My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Sejarah pertemuan part 2



Selang beberapa menit, benar saja, Hanna sudah tertidur lelap di atas ranjang rumah sakit itu. Selain pengaruh obat, mungkin dia juga sangat lelah karena siang tadi dia hanya tidur selama satu jam.


Siwan dan Austin duduk santai sambil menikmati coffe yang Siwan bawa saat kembali ke rumah sakit.


Austin berdecak, " Kak, nampaknya dia mulai penasaran lagi tentang sejarah pertemuan kita, apa dia masih belum tahu masa lalu mu yang satu itu ? tanya Austin sambil menyeruput iced coffe miliknya.


" Aku, hanya belum sempat !!" ucap Siwan.


" Aku, mana berani menjabarkan segalanya, meskipun kau mengizinkannya, lebih baik aku kubur saja masa lalu mu dalam - dalam, kau jalani saja masa kini dan masa depanmu dengan penuh kebahagiaan, tapi ingat ! jangan pernah kembali ke masa itu !!" imbuh Austin.


" Kau tidak percaya padaku ?" tanya Siwan mengangkat sebelah alisnya.


" Bukan tidak percaya, tapi, iman seseorang kadang lemah, mungkin kan... " ujar Austin.


Siwan hanya menyeringai.


" Kau ingat, kapan kira bertemu untuk yang kedua kalinya ?" tanya Austin.


" Emh... kalau tidak salah, kita bertemu di Singapura, apa di Jepang ya... " Siwan mencoba berpikir.


" Di Singapura.... !!" jawab Austin.


...****...


Beberapa tahun yang lalu...


Enam bulan setelah pertemuan Siwan dan Austin di Makau. Mereka belum pernah bertemu lagi satu sama lainnya.


Siwan nampak sibuk dengan dunia bisnis gelap nya, dan Austin saat itu menjadi relawan tenaga medis di negara Asia lainnya saat terjadi bencana.


Saat itu, musim hujan di negara Singapura, di sebuah hale bus, Austin nampak sedang terduduk menunggu hujan reda juga menunggu bus datang.


Siwan yang sedang melajukan mobilnya perlahan, seketika matanya membelalak saat melihat wajah Austin, mobilnya berhenti di depan halte, namun, di dalam mobilnya, ia masih mencoba mengingat pemilik wajah itu. Di balik jendela ia masih menelaah dan masih berpikir dengan keras.


" Aku pernah bertemu dengannya, tapi di mana ya... dan, siapa namanya... " gumam Siwan.


Namun, karena di belakang ia melihat bus berjalan mendekat, ia pun menyalakan kembali mesin mobilnya dan melaju.


Austin nampak berlarian masuk menuju ke dalam bus. Dia duduk di kursi dekat jendela. Matanya masih tertuju pada jalanan yang basah karena di guyur air hujan.


Saat bus berhenti di halte berikutnya, dia turun bersama beberapa penumpang lainnya. Hujan sudah reda saat itu, Austin berjalan menuju apartemen yang berjarak beberapa meter dari halte bus.


Saat Austin hendak masuk ke dalam pintu masuk gedung apartemen nya, seseorang memanggilnya dari belakang dengan bahasa inggris yang fasih.


" Hai, dokter, apa kabar ?" tanya seorang pria.


Austin menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


" Kau.... " Austin menunjuk pria itu dan berjalan mendekat.


" Masih ingat aku ?" tanya pria itu.


" Tentu saja, tuan Siwan !!" ucap Austin.


Pria itu adalah Siwan, yang beberapa bulan lalu sempat ia tolong saat kondisinya babak belur setelah di serang oleh musuhnya.


Beberapa menit kemudian, kini Siwan dan Austin sudah berada di dalam apartemen milik Austin.


Mereka duduk di sofa bersebrangan. Austin menyeduh dua gelas kopi lalu membawanya ke hadapan Siwan.


" Silahkan tuan, kopinya... " ucap Austin.


" Terima kasih banyak " jawab Siwan lalu mengambil gelas kopinya dan menyeruputnya.


Dan percakapan pun di mulai, Austin menceritakan bahwa dirinya baru pulang dari negara Jepang setelah menjadi sukarelawan di sana, dan dia sekarang sedang mengambil kuliah S2 nya di sini sambil bekerja di salah satu rumah sakit yang ada di negara Singapura.


Siwan merasa senang mendengarnya, ia berkata bahwa ia masih merasa berhutang pada Austin, ia bahkan belum pernah berterima kasih secara benar padanya. Karena saat itu, setelah Siwan di tolong oleh Austin dan pulang ke rumahnya setelah anak buahnya menjemput, mereka belum pernah bertemu kembali.


" Dua hari kemudian, aku kembali ke apartemen mu di Makau, tapi kau sudah pergi, bahkan pacarmu pun sudah pindah dari sana " ujar Siwan.


