
Malam itu...
Di sisi lain, di sebuah kamar di samping kamar Siwan dan Hanna.
Pat dan Austin nampak sedang berbincang dengan santai sambil menikmati seteguk demi seteguk wine pada gelas masing - masing.
" Pat, di Amrik, kau tinggal dengan siapa ?" tanya Austin.
" Aku, sendiri menyewa sebuah apartemen kecil, kau tahu, biaya sewa di sana sangat mahal, bisa menyewa sebuah tempat kecil saja aku sudah merasa beruntung " jawab Pat.
" Apa agency mu tidak memfasilitasi mu ?" tanya Austin.
" Tidak semua, lagi pula, aku masih merintis karir ku dari awal lagi di sana " ucap Pat.
" Kau pernah bertemu dengan Simon, dia tinggal di sana kan ?" tanya Austin dengan tatapan aneh.
" Cukup sering, kami seringkali makan siang atau makan malam bersama, dia bilang ingin betemu denganmu " jawab Pat.
" Oh.. begitu ya, untuk apa, tidak penting juga " sahut Austin lalu menyeringai dan meneguk habis minuman di gelasnya.
" Kau mau tambah lagi ?" tanya Pat.
" Tidak, aku sudah cukup banyak minum, aku ingin tidur saja !!" ucap Austin lalu beranjak dari kursinya.
Saat dia baru saja berdiri, tiba - tiba dia merasa pusing dan hampir tersungkur, untung saja Pat yang melihatnya buru - buru menahannya.
" Lepaskan aku, pergi sana... kau pasti lebih senang bersamanya kan ?" ucap Austin dengan nada kesal.
" Os, whats wrong with you ?" tanya Pat merasa heran.
" Ssssttttt diam, jangan banyak bertanya, cepat kau pergi saja ke pelukannya sana, dia pasti lebih baik dariku, semuanya, segalanya... " ucap Austin lalu menepis tangan Pat dari tubuhnya.
" Os, kau terlalu banyak minum, ayo ku antar kau ke kamar !!" ucap Pat, lalu memapah Austin yang terus meracau membandingkan dirinya dengan Simon.
Simon adalah pria yang sempat menyatakan cintanya berkali - kali pada Pat sejak jaman dia sekolah dulu, namun, karena di hati Pat hanya ada Austin, maka Pat tidak pernah sekalipun memberikan hatinya pada Simon, meskipun sebetulnya dia pernah menjalin hubungan dengan Simon, hanya sebentar, itu pun karena Pat sedang marahan dengan Austin, tapi Pat selalu berhasil menumbuhkan kembali rasa cintanya pada Austin, semarah apapun dia, Pat selalu mencintai Austin seorang.
Sesampainya di kamar, Pat membaringkan tubuh Austin di atas ranjang. Lalu ia membuka sendal dan menyelimuti Austin. Pat menatap wajah Austin yang masih meracau dengan berbagai umpatan yang keluar dari mulutnya. Walaupun dia sudah menutup matanya, Austin masih belum juga tenang dan tertidur.
Lalu Pat yang duduk di sampingnya mengelus - elus kepalanya dan menepuk - nepuk dada Austin seraya menenangkannya. Dan, akhirnya, Austin pun tertidur dengan lelap.
Pat mengusap air mata di pipinya, setelah memastikan Austin tertidur dengan lelap, ia pun beranjak menuju ranjang kedua yang tidak jauh dari samping ranjang Austin.
Pat tersenyum sambil berbaring, " hemh... kak Wan sudah merencanakan semuanya, dia sengaja memesan kamar dengan 1 ranjang di kamar sebelah " ucap Pat, lalu, dia pun mencoba untuk tertidur. Ia menyampingkan tubuhnya ke arah Austin. Sebelum menutup mata, ia menatap Austin dengan tatapan sendu, tangannya mencoba meraihnya dari kejauhan, namun, ia menarik kembali tangannya dan menepis semua perasaan di hatinya saat itu, lalu memejamkan matanya dan tertidur.
Sedangkan di kamar lain, di kamar Aji dan Abdul, mereka sudah memasuki dimensi lain, semenjak masuk ke dalam kamar, mereka berdua merebahkan dirinya di atas ranjang hotel yang empuk dan berlomba memasuki dunia mimpi yang indah.
