My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Shopping



Beberapa menit berlalu, setelah Austin pergi ke kamar untuk tidur, Siwan terlihat membereskan botol dan gelas yang dia pakai untuk minum bersama Aji dan Austin. Dia tidak ingin saat kekasihnya bangun nanti melihat dan mengetahui bahwa dirinya bersama dua orang adiknya asik mabuk semalam.


Setelah membereskan semuanya, Siwan masuk ke dalam kamar Hanna perlahan, lalu naik ke atas ranjang dan merangkul kekasihnya dari belakang.


Saat Hanna sedang tertidur lelap, dia merasakan bahwa ada seseorang yang tiba - tiba tertidur di sampingnya.


Hanna menoleh sebentar ke belakang dan dia melihat kekasihnya sudah memejamkan matanya.


" Ahjussi, kenapa kau tidur disini, kau bilang kamarmu di sebelah.. " Ucap Hanna dengan suara parau dan mata sipit.


" Austin tidur di kamarku, di villa sebelah penuh." Jawab Siwan sambil menutup mata.


" Ahjussi, kau habis minum ya... ?" tanya Hanna.


" Sedikit, tapi aku sudah membersihkan mulutku, memangnya masih tercium baunya ?" tanya Siwan.


" Ish... sana kau tidur di luar saja, terakhir kali kau mabuk dan kita berduaan terjadi sesuatu yang di inginkan, aku tidak mau kejadiannya terulang lagi. " Ucap Hanna mendorong badan Siwan.


" Aku janji tidak akan macam - macam, aku hanya ingin tidur saja. Boleh ya.. ?" tanya Siwan kembali memeluk kekasihnya dari belakang.


" Emh.. baiklah, awas ya, kalau tanganmu tidak bisa diam, aku seret kau keluar dari kamarku. " Ucap Hanna mengancam.


" Lagipula, kenapa kau tidak mengunci kamarmu, itu salahmu sendiri. " Jawab Siwan dengan nada berat.


" Sudahlah, tidur saja, suaramu sudah berat sekali untuk berkomentar lagi." Lalu Hanna terbangun sebentar untuk menyelimuti Siwan dan kembali berbaring di sampingnya.Dan, benar saja, sepertinya Siwan memang sudah mengantuk berat, dia tidak bergerak sama sekali saat Hanna sedang menyelimutinya.


Keesokan harinya, pukul 06.00, Hanna terbangun dari tidurnya, lalu dia melihat Siwan sudah tidak ada di sampingnya. Dia pun duduk dan menggeliatkan badannya sambil menguap di atas ranjang.


" Baru bangun ?" tanya Siwan yang tiba - tiba muncul dari kamar mandi.


Hanna langsung menengok ke samping dengan wajah nampak terkejut dan berkata " Ahjussi, kau mengangetkanku. "


" Ayo cepat mandi, keluarga Austin mengajak kita sarapan bersama. " Ucap Siwan menghampiri Hanna yang masih terduduk di atas ranjangnya.


" Oke, aku mandi dulu ya !!" Lalu Hanna beranjak dari ranjangnya, namun belum juga turun, Siwan tiba - tiba menarik dan memeluknya.


" Apa kau tidak merindukan ku ?" tanya Siwan sambil mencium leher kekasihnya.


" Ahjussi, badanku bau keringat, biarkan aku mandi dahulu, aku merasa tidak percaya diri." Ucap Hanna.


Lalu Siwan melepaskan pelukannya, " aku tunggu di luar ya.. " setelah itu Siwan mengecup keningnya dan keluar dari kamarnya.


" Huft... hampir saja, jantungku.." Hanna menepuk nepuk dadanya karena jujur saja, Siwan membuatnya kembali merasakan debaran yang dulu pernah ia rasakan saat berdua di malam tahun baru.


Sati jam kemudian, Hanna sudah siap untuk pergi sarapan bersama. Dia keluar dari kamarnya dan menghampiri Siwan dan Aji yang sedang duduk di sofa sambil membuka ipad nya, sedang memeriksa pesan email yang masuk seputar bisnis dan pekerjaannya.


" Maaf ya, lama menunggu.." Ucap Hanna lalu memeluk Siwan dari belakang.


" Tidak, masih di siapkan oleh Austin dan keluarganya. Kau mau berangkat sekarang ?" tanya Siwan.


" Boleh, yuk.. " ajak Hanna.


Siwan menyerahkan ipadnya pada Aji. Lalu berjalan bersama kekasihnya menuju villa yang jaraknya tidak jauh dari mereka.


Sesampainya di lokasi, banyak keluarga Austin menyambut mereka berdua, terutama ibu dan ayahnya Austin. Tentu saja mereka berbicara bahasa asing, untungnya Hanna bisa memahami dan berkomunikasi dengan lancar bersama mereka. Sebelum sarapan di mulai, mereka saling bertegur sapa dengan sedikit canda tawa di selanya.


Acara sarapan pagi berlangsung penuh keakraban, Siwan sebelumnya pernah bertemu dengan keluarga Austin saat mereka berlibur ke Bali, dan ini yang pertama kalinya bagi Hanna berada di antara mereka. Semua keluarganya sangat ramah dan memperlakukan Hanna dengan penuh kasih sayang. Walaupun pertama kali bertemu, tapi Hanna merasa sangat nyaman berada di antara keluarga Austin.


