
Malam hari, di mansion klasik milik raja vampire berada....
Setelah makan malam bersama, Mr. Im mengajak Siwan, bu Shinta, dan Hanna untuk berbincang bersama di ruang kerjanya.
Hwan di jaga oleh bi Lastri, Aji dan Elsa.
Mereka bermain di ruang keluarga di perhatikan pula oleh pengawal dan maid yang bekerja di mansion tuan Im.
Di sebuah ruangan, terdapat sofa panjang melingkar memutari sebuah meja kecil berbentuk bundar.
Beberapa cangkir berisi teh maupun kopi sudah tersedia di atasnya.
Suasana tegang melingkupi Hanna, yang baru pertama kalinya ia di hadapkan dengan situasi semacam ini.
Hanna melirik wajah suaminya yang terlihat masih memendam rasa kesal.
Dan beralih pada ibu mertuanya yang juga berwajah tegang.
"Baiklah, kita mulai saja pembicaraan kita malam ini, aku akan menggunakan bahasaku saja, karena aku tahu, cucu menantuku pun sebenarnya begitu memahami bahasa negara yang sedang kau pijak di kakimu, benar begitu bukan?" Mr. Im menatap Hanna dan menunggu jawabannya.
"Sudahlah, langsung ke intinya saja !!" sela Siwan, membela istrinya.
"Bagaimana, Hanna, apakah bisa kita mulai?" tanya Mr. Im, terlihat begitu menekan Hanna dengan tatapannya.
"A-aku, memang belajar bahasa Korea, aku bisa memahami, tapi aku terlalu takut untuk menggunakannya karena takut terdengar tidak sopan, aku masih kesulitan membedakan bahasa formal dan non formal," ucap Hanna, menggunakan bahasa Korea dengan perlahan.
"Aku akan menganggap itu hal wajar untukmu," Mr. Im tersenyum penuh.
Namun, Hanna malah merasa tidak nyaman melihatnya, seolah mengandung sebuah arti tertentu yang tersembunyi di baliknya.
Hanna hanya menatapnya dan menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, mari kita mulai pembicaraan ini, Siwan, tinggallah disini, lanjutkan posisiku di perusahaan kita," pinta Mr. Im.
"Tidak, aku tidak mau, kau berikan saja posisimu pada orang yang memang mengharapkannya, " ucap Siwan.
"Keluargamu, aku bisa memberikan semua ini untukmu dan mereka, kenapa kau masih terus menolakku?" tanya Mr. Im.
"Aku tidak butuh hartamu dan kekuasaan darimu !!" pekik Siwan, kedua bola matanya membulat dengan tegang.
"Dan lagi, jangan pernah campuri urusan keluargaku, kau hanya menempatkan mereka pada posisi berbahaya saja, !!" seru Siwan, kesal.
"Aku, kau tidak malu mengatakan itu di depanku? lalu bagaimana dengan dirimu? bukankah kau yang selalu membuat kedua wanita di dekatmu itu selalu dalam posisi berbahaya, mereka menderita karena rasa cemas, apa kau tidak menyadari itu?" ujar Mr. Im.
Lidah Siwan seakan kelu, ia tidak menyangkalnya karena memang seperti itu faktanya.
Bu Shinta dan Hanna hanya saling berpandangan.
"Tinggalah disini, sampai aku mati, setelah itu, kau bebas melakukan hal apapun, mau kau berikan pada orang lain atau saudaramu, semua hartaku ini, aku tidak akan mencampurinya lagi setelah aku mati," ucap Mr. Im.
Seketika Siwan menatapnya nyalang, "enteng sekali ia berkata seperti itu, ck... " gumamnya.
"Aku tidak pernah melarangnya, tapi, semua keputusan di hidupnya, hanya Siwan yang berhak menentukannya !!" ucap bu Shinta.
Sesaat, mereka di sibukkan dengan pikiran masing-masing.
Bahkan Hanna yang ikut terseret ke dalam masalah ini pun terus berpikir dengan keras, bertanya terus menerus di dalam hatinya, masalah apa yang sebenarnya sedang terjadi di keluarga ini.
"Aku akan membantumu mengungkap kasusmu, tanpa harus kau mengotori tanganmu, bagaiamana?" Mr. Im sepertinya berhasil memberikan penawaran terbaik untuk Siwan, buktinya, Siwan langsung terkejut dan menatap wajah Mr. Im dengan sorot mata yang berbeda, tidak seperti tadi.
