
Selesai di rias, Hanna masih di temani oleh Asya sang MUA yang adalah teman SMA nya itu.
Hanna duduk di atas ranjangnya dengan gelisah menanti kedatangan calon suaminya beserta keluarganya yang masih belum tiba di kediamannya.
Tok...tok...tok...
Pintu kamar Hanna di ketuk, lalu terbuka secara perlahan. Dari balik pintu ayah dan ibunya masuk ke dalam mendekat pada Hanna.
Asya seakan mengerti dengan situasinya, ia pun melipir keluar setelah kedua orangtua Hanna masuk kedalam kamar.
"Bu..." Hanya itu yang keluar dari mulut Hanna saat itu, ia merasakan perubahan emosinya terjadi terlalu cepat, ia mendadak menjadi sedih, karena sebentar lagi ia akan berstatus sebagai seorang istri, dan mungkin harus kembali meninggalkan kedua orangtuanya untuk mengikuti suaminya kemanapun suaminya pergi.
Hanna dan bu Hani saling bertatapan semakin dalam.
Sebelum keduanya menumpahkan air mata yang masih tertahan di pelupuk mata mereka, pak Bagyo kemudian menyela.
"Jangan menangis, nanti makeup kalian luntur !!" tanpa sadar kalimat itu menyembur dari bibirnya.
Sontak Hanna dan bu Hani pun tertawa terkekeh sambil menghapus air mata yang sedikit meluncur di pipi mereka.
Hening sesaat... Kemudian...
"Nak, kau akan resmi menjadi seorang istri, kau sudah dewasa, kau sudah paham tentang apa saja tugasmu dan peranmu di kehidupan selanjutnya setelah menyandang status itu, masalalu, lupakan saja, tak ada gunanya di ungkit kembali, yang sudah terjadi, biarlah semuanya terjadi, yang penting sekarang, setelah pernikahan ini berlangsung, bapak cuma minta, rajutlah kebahagiaanmu bersama keluarga barumu, tanpa adanya keraguan dan kesedihan, sudah cukup selama ini kau memendam semuanya, kini, kau akan memiliki teman hidup untuk berbagi keluh kesahmu setiap saat, jadilah istri yang baik dan shaleha bagi suamimu, dan jadilah ibu yang baik dan bijaksana untuk anak-anakmu, bapak dan ibu akan selalu menjadi orangtua yang akan mengawasi dan mendidikmu meskipun kau sudah hidup berumah tangga, karena kau tetaplah anakku, anak kami, jangan pernah ragu untuk kembali kemari, karena ini tetaplah akan menjadi rumahmu !!"
Ucapan pak Bagyo begitu menghangatkan hati Hanna, kegelisahan yang dirasa olehnya mendadak sirna, air mata pun mengalir kembali membasahi pipi Hanna.
Bu Hani dengan cekatan menghapus air mata di pipi anak sulungnya itu dengan tissue yang secepat kilat ia cabut dari wadahnya.
"Kau harus bisa menjalani semua rintangan bersama-sama, pernikahan bukanlah akhir dari cerita indah asmara dua insan, pernikahan adalah awal kehidupan yang harus kau jalani dan kau hadapi baik suka maupun duka bersama dengan pasanganmu, apapun yang terjadi di dalamnya, kalian harus saling menguatkan, melengkapi satu sama lain, aku akan selalu mendoakan kebahagiaan dan keselamatan untuk kalian, berbahagialah !!" bu Hani menarik anaknya ke dalam pelukannya.
"Terimakasih banyak bu, pak, aku tidak tahu lagi harus mengucapkan apa sebagai bentuk rasa syukurku mendapatkan kedua orangtua seperti kalian," Hanna berkata dengan nafas tersengal-sengal karena menahan rasak sesak di dadanya, ia ingin menangis meraung-raung dalam suasana haru detik itu juga.
Setelah ketiganya kembali tenang.
"Hari ini, kau hanya bisa menikah secara agama saja, setelah itu, kita urus semua dokumen untuk menikah secara sah di mata negara di KUA nanti, setelah Siwan menyelesaikan urusan tentang status kewarganegaraannya, " ucap pak Bagyo, yang mengejutkan Hanna.
"Apa, ahjussi pindah kewarganegaraan ?" Hanna terlihat kaget mendengarnya.
"Hei... bukankah selama ini kalian selalu berkomunikasi, apa dia tidak memberitahumu? sebenarnya hubungan yang kalian jalani selama ini seperti apa? apa dia memang tipe orang yang selalu memberi kejutan padamu?" cerca pak Bagyo pada anaknya.
"Ish... sudahlah pak, masalah anak muda, biarkan mereka berdua yang berbicara nanti, ayo kita bersiap-siap, sebentar lagi keluarga Siwan akan datang kemari," ucap bu Hani menyela.
