My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Hello, Bali..



Setelah menghabiskan waktu selama empat hari di kampung halaman, Hanna mulai melupakan kesedihannya akan rasa rindunya pada Siwan.


Dia melewati hari - hari dengan penuh kegembiraan bersama sanak saudara dan teman - teman lama yang ia temui di Bandung.


Saat malam hari tiba, Hanna bersiap untuk tidur, dia mencoba menyetel radionya, mencari lagu yang cocok untuk menina bobokan dirinya malam itu.


Saat itu, dia menemukan sebuah lagu di salah satu channel radio, lagu yang sering dia putar, lagu lawas yang termasuk sering berada di deretan track list di komputer, laptop, maupun mp4 miliknya dulu. The corrs, don't say you love me.


Saat lagunya baru di putar, tiba - tiba Siwan menelponnya. Dia mengecilkan volume radionya, lalu mengangkat teleponnya.


" Hallo, ahjussi ..." Hanna menjawabnya dengan suara lembut dan pelan.


" Hanna, kapan aku bisa bertemu lagi denganmu, a-aku, sangat ingin bertemu, aku merindukan mu, kumohon, maafkan aku, bisakah aku menemuimu lagi ?" tanya Siwan.


" Aku mencintaimu, sungguh, maafkan aku !!" ucap Siwan, yang di iringi oleh lagu the corrs di bagian reff nya, seolah menjadi back songs yang sangat cocok pada saat moment itu.


Hanna terdiam, terpaku sejenak, seolah menyadari apa yang sedang terjadi di sebrang sana.


" Ahjussi, kau dimana ?" tanya Hanna.


" Aku, ada di rumah, aku sedang bersama Luca, aku sedang di ruang kerja ku. " Ucap Siwan, suaranya terdengar parau oleh Hanna.


" Apa kau sedang sakit?" tanya Hanna.


" Tidak, hatiku yang sedang sakit, aku sakit karena merindukan mu !!" ucap Siwan.


" Lalu, apa kau sedang mabuk ?" tanya Hanna kembali.


" Sedikit, aku tidak mabuk di depan wanita lain, hanya Luca yang menemaniku, percayalah !!" Ucap Siwan.


" Aku paham, kenapa sampai kau berani menelponku dan berkata seperti itu, ternyata kau sedang mabuk. " Ucap Hanna terdengar kecewa.


" Setiap hari, aku bahkan di buat mabuk oleh cintamu, aku tidak sadarkan diri karena merindukan mu, aku ingin menyusulmu kesana, beritahu aku, dimana lokasi mu saat ini, aku akan pergi kesana, walau kau memintaku dalam detik ini juga, aku akan langsung pergi kesana. " Ucap Siwan.


" Tidak usah, besok sore aku akan kembali ke Bali. Tapi aku akan bersama tiga orang sahabatku, mereka akan berlibur disana. Kalau mau menemuiku, hubungi aku dulu, dan, pastikan kau sedang tidak dalam keadaan MABUK." Hanna menegaskan kalimat terakhir nya.


" Baiklah, aku tidak akan mabuk lagi. Aku akan menurut padamu. " Ucap Siwan.


" Oke, kalau begitu, tidurlah, jangan lupa bersihkan dulu dirimu, ahjussi, jangan sampai kau sakit. Dah.. " Lalu Hanna menutup teleponnya saat itu.


Dia merasa sangat senang bisa mendengar kembali suara kekasihnya itu walau hanya lewat telepon. Setelah itu, Hanna mencoba memejamkan matanya, lalu tertidur dengan begitu cepatnya. Di iringi dengan lagu - lagu barat lawas yang hampir semua yang menjadi favoritnya.


Keesokan harinya, Hanna dan ketiga sahabatnya sudah berada di bandara menuju Bali, kali ini keluarganya tidak ikut mengantarkan kepergiannya sesuai permintaan Hanna, karena ada para sahabatnya yang menemani.


Mereka berempat di antarkan ke bandara oleh saudara sepupu Karina dengan mobilnya.


