My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Pulang



Beberapa menit kemudian, setelah pesanan makanan datang, Siwan dan Austin sibuk melahap makanannya. Lalu, Hanna sedang mencoba berjalan perlahan melatih otot kakinya kembali supaya bisa berjalan tanpa bantuan siapapun.


Dia berlatih dengan gigih agar bisa cepat pulang meninggalkan kamar inap nya itu. Sebetulnya Hanna bukan seorang penakut akan hal - hal berbau horor seperti itu, buktinya, beberapa kali dia sempat menemukan hal janggal di tempat kostnya, baik yang dulu, maupun tempat kost yang sekarang sedang ia tempati. Dia sempat melihat berbagai jenis jin yang menyerupai manusia, ataupun mahluk bernama kuntilanak ataupun pocong di sekitarnya.


Dia hanya selalu mengingat ucapan ayahnya dulu, manusia lebih mulia dan lebih tinggi derajatnya di bandingkan jin ataupun setan. Jangan takut, jangan sampai mengalahkan pikiranmu, hingga berbuat ceroboh dan tanpa berpikir panjang bisa membahayakan dirimu sendiri.


Hanya saja, kali ini sedikit berbeda, biasanya Hanna hanya melihatnya dari kejauhan atau hanya berpapasan dengan mereka, tanpa rasa penasaran dia hanya menganggap itu hanya sebagai sebuah iklan horor di kehidupan bergenre romance nya ini.


Hanna bukan anak yang terlampau polos akan pengetahuan agama, sebetulnya.


Ayahnya, meskipun hanya lewat pesan singkat, selalu memberi nasihat tentang agama, dan beberapa kalimat doa agar Hanna memanjatkannya pada sang pencipta.


Dia juga sebetulnya seorang muslim yang taat sholat lima waktu, buktinya, saat dia sedang bekerja, atau sedang pergi jalan dengan temannya ataupun Siwan, dia selalu membawa mukena dan pamit menunaikan sholat dimanapun ia berada.


Dan lagi, sebelum memakan sesuatu, dia selalu memastikannya apakah makanan tersebut halal atau tidak.


Siwan sudah memaklumi dan hafal semua kebiasaan kekasihnya itu. Dia tidak menunjukkan adanya masalah ataupun rasa keberatan. Malah dia selalu mendukungnya untuk melakukan kewajibannya.


Sejauh ini, baik Hanna sendiri ataupun Siwan, belum membahas secara serius masalah perbedaan agama mereka. Saat ini, mereka hanya sedang menjalani hubungan karena saling menginginkan dan saling membutuhkan keberadaan masing - masing di kehidupannya. Bisa di bilang, mereka masih berada di tahap di mabuk cinta, mereka tidak, bahkan belum berpikir jauh bagaimana akan kelanjutan kisah mereka ke depannya.


Walaupun Hanna sempat berpikir tentang masalah perbedaannya, itu pun karena Rayhan yang mengingatkannya karena merasa khawatir. Sejauh ini, walaupun dia mengakui dalam hati kecilnya, dia masih sering berbuat dosa, tapi dia tetap bersikeras untuk menjaga satu - satunya harta dan kebanggaannya yang harus ia pertahankan dengan sekuat tenaga, ya, Hanna tetap akan berusaha untuk tidak melakukan hubungan terlarang itu sebelum dia resmi menjadi istri seseorang dan hanya akan memberikannya pada suaminya kelak.


" Kau tidak merasa lelah ?" tanya Siwan.


" Sebentar lagi saja, aku harus terus melatih otot kakiku supaya lentur kembali. " Ucap Hanna.


" Apa masih terasa sakit?" tanya Siwan.


" Sudah tidak terlalu, hanya terasa sakit di area yang bengkak saja. " Jawab Hanna.


" Wah.. besok pasti bisa pulang nih, percayalah padaku... !!!" Austin sangat percaya diri.


" Benarkah... ? Asyikkk.... mudah - mudahan pulang deh. " Hanna kegirangan.


Beberapa jam berlalu, waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 Wita, Austin berpamitan untuk pulang. Dan setelah Austin pergi Hanna dan Siwan pun bersiap - siap untuk tidur setelah menggosok gigi, mencuci muka dan memakai beberapa tahap skincare rutin yang di pakai oleh Hanna.