Pukul 01.00 wita, Hanna terbangun dari tidurnya karena merasa kedinginan, tubuhnya, saat itu hanya di lapisi oleh selimut tebal.
Hanna melihat Siwan di sampingnya pun tertidur tanpa menggunakan sehelai pakaian pun di atas tubuhnya. Ia kemudian mencoba mengingat kembali kejadian sebelum ia tertidur pulas. Saat teringat, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
" Ya ampun, aku melakukan nya lagi' bisik Hanna di dalam hatinya ' tapi untung aku masih belum melakukannya secara langsung " bisik Hanna kembali.
Hanna mencari kimono yang tadi di pakai oleh Siwan, ternyata ada di lantai tidak jauh dari ranjangnya.
Ia pun mengambilnya, mengibas - ngibasnya beberapa kali lalu memakainya. Sebetulnya masih ada satu baju bersih di tasnya, hanya saja baju itu akan ia gunakan saat pulang nanti.
Setelah memakai kimono handuk tersebut, Hanna merasa terkejut saat Siwan memeluknya dari belakang.
" Kau mau kemana ?" tanya Siwan.
" Ahjussi, aku tidak akan kemana - mana, aku hanya kedinginan saja." Jawab Hanna lalu kembali menghampiri Siwan di atas ranjang.
" Aku pun kedinginan, chagiya, dan aku kehausan !!" ucap Siwan.
Hanna tersenyum, lalu beranjak dari ranjangnya dan mengambilkan segelas air putih untuk Siwan dan menyerahkan padanya yang sedang bersembunyi di balik selimut.
" Terima kasih !!" ucap Siwan.
" Masih terlalu pagi, ayo tidur lagi... " ucap Hanna.
Lalu Siwan menarik tubuh Hanna, dan memeluknya sangat erat, mereka berpelukan dengan mesra di bawah selimut.
" Ahjussi... " ucap Hanna.
" Hemh... " jawab Siwan.
" Happy birth day... !!" ucap Hanna lalu mencium kening Siwan.
Siwan menengadah kan kepalanya menatap wajah Hanna, lalu berkata " happy first anniversary !!" dan Siwan pun mencium bibir kekasihnya.
Mereka kembali bermesraan di bawah selimut sambil sesekali bercanda tawa.
Pukul 02.00, Austin terbangun dari tidurnya, perlahan, ia membuka matanya dan berkeliling menatap langit - langit kamar di atas kepalanya.
Ia mencoba mengingat kembali kejadian sebelum ia masuk ke dalam kamarnya.
Lalu, ia menoleh pada ranjang yang ada di sampingnya, dimana Pat sedang tidur lelap tanpa memakai selimut.
Austin beranjak dari ranjangnya dan berjalan menuju Pat, seraya hendak menyelimuti nya.
Namun, Pat seperti merasakan gerakan - gerakan kecil yang di lakukan oleh Austin saat itu.
Ia pun membuka matanya, lalu, menarik lengan Austin yang baru satu langkah hendak menjauh darinya.
" Os... " ucap Pat perlahan.
" Yes... i'm here !!" jawab Austin lalu kembali mendekat dan duduk di samping Pat.
Pat terbangun, lalu memeluk Austin sambil menangis.
Austin pun memeluknya dengan erat, mengelus kepala dan rambutnya, lalu, saat Pat menatap wajahnya, ia mengecup bibir Pat yang basah karena air mata.
Austin menyeka air mata yang membasahi pipi dan bibir Pat, lalu mereka kembali berciuman dengan penuh nafsu. Mereka berdua sebetulnya masih saling mencintai satu sama lain, mereka saling merindukan.
Dengan perlahan Austin menyentuh tubuh Pat lalu membuka bajunya. Ia pun membuka baju dan celananya. Dalam hitungan detik, kini mereka sudah saling menanggalkan pakaian mereka di lantai, lalu, mereka kembali melakukan sesuatu di bawah selimut dengan penuh nafsu dan gairah. Mereka memang sudah saling merindukan sentuhan satu sama lainnya. Mungkin, ini merupakan malam yang kembali romantis dan penuh kenangan bagi mereka berdua sebelum akhirnya harus kembali berpisah karena jarak dan pekerjaan.
Masih pada pukul 02.00 wita, di sisi lain, di kamar Siwan dan Hanna.
" Ahjussi, aku sudah menyiapkan sebuah kado untukmu, tapi, itu ada di rumah. Hihi... " ucap Hanna yang kini sedang berbaring dan berada dalam pelukan Siwan.
