My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Firasat



Keesokan harinya...


" Teh, bangun, temenin aku dong, ke pasar baru beli kaos..." Sahut Abdul menggoyangkan badan Hanna yang masih tertidur lelap.


" Aduh, apaan sih dul ah, masih ngantuk atuh nanti siang aja weh." Hanna menendang adiknya yang terduduk di sampingnya.


" Ih, dasar kebluk, buru atuh, mau langsung di ke tukang sablonin siang, biar cepet beres. " Ucap Abdul menggoyangkan kembali badan kakaknya.


" Iya atuh bentar mandi dulu lah.. " Ucap Hanna mencoba terbangun dari tidurnya.


" Oke, jangan lama ya !!" Ucap Abdul lalu pergi berlalu meninggalkan kamar Hanna.


Dua jam kemudian...


" Ya ampun, dasar cewe lebay anat sih, mau ke pasar doang dandan ampe berjam - jam, ih.. lama.. " Ucap Abdul.


" Mau di anter gak, kalau mau di anter gak usah banyak ngomong deh, diem aja tungguin napa, lagian pan ini perut tadi udah demo kudu di isi dulu, abis itu mandi biar wangi, terus dandan biar cantik. Protes mulu sih.. " Ucap Hanna dengan nada sewot.


" Gak ngaruh, tetep aja jomblo, hahaha... " ucap Abdul meledek Hanna yang masih merias di kamarnya.


" Ish... kamu ini sama si teteh gak sopan banget sih. " Ucap ibunya lalu masuk ke dalam kamar Hanna.


" Teh, nanti disana nitip beli ini ya, ni daftarnya sama uangnya. Kelewatan kok, masih di sekitar situ." Ucap ibunya Hanna.


" Siyap mah !! eh.. ngomong - ngomong, itu si Abdul jadi gak masuk sekolah militer ?" tanya Hanna baru ingat kalau adiknya kan sudah lulus sekolah.


" Tau akh, pusing mamah mah, tanyain sendiri aja deh sama kamu, dia mah plin plan banget." Ucap ibunya lalu pergi meninggalkan Hanna di kamarnya.


Pukul 09.30 wib, kini Hanna dan Abdul sedang berboncengan di atas sebuah motor, mereka berada di perjalanan menuju sebuah pasar di daerah perkotaan, pusat perbelanjaan yang cukup padat dan lengkap di kota Bandung terutama fashion dan kain grosiran.


Sesampainya disana mereka berkeliling dari satu toko ke toko lain mencari barang yang mereka cari.


" Kamu mau bikin kaos buat apa sih ?" buat di jual ?" tanya Hanna.


" Bukan teh, ini bikin kaos buat reuni." Jawab adiknya dengan wajah polos.


" Hah... apa - apaan kau ini, Hanna merasa tertohok mendengar penjelasan adiknya ' sekolah baru lulus aja udah mau ngadain acara reuni ? perasaan baru juga sebulan gak ketemu emang udah pada kangen lagi gitu ? ya Alloh, lucu sekali adik hamba ini.. " Ucap Hanna sedikit tertawa.


" Ish... buat reuni alumni smp tau, bukan sma, dengerin dulu napa belum beres hamba berbicara padamu nona. " Sahut adiknya.


" Owh... smp, kirain reuni sma. Eh, kamu jadinya mau kuliah apa masuk sekolah militer sih, jangan bikin mamah sama bapak pusing bisa gak sih.. " ucap Hanna menatap adiknya dengan raut wajah kesal.


" Hehe... gak jadi ah, mau kuliah aja ke Unik*m, mau memperdalam ilmu sesuai hobiku saja. " Jawab Abdul.


" Beneran ya, awas lu kalau berubah pikiran lagi, gue kirim lu ke pesantren sekalian biar tobat. " Ucap Hanna.


" Beneran sekarang mah udah fix, gak bakal rubah lagi deh suerrrr , viss.. !!"


Bebrapa jam kemudian, setelah lelah mendapatkan barang incaran mereka, kini mereka memutuskan untuk makan siang di salah satu rumah makan khas sunda di Bandung. Lokasinya memang agak jauh dari tempat mereka tadi berbelanja, namun, karena adiknya merasa penasaran belum pernah mengunjungi resto tersebut maka Hanna menuruti permintaan adik satu - satunya itu, walaupun sebenarnya cacing - cacing di perutnya sudah tidak bisa di kendalikan, mereka seperti terus berjoget dan menendang perutnya.


