My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Gawat...



Keesokan harinya...


Hanna yang terbangun gara - gara bermimpi bertemu Seo Jihye merasa kesal.


" Bisa - bisanya dia muncul di mimpiku, cih... " Hanna pun turun dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi dengan langkah terburu - buru. Dia ingin mengguyur kepalanya dengan air es rasanya supaya malam nanti tidak kembali bertemu Seo Jihye di mimpinya.


Satu jam kemudian...


" Pagi mbak Hanna !!" ucap Bram, menyambut Hanna yang baru keluar dari rumahnya.


" Pagi pak... !!" jawab Hanna dengan lemas.


Bram sepertinya tahu apa yang harus di lakukan saat melihat seorang wanita nampak lemas dan bad mood seperti itu, yaitu, duduk diam dan dengarkan.


Baru saja masuk ke dalam mobil, Hanna sudah mulai mencercanya dengan berbagai pertanyaan.


" Pak, bli Aji kemana sih ? udah beberapa hari aku gak ketemu dia " tanya Hanna, wajahnya terlihat berkerut.


" Ah elah... kirain mau nanyain pacarnya, malah nanyain si Aji " gumam Bram sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Hanna.


" Aji, lagi sibuk dia mbak, kalau kak Wan lagi sibuk ngurus proyek baru, dia pasti gantiin kak Wan ngechek laporan atau pergi kunjungan ke beberapa tempat usaha kak Wan, dia kan orang kepercayaannya " jawab Bram.


" Emh... sebetulnya ahjussi lagi ngurus proyek apa sih ? dia gak pernah cerita sama aku, bli juga sama !!" Hanna terlihat penasaran.


" Memangnya kak Wan gak pernah cerita pekerjaan utamanya apa sama mbak, selain mengelola beberapa bisnis kuliner, resort and villa, gym, pekerjaan utamanya kan arsitek desain dan perancang struktur bangunan mbak, dia seorang insinyur !!" jawab Bram.


" Aku baru tahu kalo dia insinyur, dia cuma bilang sama aku kalo dia cuma pebisnis aja !!" sahut Hanna.


" Mbak, aku pribadi sebagai seorang pria, kadang pas ketemu orang yang kita sayang seperti keluarga, istri dan anak, masalah kerjaan di luar pasti jadi lupa, maunya ya kalo di rumah bercengkerama sama anak, bermanja - manja sama istri, kalo masalah kerjaan masih bisa di atasi sendiri, aku gak pernah mau bebanin istri buat ikutan mikirin masalah kerjaan " Bram merasa sedang menasehati anak atau adiknya.


" Cie... beda ya kalo ngobrol sama yang udah berkeluarga, agak - agak menjurus gimanaaaa gitu... " Hanna tertawa.


" Hehe... lah iya mbak, pasangan tuh tempat buat kita bersandar dan menghilangkan rasa penat, cukup memeluknya rasanya udah plong beban di hati, apalagi kalo pelukannya di atas ranjang " Bram menahan tawanya.


" Idih... tuh kan jadi mesum, jangan manas - manasin aku yang masih perawan ini loh pak... !! ucap Hanna.


" Hah... ?" Bram merasa tercengang mendengar pernyataan Hanna.


" Ahjussi sangat menghargai dan menghormati ku, makanya aku masih mau bertahan sama dia meski pun kami berbeda keyakinan, tapi... aku gak tahu sampai kapan, orangtua ku kalau sampai tahu hubunganku sama ahjussi, aku bisa langsung di seret pulang ke Bandung hari ini juga !!" ucap Hanna.


" Seriusan mbak ?" tanya Bram masih tidak percaya.


" Yap... jangan bilang - bilang ya !!" ucap Hanna.


" Siyap mbak... tenang aja "


Tanpa terasa kini mereka sudah sampai di depan lokasi tempat Hanna bekerja.


" Makasih banyak ya pak, aku pergi dulu !!" ucap Hanna lalu turun dari mobilnya.


