
Hari sabtu...
Tepatnya malam minggu, Hanna sudah berada di cafe dan bersiap untuk bernyanyi di atas mini stage.
Siwan yang baru datang di lokasi langsung di sambut Eriko dan di antarkan pada kursi khusus yang sudah Eriko siapkan untuk Siwan agar dapat melihat kekasihnya dari dekat.
Malam itu, sekitar pukul 19.20 wita, Hanna yang sedang bernyanyi lagu Mirrors bersama temannya merasa gugup karena Siwan terus menatap ke arahnya.
Hanna dengan sengaja memilih lagilu Mirrors - Justin Timberlake versi akustik untuk mengingatkan Siwan moment pertama kali mereka datang berkencan di Soul Cafe setahun yang lalu.
Siwan duduk sendirian di kursinya di temani secangkir kopi amerikano di mejanya.
Eriko tidak menemaninya, karena sesuai perjanjian dia tidak boleh mengganggu acara kencannya bersama Hanna sebagai hukuman karena telah membohongi Siwan malam itu.
Meskipun Eriko mengatakan kalau dia terpaksa karena takut Siwan salah paham, namun Siwan tidak mau mendengar apapun alasannya. Kalau tidak, dia bisa saja dengan gampangnya menarik uang investasinya di cafe atau bahkan mengakuisisi perusahaan lainnys milik Eriko yang menjadi satu - satunya mata pencahariannya setelah bercerai bersama istrinya.
Tentu saja Eriko tidak mau, setelah Aji mengatakan semuanya saat mendatanginya sebagai perwakilan dari Siwan, Eriko merasa hidupnya terancam.
Dan sebagai gantinya, Eriko akan mengatur acara kencan Siwan setiap minggunya agar tidak ada gangguan sama sekali yang datang pada mereka, Hanna pun hanya di izinkan menyanyi sampai jam 9 malam, yang tadinya biasanya dia menyanyi sampai jam 11 malam.
Selesai menyanyi, Hanna turun dan menghampiri meja Siwan untuk beristirahat sejenak.
" Minumlah... " Siwan menyodorkan satu botol air mineral yang sudah ia buka sebelumnya.
Hanna menerimanya dan langsung meminumnya.
" Kau belum makan, mau makan dimana ?" tanya Siwan.
" Terserah ahjussi saja... " ucap Hanna.
" Mau makan disini, atau di tempat lain ?" tanya Siwan kembali.
" Emh... terserah ahjussi saja !" jawab Hanna kembali.
" Kalau begitu kitu di luar saja !" Siwan pun mengajak Hanna pergi dari cafe Eriko.
Namun, sebelum pergi, Hanna sempat pergi ke toilet, lalu merapihkan riasan di wajahnya sedikit.
" Aish... kenapa aku jadi deg - degan gini ya, aku jadi ngerasa kaya orang yang baru pertama kali kencan lagi " gumam Hanna sambil menyentuh dadanya.
Beberapa menit kemudian, kini Hanna dan Siwan sudah berada di dalam mobil dan sedang mencari sebuah resto yang membuat selera makan mereka bangun, padahal Siwan ingin mengajaknya makan di salah satu restoran mahal yang ada di daerah sana, tapi begitu sampai di depannya Hanna langsung menolak. Padahal tadi saat di tanya Hanna menjawab terserah. Huh... ciri khas para wanita.
Dan, pilihan Hanna jatuh pada sebuah angkringan malam di pinggir jalan di dekat sebuah taman di daerah terdekat menuju kostan Hanna.
" Ahjussi, makan disana aja yuk, aku sebenernya belum pernah coba makan disana, sepertinya enak, lihat, rame banget " ucap Hanna yang masih belepotan antara berbicara santai dan formal saat bersama Siwan.
" Oke " Siwan pun menurutinya dan memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.
Siwan sebisa mungkin harus menuruti Hanna dan mendengarkan pendapat Hanna kali ini. Jangan selalu memaksa Hanna melakukan apapun yang dia tidak suka.
Begitulah kiranya nasehat yang Aji dan Austin berikan sebelum Siwan pergi berkencan malam ini bersama Hanna.
Di sebuah angkringan pinggir jalan malam itu, Siwan dan Hanna bebas memilih sendiri menu yang berjejer di atas meja, lalu menyerahkannya pada penjaga kasir dan menunggu makanannya sampai di meja mereka.
Saat sedang menunggu pesanan makanan tiba...
