My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Menghilang part 2



Pukul 08.30, sebuah mobil Fortu**r black berhenti di halaman sebuah villa di salah satu daerah kota Jakarta.


Lalu, keluarlah beberapa orang menyambut kedatangan seseorang yang turun dari kursi depan mobil tersebut.


" Kak, darimana saja kamu ? kau tidak tahu kami semua mencemaskanmu." Ucap seorang pria muda pada Austin dengan bahasa inggris.


" Nanti saja wawancara nya, aku harus mandi." Jawab Austin berlalu masuk ke dalam villa.


Di dalam rumah, ibunya menyambutnya dengan serbuan dan pukulan bertubi - tubi.


" Dasar anak kurang aj*ar, kau mau membuat malu keluarga, dasar anak nak*l, beraninya membuat seluruh orang cemas." Begitulah intinya, ibunya mengomeli Austin dengan bahasa asingnya sambil terus memukul Austin.


" Sudah bu, cukup, masih ada waktu untuk bersiap - siap kan ?" Ucap seorang wanita menengahi keduanya.


Setelah puas mengomeli anaknya, ibunya pun menyuruh semua orang untuk segera bersiap - siap, karena pukul 10.00 nanti acaranya di mulai, di usahakan agar tidak datang terlambat menuju gereja.


Siwan pun mengajak Hanna pulang untuk segera mandi dan bersiap - siap. Begitu pula dengan Aji.


" Ahjussi, dimana kau menemukan kak Os ?" tanya Hanna.


" Dia pergi ke klub malam, dia tidak sadarkan diri lalu tertidur di bangku yang tidak jauh dari sana." Ucap Siwan menjelaskan pada Hanna sepanjang perjalanan mereka kembali ke villa.


" Ya Alloh, ampun deh, gak ada obatnya kalo udah kecanduan minum." Ucap Hanna.


" Kau cepat mandi sana, aku akan memesan makanan untuk sarapan sebelum pergi ke gereja." Ucap Siwan.


" Baiklah, aku mandi dulu ya. " Jawab Hanna, lalu masuk ke dalam kamarnya.


Begitu pula dengan Siwan dan Aji, mereka pun masuk ke dalam kamar lalu mandi dan bersiap - siap memakai setelan jas untuk menghadiri pernikahan sahabat mereka.


Pukul 09.55 wib, semua rombongan mempelai pria sudah berada di dalam mobil untuk mengantarkan calon pengantinnya. Mereka terlihat ngos - ngosan mempersiapkan diri secepat mungkin sejak kepulangan Austin yang sempat menghilang tadi pagi.


Pukul 10.05 wib, rombongan sudah tiba di gereja, karena jaraknya tidak terlalu jauh. Disana sudah nampak keluarga mempelai wanita menyambut kedatangan rombongan mempelai pria.


Mempelai pria sudah menunggu di depan altar, kini mereka sedang menunggu mempelai wanitanya datang bersama walinya.


Lima menit, sepuluh menit, bahkan lima belas menit berlalu, terdengar bisikan dari para tamu dan keluarga yang berdiri di belakang membicarakan keberadaan sang pengantin wanita. Lalu, seorang kerabat dari pengantin yang tadi sempat menyusul keberadaan sang mempelai wanita datang, dia membisikkan sesuatu pada kedua orang tua mempelai wanita.


Hanna sudah mencurigai ada sesuatu yang aneh pada gelagat kedua orangtua Siska. Lalu, tidak lama kemudian, ibu sang pengantin wanita pingsan. Semua orang menjadi panik dan bertanya - tanya.


" Ahjussi, ada apa ini ?" tanya Hanna menatap Siwan.


" Aku pun tidak mengerti, mari kita cari tahu dulu." Jawab Siwan.


Siwan menghampiri Austin yang masih berdiri di depan altar menatap salib dan patung Jesus kristus, dia tersenyum penuh arti.


" Os.. ada apa ini ?" tanya Siwan.


" Hemh... maafkan aku kak, semuanya jadi kacau, tapi aku merasa lega. Sepertinya, pernikahan ku di batalkan. Mari, kita pulang saja." Ucap Austin, menepuk pundak Siwan dan berbalik meninggalkan Siwan sendirian di depan altar.


Siwan menatap punggung Austin dari belakang, dia terlihat begitu tegar. Lalu, keluarga menghampiri Austin dan bertanya apa yang sedang terjadi sebenarnya. Dan Austin hanya mengajak mereka pulang karena pernikahan telah di batalkan, mempelai pengantin wanitanya telah melarikan diri.


Yang tersisa di dalam gereja hanyalah Siwan yang masih di depan altar, Aji dan Hanna yang berada di barisan kursi belakang, serta beberapa pihak keluarga mempelai wanita yang sedang memberitahu pak Pendeta bahwa pernikahan sepertinya telah di batalkan.


Siwan berjalan menghampiri Hanna dan Aji. Dia menatap Aji penuh arti, Hanna masih belum memahami situasinya, sebetulnya ada apa di antara mereka dan acara pernikahan ini. Kenapa semuanya jadi berantakan seperti ini.


Di dalam mobil, di perjalanan pulang menuju villa, Hanna mencoba menelpon Siska, namun, nomornya tidak aktif.


" Ahjussi, apa kita tidak mencari tahu dulu ke rumahnya, mungkin mendadak dia sakit atau ada sesuatu yang terjadi padanya, kita harus mencari kebenaran keberadaannya dulu kan, kenapa semuanya dengan enteng di batalkan, kita belum mencari faktanya kan. " Ucap Hanna terus nyerocos seakan masih membela Siska.