" Tidak apa, cukup kau selalu di sampingku, sudah merupakan kado terindah dalam hidupku !!" sahut Siwan.
" Aku mencintaimu, ahjussi !!" ucap Hanna.
" Aku mencintaimu juga, chagiya !!" ucap Siwan lalu mengecup kening Hanna.
Pukul 05.30 wita, Hanna sudah berada di kamar mandi, di bawah pancuran air seraya membersihkan dirinya kembali.
Siwan masih tertidur dengan pulas di atas ranjangnya. Ketika selesai mandi dan sudah memakai baju, Hanna membuka tirai kamar hotelnya bersiap menyambut cahaya mentari yang mulai akan menampakkan biasnya di atas langit.
Lalu ia kembali menghampiri Siwan dan menggodanya. Ia mengibaskan ujung rambutnya yang masih basah pada wajah Siwan.
" Hihihi... bangun, cepat mandi !!" ucap Hanna terus menggoda Siwan agar membuka matanya.
" Kau, jahil sekali... " ucap Siwan lalu menarik tubuh Hanna dan menindihnya kembali sambil menggelitik perutnya.
Hanna tertawa terpingkal - pingkal hingga berkata ampun berulang kali karena sudah tidak kuat menahan rasa geli yang di buat oleh Siwan.
Beberapa menit kemudian, Siwan pun beranjak dari atas ranjangnya menuju kamar mandi setelah menutupi bagian tubuhnya dengan handuk kecil yang Hanna bawa dari kamar mandi.
Saat Siwan sedang mandi, Hanna membantu memisahkan dan melipat seprai, selimut dan sarung bantal agar pegawai hotel tinggal mengangkutnya saat membersihkan kamarnya, dan mengganti semuanya dengan yang baru.
Lalu ia menyeduh dua gelas kopi sachetan dan menaruhnya di atas meja untuknya dan Siwan.
Saat cahaya mentari sudah mulai menampakkan kilaunya, Hanna berjalan menuju balkon dari kamarnya.
Ia menghela nafas dan menghembuskannya perlahan. Matanya begitu berbinar melihat pemandangan yang sangat indah di hadapannya.
Deburan ombak dan pantai yang begitu luas, nampak jelas terdengar dan terlihat dari atas balkon kamar tempatnya menginap di hotel.
" Ekhem... "
Terdengar suara seorang pria di sebelah nya. Saat ia menoleh ke sebelah kirinya, ternyata Aji sedang berada di balkon kamarnya sambil membawa secangkir kopi di tangannya.
" Pagi, bli... !! si Dul, pasti belum bangun kan ?" tanya Hanna, berjalan mendekat pada Aji.
" Yap... dia sangat kelelahan sepertinya." Jawab Aji.
Mereka berdua menikmati sentuhan hangat cahaya mentari yang mulai menusuk ke dalam pori - pori.
" Suasana pagi yang sangat indah ya, menyambut sinar mentari dan pemandangan ombak dan pantai yang sangat tenang... rasanya aku jadi malas pulang ke rumah." Ucap Hanna.
Aji hanya tersenyum menatap Hanna yang pagi - pagi begini sudah curhat tentang kemalasannya.
Seketika, raut wajah Aji yang cerah merona berubah menjadi tatapan dingin.
" Ada apa bli ?" tanya Hanna karena heran melihat raut wajah Aji yang menatapnya dengan tatapan aneh.
" Apa semalam kak Wan tidur bersamamu ?" tanya Aji.
" Ssttt... jangan keras - keras, nanti adikku dengar !!" seru Hanna.
" Emh... itu... " ucap Aji sambil menunjuk lehernya.
" Apa ?" tanya Hana masih belum mengerti isyarat dari Aji.
" Ini, sebelah kirimu ' Aji kembali menunjuk pada lehernya, agar Hanna mengerti, kemudian dia berkata ' jangan sampai adikmu melihatnya, tutuplah dengan sesuatu " ucap Aji.
Hanna pun sepertinya baru memahami ucapan Aji saat itu, ia menutup leher sebelah kirinya, lalu bergegas masuk ke dalam kamarnya, dia berjalan menuju cermin dan melihat lehernya dengan seksama.
" Ya ampun, ahjussi... " ucap Hanna lalu menutup kembali lehernya dengan tangannya.