" Chagiya, aku ingin menyentuh rambutmu " ucap Siwan dengan ragu.
" Hihihi.... silahkan " Hanna menyembulkan kepalanya ke hadapan Siwan.
" Rambutmu terlihat berkilau, kau mewarnainya ?" tanya Siwan.
" Iya, tapi sebetulnya ini gagal, kak Reni tidak bisa di andalkan huft... " Hanna terlihat kesal.
" Reni ? temanmu?" tanya Siwan.
" Iya, dia yang dulu kerja di departement store, dia seniorku di konter, sekarang dia bekerja di hotel xxx, dan aku tinggal dengannya sekarang " jawab Hanna.
" Oh... begitu, apa sejak pertama kau pergi kau sudah tinggal dengannya ?" tanya Siwan yang masih membelai rambut Hanna yang duduk di depannya.
" Heemh... dia yang mengajakku tinggal bersama, tadinya aku minta di carikan kostan terdekat dari kantorku, kebetulan kostan kak Reni lumayan dekat, ya hanya 20 menit perjalanan dari rumah sampai ke kantor " jawab Hanna.
" Apa aku boleh tahu, kantormu dimana dan apa pekerjaanmu ?" tanya Siwan kembali, mengorek terus kehidupan Hanna yang baru.
" Aku sebetulnya masih bekerja di PT. Pratama Akur Mandiri, hanya saja sekarang aku bekerja di kantor pusat, bukan di lapangan " jawab Hanna.
" Oh... jadi, surat resaign itu... "
Deg... Hanna mulai menyadari bahwa Siwan sedang mengorek drama yang ia buat sendiri.
" Hehe... maaf, aku memaksa Satria untuk melakukannya, dan teman - temanku, mereka memang tidak tahu menahu, aku memberitahu mereka saat aku sudah berhari - hari tinggal di tempat baruku, maaf ya... jangan marah... " Hanna mengusap tangan Siwan secara refleks.
Siwan merasa terkejut melihat Hanna mau menyentuhnya kembali, meskipun dia hanya menyentuh tangannya, tapi dada Siwan langsung berdebar kencang.
" Baiklah, aku tidak akan marah, aku justru lega kau baik - baik saja, bisa bertemu lagi denganmu, aku sudah merasa sangat senang " ucap Siwan.
Dan saat pesanan makanan mereka sudah datang, mereka melanjutkan obrolan mereka sambil melahap makanan di depan mata mereka. Tanpa ada rasa canggung sedikitpun, Hanna berbicara pada Siwan seolah tidak terjadi apa - apa di antara mereka selama ini.
Selesai makan, mereka tidak langsung pulang.
Hanya berjalan - jalan dan mengobrol di bangku taman sebentar. Suasana di sekitar semakin malam bukannya semakin sepi, tapi justru malah sebaliknya.
Kebanyakan muda mudi yang sedang berkencan dan ada beberapa di antaranya mungkin para penjaja jasa tanda kutip yang sudah mulai beroperasi mencari para penikmat jasanya.
" Ahjussi... kenapa aku merasa ada yang sedang menatapku terus yaa, kok merinding begini... " ucap Hanna yang kini mereka sedang duduk di bangku taman tidak jauh dari angkringan malam tadi.
" Kau kedinginan ?" tanya Siwan yang hendak membuka mantelnya dan akan memberikannya pada Hanna.
" Entahlah... aku merasa ada yang menatapku dari kejauhan dari tadi, sudah ah... ayo kita pergi saja dari sini " ajak Hanna pada Siwan.
" Ini, pakailah dulu mantelku, sweatermu terlalu tipis, makanya kau kedinginan " ucap Siwan yang masih belum mengerti apa yang Hanna bicarakan saat itu.
Hanna dan Siwan pun berjalan menuju mobil dan masuk ke dalamnya.
" Ayo kita pergi dari sini... " ucap Hanna.
" Iya, baiklah, sebentar...!!" Siwan masih bersiap dan kini mulai menyalakan mesin mobilnya dan pergi dari lokasi angkringan malam tersebut.
Hanna masih terlihat pucat pasi, bahkan sepanjang perjalanan Hanna tidak berbicara sepatah katapun.
" Mau ku antar langsung pulang ?" tanya Siwan.
Hanna hanya menggelengkan kepalanya.
" Kau kenapa ? apa kau sakit ?" Siwan menyentuh kening Hanna untuk mengecek suhu tubuhnya.