Namun, "kau pikir, aku tidak mampu melakukan semuanya sendirian... " Siwan tersenyum kecut.
"Kau hanya akan membuat rasa kebencian yang baru, yang akan kau terima dari saudarmu, kenapa harus repot-repot, semua bukti sudah ada di tanganku, apa yang kau khawatirkan lagi? kau, tidak bisakah kau mempercayaiku satu kali saja, di akhir sisa hidupku ini, dan bisakah aku memelukmu dan memanggilmu anakku, bukan cucuku !!"
Deg.... bu Shinta tercekat, ia tidak menyangka hal yang paling ia benci kini kembali terdengar lagi. Dadanya berdebar dengan kencang karena amarah yang ia rasa saat itu.
Bu Shinta bangkit dari kursinya dengan tubuh gemetar, kemudian ia melangkahkan kakinya dan pergi menuju pintu keluar ruangan itu dengan perasaan sedih.
"Chagiya, temanilah ibu, kumohon !!" ucap Siwan.
Hanna menganggukkan kepalanya, lalu memberi hormat pada Mr. Im sebelum ia pergi menyusul ibu mertuanya.
Sebelum tiba di dalam kamar mertuanya, Aji maupun orang-orang yang berada di lantai satu merasa cemas melihat Hanna berlarian menyusul mertuanya.
Aji sebetulnya sudah bangkit, ingin menyusulnya, namun Elsa mengingatkan bahwa dia tidak boleh ikut campur masalah keluarga mereka lebih jauh.
Di dalam kamar bu Shinta...
Hanna perlahan mendekati ibu mertuanya yang sedang duduk di bibir ranjang sambil menangis tersedu - sedu, tanpa berani bertanya, Hanna hanya mengusap punggung mertuanya seraya memberinya kekuatan.
Bu Shinta mengusap air matanya dengan kedua telapak tangannya.
Hanna kemudian bangkit untuk mengambilkan tissue yang berada di meja rias.
Setelah agak tenang, setelah meneguk air putih, bu Shinta mulai angkat bicara.
"Nak, sudah waktunya kau tahu fakta yang sebenarnya," untuk sesaat, bu Shinta menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.
"Mr. Im, dia adalah ayah kandung Siwan, dia bukan kakeknya. Dan, dia memang ayah mertuaku dulu !!"
"Dulu, aku menikah dengan anak Mr. Im Jaehyun, nama suamiku dulu Im Jaewon, aku dan Jaewon oppa saling tertarik pada pandangan pertama, pertemuan kami di Bali waktu itu, selama dua bulan kami saling mencoba mengenal lebih dalam satu sama lain, dan pada bulan ketiga, dia melamarku, saat itu dia pergi ke Bali awalnya untuk berlibur, namun, pada akhirnya dia membangun usaha resort bersama ayahnya, dan dia di tunjuk untuk mengembangkannya di Bali bersama asistennya. Setelah menikah, aku baru di perkenalkan pada keluarganya, ayahnya Mr. Im dan ibunya Mrs. Park, ayahnya sangat welcome padaku, berbeda dengan ibunya, sejak awal dia tidak menyukaiku karena aku bukan dari keluarga berada, namun, meskipun begitu, aku tetap bersabar mencoba mengambil hati ibu mertuaku, aku sering mengunjunginya saat ia datang ke Bali, aku pun mulai belajar berbahasa Korea agar aku bisa berkomunikasi lebih lancar dengannya," bu Shinta bangkit, dan pindah duduk di sofa. Hanna pun mengikutinya.
"Sudah menikah selama 5 bulan, aku belum juga di karuniai anak, setelah berkonsultasi dengan dokter, suamiku mengalami sedikit masalah dengan spermanya, dan dia dengan sabar mau mengikuti arahan dokter untuk bolak balik mengechek kesehatannya demi mendapatkan keturunan, suatu hari, aku di bawa suamiku ke Korea karena dia harus memperpanjang visa miliknya, selama beberapa bulan aku tinggal disana karena suamiku sedang di sibukkan dengan pekerjaannya, bisnis barunya bersama keluarga, aku dan suamiku tinggal di mansion ini, karena ia ingin membuatku semakin dekat dengan ibu mertuaku. Namun, setiap mertuaku pergi ke luar negeri, dan suamiku mengurus bisnis barunya di luar kota Seoul, aku merasa kesepian tinggal di mansion besar ini tanpa memiliki teman mengobrol, karena aku belum lancar berbahasa Korea, hanya Mr. Im yang mengajakku berbincang saat ia ada di rumah, itupun sangat jarang, kami mengobrol menggunakan bahasa Inggris." Bu Shinta terlihat melamun sejenak.