" Ada apa ?" tanya Siwan yang baru keluar dari kamar mandi.
" Kau, lihat ini... bagaimana kalau adikku melihatnya !!" ucap Hanna sambil cemberut.
" Hehe... maafkan aku, aku sungguh tidak bisa menahannya, kau sangat menggemaskan semalam " ucap Siwan lalu memeluknya dan mencium keningnya.
" Ih... kau menandaiku di area yang sulit tertutup oleh kerah kemeja sekalipun. " Sahut Hanna lalu berjalan menuju tasnya, mencari sesuatu di dompet kosmetiknya dan mencoba menyamarkannya dengan beberapa lapis concealer, cushion dan bedak yang di bawanya.
" Apa adikmu sudah bangun ? kita harus sarapan dan segera pulang, kau kan harus pergi bekerja !!" ucap Siwan.
" Aku telepon dulu ya... " jawab Hanna.
Beberapa jam berlalu...
Kini, mereka berenam sudah berada di parkiran mobil tengah bersiap - siap untuk pulang.
Di dalam mobil, tidak ada percakapan sama sekali selama perjalanan pulang mereka, entah itu karena tenaga mereka masih belum pulih, atau karena mereka sedang sibuk dengan kegiatan masing - masing.
Abdul yang sedang duduk di samping Siwan nampak sedang sibuk bermain game lewat hpnya. Sedangkan Siwan sendiri sedang mengecek beberapa pesan masuk lewat email di ipadnya. Sesekali ia berbincang dengan Aji membahas pekerjaan.
Hanna dan Pat seperti biasa, mereka sedang berselancar di akun sosial medianya. Sedangkan Austin, dia nampak sedang tertidur karena siang nanti dia pun harus pergi bekerja.
Beberapa jam kemudian, mereka sudah sampai di kota Denpasar. Setelah mengantar Pat ke apartemennya dan berpisah, kini giliran Aji mengantarkan Hanna dan Abdul.
Sesampainya di depan rumah, Siwan ikut turun untuk mengantarkan Hanna sampai ke depan pintu. Sedangkan Aji dan Austin menunggu di dalam mobil.
" Ahjussi, terima kasih banyak ya sudah mengajak kami bersenang - senang kemarin !!" ucap Hanna.
" Aku senang kalau kau juga senang !!" jawab Siwan.
" Ish... gombal " ucap Hanna lalu mencubit perut Siwan.
" Kalau begitu, aku pulang dulu ya, nanti, aku jemput saat kau mau pergi bekerja." Ucap Siwan.
" Ahjussi, kau pasti lelah, aku tidak mau kau sakit - sakitan, apalagi kau baru sembuh, aku pergi sendiri saja ya, nanti aku suruh adikku mengantar jemput ku, jaraknya kan tidak terlalu jauh, dia pasti sudah hafal jalannya " ucap Hanna.
Siwan tidak menjawabnya, dia hanya mengerutkan kedua alisnya, pertanda bahwa dia sepertinya tidak setuju dengan ide Hanna.
" Ayolah ahjussi, jangan khawatirkan aku ya, selama adikku disini, aku akan menyuruhnya menemaniku dan mengantar jemputku kemanapun aku pergi. Ya... jangan khawatirkan aku terus, kau juga harus fokus bekerja !!" seru Hanna.
" Oke, baiklah, tapi, kalau ada hal apapun, kau harus langsung memberitahu ku, deal ?" ucap Siwan.
" Oke, deal !!" jawab Hanna.
" Baiklah, kalau begitu, aku pamit dulu ya, bye... " ucap Siwan, lalu kembali masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan halaman rumah Hanna.
Saat Hanna masuk ke dalam rumah, ia sudah tidak mendapati adiknya di seluruh sudut rumah. Ia pun masuk ke dalam kamar adiknya, dan ternyata, adiknya sedang kembali tertidur di atas ranjangnya.
" Heh... Dul, bangun, tidur mulu kerjaan lu, anterin aku ke tempat kerja, cepet !!" ucap Hanna.
" Jam berapa ?" tanya Abdul sambil menggeliat di atas kasur.
" Jam 1, udah dzuhur belum, cepet sana sholat dulu !!" seru Hanna.
" Iya - iya, bentar lagi !!" jawab Abdul.
Hanna pun berlalu menuju kamarnya dan bersiap - siap untuk pergi bekerja.