" Tidak, ahjussi, kalau bisa jangan bawa aku pulang ke rumahku dulu, ada sesuatu yang mengikutiku di belakang, bawa aku kemana saja " Hanna mulai terlihat gelisah.
Siwan menatap ke belakang lewat kaca spion, namun tidak ada yang mengikuti mereka, baik kendaraan maupun seseorang.
" Ahjussi, fokus saja menyetir !" ucap Hanna.
Siwan yang tidak peka menuruti permintaan Hanna tanpa banyak bertanya - tanya. Hanya saja dia bingung, dia harus membawa Hanna kemana ? ke hotel ? ke villa ? atau pulang ke rumahnya ?
Keringat dingin bercucuran di pelipis Hanna malam itu.
Setelah menyetir lumayan cukup jauh, Siwan kembali bertanya karena merasa kebingungan.
" Chagiya, pulang ke rumahku saja ya, nanti bi Asih yang akan mengurusmu, kau sepertinya sakit " ucap Siwan.
Mendengar nama bi Asih di sebut oleh Siwan, Hanna jadi mengingat sesuatu.
" Ah... iya, bi Asih, bawa aku padanya " ucap Hanna.
Satu jam kemudian....
Saat Siwan turun dari mobilnya dan berniat membukakan pintu untuk Hanna, namun, saat Siwan membuka pintunya, Hanna menguncinya dari dalam.
" Kenapa den ?" bi Asih menghampiri Siwan, di susul Aji.
" Chagiya... buka pintunya " Siwan mengetuk kaca jendela berkali - kali, namun Hanna tak bergeming.
Hanna hanya fokus melihat lurus ke depan dan...
" Hihihihihihi..... " Hanna tertawa cekikikan di dalam mobil sendirian.
" Astaga... dia kerasukan " ucap Aji.
" Apa.... ?" Siwan terkejut mendengarnya.
" Kita harus mengeluarkan dulu non Hanna dari dalam den " sahut bi Asih.
Aji dan Siwan memutar otak agar pintu mobilnya terbuka, dengan cara apapun mereka lakukan.
Siwan terlihat panik, terlebih lagi saat melihat Hanna tiba - tiba menangis terisak - isak, lalu tidak lama kemudian dia tertawa kembali, dan, Hanna pingsan di dalam mobil.
Beberapa menit kemudian, Aji berhasil membuka pintu mobil Siwan secara paksa.
Siwan langsung membawa Hanna masuk ke dalam rumah dan ia tidurkan di kamar tamu di lantai 2.
" Bi, apa benar dia di rasuki mahluk halus ?" tanya Siwan.
" Engga kok den, dia hanya di tempeli ' Ji, bawakan air segelas " ucap bi Asih.
" Kopi, atau teh ?" dengan bodohnya Aji bertanya.
" Aer selokan... ya air putih lah " bi Asih nampak kesal.
Tidak lama kemudian Aji kembali ke kamar dengan membawa segelas air putih dan menyerahkannya pada bi Asih.
Lalu, bi Asih mulai menjampi - jampi air putih yang berada di tangannya, setelah itu mulai memercik sedikit airnya pada tubuh Hanna dari atas sampai ke ujung kaki. Lalu bi Asih mencoba membangunkan Hanna dengan mengoleskan minyak angin miliknya yang selalu di bawa kemana - mana, bi Asih mengoleskan pada pelipis dan pangkal hidung Hanna.
Tidak lama kemudian Hanna mulai bergerak dan membuka matanya.
" Dimana ini... ?" Hanna bertanya dengan lirih dan terlihat lemas.
" Chagiya, kau di rumahku " jawab Siwan.
" Bantu dia duduk !!" seru bi Asih.
Siwan pun membantu Hanna untuk bangkit dan menyandarkannya pada sandaran ranjang.
" Ini minumlah... " bi Asih memberikan segelas air putih yang kini tersisa hanya setengah gelas.
" Aku kenapa bi ?" tanya Hanna.
" Gapapa, non Hanna baik - baik aja kok !!" jawab bi Asih.
Siwan menatap bi Asih dengan tatapan heran, namun bi Asih memberinya isyarat agar Siwan tetap bungkam.
" Udah malem, sebaiknya non tidur disini aja ya, bahaya kalau keluar malam - malam gini, apalagi non lagi pms ya... "
" Kok bi Asih tahu... " Hanna merasa terkejut.
Namun bi Asih hanya tersenyum.
" Udah, nurut sama bibi, mendingan non malam ini tidur disini aja ya, kalau gitu bibi keluar dulu yaa " ucap bi Asih.
