My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Penjaga rumah...



Dua hari berlalu, setelah acara liburan bersama di Pantai Tanjung Benoa dan di Pulau penyu, belum ada pertemuan kembali antara Hanna dan Siwan.


Hari ini, hari minggu pagi...


Setelah selesai sholat subuh, Hanna bersiap - siap untuk pergi jogging bersama adiknya. Sekitar pukul 05.45 wita, mereka keluar dari rumah, dan pulang kembali saat pukul 08.10 wita.


Pukul 08.10 wita, mereka baru sampai di halaman rumah. Saat itu, sudah terparkir mobil Siwan di sana.


Dari kejauhan, Siwan nampak sedang sibuk dengan hpnya. Ia seperti sedang berbicara dengan seseorang lewat hpnya.


Setelah Siwan melihat Hanna dan adiknya mendekat, ia baru mengakhiri percakapannya itu.


" Ahjussi, apa kau sudah lama disini ?" tanya Hanna yang kini hanya berjarak 5 sentimeter dari Siwan.


" Lumayan, sekitar 10 menit." Jawab Siwan.


" Kenapa tidak menunggu di dalam saja !!" seru Hanna.


" Aku pikir kalian belum bangun, aku menelponmu dari tadi." Jawab Siwan kembali.


" Maaf, aku terlalu fokus mengobrol dengannya !!" ucap Hanna sambil menunjuk pada adiknya yang sedang melakukan peregangan beberapa meter dari posisinya dan Siwan.


" Tidak apa, chagiya, aku... " ucapan Siwan belum selesai.


" Ahjussi, aku bau keringat, aku mandi dulu, nanti saja mengobrol nya ya, ayo masuklah, tunggu di dalam !!" seru Hanna.


Siwan hanya menganggukan kepalanya lalu berjalan mengikuti Hanna dari belakang.


Siwan menunggu Hanna di sofa sambil menonton acara tv di hari minggu pagi yang kebanyakan film animasi, acara masak dan infotainment.


Beberapa menit kemudian...


" Ahjussi, kau suka menonton doraemon ?" tanya Hanna yang mengejutkan Siwan karena berjalan mengendap - endap dari belakang.


Siwan yang merasa terkejut pun secara spontan memencet tombol power mematikan televisinya.


" Ah, ini, aku, itu.... " Siwan merasa gugup akan pertanyaan kekasihnya itu.


" Ahjussi, kau kenapa... ? tidak usah seperti itu, tidak apa, aku juga sering menonton animasi, memangnya kenapa ? tidak usah malu !!" sahut Hanna lalu tertawa.


" Chagiya, aku tidak malu, hanya refleks, kau membuatku terkejut, itu saja." Siwan tetap menegaskan bahwa ia merasa terkejut.


" Iyalah... iyalah... emh... ahjussi, kemarikan tanganmu !!" seru Hanna yang kini sudah duduk di samping Siwan.


Siwan mengulurkan tangan sebelah kirinya.


" Bukan, satunya lagi !!" timpal Hanna.


Dan Siwan mengulurkan tangan kanannya pada Hanna.


Lalu, Hanna mengelurkan sesuatu dari saku sweater hoodie nya.


" Tadaammmm... kado ulang tahun dariku !!" ucap Hanna sambil menyerahkan kotak kecil pada Siwan.


Siwan tersenyum lebar, merasa bahagia mendapatkan sebuah hadiah kecil dari kekasihnya kali ini.


" Boleh ku buka sekarang ?" tanya Siwan.


" Buka saja !!" seru Hanna.


Siwan pun membuka kotak kecil yang berada di tangannya kini. Isinya ternyata sebuah jam tangan.


" Aku tahu, ini tidak sebanding dengan harga jam tangan yang sering kau pakai, tapi aku tulus memberikannya padamu, aku juga memilihkan sesuai karaktermu, simpel dan elegan, lihatlah di... " Hanna belum menyelesaikan perkataannya saat itu, karena Siwan langsung memeluknya dengan erat sehingga Hanna kesulitan untuk bernafas.


" Terima kasih, chagiya, aku sangat menghargai ketulusan mu, terima kasih banyak !!" ucap Siwan lalu mengecup kening kekasihnya itu.


Hanna tersenyum senang karena Siwan menerima kado pemberiannya saat itu.


" Ahjussi, lihat lah, aku mengukir sesuatu di balik tali nya, emh... maksudku, bukan aku, tapi, aku sengaja memesannya memakai ukiran di baliknya sebagai tanda saja " ucap Hanna.


Siwan pun membalikkan jam tangan itu untuk melihat apa yang terukir di atas talinya.


" Haengbokhaja ( mari berbahagia ) " ucap Siwan, menatap dan menyentuh ukiran pada tali jam tangannya dengan aksara hangul.


" Aku berharap, kau selalu berbahagia, dimanapun, dan kapanpun, saat memakai jam tangan ini, ataupun tidak, aku selalu berharap kau selalu berbahagia !!" ucap Hanna.


