My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Amplop coklat part 2



Keesokan paginya...


Hanna terbangun dan mendapati dirinya semalam tertidur di sofa tanpa selimut. Dingin menancap di kulitnya, menggigil yang dia rasakan.


" Ah... aku masuk angin beneran kayaknya " ucap Hanna dengan lirih.


Perlahan ia berjalan dengan lemas menuju kamarnya. Semalam ia bahkan tidak sempat membersihkan make up di wajahnya dan mengganti seragamnya.


Hanna yang masih merasa kedinginan terpaksa menyentuh air untuk mencuci wajahnya, menggosok giginya, dan menyeka keringatnya dengan lap basah air hangat.


" Aku malas mandi... " ucap Hanna.


Setelah keluar dari kamar mandi dan berpakaian, Hanna menuju dapur dan membuat teh hangat.


Saat melihat magicom nya kosong, dia tidak langsung menanak nasi seperti biasanya.


" Aku malas makan... " ucap Hanna lagi.


Dan, beralih kembali duduk di sofa, dia masih melihat foto dan amplop coklat yang berantakan.


" Ah... aku malas beres - beres rumah, aku malas kerja, aku malas jadi wanita so kuat lagi " seketika Hanna terdiam.


Tiba - tiba hpnya bergetar, ada pesan masuk ke hpnya.


" Aku malas balas chat dia " ucap Hanna yang sedang bersandar pada sandaran belakang sofa.


Dan, hpnya terus bergetar, ada panggilan telepon masuk ke hpnya.


" Aku malas teleponan sama dia " ucap Hanna dan membiarkan hpnya mati sendiri.


Selama beberapa saat dia diam dan termenung. Dan lama kelamaan dia kembali tertidur. Saat itu waktu masih pagi, sekitar pukul 07.20 wita.


Pukul 09.40 wita.


Saat itu, Hanna yang mulai bergerak dari posisi tidurnya, merasakan kehadiran seseorang di sekitarnya. Suara langkah seseorang yang menggunakan sepatu pantofel terdengar nyata di telinganya.


Netranya mulai terbuka perlahan. Sepersekian detik, dia baru menyadari kalau saat itu Hanna sedang berada di ruangan lain selain rumahnya.


Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri meneliti ruangan tempatnya berada kini. Perlahan dia pun terbangun dan terduduk di atas ranjangnya. Kepalanya terasa berat, badannya terasa lemas, nafasnya terasa panas. Sesaat Hanna memejamkan matanya dan mencoba mengatur nafasnya.


" Chagiya... " suara Siwan terdengar di telinganya.


" Ah... aku malas ketemu dia " rutuk Hanna dengan nada yang lemah.


" Chagiya... kau sudah sadar ?" Siwan mengusap pipi Hanna dengan lembut.


Hanna akhirnya tersadar bahwa ini nyata. Tadinya dia berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi. Dia pun baru menyadari bahwa di lengannya kini sudah ada selang infusan yang menempel.


Dia sedang berada di rumah sakit. Siwan menjelaskan kalau tadi pagi dia ke rumahnya dan mendapati bahwa Hanna sedang tidak sadarkan diri dan tubuhnya panas dingin.


" Austin bilang kau terkena tifus, chagiya, aku sudah meminta surat sakit dan Aji sedang mengirimnya ke tempat kerjamu, kau beristirahat lah " ucap Siwan.


Hanna tidak mau banyak berkata apapun, dia hanya minum air putih hangat yang sudah di sediakan oleh Siwan dan kembali membaringkan tubuhnya lalu menyelimuti nua hingga ke atas, Hanna pun menyampingkan tubuhnya membelakangi Siwan.


Tatapan Siwan terlihat sangat sendu, dia tahu Hanna pasti sedang marah padanya, dia ingin mengusap dan mengelus punggung kekasihnya seraya memberinya kekuatan, hanya saja dia tahu, dia sedang menjadi sasaran utama kemarahan Hanna.


Siwan menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Dia mencoba tetap bersabar.


" Chagiya, kau pasti belum makan, perutmu harus terisi supaya obatnya bekerja dengan baik !!" ucap Siwan.


Hanna yang merasa lapar pun akhirnya luluh, secepat itu ia mau berbaikan dengan Siwan. Oh... tentu saja tidak.


Dia hanya ingin cepat sembuh, itu saja, dan perutnya terasa nyeri, selain nyeri karena sedang PMS juga karena perutnya kosong.


Siwan menyuapi bubur dengan perlahan ke mulut kekasihnya.