Bi Asih pun keluar dari kamar tamu sambil menyeret Aji keluar.
" Chagiya, bagaimana sekarang, apa ada yang kau rasakan lagi ?" tanya Siwan yang masih berada di kamar menemani Hanna karena merasa khawatir.
" Aku... emh... ini, pundak dan punggungku kenapa tiba - tiba sakit dan pegal ya... " Hanna mencoba memijat pundaknya sendirian.
" Mau ku bantu pijatkan ?" tanya Siwan.
" Tidak, tidak usah ahjussi, sudah malam, kau tidur saja di kamarmu !!" ucap Hanna.
" Tidak, tidak mau, aku akan menemanimu disini, aku akan tidur di sofa " jawab Siwan.
" Memangnya kenapa, ahjussi, aku tidak akan kabur lagi " sahut Hanna.
" Bukan itu, masalahnya tadi di mobil kau juga mengunci pintunya dari dalam, aku takut kau melakukan hal serupa " timpal Siwan.
" Astagfirullah... aku baru ingat sekarang, ahjussi apa tadi aku bertingkah aneh ?" tanya Hanna.
" Ya, kau sangat aneh, tapi bi Asih bilang kau hanya di tempeli, untungnya tidak di rasuki " jawab Siwan.
" Aduh... aku memang sedang pms, malah keluyuran di taman malam - malam, bodoh... " Hanna menyesali perbuatannya sendiri.
" Sudahlah, kau tidur saja, aku akan menjagamu " Siwan mulai turun dari ranjang dan duduk di sofa.
" Ahjussi, aku ingin mencuci muka dan menggosok gigi " ucap Hanna.
" Sebentar... " Siwan pergi ke kamar mandi dan melihat keranjangnya kosong.
" Aku minta Aji membawakan odol dan sikat gigi dulu... " Siwan mengeluarkan hpnya hendak menelepon Aji, namun Hanna mencegahnya.
" Ahjussi, sudah malam, kasihan pasti bli sudah istirahat, kita ambil saja berdua " ucap Hanna.
Siwan pun membawa Hanna ke dapur, mereka berjalan berdampingan, Siwan tidak pernah melepas genggamannya dari tangan Hanna.
Namun, Siwan merasa kebingungan, saat membuka semua laci dan lemari dapur dia tidak dapat menemukan odol dan sikat gigi yang baru.
" Aku tidak tahu dimana bi Asih menyimpannya, tunggu sebentar... "
" Ahjussi, jangan bangunkan bi Asih, di kamar mandimu aku pernah melihat stok odol dan sikat gigi " Hanna menarik tangan Siwan ke atas.
Namun di depan pintu kamar Hanna berhenti dan menyuruh Siwan masuk ke dalam.
" Kau ikutlah, aku tidak mau terjadi hal mengerikan lagi padamu seperti tadi "
Hanna pun terpaksa mengikuti langkah Siwan sampai ke dalam kamar mandi. Dan ternyata memang benar, di buffet wastafel Siwan memang selalu ada stok odol dan sikat gigi baru di dalamnya.
" Disini saja, aku akan menunggumu " ucap Siwan.
Hanna pun menurutinya dan menggosok gigi bersama Siwan berdampingan. Setelah itu Hanna mencuci wajahnya dengan sabun wajah milik Siwan.
" Sejak kapan ahjussi suka memakai face wash ?" tanya Hanna.
" Sejak kau pergi meninggalkanku, aku jadi sering melakukan hal - hal yang kau lakukan setiap hari " jawab Siwan yang sedang fokus menggosok wajahnya dengan sabun wajah.
Setelah selesai, mereka berdua keluar dari kamar mandi.
" Ahjussi... pinjami aku baju "
" Kau pilih saja sesukamu "
Hanna mulai mengubek isi lemari Siwan. Baru kali ini dia melihat isi lemarinya lagi, semua tertata dengan rapih. Tidak seperti lemari di rumahnya, yang tentunya lebih rapih karena jarang ada baju yang di setrika dan tertata di dalamnya alias kosong. Hahaha...
" Pasti hasil karya bi Asih " ucapnya lirih.
Tiba - tiba Siwan mendekat pada Hanna dan memeluknya dari belakang. Membuat Hanna terkejut dan melongo menatap Siwan lewat cermin lemari bajunya.
" Aku merindukanmu, chagiya " ucap Siwan.
Jeng... jeng... jeng....
Bersambung...