak hati mangkir dari tugasnya sebentar.
Setelah mendapat izin dari pak Rama, Hanna di antar ke ruang kesehatan oleh Melly. Setelah itu Melly kembali ke konternya untuk berjaga.
Memang kebetulan Hanna pun masih merasakan sakit di perutnya karena tamu bulanannya. Dia pun membaringkan tubuhnya di atas ranjang pasien di ruangan kecil berukuran 2x2 meter persegi.
Sesaat ia hanya menatap langit - langit ruangan tersebut dengan mata berkaca - kaca. Tidak lama kemudian dia menangis, dia sudah tidak bisa menahannya lagi. Air matanya terus memaksa untuk keluar dari sela - sela matanya.
Dia menangis sendirian, mengkerutkan tubuhnya dan membungkam mulutnya supaya tidak terdengar suara rintihan saat ia menangisi kepedihan hatinya.
Hanya satu jam, setelah merasa lelah menangis, Hanna pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya yang makeupnya kini sudah luntur sebagian.
Hanna pun merias kembali wajahnya di loker setelah meminta izin pada security. Dia harus kembali berjaga di konternya. Meskipun jam kerjanya hanya tinggal 2 jam lagi, dia tidak ingin terus berdiam diri dan menangis di ruang kesehatan. Rasanya tidak profesional baginya, tubuhnya tidak sakit, hanya hatinya saja yang sedang tercabik - cabik.
Tiba waktunya pulang...
Hanna berjalan dengan langkah gontai dan lemas, Melly dan Teguh sempat mengantarkan Hanna sampai ke depan mobil jemputannya karena khawatir. Mereka masih mengira kalau Hanna benar - benar sakit. Hanna belum bisa cerita pada mereka karena dia masih belum yakin tentang masalahnya kali ini.
Setelah masuk ke dalam mobil dan berpamitan pada Melly dan Teguh, Hanna hanya duduk dan membisu di kursinya, bahkan ia lupa tidak mengenakan seatbelt. Tio yang mengingatkan nya.
Sepanjang perjalanan pulang, Hanna hanya diam dan menutup matanya.
Tio mengira mungkin Hanna lelah dan mengantuk. Sesaat Tio sempat melihat amplop coklat besar yang di peluk oleh Hanna, dia terlihat penasaran, hanya saja dia tahu diri dengan posisinya.
" Mbak, sudah sampai !!" ucap Tio.
Perlahan Hanna membuka matanya.
" Ah, maaf bang, makasih banyak ya, aku pulang dulu " ucap Hanna.
Setelah Hanna benar - benar masuk ke dalam rumahnya, Tio pun pergi menuju markasnya.
Sesampainya di dalam rumah, Hanna duduk di sofa dan kembali melihat tumpukan foto yang di berikan oleh pria tidak di kenal sore tadi.
Hanna kembali terisak tangis, kali ini semakin pecah, dia bebas mengeluarkan suara tangisnya saat di rumahnya sendiri. Pikirnya tidak akan ada orang yang mendengarnya malam - malam begini. Paling kalaupun ada yang lewat, pasti dikiranya hantu yang menangis.