Sesampainya di resto, mereka langsung memesan menu andalan disana, tentu saja dengan masakan khas sunda nasi liwet dan berbagai macam lauk pauk mulai dari ikan gurame bakar kesukaan mereka, ikan asin jambal, cah kangkung, karedok leunca, petai, jengkol, tahu dan tempe selalu ada, tidak lupa sambal terasi dan sambal khas restoran tersebut yang menjadi ciri khas karena terkenal pedas dan enak.


" Alhamdulillah, aku bisa makan nikmat lagi seperti ini. Aku kangen jengkol.. " Ucap Hanna dengan suara terbata - bata menahan rasa pedas, lalu bersendawa lumayan keras.


Namun, tanpa di sangka - sangka, saat dia sedang bersendawa seperti itu, tiba - tiba ada seseorang yang lewat di depan meja mereka dan mendengar suara sendawanya itu dan menatap Hanna begitu dalam, dia menahan langkahnya seketika.


Sontak Hanna langsung menutup mulutnya dengan tangan kirinya karena merasa malu.


" Ahjussi... " ucap Hanna, tanpa di sangka - sangka Siwan lewat di depan mejanya bersama seorang pria sebaya dengannya.


" Ahjussi, siapa ?" ucap adiknya lalu menengok ke belakang.


Siwan dan temannya itu menghampiri Hanna lebih dekat.


" Sedang makan ?" tanya Siwan.


" Ah, iya, baru selesai." Jawab Hanna dengan mulut masih terhalangi oleh tangan kirinya.


Terdengar oleh Hanna temannya itu bertanya, " siapa ?"


Lalu Siwan menjawab dengan perlahan, " Hanna. "


Setelah mendengar jawaban dari Siwan baru lah pria itu memperkenalkan dirinya.


" Hai, kebetulan bertemu, saya Erik, temannya. " Erik menepuk pundak Siwan.


" Ah iya, maaf tangan saya masih kotor, tidak bisa bersalaman." Jawab Hanna sambil berdiri dan membungkukkan badan.


Lalu Siwan menengok ke arah adiknya Hanna.


" Oh iya, ini adik saya." Ucap Hanna menunjuk adiknya dengan cara yang sopan.


" Saya Abdul. " Ucap adik Hanna sambil berdiri dan membungkukkan badannya mengikuti gestur Hanna sebelumnya.


Siwan tersenyum lalu membalas membungkukkan badannya pada adik Hanna.


Karena suasana menjadi agak canggung, dan Siwan pun mengerti bahwa kekasihnya itu sedang gelisah, maka dia pun pamit bersama temannya.


" Baiklah, kalau begitu, silahkan lanjutkan makan siangnya ya.. " Ucap Siwan pada Hanna.


Siwan dan Erik pun berpamitan pada Hanna dan Abdul lalu meninggalkan meja mereka.


Lalu, Hanna pun baru ingat, dia belum menghubungi Siwan seharian ini. Dia buru - buru membuka hpnya, ternyata memang ada pesan masuk darinya. Lalu Hanna cepat membalasnya dan menjelaskan mengapa ia baru membalas pesannya karena sedari pagi sibuk berbelanja bersama adiknya.


Adiknya merasa ada sesuatu yang mencurigakan dengan sikap kakaknya, namun, dia tidak secara terburu - buru bertanya pada kakaknya itu.


" Aku cuci tangan dulu ya... " Ucap Abdul.


Lalu setelah itu giliran Hanna yang mencuci tangannya ke area wastafel yang tidak jauh dari meja mereka.


" Sudah kenyang, masih mau bungkus gak buat di rumah ?" tanya Hanna.


" Engga, gak usah, mamah kayanya masak daging di rumah. Kita pulang aja sekarang, daripada ngantuk disini." Ucap Abdul.


" Oke, yuk bayar dulu. " Ucap Hanna mengajak adiknya.


Saat di depan kasir.


" Maaf kak, tidak usah di bayar, itu pesan dari Koh Erik." Ucap kasir tersebut.


" Koh Erik ?" tanya Hanna merasa kebingungan.


" Iya kak, itu temannya Pak Siwan, beliau pemilik rumah makan ini." Ucap sang kasir.


" Oh.. begitu ya, jadi, saya gak usah bayar, bener begitu ?" tanya Hanna kembali meyakinkan.


" Iya betul kak, semua gratis." Ucap kasir itu.


Lalu adiknya menyenggol tangan kakaknya dan berkata, " udah kak, alhamdulillah uangmu masih aman."


Di dalam perjalana menuju pulang, Hanna sibuk berbalas pesan dengan Siwan, mereka berencana untuk bertemu nanti malam.