"Karena kedekatan kami, Mr. Im mulai tertarik padaku, dia berkata,'seandainya, kau bukan menantuku' aku tidak mengerti pada awalnya apa maksud di balik perkataannya itu, aku tak mengindahkannya, karena kupikir, mungkin tuan Im menganggapku sebagai putrinya, ya, mungkin dia ingin memiliki seorang putri di kehidupannya, tapi..... " bu Shinta tercekat, ia merasakan dadanya menjadi sesak.
"Bu, tidak usah di lanjutkan lagi, aku takut ibu tidak kuat mengingat masa lalu ibu dan menceritakannya padaku, ibu istirahat saja !!" ucap Hanna, merangkul pundak mertuanya.
Flashback...
Malam itu, musim hujan sedang melanda kota Seoul, angin kencang beserta kilat dan petir turut serta meramaikan suasana malam di tengah riuhnya air hujan yabg sangat deras.
Suami bu Shinta, Im Jaewon memberitahunya bahwa ia tidak bisa pulang malam itu karena di luar sangat berbahaya.
Bu Shinta muda pun makan malam sendirian karena ibu mertuanya belum kembali dari Singapura sejak dua hari yang lalu, dan ayah mertuanya sedang sibuk di ruang kerjanya.
Selesai makan malam, bu Shinta berniat untuk mengantarkan makan malam ke ruang ayah mertuanya, karena sejak tadi Mr. Im menolak makan malam yang di bawakan oleh maid ke ruang kerjanya. Ia merasa khawatir, takut mertuanya sedang tidak sehat.
Tok... tok... tok...
Bu Shinta membuka pintu ruang kerja mertuanya dan mendorongnya perlahan, dengan penuh kehati-hatian ia memegang nampan yang di atasnya ada beberapa mangkuk lauk pauknya dan nasi.
Namun, saat masuk ke dalam ruang kerjanya, bu Shinta tidak melihat adanya Mr. Im di dalam, ia pun menaruh nampannya di atas meja dekat sofa.
Saat bu Shinta hendak kembali keluar, saat ia memutar badannya, ia di kejutkan oleh kehadiran seseorang.
"Astaga... ayah !! a-aku mengantarkan makan malam untukmu, " ucap bu Shinta muda.
Namun, Mr. Im tidak menyahutnya. Ia hanya menatap menantunya dengan tatapan lembut namun penuh gairah.
Ada yang aneh dengan ayah mertuanya, pikir bu Shinta saat itu, ia mengendus lebih dalam bau yang ada di sekitar nya. Ternyata bau minuman beralkohol, dan juga, ia baru menyadari mata ayah mertuanya sangat merah.
"Aku kedinginan, temani aku malam ini !" ucap Mr. Im muda, lalu memeluk bu Shinta sangat erat.
Bu Shinta memberontak, berkali-kali ia mendorong tubuh Mr. Im agar menjauh, namun, usahanya selalu gagal, tenaga Mr. Im malah semakin menjadi kuat seiring dengan perlawanan dari bu Shinta.
"Ayah, kau tidak pantas berbuat seperti ini padaku, aku ini istri dari anakmu, lepaskan aku... !!" pekik bu Shinta.
"Shinta, kau seharusnya menikah denganku, bukan dengan dia, aku lebih pantas untukmu," ucap Mr. Im.
Mr. Im mengangkat tubuh bu Shinta menuju sebuah sudut ruangan, meskipun pukulan tak hentinya di layangkan oleh menantunya, Mr. Im tetap menahan rasa sakit itu dan sekuat tenaga membawa wanita di atas pundaknya yang meronta - ronta.
"Turunkan aku ayah, kumohon, lepaskan aku !!" bu Shinta mulai lemas, ia menangis tersedu-sedu.
Tidak ada yang mampu mendengar teriakannya di tengah hujan deras dan petir yang menggelegar berkali-kali yang melanda kawasan kota Seoul malam itu.
Di balik sebuah rak buku, terdapat sebuah kunci digital menempel, ketika Mr. Im memencet beberapa kali tombol yang menjadi paswordnya, tak lama kemudian rak buku tersebut bergeser ke samping kiri beberapa senti, sebuah pintu rahasia menuju ruang tersembunyi di dalam ruang kerja Mr. Im terbuka.