" Ah, iya... aku memang saat itu sudah berangkat ke Jepang, dan Pat pindah ke ibu kota karena pekerjaannya " jawab Austin.


" Lalu, di mana sekarang kekeasihmu itu ?" tanya Siwan.


" Kami, maksudnya hubungan kami sudah berakhir, saat aku pergi ke Jepang, dia memutuskan hubungan denganku, entahlah, wanita memang tidak jelas !!" jawab Austin.


Siwan hanya tersenyum mendengar nya, lalu tanpa terasa kopi di cangkirnya sudah habis.


" Punya mu sudah habis, mau ku buatkan lagi ?" tanya Austin.


" Tidak usah, sepertinya aku harus segera pergi, lain kali aku akan mengajakmu makan sebagai ucapan terima kasih ku " ujar Siwan.


" Tidak apa kak, tidak usah merasa berhutang padaku, pekerjaanku memang seperti itu " jawab Austin.


Setelah pertemuan hari itu, Siwan dan Austin sering bertemu, mereka semakin mengenal lebih dalam karakter dan kehidupan masing - masing. Siwan bahkan menjadikan Austin dokter pribadinya. Austin tidak pernah merasa canggung dengan latar belakang Siwan yang seorang tukang judi dan mafia bisnis ilegal lainnya, seperti perdagangan dan penyelundupan senjata api, penyelundupan tenaga kerja ilegal dan bisnis jasa keamanan.


Siwan melebarkan bisnis nya di beberapa negara Asia semenjak ia menyelesaikan wajib militernya. Bukannya membantu sang ayah mengelola perusahaan, Siwan malah kabur ke negara lain setelah kuliahnya selesai dan berbisnis dengan cara yang jauh berbeda dari keluarganya.


Hingga perpisahan pun terjadi, karena Siwan menjadi pewaris salah satu anak perusahaan kakeknya dan harus kembali ke Korea.


Austin pun yang baru menyelesaikan gelar S2 nya harus kembali pulang ke kampung halamannya karena Pat, mantan pacarnya mengajaknya kembali hidup bersama di Australia.


...*****...


Austin dan Siwan kini sedang tertidur di atas sofa. Saat itu, hari sudah mulai nampak gelap. Pukul 18.30 tepatnya, Hanna yang sudah terbangun dari tidurnya, mendapati dua orang yang ia sayangi sedang tertidur berdampingan dengan posisi terduduk dan saling bersandar di atas sofa.


Seseorang masuk ke dalam ruangan itu...


Perlahan pintu di geser dan langkah kaki orang itu terhenti saat Hanna mengisyaratkan sesuatu padanya.


" Ssst... ' Hanna menutup mulutnya dengan satu telunjuknya ' pelan - pelan " ucapnya berbisik, lalu matanya mengisyaratkan sesuatu lewat lirikannya.


Aji, pria yang baru masuk ke dalam ruangan itu, berjalan mengendap - ngendap bagaikan seorang maling yang hendak menjarah sebuah rumah.


Lalu ia berjalan kembali mengendap - endap mendekati Siwan dan Austin.


Aji mengeluarkan hp di saku jaketnya, dan...


Cekrek... cekrek...


Beberapa foto ia ambil sambil menahan tawa.


Begitu pula dengan Hanna, ia di belakang pun menahan tawa agar tidak lepas, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Setelah selesai memfoto mereka, Aji menghampiri Hanna dan memperlihatkan hasil jepretan nya.


Mereka berdua nampak cekikikan.


" Kirimkan padaku juga, aku akan mengeditnya !!" seru Hanna.


"Syipp... " Aji mengacungkan jempolnya.


" Lihatlah bromance ini, mereka sangat imut saat sedang tidur !!" ucap Hanna lalu kembali cekikikan.


Tanpa mereka sadari, saat sedang berbincang dan cekikikan, seseorang sudah berdiri di belakang tubuh Aji.


" Seru sekali, sedang apa kalian ?"


Aji perlahan menoleh ke belakang, ia tekejut karena merasa tidak mendengar langkah kaki seseorang mendekat padanya.


" Ah... ini, hehe... " Aji menyeringai.


" Ahjussi, aku ingin ke kamar mandi !!" ucap Hanna mengalihkan pembicaraan.


Aji mundur dan menghampiri Austin yang masih terlelap di sofa.


Siwan menggendong Hanna ala bridal style. Ia membawa kekasihnya masuk ke dalam kamar mandi dan menunggunya di dalam. Ia hanya membalikkan badan saat kekasihnya sedang membuka celananya hingga kembali memakainya.


Selesai dari kamar mandi, Siwan kembali memangku kekasihnya hingga kembali duduk di atas ranjangnya.


Austin kini sudah bangun. Dia pamit pulang bersama Aji. Sebelum pulang, Aji menyerahkan kunci mobil pada Siwan dan satu tas berisi laptop dan perlengkapan Siwan, juga satu kantong makanan untuk Siwan makan malam.