Kedua orangtua Hanna pun keluar dari kamarnya, Asya pun kembali masuk ke dalam kamar setelah sebelumnya mengecek persiapan dekorasi di dalam rumah Hanna yang seadanya. Dekorasi yang nampak minimalis namun tetap terkesan meriah hanya di kerjakan dalam waktu hanya 2 jam saja di tangan sang profesional para asisten Asya.
Asya seolah mendapatkan tantangan dalam proyeknya kali ini, merias dan mengatur rencana pernikahan dadakan hanya dalam waktu dua jam, waw, sungguh amazing pikirnya.
Demi seorang teman, ia rela melakukan hal gila yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.
Ia melakukan semua untuk Hanna karena ia merasa berhutang budi padanya, meskipun mereka tidak akrab, tapi Hanna pernah beberapa kali menolongnya menghindari hukuman dari guru BP yang akan di terimanya karena selalu datang terlambat ke sekolah.
Asya sejak dulu selalu bekerja keras banting tulang untuk membantu mengembangkan bisnis WO ibunya di sela kegiatan sekolahnya. Maka dari itu, Asya terkadang selalu kesiangan bangun di hari ia harus pergi ke sekolah.
Di saat musim hajatan, WO ibunya selalu kebanjiran job, ia selalu membantu ibunya menjadi asisten merias maupun memperhatikan para karyawan ibunya, dan ikut mengatur serangkaian kegiatan yang harus di lakukan di saat menerima pekerjaan untuk membuat sebuah acara resepsi pernikahan maupun acara yang lainnya berlangsung dengan lancar dan juga sukses memuaskan pelanggannya.
"Aih... kau menangis, lihat, airmata di pipimu sedikit meninggalkan jejak, aku harus mentouch up kembali makeupmu," ucap Asya.
Dan, tak berselang lama, seseorang kembali membuka pintu kamar Hanna.
"Assalamualaikum calon manten !!" beberapa suara nyaring milik wanita yang kepalanya menyembul di balik pintu berhasil membuat Hanna tersenyum lebar.
Audrey, Karina dan Yasmin berhamburan masuk ke dalam kamar untuk melihat sahabatnya yang sedang berbahagia.
Tak lupa mereka sempat menyapa Asya, karena mereka juga mengenalnya meskipun tidak akrab juga, karena mereka satu SMA dulu.
"Asya, masa kamar pengantin seperti ini, lihat, ini malah terlihat seperti kamar bayi !!" pekik Audrey dengan mata yang terus berpendar.
"Aih... sahabatmu yang satu ini, hanya memberiku waktu selama dua jam untuk menyulap dirinya jadi ratu sejagad semalam, kau bisa bayangkan sendiri betapa hebohnya aku dari rumah hingga sampai kesini !!" ujar Asya, seolah menyindir seseorang.
"Hahaha... dia berhasil mengerjaimu, lagipula, kenapa kau mau saja di todong seperti itu olehnya," Karina menunjuk Hanna yang sedang memajukan bibirnya beberapa senti.
"Itu karena aku ini sangat profesional, dia membayarku sangat mahal, paham !!" jawab Asya.
"Ish... mata duitan !!" Karina mengerling, ia masih ingat dengan jelas saat jaman SMA dulu, saat mereka mengadakan acara perpisahan di sekolah, saat ia dan genknya meminta Asya dan ibunya untuk merias wajah mereka juga meminjamkan baju kebaya, semua itu tidak gratis, Asya tetap mematok tarif seperti pada orang lain, tidak ada kata diskon sama sekali keluar dari mulutnya, ia terlalu pelit bahkan pada temannya sendiri.
Berbeda dengan ibunya Asya yang sangat baik hati, ia bahkan malu untuk menerima bayaran dari teman-teman anaknya itu. Namun, Hanna memaksa ibunya menerima haknya itu, pada awalnya niat Hanna dan genknya memang ingin membayar sesuai tarif yang berlaku, mereka hanya mengggoda Asya untuk meminta diskon, itu saja.
"Ini hadiah dariku," Yasmin menyodorkan sebuah paperbag pada Hanna.
"Ini juga dariku, " susul Karina dan Audrey.
"Ya ampun, tidak perlu repot-repot kalian ini, aku senang kalian bisa hadir disini, apalah artinya sebuah hadiah hadiah bagiku, kalian yang terpenting untukku !!" ucap Hanna, tak lupa mengucapkan terimakasih.
"Hanna, dariku untukmu, semua ini gratis !!" sahut Asya, seketika membuat yang lain menatap kearahnya.
"Tidak apa Asya, aku akan membayarmu sesuai perjanjian kita tadi !!" timpal Hanna.