Mr. Im masuk ke dalamnya lalu kembali memencet sebuah tombol pada sebuah lokasi tesembunyi untuk menutup kembali pintu ruang rahasia tersebut.
Ruang tersebut mirip sebuah ruang kamar, ruangan yang sering di pakai tempat tidur Mr. Im saat sedang malas bersama dengan istrinya.
Sebuah ruang kamar tidak terlalu besar, terdapat kamar mandi kecil dengan shower dan sebuah bathtub di dalamnya.
Mr. Im setengah membanting tubuh bu Shinta ke atas ranjang. Ia kemudian membuka kancing kemejanya dan celananya satu persatu.
Bu Shinta yang sudah merasa kehilangan tenaga hanya bisa menangis dan terus mundur di atas ranjang mencoba menghindari Mr. Im yang terus mendekat padanya dengan keadaan tanpa sehelai benangpun yang menempel di tubuhnya.
Dan kini, giliran ia yang dilucuti pakaiannya secara paksa oleh ayah mertuanya itu.
Ia menangis semakin menjadi-jadi.
"Menangislah sepuasmu, tidak akan ada yang bisa mendengar suaramu walaupun kau berteriak sampai tenggorokanmu sakit dan berdarah, " ucap Mr. Im, kemudian mulai menjamah tubuh bu Shinta.
Mulai dari ujung rambut, turun ke leher, mencium dan meresapi wangi tubuh dan rambutnya yang berasal dari sabun dan shampoonya. Meskipun sudah bercampur dengan keringat, Mr. Im begitu menikmati wewangian yang menempel pada menantunya yang sudah menjadi candu baginya selama ini tanpa sepengetahuan siapapun. Ia sudah begitu terobsesi oleh bu Shinta untuk waktu yang cukup lama.
Mr. Im mulai mencium bibir bu Shinta dengan paksa dan menyesap lidahnya dan meninggalkan bertes-tetes salivanya di dalam mulut wanita yang ada dalam kungkungannya saat itu.
Sudah terlambat bagi bu Shinta muda untuk memberontak, tenaganya kalah kuat dengan Mr. Im yang sejak tadi mengunci tubuhnya dengan tangan dan kakinya.
Hingga pada akhirnya, Mr. Im berhasil menyatukan miliknya dan wanita yang adalah menantunya itu.
Entah dalam keadaan sadar ataupun tidak, perbuatan ayah mertuanya itu sangatlah tidak bermoral, ia mampu meciptakan luka dan rasa trauma yang berkepanjangan pada menantunya itu.
Rasa bersalah terus menghantui bu Shinta, merasa bersalah karena tidak bisa menjaga kehormatannya sebagai seorang istri saat suaminya tidak di sampingnya.
Bu Shinta muda terus menangis, ia masih berbaring di atas ranjang ditutupi oleh sehelai selimut menghadap ke sisi sebelah kanannya.
Sedangkan pria di belakangnya kini sudah tertidur lelap karena sudah mulai merasa lelah dengan aktifitas gila yang baru saja ia lakukan. Ia bahkan tak memperdulikan wanita yang ada di sampingnya yang merintih dalam tangisnya di malam hari yang semakin larut, hujan pun sudah mulai surut.
Bu Shinta mulai menghentikan tangisnya, ia lalu memunguti pakaiannya yang berserakan lalu memakainya kembali.
Ia mencoba mencari tombol pintu dari dalam kamar, meskipun hanya samar-samar, namun ia masih ingat letaknya tidak jauh dari dekat lukisan yang ada di sudut dinding dekat pintu ruangan itu. Dan untungnya ia berhasil menemukannya. Ia pun keluar dari ruang kerja ayah mertuanya dan kembali ke kamarnya, ia langsung menuju kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin di malam hari itu. Tak peduli udara dingin di luar sana, ia hanya ingin membersihkan dirinya dengan air yabg dingin untuk menyadarkannya, apakah mungkin kejadian yang terjadi beberapa menit yang lalu adalah mimpi buruknya, namun, saat tubuhnya mulai menggigil kedinginan, ia tersadar kalau semua yang terjadi tadi itu adalah nyata. Ia kembali menangis di bawah kucuran air dingin di malam hari yang sudah mulai tenang karena hujan sudah benar-benar reda di luar sana.
Flashback off