Hanna tidak sedetikpun menatap wajah Siwan. Dia hanya membuka mulutnya saat sudah terasa kosong dengan pandangan yang tertuju ke sembarang arah.


Selesai makan dan minum obat, Hanna bersandar pada tumpukan bantal di belakangnya. Namun ia tetap memejamkan matanya meskipun dia sedang tidak ingin tidur.


Siwan yang sudah selesai menyimpan piring di meja kembali menghampiri Hanna.


" Chagiya, beristirahat lah, aku akan menjagamu di sini " ucap Siwan.


" Pergilah... aku lebih baik sendiri saja, kau sedang banyak pekerjaan kan " ucap Hanna dengan suara pelan.


" Tidak apa, partnerku sudah menghandle nya, jangan khawatirkan pekerjaanku " sahut Siwan.


" Aku ingin sendiri, pergilah !!" ucap Hanna dengan mata masih tertutup.


" Aku mau tidur " Hanna membaringkan kembali tubuhnya membelakangi Siwan dan menyelimutinya sampai ke kepala.


Siwan kali ini tidak bisa menahan lagi hasratnya. Dia memeluk kekasihnya dengan penuh rasa sedih, dia ingin secepatnya menyelesaikan masalah di antara mereka berdua kini, namun, dia tidak mau membuat kondisi Hanna malah semakin drop.


Selama beberapa detik Siwan memeluk Hanna yang tidak bergeming sedikitpun. Padahal nyatanya, Hanna pun tidak bisa menahan lagi air matanya. Ia menangis di bawah selimut saat sedang di peluk oleh Siwan. Dan, tanpa ia sadari mungkin karena pengaruh obat, Hanna pun kembali tertidur.


Siwan pun menurunkan sedikit selimutnya supaya Hanna tidak merasa pengap.


Beberapa menit kemudian, saat Siwan sedang berdiri menatap langit yang masih cerah lewat jendela kamar inap Hanna berada, datanglah dua orang menghampiri nya.


Siwan perlahan berbalik dan menatap salah satu dari mereka dengan tatapan tajam.


" Kalian bicaralah di luar, aku yang akan menjaga Hanna " ucap Austin.


Saat mereka bertiga keluar dari kamar tersebut, seorang perawat di tugaskan untuk menunggu Hanna di dalam kamar sampai dia terbangun dan merawatnya.


Kini, Aji Siwan dan Austin sudah berada di sebuah ruangan, kelihatannya sebuah ruang pribadi dokter di rumah sakit tersebut.


Di meja kerjanya terdapat papan nama seseorang beserta gelarnya tertulis di depan dan belakangnya.


" Silahkan, santai saja, ini ruangan pribadiku sekarang " Austin dengan bangganya mengelus papan namanya yang berada di atas meja kerjanya, dan seketika merasa kesal karena kedua orang di depannya tidak menghiraukannya.


Austin mendelik, lalu berjalan menghampiri Siwan dan Aji yang duduk di atas sofa, tidak lupa dia menyediakan minuman untuk keduanya, hanya secangkir kopi.


Siwan mulai mengeluarkan sebuah amplop besar dari mantelnya. Sebuah amplop coklat berukuran A4 Siwan taruh di atas meja.


Austin langsung membuka isinya, dan dia nampak terkejut melihatnya.


Sebagian foto ciuman antara Aji dan Hanna di dalam sebuah tempat karaoke dan sebagian lagi foto kemesraan Siwan dan Seo Jihye saat berada di balkon kamar villa milik ibu Siwan.


Malam itu, seseorang dibayar untuk membuntuti Hanna dan Aji yang pergi malam mingguan, dan, pelayan yang membawa minuman ke dalam ruang karaoke merupakan orang suruhan juga. Di sebuah botol minuman yang belum terbuka dia sengaja menempelkan sebuah chip kamera perekam dan di posisikan menghadap pada Hanna yang sedang duduk di sofa.


Dan, malam itu, seseorangpun di bayar untuk mengabadikan beberapa momen yang pas saat Jihye menghampiri Siwan yang tengah berada di balkon sambil meneguk segelas minuman untuk menghangatkan tubuhnya. Sang fotografer nampaknya bukan seorang amatiran, dia pandai mengambil angle yang mampu membuat orang salah paham akan hasil jepretannya.


...***...


Selama beberapa saat mereka bertiga terdiam dan menatap foto yang berserakan di atas meja.


" Ji, jelaskan saja, kau harus memberitahu faktanya... " ucap Austin.