Siwan kembali memeluk Hanna dengan erat dan dengan perasaan yang gembira, hingga ia meneteskan air mata di sudut matanya.


" Aku akan pakai jam tangan ini, mulai sekarang !!" ucap Siwan, lalu membuka jam tangan yang di pakainya menggantinya dengan jam tangan pemberian Hanna.


" Hemh... sangat cocok, semua yang kau pakai, nampak sangat keren, ahjussi hihihi... " ucap Hanna sambil mengusap lengan Siwan.


" Chagiya, ada sesuatu yang ingin ku beritahu padamu !!" ucap Siwan.


" Apa ? katakan saja !!" sahut Hanna.


" Aku, harus kembali ke Seoul. " Ucap Siwan.


Hanna yang sedang menatap dan mengusap lengan Siwan pun seketika merasa membeku. Tubuhnya terdiam dan terpaku sambil menatap wajah kekasihnya itu.


" Chagiya, tidak akan lama, aku pasti kembali kesini secepatnya !!" ucap Siwan sambil menggenggam tangan kekasihnya.


" Kapan, kau akan pergi ?" tanya Hanna.


" Sore ini. Sangat mendadak, ada rapat pemegang saham besok siang, aku harus hadir " jawab Siwan.


" Baiklah, pergilah, aku akan menunggumu dan mendoakanmu di sini. Jangan khawatirkan aku ya, fokuslah pada pekerjaan mu di sana !!" seru Hanna.


Saat sedang berciuman, terdengar suara langkah kaki mendekat menuju ruang tv.


Sontak Hanna dan Siwan pun langsung menghentikan aktifitas mereka dan duduk saling berjauhan dengan tingkah konyol fan kaku.


Siwan pura - pura membereskan jam tangan miliknya, memasukkan nya ke dalam kotak pemberian Hanna dan mengelus - elus kotaknya.


Sedangkan Hanna, saat itu, ia langsung menjauh dari Siwan dan mengambil sebuah buku yang ada di rak bawah meja dan membacanya dengan terbalik.


" Hoaammh... " Abdul menguap dan berjalan melewati ruang tengah, menuju kamar mandi tanpa menoleh sedikitpun pada Siwan dan Hanna yang berada di ruang tv.


Setelah Abdul masuk ke dalam kamar mandi, Hanna pergi menuju dapur untuk mengambil sesuatu di kulkas.


Dia mengeluarkan sekotak es krim dan beberapa mangkuk kecil dan sendok kecil, lalu kembali menghampiri Siwan.


" Ahjussi, kau mau es krim ?" tanya Hanna.


" Boleh, tapi, apa kau sudah makan pagi ?" tanya Siwan.


" Sudah, tadi di luar bersama adikku. " Jawab Hanna.


Lalu Hanna menyimpan eskrim nya dan duduk di lantai beralaskan karpet bulu berwarna coklat muda. Sedangkan Siwan berada di belakangnya, duduk di atas sofa.


Saat adik Hanna keluar dari kamar mandi, ia melewati ruang tv dan melihat kakaknya sedang mengobrol bersama kekasihnya. Ia tidak ingin mengganggu mereka, makanya ia langsung masuk ke kamarnya kembali, padahal saat itu Siwan mengajaknya makan es krim bersama.


" Dul, sini, makan es krim !!" ajak Siwan.


" Iya kak, aku nanti saja, lagi nanggung main game " jawab Abdul, lalu pergi menuju kamarnya.


Beberapa menit berlalu, Hanna dan Siwan nampak sangat senang menikmati es krim di pagi menjelang siang hari sambil bercanda tawa dan menonton tv.


" Chagiya, bagaimana soal adikmu, apa sudah beres ?" tanya Siwan.


Hanna menggelengkan kepalanya.


" Belum, masih tahap negosiasi dengan bapak " jawab Hanna.


" Emh... kalau boleh tahu, seperti apa bapak ?" tanya Siwan.


" Bapak... beliau... bla bla bla bla.... " Hanna menceritakan panjang lebar tentang sifat dan karakter ayahnya yang sangat mirip dengan adiknya. Keras kepala.


" Bapakmu, beliau pasti hanya ingin melihat salah satu dari anaknya sukses, makanya beliau berharap banyak pada adikmu !!" ucap Siwan.


" Iya, aku tahu, karena aku anak perempuan, ujung - ujungnya pasti hanya akan masuk ke dapur, sumur, dan kasur, makanya bapak tidak terlalu menekanku untuk menjadi seorang wanita yang sukses, aku sudah mengikhlaskan nya, kehidupan ku, hanya ku jalani sebagai orang biasa saja " ucap Hanna, terdengar pilu.


" Bukan begitu, kau jangan salah paham, bukannya kau bilang bapakmu memang berwatak keras kepala, tapi akan luluh hanya pada ibumu saja, kau pun seorang wanita, beliau tidak ingin keras padamu, karena beliau tahu, tidak akan pernah menang bila berhadapan dengan seorang wanita " tegas Siwan.