Lalu, tiba - tiba, saat motor sedang berhenti di stopan lampu merah, Abdul bertanya pada kakaknya.


" Teh, yang tadi itu siapa ?" tanya Abdul.


" Yang tadi di resto bukan ?" Hanna kembali bertanya.


" Iya, ampe gratisin makanan kita segala, gak nyangka aku punya kakak temennya pengusaha." Ucap adiknya.


" Apa kamu baru saja merendahkan derajatku wahai adikku ?" Hanna memukul helm adiknya dari belakang.


" Ish... baper banget sih, terus kok bisa kenal mereka, kelihatannya umurnya jauh beda sama teteh." Adiknya terdengar seperti sedang mengorek informasi dari kakaknya.


" Iya itu temenku namanya Siwan, aku biasa panggil ahjussi artinya paman, dia orang Korea cuma udah lama tinggal di Bali, kebetulan kemarin bareng ke Bandung abis dari Jakarta mau datang ke undangan Siska, soalnya dia temen calon pengantin pria." Ucap Hanna.


" Terus, koh Erik itu temennya Siwan, gitu ?" tanya Abdul.


" Ih... gak sopan ya, panggil om atau kakak kek, usianya kan lebih tua dari elu.. " Hanna kembali menjitak helm adiknya.


" Iya atuh iya, ahjussi aja !!" Seru Abdul.


" Dih... ngapain ikut - ikutan manggil ahjussi segala, kagak bisa, kalau mau juga lu mah manggilnya hyung, hyungnim lebih sopannya, itu artinya kakak laki - laki bahasa Korea cuy.. " Ucap Hanna.


" Gak mau, mau ahjussi aja biar sama. " Ucap Abdul ngeyel.


Hanna terlihat kesal, ingin kembali menjitak helm adiknya, namun terdengar bunyi klakson mobil dan motor di belakang, pertanda lampu sudah berganti menjadi hijau, membuatnya mengurungkan niatnya.


" Teh, terus, ahjussi itu, sekarang tinggal dimana ? punya rumah juga di Bandung. " Abdul semakin gencar seperti wartawan.


" Gak punya, dia menginap di hotel yang di daerah xxx deket dari kita. " Ucap Hanna masih belum menyadari bahwa adiknya sedang berusaha memancing informasi darinya.


" Owh... kok bisa, di kota kan banyak hotel yang berbintang 5, terus jauh - jauh makan siangnya di tempat tadi ?" Ucap Abdul.


" Dia kan janjian ketemu temennya itu, koh Erik di sana." Jawab Hanna.


" Tuh kan, padahal janjiannya di daerah kota, kok nginepnya di hotel daerah kabupaten sih... ?" tanya Abdul.


Hanna baru menyadari bahwa ia sedang merasa di interogasi.


" Dih... mana kutahu ya alasan sebenarnya apa, aku cuma tahu sedikit aja soalnya dia cerita sendiri pas di perjalanan pulang bareng ke Bandung." Ucap Hanna.


" Owh... seperti itu ya... " Ucap Abdul merasa tidak percaya.


" Napa sih lu, tiba - tiba jadi kek wartawan banyak nanya, malah kaya di interogasi nih hamba. " Ucap Hanna.


" Tidak, hamba hanya bertanya yang biasa saja, tidak menginterogasi dirimu berlebihan. " Jawab adiknya.


Setelah itu, tidak terdengar lagi percakapan di antara mereka. Sampai akhirnya tiba di rumah pun mereka seperti merapatkan giginya masing - masing.


Sesampainya di rumah, Hanna beristirahat sebentar sambil mengobrol dengan ibunya di ruang tengah. Setelah itu ia pergi mandi karena merasa panas berkeringat.


Saat selesai mandi, di dalam kamar ia melihat hpnya menyala, ternyata ada panggilan masuk dari Siwan. Hanna lalu balik menelponnya.


" Hallo, ahjussi, sekarang dimana ?"


" Aku sudah kembali ke hotel. Kau sendiri dimana ?" tanya Siwan di sebrang sana.


" Aku di kamar, baru selesai mandi, maaf ya tadi gak keangkat telepon darimu."


" Tidak apa, aku pikir kau masih di luar."


" Ah, tidak, aku langsung pulang habis makan siang. Tolong ucapkan rasa terima kasihku pada koh Erik, aku jadi malu, aku juga tidak menyangka kita akan bertemu disana."


" Iya, mungkin ini takdir. Aku juga benar - benar terkejut mendengar suara sendawamu untuk pertama kalinya."