" Apa sebelum tidur kau selalu menempelkan berlapis - lapis cream itu, setiap hari ?" tanya Siwan merasa aneh.


" Wanita memang seharusnya seperti ini, harus mau merawat kulitnya terutama kulit wajahnya, harus rela mengorbankan waktu seperti ini meskipun sudah mengantuk berat. Menurutku sih, seperti itu ya.. " Hanna berbicara sambil masih fokus menatap cermin kecil dan menepuk - nepuk pipinya dengan lembut.


" Wah, supaya tetap glowing ya ?" ucap Siwan.


" Tidak juga, aku bukan mau terlihat glowing, hanya saja, kulitku ini kalau tidak dirawat, dia akan kering, dan jadi sensitif, nanti nya jadi cepat tumbuh keriput. Aku hanya ingin kulitku terlihat sehat sebelum menua nanti. Apalagi setiap hari pekerjaanku menuntut ku untu memakai makeup. Harus sering di bersihkan dan di rawat supaya tidak tersumbat dan muncul jerawat." Hanna menjelaskan panjang lebar.


" Baiklah, terserah kau saja, wanita memang penuh perjuangan supaya telihat menarik. " Siwan bersiap untuk tidur dan merebahkan dirinya.


" Tentu saja, ahjussi, menurutku laki - laki juga penting untuk merawat diri, terutama wajah, kulit sehat itu terlihat bagus, jenis perawatan kulit kan berbeda - beda, sesuai kebutuhan saja. Bukannya pria di Korea gemar mamakai make up dan skincare ?"


" Aku ini sudah tua, untuk apa. Lagi pula, tidak semua orang Korea, kebanyakan hanya artis, idol dan public figure yang sering melakukan perawatan wajah. Bahkan di Indonesia juga sekarang banyak para pria yang seperti itu. Bukan hanya artis."


" Ahjussi, tidak ada kata terlambat untuk merawat diri." Ucap Hanna mencoba meyakinkan.


" Apa kau sering pergi ke klinik kecantikan ?"


" Tidak juga, bisa di hitung jari sih, upahku hanya upah minimum, apalagi harus membayar biaya kost dan makan semua aku tanggung sendiri, jadi kadang kalau ada uang tabungan lebih, aku pakai untuk ke klinik kecantikan, spa atau membeli buku. Aku jarang belanja baju, sepatu atau tas seperti wanita pada umumnya, lagi pula, nanti aku bingung sendiri kalau harus pindah kostan atau pulang ke Bandung dengan banyaknya barang yang harus di bawa, makanya, aku membeli barang seperlunya saja. Hehe... " Ucap Hanna sambil bersiap untuk tidur, merebahkan dirinya di atas kasur


Selang beberapa detik, tidak ada jawaban dari Siwan, Hanna merasa curiga apa dia sudah tidur. Ternyata benar saja, saat dia melihat ke arah Siwan, kekasihnya itu sudah tidur pulas.


" Ya ampun, aku daritadi mengobrol sendiri ternyata. Baiklah, aku juga tidur saja kalau begitu. " Ucap Hanna lalu memejamkan matanya.


Keesokan harinya.


Sekitar pukul 11.00 Wita, Hanna dan Siwan sudah bersiap - siap untuk pulang. Setelah pemeriksaan terakhir karena luka dan pembengkakan di kakinya sudah membaik akhirnya dokter mengizinkan Hanna untuk pulang.


Sebelumnya, sekitar pukul 10.00 Wita, Satria datang ke rumah sakit untuk menjenguk, dan Hanna menjelaskan bahwa dia sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. Dan Satria pun menyelesaikan proses administrasi selama Hanna di rawat.


" Terimakasih banyak ya, mas Satria, saya sangat merasa tertolong." Ucap Hanna pada Satria.


" Justru saya yang merasa berterimakasih dik, sudah mau meringankan beban pikiran saya, saya benar - benar merasa bersalah sudah membuat kakimu seperti ini. Maaf ya !!" Ucap Satria menatap Hanna lebih dalam.


Siwan yang melihatnya merasa cemburu karena tatapan Satria itu.


" Ehemmm... " Siwan memberi isyarat pada Hanna.


" Eh iya kak Wan, maafkan saya sekali lagi ya, semoga selamat sampai di tujuan. Maaf saya mengantar hanya sampai disini saja. " Ucap Satria mengajak Siwan bersalaman.