Bram masih terdiam di posisinya sambil menatap punggung Hanna yang semakin menjauh.


" Hebat banget kak Wan bisa tahan deket pacarnya yang cantik dan bohai itu, dia pria normal kan... ? ah sudahlah, apa urusannya denganku !!" Bram pun menyalakan kembali mobilnya dan melaju pergi.


Beberapa jam berlalu...


Pukul 15.15 wita, Hanna baru keluar dari toko tempatnya bekerja. Dia berjalan sendirian menghampiri titik lokasi penjemputan.


Dari kejauhan, dia tidak melihat mobil yang biasa menjemputnya terparkir di tempat biasanya. Namun, dia melihat sebuah motor sports dan seorang pria yang duduk di atasnya memakai helm full face.


Saat Hanna semakin mendekat, pria itu pun membuka helmnya dan tersenyum pada Hanna.


" Sudah kuduga, pasti dirimu yang menjemputku kali ini !!" ucap Hanna.


" Bukannya kau kangen padaku ?" tanya Aji.


" Siapa, kata siapa... ih ngarang !!" Hanna menyangkalnya.


" Pak Bram, awas ya, ember kali mulutnya... " gumam Hanna.


Aji menyerahkan sebuah helm pada Hanna.


" Nih pake, pacarmu udah ngasih izin buat kita pergi jalan malam mingguan di luar !!" ucap Aji.


" Apa - apaan dia, memangnya aku piala bergilir, gak mau, aku mau pulang aja !!" ucap Hanna, matanya mendelik kesal.


" Yasudah... cepet naik, ku antar pulang saja !!"


Hanna pun naik ke atas motor Aji dengan wajah kesal. Dia cemberut sepanjang perjalanan menuju rumah.


Sesampainya di halaman rumahnya Hanna turun dan membuka helmnya dengan wajah masih seperti bebek. Bibirnya maju ke depan.


Saat dia melangkah menjauh, dari belakang Aji menarik lengannya.


" Han, tunggu... " Aji menghentikan langkah Hanna.


" Apa sih... aku lagi bete tau gak !!" ucap Hanna.


" Han, kak Wan cuma gak mau kamu kesepian, dia lagi keluar kota jenguk ibunya yang lagi sakit, cuma aku orang yang dia percaya, lagipula kalo emang kamu mau pergi sama temen kamu ayo... aku temenin, sama siapapun, kemanapun, aku temenin !!" Aji mencoba menenangkan Hanna.


" Hah... teman, siapa ? bahkan aku gak punya teman buat hangout bareng gara - gara kalian yang terus membuntuti ku, cih... " gumam Hanna.


" Lepasin tangan aku... !!" ucap Hanna.


" Han... " Aji masih tidak melepaskan genggamannya.


" Aku mau lihat hpku sebentar bli, aku mau lihat pesan masuk dulu " emosi Hanna mulai mereda.


Aji pun melepaskan genggaman nya. Dan Hanna langsung merogoh hpnya dari dalam tas dan melihat pesan masuk yang ternyata dari Siwan.


Siwan memberitahu bahwa dia sedang pergi ke luar kota menjenguk ibunya yang sakit sejak siang tadi. Dia mengizinkan Aji pergi dengan Hanan kemanapun yang Hanna inginkan.


" Oke... baiklah, tunggu sebentar, aku mandi dulu, tidak akan lama !!" Hanna pun pergi masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Aji sendirian di luar.


Beberapa menit kemudian, Hanna sudah siap dengan setelan pants berwarna hitam 3/4, kemeja lengan pendek berwarna biru serta blazer kulitnya berwarna hitam terlihat serasi dengan setelan yang di pakai oleh Aji. Tak lupa memakai sneakers berwarna putih kesayangannya, dan tas slempang coklatnya yang selalu melengkapi penampilannya kemanapun ia pergi.