Dan Aji pun mulai menceritakan semua kejadian hari itu di tempat karaoke. Semua berawal saat dirinya meninggalkan Hanna sendirian untuk mengangkat telepon dari Siwan yang menanyakan kondisi Hanna saat itu. Aji menjelaskan semuanya tanpa ada yang di lebihkan ataupun di kurangi.


" Sumpah, aku tidak melakukan hal apapun lagi setelahnya, tanyakan saja pada Bram " ucap Aji.


" Kenapa kau tidak memberitahuku kalau dia mabuk ?" tanya Siwan.


" Maaf " hanya itu yang keluar dari mulut Aji.


" Lalu, malam itu kalian tidur dimana ?" tanya Austin.


" Kami tidur di mobil, aku tidak tahu pasword baru rumahnya, aku tidur di depan, dan dia tidur di kursi belakang, kau bisa lihat rekaman cctv hari itu " ucap Aji.


" Sudahlah kak, aku yakin Aji berkata jujur, dia pasti punya alasan kuat tidak mengatakannya padamu " ucap Austin.


Dan secara tiba - tiba Aji mengatakan sesuatu yang membuat keduanya terkejut.


" A-aku menyukainya, aku menaruh hati padanya " ucap Aji secara tiba - tiba membuat mata Siwan dan Austin membelalak.


" Itukah alasanmu mengubah jadwal antara kau Tio dan Bram ?" tanya Siwan.


" Ya, aku tidak mau bertemu lagi dan berada di sampingnya, kalau tidak... " ucapan Aji tertahan.


Siwan mengangkat alisnya sebelah. Tatapan mengintimidasi nya kembali tersirat di wajahnya.


" Kalau tidak aku juga bisa goyah, sekuat apapun aku membatasi diriku, tapi aku ini pria normal, maafkan aku !!" ucap Aji.


Austin mengangkat kedua jempolnya untuk Aji.


" Tidak ku sangka, kau sangat berani mengakui di depannya, kau sungguh bersikap layaknya seorang pria " Austin takjub pada Aji.


Tanpa rasa takut sedikitpun dia dengan lantang mengungkapkan isi hatinya di hadapan pria yang terkenal tanpa ampun pada orang yang menghianatinya.


" Sejak kapan kau mulai menyukai nya ?" tanya Siwan, penasaran.


" Aku tidak tahu, perasaan itu muncul secara tiba - tiba, kau terlalu mempercayakannya padaku, aku malah menghianati kepercayaanmu, kalau saja dia pun tahu, mungkin dia akan menjauh dariku, tapi percayalah, di hatinya hanya ada dirimu, dia menciumku karena dia mengira aku adalah dirimu, dia sebelumnya meracau memarahimu di hadapanku " ucap Aji.


" Aku no coment ya, aku bukan juri di sini, aku hanya pendengar setia !!" Austin selalu mencoba memecah suasana tegang di antara ketiganya.


" Lalu bagaimana dengan ini... " Siwan menunjuk fotonya dengan Jihye.


" Kau pasti tahu siapa dalang di balik semua ini ?" tanya Aji.


" Entahlah... pikiranku sedang tidak jernih, kalau memang Jihye pelakunya, dia sangat lancang sekali, aku tidak akan mengampuni nya " ucap Siwan.


" Izinkan aku mengusut tuntas masalah ini, aku akan mencari tahu siapa dalang di balik semua ini " ucap Aji.


" Baiklah, selanjutnya, bersikaplah seperti biasa saja padaku, aku percaya padamu, dan aku juga lebih mempercayai kekasihku, dia tidak mungkin menduakan hatinya denganmu " ucap Siwan.


Aji pun berdiri dari kursinya, dan dia pergi dari ruangan pribadi Austin untuk menjalankan missi baru dari Siwan.


" Kak, cepat carikan dia jodoh, kalau tidak... " Austin mengatup mulutnya karena Siwan menatapnya dengan tajam.


" Kalau tidak... ?" Siwan penasaran.


" Ka-kalau tidak, dia tidak akan move on dari pacarmu, kan gawat " ucap Austin. Setelah mengucapkan nya dia menyesalinya, dia berkali - kali memukul bibirnya perlahan.


Siwan berdiri dari kursinya, dan sebelum melangkah dia berkata...


" Kau saja yang carikan !!" seru Siwan.


Austin hanya mengernyit sambil tersenyum asin.


" Huh... cari buat sendiri aja susahnya minta ampun, apalagi buat si Setiaji... " gerutu Austin saat Siwan sudah keluar dari ruangannya.