" Iya juga sih... bapak selalu keras pada adikku, karena dia seorang laki - laki, calon pemimpin keluarga, bapak selalu mengajarkan adikku untuk mandiri dan pekerja keras, supaya kelak adikku bisa menjadi seorang pemimpin keluarga yang berwibawa " ucap Hanna.


" Tapi, chagiya, tidak ada kata terlambat untuk terus menggali potensi diri sendiri, apa kau tidak berminat mengambil peluang yang ada, apa kau tidak mau meneruskan sekolah ke perguruan tinggi ?" tanya Siwan.


" Entahlah, aku belum menemukan passion ku sendiri !!" jawab Hanna.


" Kau pandai memasak, kalau kau mau, kau bisa lebih menggali bakatmu di bidang kuliner, ikut kursus misalnya, dan kau pandai berbahasa asing, kau juga bisa menjadi guru les atau privat, kau juga bisa sekolah lagi untuk menjadi seorang guru atau profesi lainnya " ucap Siwan.


" Aku, saat ini, hanya ingin menikmati hidupku, dengan caraku sendiri, tanpa ada paksaan dari pihak manapun " sahut Hanna.


" Oke, aku menyerah, seperti bapakmu, pasti beliau pun akan langsung takluk bila mendengar jawabanmu seperti itu " timpal Siwan.


" Hihi... kenapa, apa ahjussi malu, punya pacar hanya seorang wanita biasa saja ?" tanya Hanna berbalik ke arah belakang menatap Siwan dari bawah.


" Kau pernah menanyakan hal itu padaku, apa aku perlu menjelaskan nya lagi padamu ?" tanya Hanna.


" Iyalah - iya, aku tahu jawabanmu, pasti akan membuat hatiku meleleh bagaikan eskrim ini yang kini sudah mencair. Hihihi... " ucap Hanna lalu tersenyum.


Siwan merasa sangat tidak tahan melihat wajah kekasihnya dari atas terlihat sangat menggemaskan. Ia lalu menyimpan mangkuk kecil yang berada di tangan Hanna pada meja. Dan, ia lantas menarik Hanna ke dalam pelukannya lalu mencium bibirnya dengan penuh kehangatan.


Namun, tidak lama kemudian, Hanna menghentikannya, ia mendorong tubuh Siwan perlahan ke belakang.


" Ahjussi, ada adikku, aku takut dia melihatnya, jadi kita harus waspada !!" seru Hanna.


Siwan hanya tersenyum lalu memeluk kekasihnya kembali.


" Aku pasti akan sangat merindukanmu, tunggulah, aku akan kembali secepatnya !!" ucap Siwan.


Beberapa jam kemudian, Hanna sudah bersiap - siap dengan seragamnya untuk pergi bekerja. Siwan sedang menunggu nya di mobil, dia akan mengantarkan kekasihnya sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan nya kembali.


Sesampainya di depan parkiran departemen store tempat Hanna bekerja, Siwan kembali memeluk kekasihnya itu dengan erat, ia seperti enggan untuk berpisah dengannya kali ini.


" Ahjussi, aku akan terlambat kalau kau tidak melepaskanku sekarang " ucap Hanna yang merasa sesak di pelukan Siwan.


" Maaf, aku benar - benar tidak mau pergi jauh darimu " sahut Siwan.


" Jangan lupa kabari aku selalu ya, aku akan menunggumu dan mendoakanmu !!" ucap Hanna.


" Oke, saranghae, chagiya !!" ucap Siwan sambil melingkarkan kedua tangannya di atas kepala membentuk hati dan beraegyo ala ala remaja Korea.


Hanna tersenyum, bukan, malah nampak seperti menahan tawa saat melihat dan mendengar ungkapan hati dan kelakuan kekasihnya yang terlihat begitu manis di hadapannya kali ini. Wajah seorang pria berumur 40 tahun yang berperangai tegas dan garang serta kharismatik dengan sedikit kerutan yang nampak di sudut matanya, kini hanya terlihat seperti seorang pria muda yang menggoda dengan memasang wajah menggemaskan di hadapan seorang wanita yang di cintainya.


" Ahjussi, kau sangat lucu. Hahaha... " Hanna tidak bisa menahan lagi, ia tertawa terbahak - bahak sambil membuka seatbelt nya dan turun dari mobil.


Sebelum menutupnya, Hanna pun memberi isyarat cinta pada Siwan, ia membentuk hati di kedua jarinya antara jempol dan telunjuk yang di silangkan. Sebelum melayangkan nya di hadapan Siwan, ia mencium terlebih dahulu jari hatinya lalu menunjukkan nya pada Siwan sambil mengedipkan matanya sebelah.


Setelah Hanna pergi menjauh darinya, Siwan masih terpaku menatap punggung Hanna yang semakin menjauh, dari dalam mobil, dengan penuh senyuman.