Satu jam berlalu, Siwan baru selesai menyuapi kekasihnya makan malam. Dan, gilirannya makan malam di meja makan.


" Chagiya, apa kau memberitahu orangtua mu di Bandung ?" tanya Siwan.


" Tidak, aku tidak mau mereka khawatir, lagi pula kondisi ku tidak terlalu parah kan !!" jawab Hanna.


" Kau ini, selalu seperti itu !!" imbuh Siwan.


Hanna hanya tersenyum dan kembali fokus berselancar di dunia maya.


Beberapa jam kemudian, kini mereka berdua sudah siap untuk tidur, setelah menggosok gigi dan mencuci muka, mereka kini terbaring di ranjang masing - masing.


Sebelum memejamkan mata, Siwan bertanya sesuatu pada Hanna.


" Chagiya, boleh aku bertanya padamu ?" tanya Siwan.


" Tanyakan saja, gratis, hehehe... !!" jawab Hanna.


" Kapan ibuku datang ke rumahmu, dan, apa dia mengatakan sesuatu padamu ?" tanya Siwan menatap ke atas, karena ranjang miliknya lebih rendah di banding ranjang pasien.


" Sesuatu, seperti apa maksudnya ?" tanya Hanna kembali berpura - pura tidak paham.


" Jangan berpura - pura tidak paham, kau ini sangat cerdas, aku tahu, kau pasti tidak ingin aku mendatangi ibuku dan menyuruhnya tidak ikut campur urusan pribadiku " Siwan menelaah gestur tubub kekasih nya yang nampak resah.


" Ahjussi, ibumu sangat perhatian dan menyayangimu, meskipun kalian jarang bertemu, beliau tetap seorang ibu yang selalu memcemaskan nasib anaknya " jawab Hanna.


" Mencemaskan nasibku ?" Siwan nampak heran.


" Iya, nasibmu, intinya beliau ingin agar kau bahagia, dan segera membangun keluarga kecilmu sendiri !!" jawab Hanna, lalu menggigit bibir bawahnya, ia merasa sudah keceplosan dan menyesal telah mengucapkan semuanya.


" Oh... begitu kah ? hanya itu ?" tanya Siwan.


" I-iya... " jawab Hanna nampak ragu.


" Baiklah, tidurlah, untuk saat ini, fokuslah pada pemulihan kesehatan mu !!" ucap Siwan, lalu terbangun dari posisinya dan menghampiri Hanna.


" Aku mencintaimu, chagiya, apapun akan aku lakukan asal bisa terua bersamamu !!" ucap Siwan lalu mengecup bibir kekasihnya, lalu pada keningnya, dan kembali merebahkan dirinya di ranjang bawah.


Hanna merasa tertegun mendengar ucapan kekasihnya itu. Namun, di sisi lain, ia kembali teringat pada perkataan ibu Siwan yang sempat membuatnya menangis berhari - hari.


Flashback...


Saat itu, saat ibu Siwan berkunjung ke rumah Hanna, maksudnya rumah Siwan yang di tinghali oleh Hanna. Di ambang pintu luar rumah, sebelum pergi menghampiri mobilnya, ibu Siwan menghentikan langkahnya dan berbalik ke belakang menghadap Hanna yang mengikutinya di belakang.


" Tolong, anggap saja ini permintaan dariku !!" ucap ibu Siwan.


Hanna menatap matanya dengan tatapan sendu.


" Bu, bisakah memberiku, ah maksudku memberi kami kesempatan untuk tetap bersama, hingga aku kembali ke kampungku nanti, dan aku berjanji tidak akan kembali kemari lagi untuk menemuinya !!" pinta Hanna.


" Kapan itu ? bukankah sama saja, sekarang ataupun nanti, kalian tetap tidak bisa bersama, begitukan katamu " ucap ibu Siwan.


" Kalau kau benar - benar menyukainya, pikirkanlah kebahagiaan nya, dia berhak membangun keluarga kecilnya, dengan siapapun aku tidak masalah, aku yakin pilihannya tidak akan pernah salah, hanya saja, kalau kau masih mengikatnya seperti ini, saat waktunya tiba, ikatan kalian semakin kuat, apa bisa, kalian melepaskannya ?" tanya ibu Siwan dengan penuh penekanan.


Hanna merasa terguncang, ia tertunduk namun tetap berusaha tegar, menahan air matanya agar tidak keluar di hadapan ibu Siwan.


Dan ibu Siwan nampaknya memahami situasinya, ia tidak melanjutkan pembicaraan mereka.


" Pikirkanlah... " ucap Ibu Siwan, lalu pergi meninggalkan Hanna mematung di halaman rumah nya.


Setelah mobil yang di naiki ibu Siwan pergi, Hanna pun terburu - buru masuk ke dalam rumahnya dan berlari menuju kamarnya dan menangis sejadinya di atas ranjangnya di bawah tumpukan bantal.


...****...