"Aku serius, ini hadiah dariku, aku tidak tahu harus membeli apa untukmu, aku bahkan tidak tahu seperti apa seleramu, jadi kau tidak usah bayar, aku ikhlas, oke, no debat !!" Asya tetap saja seperti dulu, orangnya to the point dan tegas di mata Hanna.
"Terimakasih banyak Asya, " ucap Hanna.
"Ya, tapi kalau kau mau mengadakan resepsi, maaf, aku hanya akan memberimu diskon saja, realistis saja, karyawanku perlu uang, aku tetap harus memberi mereka upah, " ucap Asya kemudian.
"Yaelah... emangnya, lu pikir Hanna bakal ngadain resepsi disini, enggak kali, pasti di Bali lah, iya kan Han ?" tanya Audrey yang sejak tasi selalu ingin mendebat Asya.
"Beneran Han ?" tanya Yasmin pula.
Hanna mengangkat kedua pundaknya.
"Aku belum memikirkannya, semua terlalu dadakan, bahkan hari ini kami hanya bisa menikah secara agama, setelah dokumen dan persyaratan lengkap, barulah kami bisa melangsungkan pernikahan negara di KUA, " jawab Hanna.
Gelak tawa memadati udara di dalam ruang kamar Hanna. Semuanya berhenti saat mendengar suara keramaian di luar kamar Hanna.
"Eh... sepertinya calon mempelai pria sudah datang, ayo cepat keluar, kita abadikan oppa Korea kesayangan sahabat kita satu ini, dia pasti tampil keren hari ini !!" ajak Audrey.
Hanna pun kembali hanya di temani oleh Asya di dalam kamar.
Dada Hanna kembali bergemuruh kala ia mendengar suara ayahnya menyambut para tamunya di luar sana. Ingin rasanya ia mengintip sesaat keluar untuk melihat seperti apa wajah dan tampilan calon imamnya saat itu.
Namun, saat pintu berhasil terbuka sedikit, malah wajah tampan dan menggemaskan bayinya yang sedang tersenyum di depannya kini.
"Hanna, Hwan mengantuk sepertinya !!" ucap Vanya yang sedang menggendong Hwan.
"Aish... kemarilah sayang," kedua tangan Hanna melayang dan bersiap menerima tubuh bayinya yang semakin besar dan berat itu.
"Asya, aku bisa menyusuinya dulu untuk beberapa saat, sebelum acaranya di mulai,"
Hanna pun di bantu oleh Asya untuk membuka beberapa kancing pengait kebayanya di bagian belakang agar Hanna bisa sedikit melongharkan bagian depan kebayanya untuk mengeluarkan payudaranya dari sarangnya demi mengASIhi putra tercintanya.
"Baru kali ini aku mendapatkan klien calon pengantin yang menyusui dulu sebelum akad nikah, hadeuh... " Asya menepuk keningnya.
Hanna hanya terkekeh sambil fokus pada Hwan yang sudah mulai menyedot cairan yang ada di dalam gundukan gunung kembar miliknya.
...***...
Di sisi lain... di luar kamar Hanna...
Ketika ketiga sahabat Hanna sudah keluar dari kamar Hanna, mereka langsung berhamburan ke area dapur untuk keluar menuji halaman depan rumah demi melihat Siwan yang masih berada bersama rombongan keluarganya.
Entah mengapa di mata mereka hari itu, Siwan nampak gagah meskipun hanya memakai setelan jas hitam dan kemeja putih di dalamnya, tak lupa hari itu ia bahkan memakai kopiah polos berwarna hitam di atas kepalanya.
"Dia terlihat seperti ustadz kampung sebelah yang terkenal itu... " bisik Yasmin.
"Astagfirullah... ketahuan si Hanna bisa-bisa dia marah loh, " sahut Audrey, lirih.
"Kenapa memangnya? bagus dong kalau seperti ustadz, islami, berilmu agama tinggi, kita doakan supaya suami Hanna juga seperti itu, jadi imam yang mampu membimbingnya masuk surga," Yasmin terkesima melihat Siwan yang tanpa sengaja menatap ke arahnya sesaat sebelum Siwan masuk ke dalam rumah.
"Yasmin, mentang-mentang suamimu tidak ada, jadi matamu bisa jelalatan, begitu? mau kulaporkan?" tanya Karina.
"Astagfirullah... maafkan aku suamiku," Yasmin seketika berkomat-kamit mengucapkan doa memohon pengampunan atas perbuatannya. Saat itu, suami Yasmin memang tidak bisa hadir karena sedang bertugas di luar kota, anaknya pun ia tidak bawa karena takut tidak fokus menyaksikan acara pernikahan sahabatnya kali ini. Anaknya ia titipkan ke rumah ibunya sebelum ia pergi ke rumah Hanna.