" Oke, hari ini, aku mau ke pantai, aku mau melihat senja di pantai, dua jam pasti sampai kan ?" tanya Hanna lalu memasang helm di kepalanya.


" Oke, pegangan yang erat, kita melesat secepat kilat !!" Aji mulai menyalakan mesin motornya.


Saat Aji melajukan motornya, Hanna pun mulai berpegangan pada Aji seerat mungkin. Dia tidak peduli tentang perasaannya pada Siwan kali ini, karena sejujurnya dia memang agak kesal pada Siwan.


Terlebih lagi dia masih terus memikirkan Seo Jihye yang saat ini berada di Bali, dia juga pasti pergi mengunjungi ibu Siwan pikir Hanna. Kalau Siwan bisa bertemu dengan wanita lain saat ini, dia juga akan pergi menikmati suasana malam minggu dengan Aji kali ini.


Di sisi lain, apa yang di rasakan oleh Aji saat ini.


Tentu saja jantungnya berdebar begitu kencang, sepertinya dia gagal untuk menyingkirkan rasa suka nya terhadap wanita yang kini memeluknya begitu erat di belakangnya.


Pria bertubuh tinggi dan kekar serta berwajah lugas, berrahang tegas dan berkulit tan layaknya seorang pria latin. Hatinya sedang di penuhi bunga - bunga bermekaran. Seolah dia tidak bisa menyia - nyiakan kesempatan emas yang ada di depan matanya kali ini. Dia sudah berani mengambil resiko apapun yang akan terjadi nantinya, yang penting hari ini dia bisa membahagiakan wanita yang selama beberapa bulan belakangan ini selalu menghantuinya siang dan malam.


Sesampainya di pantai...


" Masyaalloh... indahnya, bli lihat, waktunya pas banget, fotoin aku ya... " Hanna menyerahkan hpnya dan kameranya pada Aji.


Senja


Rembang petang


Jingga di atas cakrawala


Sampaikan rasaku pada hati yang bertuan


Lembayung senja di atas pantai berombak


Sampaikan debaran rinduku untuknya


...SETIAJI BHASKARA alias AJI...


Hasil jepretan nya yang nampak seperti silhuet membuat orang yang melihatnya tidak akan menyangka bahwa wanita itu adalah Hanna.


" Sudah ?" pekik Hanna dari kejauhan.


Aji hanya mengacungkan jempolnya ke atas, lalu buru - buru menyimpan hpnya kembali ke saku jaketnya.


" Bli, makan yuk, lapar nih " ajak Hanna.


" Mau makan dimana tuan putri ?" tanya Aji.


" Emh... ' mata Hanna berkeliaran mencari sesuatu yang menarik hatinya ' ah... itu bli, disana aja, ada pecel lele, udah lama aku gak makan pecel lele " ucap Hanna.


Mereka pun akhirnya makan malam di tenda pecel lele yang lumayan jauh dari pesisir pantai. Mereka kembali menaiki motornya dan memarkirkannya di samping tenda pecel lele.


Mereka berdua mengobrol dan bercanda tawa selama makan malam di sana. Orang - orang di sekitar mereka mengira bahwa Hanna dan Aji adalah sepasang kekasih.


Selesai makan, Hanna dan Aji melanjutkan perjalanan menyusuri pantai di malam hari di atas motor sports yang melaju perlahan.


Hingga mereka tiba di sebuah lokasi cafe yang berada di sekitar pantai, mereka memutuskan untuk nongkrong di sebuah kursi paling luar dan menikmati acara live musik yang cukup jauh dari panggungnya.


" Apa ini cafe yang pernah aku kunjungi dulu ya, cafe milik koh Eriko ...!!" Hanna mencoba mengingat kembali suasana malam itu.


" Bukan, cafe Eriko ada di pantai xxx, bukan di sini !!" sahut Aji.


" Owh... aku lupa !! emh... bli, kak Os bagaimana kabarnya, udah lama aku gak ketemu sama dia ?" tanya Hanna sambil menyeruput orange juice miliknya lewat sedotan plastik.