Siwan tidak menjawabnya, dia hanya terdiam begitu pula dengan Aji. Begitu sampai di gerbang villa, saat mobil sudah berhenti, Hanna langsung turun dan masuk ke dalam villa menuju kamarnya. Dia mencopot aksesoris yang ia kenakan berupa anting dan gelang. Lalu ia membuka dressnya dan menggantinya dengan baju biasa.


Tidak lama terdengar suara ketukan pintu dari luar.


" Masuk... " Ucap Hanna.


Dan, ternyata Siwan lah yang mengetuknya, dia pun masuk ke dalam, menatap Hanna yang terlihat masih kesal seakan tidak ada yang mau mendengarkan sarannya terlebih dahulu.


" Chagiya, kemarilah, aku akan memberitahu keadaan yang sebenarnya." Ucap Siwan.


Hanna menatap wajah kekasihnya itu sinis, dia tadinya tidak mau menghampiri Siwan, lalu Siwan menarik tangannya dan mengajaknya duduk di sofa yang ada di dalam kamar.


" Duduklah disini, dan dengarkan ini. " Siwan menyerahkan hpnya yang berisi rekaman percakapan antara Pat dan Siska kemarin.


Flashback kejadian sebelum Patricia mencoba menyandera Siska dengan pisaunya.


Saat itu, Patricia datang ke rumah Siska, di antarkan oleh seorang satpam komplek sampai ke depan rumahnya.


Siska yang terlihat sedang mengobrol dengan kerabatnya di halaman rumah seketika terdiam menatap seorang wanita berkulit putih, berambut pirang panjang memakai dress pendek dan melingkarkan slingbag mini di pundaknya.


Selang beberapa menit, mereka berdua sudah berada di belakang rumah, di sebuah gazebo mini dekat dengan kolam ikan kecil. Mereka terlihat saling menyapa, Pat memberi Siska ucapan selamat untuk pernikahannya besok dengan Austin.


Namun di tengaj percakapan mereka, karena ada kata - kata dari Siska yang sedikit menyinggung perasaan Pat, akhirnya Pat meladeninya beradu mulut, dari awal Pat sudah mencoba bersabar di saat hatinya sedang merana karena akan di tinggal menikah orang terkasihnya, dia bahkan menguatkan diri untuk menemui Siska dan mengibarkan bendera putih. Namun apa yang di dapatnya.


Klimaks nya, saat Pat berkata..


" Aku yakin, bayi di dalam perutmu bukan darah Austin." Ucap Pat sambil berdiri, karena sebelumnya Pat memang sudah berpamitan hendak pulang.


" Memangnya kenapa kalau ini bukan darah daging Austin ? yang penting aku sudah maju selangkah lebih depan darimu." Ucap Siska sambil beranjak dari kursinya dan menengadahkan kepalanya pada Pat yang lebih tinggi darinya seakan menantang.


Pat mendekat pada Siska, dia berkata sambil menunjuk wajahnya. " Aku bersumpah, seandainya Os tahu bayi itu bukan anaknya, dia tidak akan pernah menikahimu, dasar wanita jalang !!"


" Lalu, apa bagusnya, seorang wanita, yang sukses, terkenal dan kaya, tapi tidak bisa memiliki keturunan... apa yang bisa kau banggakan sebagai seorang wanita hah ?" Siska berkata seperti itu tanpa rasa belas kasihan sama sekali.


Pat yang terlihat marah, dia langsung pergi meninggalkan Siska yang masih berdiri di posisinya, saat itu Pat masuk melewati salah satu pintu yang langsung menuju ke dapur rumah Siska. Dan, saat Pat sedang kalap, dia menemukan sebuah pisau di atas meja, dia langsung membawanya dengan penuh amarah dan menghampiri Siska yang ternyata sudah mendekat hendak menyusul Pat yang masuk ke dalam dapur.


Saat kedua hidung mereka bertemu, Pat langsung menjambak rambut Siska, dan mengacungkan pisau padanya. Dia seperti orang yang kerasukan. Siska sempat terkejut melihat Pat sangat berani mengacungkan pisau di hadapannya. Dan, saat itu, ada salah seorang saudara Siska yang masuk dan melihat kejadian tersebut. Dia berteriak dan membuat orang yang berada di sekitar rumah Siska berhamburan menghampiri dan mengerumuni Pat dan Siska.


Karena Pat merasa ketakutan, dia langsung menyandera Siska, dia melingkarkan pisau ke leher Siska dan meminta semua orang mundur dan memberi nya jalan untuk keluar, Pat sama sekali tidak bermaksud menyakiti Siska, semua itu murni karena dia merasa terbakar api amarah dan hanya berniat mengancam Siska agar menutup mulutnya dan berhenti mengolok - oloknya.


Pat bermaksud menyandera Siska, membawa dia ke halaman dan keluar rumah lalu dia akan berlari sekencangnya meninggalkan rumah Siska. Itu yang ada di pikiran Pat saat itu. Namun, sayangnya, tanpa di duga - duga, datang Aji, Siwan dan Hanna bertepatan dengan aksinya saat itu. Rencananya untuk kabur pun gagal. Dan akhirnya, karena seseorang sempat menelepon polisi, Pat di borgol dan di bawa ke kantor polisi setempat.