" Oke tidak apa - apa. Kalau begitu, kita pergi dulu ya. " Siwan menyambut tangan Satria.


Lalu, Siwan masuk ke dalam mobil setelah memastikan kekasihnya masuk terlebih dahulu dan duduk dengan nyaman.


Mobil Siwan pun berlalu meninggalkan Satria yang masih berdiri di basement rumah sakit.


" Ah... akhirnya aku bisa menghirup udara segar lagi. " Hanna membuka jendela mobil dan merasakan angin segar berhembus masuk ke dalam mobilnya.


" Seperti yang sudah ku bilang, pulang ke rumahku saja ya, nanti ada bi Asih yang mengurus mu disana kalau aku sedang tidak ada. " Ucap Siwan.


" Ahjussi, aku tidak mau, aku malu, aku sudah tidak apa - apa, kakiku sudah bisa berjalan walaupun belum normal." Ucap Hanna.


" Aku khawatir, lagipula, bukannya kau bilang teman - teman di kostan mu yang lainnya sedang pulang kampung kan, aku khawatir meninggalkan mu sendirian disana. " Ucap Siwan sambil masih fokus menyetir mobilnya.


" Tidak semua, ada beberapa di lantai dua kamar sebelahku masih ada, lalu di lantai 3 juga ada 3 kamar yang tidak pulang kampung, kalau lantai satu memang semuanya pulang kampung, mereka para mahasiswa soalnya, libur mereka lebih panjang. " Hanna berhenti berbicara, menarik nafas panjang dan,


" Boleh ya, ahjussi, aku pulang ke tempat kostku saja." Hanna merayu Siwan.


Siwan terlihat mengkerutkan kedua alisnya, terlihat raut wajahnya sebetulnya tidak setuju dengan keinginan Hanna, tapi mau bagaimana lagi kalau memang Hanna tetap bersikeras ingin pulang ke tempat kost nya.


" Baiklah, tapi, aku setiap hari akan berkunjung kesana, aku juga akan mengantar jemput mu pergi bekerja. Deal.. ?"


" Ok, deal. Dengan senang hati, aku jadi tidak harus cemas selalu ketinggalan bus setiap mau pergi kerja. " Hanna tersenyum merasa senang.


Sesampainya di depan gedung kost, Hanna berjalan perlahan menuju tangga naik ke lantai dua. Di susul oleh Siwan yang sudah memarkirkan mobilnya dan membawa tas dan barang - barang dari rumah sakit.


" Sudah ku bilang tunggu aku, kau masih kuat tidak berjalan sendiri ?" tanya Siwan.


" Aku harus bisa ahjussi, kau tenang saja, kau duluan saja naik ke atas dan simpan dulu barang - barangnya." Ucap Hanna. Dan Siwan pun menuruti perkataannya. Siwan menyimpan barang di depan kamar Hanna dan kembali turun ke bawah untuk membantu Hanna berjalan menaiki tangga.


Saat Hanna sudah sampai di lantai dua, ada seseorang yang keluar dari salah satu kamar kost.


" Han, kakimu kenapa?" tanya seorang pria tetangga sebelah kamar Hanna.


" Ah.. ini, aku ketabrak motor pak, tiga hari dua malam aku di rumah sakit. " Ucap Hanna.


" Ya, ampun kenapa gak kasih tahu, ku kira kamu juga pulang kampung. " Ucapa pria itu.


" Hehe.. gak parah kok, cuma ada lecet sama bengkak aja." Ucap Hanna.


" Syukur deh kalau gak parah. Yaudah, kamu masuk dan istirahat sana. " Ucap pria itu.


" Siyap pak. Eh.. mau kemana?" tanya Hanna.


" Mau cari makan siang di belakang, lagi males masak nih. Yuk ah... " Lalu pria itu pergi meninggalkan Hanna dan Siwan.


" Dia siapa?" tanya Siwan.


" Oh... dia pak Tommy, security di Bank tempat kak Siska bekerja. " Ucap Hanna sambil membuka pintu kamarnya.


Lalu, Siwan dan Hanna kini sudah berada di dalam ruangan kost Hanna. Mereka berdua duduk lesehan sambil bersandar pada bean bag chair dan tumpukan bantal yang ada di karpet ruang tv. Mereka menghela nafas sejenak, dan beristirahat terlebih dahulu.