" Baik, dia memang jarang pulang, sibuk operasi, dia lagi naik daun di rumah sakitnya " jawab Aji.


" Wah... hebat, karirnya sangat cerah ya... tapi kasihan juga sih dia ampe gak bisa liburan akhir - akhir ini !!" ujar Hanna.


" Dia sedang menikmati suasana di puncak karirnya saat ini, pasti sebentar lagi dia naik jabatan " ucap Aji.


" Bli, beberapa hari kemarin kemana, kau sibuk kerja juga ?" Hanna menatapnya penuh penasaran.


" Iya, pacarmu kan lagi ngerjain proyek besar sama rekannya di kantor, jadi aku yang handle bisnis miliknya, dan kemarin aku juga sempet jadi saksi di pengadilan kasus Ayu dan suaminya " Aji menjelaskan apa adanya.


" Oh... begitu, terus gimana hasilnya ?" tanya Hanna.


Dan Aji pun menjelaskan bahwa masih ada sidang lanjutan beberapa kali lagi, namun sudah pasti suami Ayu akan di penjara puluhan tahun karena terkena pasal berlapis.


" Kasihan ya mbak Ayu, aku bener - bener prihatin nasibnya kaya gini amat " ucap Hanna.


Aji tidak berkomentar sama sekali, dia hanya menundukkan kepalanya dan mengusap tengkuknya.


" Han, tunggu sebentar ya, aku mau ke toilet dulu " ucap Aji.


Tanpa terasa hari semakin malam, suasana live musik di pantai semakin mendayu - dayu, deburan ombak pun nampak samar oleh alunan musik dan suara sang vokalis, serta bertambahnya pengunjung yang datang di cafe tersebut membuat suasana semakin riuh kala tepuk tangan mereka memecah di udara.


" Ah... udah lama aku gak pegang mic, aku jadi pengen nyanyi... !!" ucap Hanna.


" Mbak, mau nyumbang lagu ?" tanya seorang waitress yang tanpa sengaja mendengar ucapan hanna saat lewat di depannya.


" Ah... enggak, maksih, suaraku pas - pasan " jawab Hanna berkilah.


Sang waitress pun hanya tersenyum dan pergi meninggalkan Hanna.


Saat Aji kembali, sebuah ide di kepalanya langsung melintas begitu saja.


" Bli, aku mau karaokean, ayo kita ke tempat karaoke sekarang, yah... !!" pinta Hanna.


" Baiklah, tapi yang dekat dengan rumahmu saja ya, besok kau kan masih kerja pagi " jawab Aji.


" Ih... kelamaan, keburu ngantuk aku, lagipula besok aku kerja siang, aku udah minta tukar shift sama temenku sejak tadi sore sebelum pergi kesini "


" Yaudah, kalau gitu kita cari tempat karaoke yang deket dari sini !!"


Kini, merekapun sudah berada di perjalanan sedang berkeliling mencari tempat karaoke yang paling dekat dari lokasi mereka.


Akhirnya, setelah menemukan tempat karaoke, mereka langsung masuk ke dalam dan memesan sebuah ruangan berukuran small untuk mereka berdua.


Di dalam ruang karaoke, tanpa menunggu lama, Hanna langsung memegang mic dan bernyanyi. Aji hanya menemaninya dan memperhatikan nya sambil duduk menikmati camilan dan minuman yang sudah mereka pesan.


Sesekali Hanna mengajak Aji bernyanyi, namun dia nampak malu - malu, Aji hanya mau jadi penonton saja kali ini.


Setelah beberapa lagu di putar, hp Aji berbunyi, dan dia pun keluar dari ruangan tersebut untuk mengangkat teleponnya yang tidak lain dari Siwan.


Aji melaporkan semua kegiatan Hanna hari ini padanya, dan Siwan begitu mempercayakan semuanya pada Aji, karena dia merasa bersalah pergi tanpa pamit pada Hanna.