Sekitar pukul 18.05 Wita, mereka baru mulai menginjakkan kakinya di Bali.


" Wah... hello Bali... " Ucap Karina sambil menghirup nafas dan membuangnya perlahan dengan lembut, seakan sedang menikmati udara yang berhembus mengisi paru - parunya.


" Gak usah norak, buruan ah kita bawa koper dulu !!" Ucap Audrey.


Hanna dan Yasmin hanya tertawa melihat kelakuan kedua sahabatnya itu.


Setelah memastikan semua mengambil barangnya tanpa ada yang tertinggal, Hanna dan kawan - kawan hendak mencari taksi untuk pulang menuju ke tempat kost nya.


Tapi, Hanna seperti melihat ada seseorang yang dia kenali disana, seperti sedang menunggunya. Dia berjalan menghampiri Hanna, semakin mendekatinya.


" Hai, aku disini di suruh menjemputmu dan sahabatmu !!" Ucap Aji.


" Lalu, dimana, ahjussi ?" mata Hanna mencari kebelakang Aji, siapa tahu mungkin Siwan sedang bersembunyi di belakang di suatu tempat.


" Dia sedang di resto dekat kostanmu, sedang ada pertemuan dengan klien disana, jadi aku saja yang akan mengantarkan kalian, oke.. " Aji mengedipkan matanya sebelah.


" Oke deh, ayo kita berangkat sekarang !!" Hanna dan ketiga sahabatnya mengikuti Aji dari belakang.


" Na, siapa dia? pacarmu bukan?" tanya Audrey.


" Ih.. bukan kali, kan dia pernah kasih liat foto pacarnya di grup dulu, bukan dia kan, Na ?" tanya Yasmin.


" Bukan, dia temannya, eh udah di anggap adiknya sama ahjussi ku... " jawab Hanna.


" Cie... roman - romannya ada yang udah baikan nih.. " Yasmin menggoda Hanna, dan dia hanya tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya ke atas.


Sebelum menaiki mobil, Hanna sempat memperkenalkan ketiga sahabatnya pada Aji. Mereka bersalaman dan saling menatap.


Aji terlihat seperti sedang menahan tawa melihat tingkah laku Hanna dan ketiga sahabatnya yang selalu heboh sepanjang perjalanan.


Sesampainya di gerbang kostan, setelah selesai menurunkan barang - barang mereka, Aji pun membantu mengantarkannya ke lantai dua sampai ke depan kamar kost Hanna.


" Makasih banyak ya, bli, kamu udah mau repot - repot bantuin aku dan sahabat ku. " Ucap Hanna.


" Ah.. iya bli, makasih banyak ya !!" sahut ketiga sahabat Hanna.


" Iya, sama - sama. Kalau butuh bantuan, atau butuh seseorang untuk menemani berkeliling pulau ini, aku siap menjadi supir kalian.. !!" ucap Aji.


" Wah... serius bli ?" tanya Karina.


" Yap.. telepon saja pokonya. " Jawab Aji.


" Oke... nanti aku telepon kalau butuh bantuanmu, bli. " Ucap Hanna.


" Oh iya Han, ada sesuatu yang harus segera aku bicarakan sama kamu, bisa minta waktumu sebentar ?" tanya Aji.


" Emh.. oke, masuk saja, kita ngobrolnya di dalam saja kalau begitu. " Ajak Hanna.


" Jangan, kita ngobrolnya di bawah saja, bisa ?" tanya Aji.


" Oke, aku simpan barangku sebentar ya, tunggu saja di bawah." Ucap Hanna.


Lalu Aji turun ke bawah, sedangkan Hanna dan ketiga sahabat nya masuk ke dalam kamar kost.


Setelah menyimpan barangnya dan memastikan ketiga sahabatnya tidak membuat keributan di dalam ruang kostnya, Hanna turun ke bawah menemui Aji.


Hanna dan Aji duduk di bangku taman dekat garasi mobil di pinggiran gedung kost.