Sebagian tamu dari pihak keluarga menunggu di halaman luar rumah Hanna yang kini sudah berjejer kursi-kursi untuk tamu undangan yang di bawa oleh Asya dari gudang WO miliknya.
Sedangkan di dalam rumah, para tamu duduk secara lesehan hanya beralaskan karpet.
Di dalam, dari pihak mempelai wanita selain kedua orangtua Hanna, sudah hadir para paman, bibi, serta pak RT dan pak RW, juga beberapa orang tetangga dekat ikut hadir sebagai saksi pernikahan Hanna kali ini.
Sedangkan dari pihak laki-laki, Siwan hanya ditemank oleh bu Shinta, Aji, Ayu dan suaminya Keenan, bi Asih dan juga bi Lastri, tak lupa juga Elsa ikut menghadiri acaranya, hanya saja ia menunggu di luar bersama pak Andi, dua orang supir lainnya, dan tiga orang yang di tugaskan untuk menjaga keamanan lingkungan sekitar kediaman Hanna.
"Eh... Rayhan mana, kenapa dia belum datang?" tanya Karina.
"Coba kau telepon dia !!" pinta Yasmin.
Elsa yang sempat mendengar pertanyaan Karina secepat kilat mengirimnya pesan karena saat itu ia memang sedang memegang hpnya.
Elsa (Kau dimana?)
Namun, sudah sepuluh menit, Rayhan bahkan tidak membalas pesan darinya.
Indera penglihatan Elsa tidak tertuju pada suasana khidmat yang sedang berlangsung di dalam rumah, namun ia berkeliling ke sekitar jalanan dari lokasi rumah Hanna seolah sedang menantikan kehadiran seseorang.
"Nah, itu dia !" ucap Audrey menunjuk ke arah belakang.
Elsa pun menoleh ke belakang, Rayhan terlihat berlarian dari jaun hingga saat di depan pagar rumahnya, ia baru berhenti, menegakkan tubuhnya kemudian mengatur nafasnya perlahan.
Tatapan Rayhan tertuju pada Elsa sesaat, kemudian beralih pada sahabat Hanna yang terlihat kepo padanya.
"Maaf aku terlambat, aku baru pulang dari Bogor," ucap Rayhan pelan karena takut mengganggu suasana yang sudah berlangsung di dalam.
Rayhan datang menggunakan baju koko berwarna putih, di kepalanya ia pakaikan peci berwarna putih pula. Hampir seluruh tamu jari itu mengenakan dresscode berwarna putih.
Wajah Rayhan terlihat sedikit lengket karena peluh yang bercucuran di pelipisnya. Sehingga Elsa yang berada di dekatnya secara tidak sadar mengusap pelipisnya dengan tissue yang sedang ia pegang.
Netra keduanya kembali bertemu. Dan, suara batuk dari Karina membuat keduanya tersipu malu, dengan cepat Elsa menarik lengannya dan melempar tisue itu ke wajah Rayhan.
Suara cekik tawa terdengar jelas di telinga keduanya meskipun hanya pelan.
"Cie... cie... next bride cie... " ucap Yasmin, lirih.
"Aku, harus mengecek area belakanh dulu, " ucap Elsa, lalu pergi dari hadapan orang-orang yang membuat wajahnya yang putih memerah bagaikan udang rebus karena malu.
Rayhan hanya tersenyum menatap punggung Elsa yang semakin menjauh dengan jantung yang masih berdebar kencang.
"Jantungku berdebar, mungkin efek aku berlarian dari rumah sampai kesini !" Rayhan menyentuh dada sebelah kirinya merasakan irama detakan jantungnya yang perlahan mulai melemah.
"Itu hanya akal bulusmu, sudahlah, kau sebaiknya segera masuk sebelum ijab qobulnya dimulai, bukankah kau ingin menjadi saksi di samping kak Wan, " ucap Audrey.
"Hati-hati, jangan sampai pak penghulu salah malah memegang tanganmu," sindir Karina.
Rayhan tersenyum tipis, mengabaikan ucapam Karina lalu masuk ke area dalam dan duduk tepat di samping sebelah kiri Siwan setelah bersalaman dengan tamu yang lainnya. Posisi itu seakan sengaja di kosongkan oleh Siwan untuk menagih janji Rayhan yang akan menjadi saksi melepaskan perasaannya pada Hanna untuk selamanya di hadapan penghulu hari ini.
Saat itu, di dalam masih mendengarkan khutbah nikah yang sedang di berikan oleh wali sebelum memulai prosesi ijab qobul.
...***...
Masih belum SAH...
Berdoalah semoga tidak ada keributan di detik detik terakhir...