Saat Aji sedang menelpon di luar, tiba - tiba ada seorang waitress masuk ke dalam ruangan yang mereka pesan dengan membawa dua buah botol minuman dan dua gelas kosong.


" Nona, silahkan, botolnya sudah saya buka " ucap sang waitress sambil menuangkan minuman pada dua gelas kosong tersebut.


Hanna menatapnya dan menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Dan waitress itupun keluar dari ruangan setelah melayani tamunya.


Kebetulan saat itu dia memang sedang kehausan, Hanna pun langsung meneguk minuman di gelas berukuran besar tersebut hingga habis.


" Manis... eurrgghh.... " Hanna bersendawa.


Selesai menelepon, Aji hendak kembali masuk ke dalam ruangan. Dari kejauhan dia melihat seorang waitress baru keluar dari ruangan yang mereka tempati. Pikirnya mungkin Hanna memesan sesuatu saat dia keluar tadi.


Saat masuk ke dalam, Aji sangat terkejut, melihat Hanna tengah meneguk minuman di gelas berukuran besar yang ternyata itu adalah gelas kedua.


" Hanna... apa yang kau minum " Aji menghampiri Hanna dan merebut gelas di tangan Hanna.


" Ah... ini... aku gak tahu, tapi rasanya manis, enak, kau mau coba... hihihi... " Hanna seperti orang linglung tertawa aneh.


Tidak lama kemudian, seseorang masuk ke dalam ruangan tersebut dan menghampiri Aji.


" Maafkan saya tuan, sepertinya saya salah mengantar minuman, bisa saya ambil kembali botolnya yang belum terbuka, kalau yang sudah di minum itu gratis saja karena itu kesalahan saya " ucap sang waitress.


" Ambil saja, cepat... !!" sahut Aji.


Namun, saat sang waitress memegang botolnya dan hendak mengambilnya kembali, tangan Hanna menjegalnya.


" Hei... mau kau bawa kemana minumanku, simpan " ucap Hanna dengan mata membulat.


Sang waitress menatap Aji dan menunggu isyarat darinya.


" Bawa saja, cepat " Aji menarik lengan Hanna.


" Hei... lepaskan, dia mau mencuri minumanku, cepat kemarikan... " Hanna memberontak.


" cepat pergi... !!" pinta Aji pada sang waitress.


" Gawat... dia mabuk, bagaimana ini !!" gumam Aji.


Hanna melantur di kursinya, sesekali dia meninju Aji yang ada di sampingnya sambil memarahinya karena dia pikir Aji adalah Siwan.


Aji mengeluarkan hpnya dan mencoba menelpon seseorang.


" Hei... kau siapa, kenapa badanmu besar sekali... " Hanna menyentuh dan mencolek dada Aji, sehingga dada Aji jadi berdebar kencang.


" Hei... kau tampan, mau berkencan denganku, aku tidak ada pacar, emh... kemana ya dia, sebetulnya aku punya, tapi dia pergiiiiiiii jauuuhhhh sekali, mungkin, dia lagi cari pacar baru... hiks... " Hanna menjadi sedih.


Orang yang Aji telepon belum juga mengangkat teleponnya dari sebrang sana, Aji terlihat sangat kesal. Namun dia terus mencoba menelpon orang itu.


Dan, tiba - tiba, saat seseorang di sebrang sana mengangkat teleponnya...


" Hallo, ada apa Ji... ?" tanya orang di seberang sana...


" Hallo, Ji... ?" orang di seberang sana kembali memanggil Aji karena Aji tidak menjawabnya.


Apa yang terjadi saat itu....


Ternyata, saat itu bibir Hanna mendarat secara tiba - tiba di bibirnya hingga dia merasa terkejut dan tak mampu berkata - kata, ya... Hanna mencium Aji secara tiba - tiba membuat Aji mematung di kursinya dan tak menghiraukan orang yang sudah mengangkat teleponnya di seberang sana.