" Ish... tolong jangan di bahas, aku jadi sangat malu."


" Hihihi... kau sangat ekspresif ya saat sedang bersama keluargamu." Ucap Siwan.


" Kau sedang meledekku ya ?" tanya Hanna.


" Tidak, aku tidak seperti itu." Jawab Siwan.


" Ish... ahjussi, nanti malam kita bertemu dimana ?" tanya Hanna.


" Terserah kau saja, kita makan malam bersama, kau saja yang mencari tempatnya." Ucap Siwan.


" Baiklah, nanti aku kirim lewat pesan ya. Aku sekarang mau tidur dulu sebentar ya, badanku pegal - pegal sekali rasanya." Ucap Hanna.


" Baiklah, jangan terlalu lama ya, aku sudah sangat merindukan mu. " Ucap Siwan.


" Iya, hanya sebentar. I love you.. bye.. "


Siwan hanya tertawa mendengar ucapan terkahir dari kekasihnya itu dan telepon pun di matikan oleh kekasihnya itu sebelum dia sempat menjawabnya.


Saat malam tiba, sekitar pukul 06.30, Hanna sudah berdandan rapih dan meminta adiknya mengantarkannya ke rumah Yasmin sahabatnya. Lalu, setelah berpamitan pada kedua orangtuanya, mereka pergi menuju rumah Yasmin yang hanya beberapa kilometer dari rumah Hanna.


Sesampainya disana, Hanna langsung masuk ke sebuah gang, karena rumah temannya itu berada di dalam sebuah gang. Dia memang benar pergi ke rumah Yasmin malam itu, namun, sang adik merasa curiga melihat gelagat kakaknya yang berbeda seperti biasanya.


Adik Hanna pun membuntutinya dari jauh. Setelah memastikan kakaknya masuk ke rumah Yasmin, dia pun kembali menuju motornya yang terparkir di depan gang rumah Yasmin. Kebetulan setiap malam di dekat rumah Yasmin ada tukang nasi goreng yang terkenal enak makanya selalu ramai pembeli.


Abdul pura - pura jadi pembeli nasi goreng sambil menunggu kakaknya pulang, karena tadi dia bilang nanti akan pulang sendiri saja naik ojeg online.


Selang sekitar setengah jam kemudian, saat Abdul selesai makan nasi goreng dia buru - buru membayarnya. Namun belum juga pergi, masih menunggu kakaknya itu. Lalu tiba - tiba ada temannya datang, membeli nasi goreng juga.


" Woy Dul, lagi ngapain ? sendirian ?" tanya teman Abdul.


" Iya nih, baru beres makan, gua lagi ada missi khusus, lagi ngintai kakak gua." Ucap Abdul.


" Wah, parah lu, kakak sendiri di curigain, kirain pacar lu yang baru selingkuh lagi." Ucap temannya.


" Engga, gua single, mau fokus kuliah dulu sekarang." Jawab Abdul.


Saat mereka berbincang - bincang, mata Abdul tidak pernah lepas dari arah gang rumah Yasmin. Lalu, beberapa menit kemudian dia melihat kakaknya sudah berada di depan gang, sedang berdiri sambil memegang hpnya, dia seperti sedang menunggu jemputan, entah ojeg online atau apa, yang jelas saat itu Abdul langsung menghentikan percakapan dengan temannya itu.


" Eh, bro, gua kudu pergi sekarang nih. " Abdul berhenti berkata dan berpikir sebentar.


" Tukeran motor sama helm bentar lah bro, besok gua anterin ke rumah lu, mana stnknya buruan, ntar gua ketauan kakak gua." Ucap Abdul merogoh dompetnya di saku celana dan mengeluarkan stnk lalu menukarnya dengan stnk temannya.


" Oke bro, semoga sukses missi lu." Ucap temannya.


" Eh, sekalian bro, jaket lu, tuker juga, gua cuma bawa masker, lupa gak bawa jaket cadangan." Pinta Abdul.


" Lah, elu mah ampun, segitunya lu sama kakak lu." Ucap temannya sambil membuka jaketnya dan menukarnya dengan Abdul.


" Oke bro, thank ya, besok gua anterin semua ke rumah lu, gua cabut dulu ya bro." Abdul terburu - buru memakai helm dan menaiki motor temannya dan melihat Hanna kini mulai memasuki sebuah mobil berwarna hitam, Abdul terus mengingat plat nomor mobil tersebut dan mengikutinya dari belakang dengan jarak yang cukup jauh.