" Han, aku tahu, kalian sedang ada masalah, walaupun kak Wan tidak memberitahuku, tapi aku tahu dari sikapnya akhir - akhir ini. Apa semua gara - gara lukisan itu ?" tanya Aji.


Hanna terlihat kaget mendengar pertanyaan Aji. " Kamu tahu kejadiannya ?" tanya Hanna.


" Aku dan kawan yang lainnya yang mengambilnya di galeri, dan aku juga yang menghajarnya sampai babak belur. " Ucap Aji.


" Apa ?" Hanna terlihat sangat kaget mendengar kembali pernyataan Aji.


" Tapi aku tidak menyesal, dia memang pantas mendapatkannya." Ucap Aji terlihat emosi.


" Kenapa?" tanya Hanna singkat.


" Itu karena, dia menghina kak Wan, beraninya dia berkomentar mengenai kak Wan padahal dia belum mengenal siapa dia, bahkan dia juga melecehkanmu dengan perkataannya. Dia membuatku semakin kesal. Beruntung saat itu kak Wan menghentikanku, kalau tidak, temanmu tidak akan selamat di tanganku. " Ucap Aji membuat Hanna meringis takut.


" Lalu, dimana lukisannya?" tanya Hanna.


" Kau masih mengkhawatirkan soal lukisannya? hanya itu ?" tanya Aji.


" Aku cuma bertanya. " Hanna terlihat kesal.


" Aku sudah mengembalikan nya saat dia datang ke markas waktu itu !!"


" Lalu, apa Sammy mengembalikan cek nya?" tanya Hanna.


" Si brengsek itu, menyobeknya tepat di depan wajah kak Wan, dan membuangnya di depan mukanya, kak Wan masih bersabar padanya karena dia temanmu, bayangkan saja kalau dia tidak ada hubungannya denganmu, pasti dia sendiri yang sudah mengirimnya masuk rumah sakit. " Ucap Aji.


" Aku penasaran dengan apa yang di ucapkan Sammy padanya, hingga membuatmu kesal dan menghajarnya." Ucap Hanna.


" Sebaiknya kau tidak usah tahu, bahkan kalau kau mendengar perkataannya yang melecehkanmu, kau pasti tidak mau lagi menemuinya. Kak Wan tidak ingin menodai pertemanan kalian, yang sudah terjadi, lupakan saja.. " Tegas Aji.


" Oke, makasih banyak ya bli, kau sudah mau memberi pengakuan jujur padaku. " ucap Hanna.


" Iya, sudahlah, aku pergi dulu kalau begitu. Oh iya, urusanmu dan kak Wan, sebaiknya segera di selesaikan, kalau memang kau mau mengakhirinya, katakan langsung padanya, dan satu hal lagi, jangan bilang padanya soal obrolan kita tadi, bahkan dia tidak mengizinkan ku berkata satu patah katapun padamu perihal lukisan itu. Deal.. ??"


" Oke, aku akan tutup mulut." ucap Hanna.


Setelah mengobrol dengan Aji, Hanna kembali ke lantai dua ke dalam kamar kostnya.


Saat masuk ke dalam, suasana sangat sepi, ruang tengah nampak kosong, tidak ada kehidupan di sana.


Dan, saat Hanna masuk ke dalam kamarnya, dia melihat ketiga sahabatnya sudah tertidur berdesakan di atas kasurnya. Masih dengan pakaian yang mereka kenakan saat pergi menuju Bali tadi. Ternyata mereka kelelahan, karena selama di perjalanan menuju Bali, selama di pesawat mereka tidak tidur sama sekali, mereka sibuk terus membahas rencana acara liburan dan lokasi tujuan mereka nanti selama di Bali.


Hanna bergegas pergi mandi, sambil menunggu teman - temannya bangun, dia menyiapkan beberapa menu makan malam dengan bahan seadanya. Karena sebelum pergi ke Bandung, dia mengosongkan hampir seluruh isi kulkasnya.