Selesai sarapan pagi, Siwan mengajak Hanna pergi jalan - jalan mencari baju untuk mereka pakai untuk menghadiri acara pernikahan Austin dan Siska. Dan, tentu saja Aji ikut bersama mereka. Saat mereka sedang menunggu mobil jemputan di depan gerbang, tiba - tiba Austin datang.


" Kalian mau pergi kemana ?" tanya Austin.


" Aku ikut ya, aku bosan nih.. " Pinta Austin.


" Ish... tidak bisa, calon pengantin tidak boleh pergi kemana mana, pamali tau !!" Ucap Hanna.


" Apa itu pamali ?" tanya Austin kembali.


" Aduh... susah kalau ngobrol sama bule, pokonya kak Os gak boleh pergi kemanapun, untuk menghindari sesuatu yang tidak di inginkan. Pokonya kau istirahat saja, siapkan mental dan kesehatanmu saja, ingat, tapi jangan sambil mabuk lagi. Kau harus berhenti minum dulu supaya wajah mu fresh, kalau bisa luluran dan maskeran dulu gih, sana... " Hanna mendorong tubuh Austin.


" Aduduh... kau cerewet sekali seperti ibuku, aku jadi pusing mendengarnya. " Ucap Austin.


Dan, tidak lama kemudian datanglah mobil sewaan untuk menjemput mereka.


" Sudahlah, benar kata Hanna, kau di rumah saja, pakailah masker untuk wajahmu, supaya besok terlihat keren saat di foto. " Timpal Aji.


Austin menepuk jidatnya. Hanna dan Aji saling berhigh five sebagai tanda mereka berada di tim yang sama. Siwan hanya tersenyum melihat kelakuan lucu keduanya.


" Yasudah, cepat sana kalian pergi. " Austin kesal, kemudian pulang menuju villa tempat keluarganya berkumpul.


Kini Siwan, Hanna dan Aji sudah berada di salah satu butik lumayan terkenal di Jakarta, mereka bergantian mencoba baju, keluar masuk ke dalam kamar pas.


Setelah mendapatkan baju, Siwan menawarkan Hanna untuk membeli keperluan lainnya, lalu, dengan senang hati dia membawa Siwan dan Aji berkeliling dari satu toko ke toko lainnya yang ada di sekitar sana, mencari sepatu dan tas yang cocok dengan baju yang baru saja ia beli.


Setelah lelah, kini mereka memutuskan untuk beristirahat sambil makan Siang.


" Ahjussi, terima kasih banyak ya, sudah membelikanku semuanya hari ini. " Ucap Hanna.


" Dari dulu aku kan pernah mengajakmu pergi berbelanja, tapi kau selalu menolaknya. " Jawab Siwan.


" Aku tidak suka sering membeli baju, tas atau sepatu karena selama punyaku masih berguna dan belum rusak, untuk apa aku membeli penggantinya, tapi, kali ini, aku terpaksa, soalnya, dressku seperti nya sekarang jadi kekecilan di badanku. " Ucap Hanna malu - malu.


" Benarkah?" tanya Siwan.


" Ahjussi, apa aku sekarang terlihat gemuk ? terakhir kali aku memakai dress itu sekitar bulan januari, tapi sekarang kenapa tidak cukup ya, berarti badanku semakin besar, benar kan?" tanya Hanna.


" Sepertinya, memang benar, pipimu terlihat lebih chubby di banding saat pertama kali kita bertemu. " Jawab Siwan.


" Tuh, kan benar, aku jadi gendut sekarang, sudah ah, aku tidak mau makan, aku mau diet." Ucap Hanna.


" Ish... dasar wanita, semua sama saja. " Sela Aji.


" Jangan begitu, nanti kau bisa sakit, kau masih terlihat cantik, dan akan selalu cantik di mataku. Ini sayang kan makanannya sudah di pesan kalau kau tidak makan. " Ucap Siwan.


" Ini semua salahmu, kau selalu mengajakku makan, makan dan makan.. salahmu berat badanku jadi naik." Ucap Hanna mengerutkan kedua alisnya.


" Memangnya berapa kilo ?" tanya Siwan.


" Sekitar kurang lebih hanya satu kilo. " Jawab Hanna.


" Ya ampun, cuma satu kilo, kau sudah heboh dan mau diet segala. Astaga... kalian para wanita keterlaluan sekali. Sebaiknya kau berolahraga saja, minta saja pacarmu mengajakmu ke tempat gym kalau tidak mau di ajak makan terus olehnya." Sahut Aji.


" Ish... kau ini, awas ya.. " Ucap Hanna menatap Aji sinis.


" Lain kali aku akan mengajakmu ke gym dan berolahraga bersama, mau ya... ?" tanya Siwan.


" Baiklah, kol ( setuju, bahasa Korea) !!" Hanna tersenyum kembali pertanda setuju.


" Yasudah, ayo habiskan dulu makan siangmu. " Ucap Siwan mengelus punggung tangan Hanna.


Akhirnya Hanna menghabiskan makan siangnya dengan lahap. Dia tidak bisa mengabaikan makanan yang berada di depan matanya.