My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 Dasi...



Sejak pertemuan hari itu di pantai, Rayhan jadi lebih sering menghubungi Hanna, baik lewat telepon maupun hanya sekedar percakapan lewat chat.


Bahkan, ketika keluarga Hanna hendak kembali pulang ke Bandung pun Rayhan ikut mengantarkan mereka hingga ke bandara, selain Aji dan bu Shinta.


Setelah kepergian keluarganya, Hanna yang masih berderai air mata pun di tenangkan oleh bu Shinta.


" Bersabarlah, kau pasti bisa melewati hari - hari terberatmu ini, kau anak wanita yang kuat, tersenyumlah... !" ucap bu Shinta yang masih memeluk Hanna yang berdiri di sampingnya.


Hanna mencoba tersenyum dan menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya.


" Sekarang kita pulang saja, kau harus istirahat " ucap bu Shinta.


Kini mereka pun berjalan menuju parkiran yang tidak jauh dari posisi mereka.


Setibanya di parkiran...


" Baiklah Han, aku langsung pulang saja yaa " ucap Rayhan.


" Bu, saya pulang duluan ya, senang bisa berkenalan dengan bu Shinta " sambung Rayhan.


" Hati - hati di jalan ya nak, lain kali, datanglah ke panti, berilah semangat untuk Hanna anakku, kau sahabatnya kan, aku senang kalau kau mau sering mengunjunginya " ucap bu Shinta, menyentuh lengan atas Rayhan.


" Terima kasih banyak bu, aku akan meluangkan waktu lain kali " jawab Rayhan.


Jangan di tanya ekspresi Aji seperti apa, tentu saja raut wajahnya menunjukkan ketidaksukaan.


Setelah berpisah dengan Rayhan di parkiran, Hanna bu Shinta dan Aji pun kini sedang dalam perjalanan menuju kediaman Siwan di kota Denpasar.


Mereka memutuskan untuk bermalam disana dan akan kembali ke panti keesokan harinya.


Setibanya di kediaman Siwan, bi Asih dan seorang pengurus kebun baru menggantikan pengurus sebelumnya, sudah berdiri di halaman rumah untuk menyambut kedatangan mereka.


Bi Asih langsung di peluk oleh Hanna yang merasa rindu padanya.


" Bibi... aku kangen banget !" ucap Hanna, dalam pelukan bi Asih.


" Cah Ayu, apalagi bibi, bagaimana sekarang ini, si utunnya sudah mulai aktif kan ?" tanya bi Asih sambil mengelus perut buncitnya.


" Iya bi, sudah sering menyapaku dari dalam sini " jawab Hanna.


" Sudah, masuk lah, kalian ini mau berjemur terus di luar !" ujar bu Shinta yang kini sudah berada di ambang pintu masuk.


Beberapa menit kemudian...


Hanna kini sudah berada di dalam kamar Siwan, dia sedang berbaring dan mencoba menutup mata dengan posisi menyamping, menatap sebuah figura foto dirinya dan Siwan yang berada di atas nakas.


Tidak ada sedikit kata yang keluar maupun senyuman yang tersirat dari wajahnya kali ini.


Ia hanya fokus menatap ke depan, ke arah foto wajah Siwan yang tengah tersenyum memperlihatkan barisan gigi putihnya kala itu.


" Bagaimana, caranya, menghilangkanmu, dari pikiranku ? sekeras apapun aku mencoba, rasanya semakin sesak hatiku menerima kenyataan ini. Aku tetap tidak bisa menghapus jejakmu, segalanya, sudah terpatri di dalam hati ini, apa kau bahagia ? melihatku seperti ini ?" gumam Hanna, mencoba meraih dan menyentuh wajah Siwan yang terpampang di figura di hadapannya kini.


Namun, suara ketukan di pintu membuatnya urung melakukannya.


" Masuk... " pekik Hanna, lalu mencoba terbangun, dan terduduk di atas ranjangnya.


Ternyata, yang masuk ke dalam kamarnya adalah Aji.


" Ada apa bli ?" tanya Hanna.


" Apa kau sudah tahu, kalau Austin sudah keluar dari rumah ini ?" tanya Aji.


" Dia pergi ? kupikir dia hanya sedang pindah tugas saja, beberapa waktu lalu pernah bertemu dan dia tidak mengatakan tentang kepergiannya dari rumah ini " ucap Hanna.


" Iya, dia sekarang pindah tugas di salah satu rumah sakit di kota xxx, dan dia juga memutuskan untuk membeli apartemen di daerah sana " sahut Aji.


" Oh... baguslah, dia sekarang mencoba hidup mandiri, mungkin... " timpal Hanna.


" Mungkin... " sahut Aji, dengan raut wajah aneh.


Dan, Hanna merasa curiga, dia mulai menangkap sinyal aneh dari nada bicara dan gestur Aji yang tidak seperti biasanya.


" Kenapa ? apa ada masalah ?" tanya Hanna.


" Ah... tidak, tidak ada apa - apa, aku hanya merasa kehilangan, itu saja !" ucap Aji.


" Owh... jadi, kau sedang curhat padaku, merasa sedih di tinggal kak Oz, ceritanya begitu... " goda Hanna, pada Aji.


" Ck... apaan sih, gak juga tuh ! sudah, kau istirahat saja san... " ucap Aji, lalu pergi meninggalkan Hanna.


" Hihihi... dasar jaim !" ucap Hanna dengan lirih.


Malam harinya...


Selesai makan malam, Hanna dan bi Asih berbincang di ruang tv, sedangkan bu Shinta dan Aji sedang rapat di ruang kerja Siwan. Entah apa yang mereka bicarakan saat itu, karena bahkan tukang kebun baru pun sampai di panggil naik ke atas, ke ruang kerja Siwan.


" Bi, ada apa sih, sepertinya di atas sedang ada pembicaraan penting !" ucap Hanna.


" Iya, paling masalah pekerjaan, sudah, biarkan saja !" jawab bi Asih.


" Itu tadi Seto aka tukang kebun baru, sepertinya umurnya tidak jauh beda dengan bli Aji ya, dia sudah lama disini ?" tanya Hanna.


" Baru sekitar 3 minggu, masih saudara tukang kebun sebelumnya " jawab bi Asih.


Raut wajah Hanna penuh curiga...


" Apa hanya perasaanku saja, atau memang dia terlihat aneh, untuk ukuran seorang tukang kebun, dia terlalu keren rasanya, aneh sekali, badannya saja sama besarnya seperti pak Bram, dia lebih cocok jadi seorang bodyguard !" gumam Hanna.


Dua jam kemudian...


Hanna sudah tertidur di atas sofa, sedangkan bi Asih masih asyik menonton sinetron favoritnya, sama seperti bi Lastri di panti, setaip malam mereka selalu tidak beranjak di depan layar tv setiap hari senin sampai jumat.


Aji dan Seto turun ke bawah, Seto langsung keluar menuju pos jaga, sedangkan Aji menghampiri Hanna dan bi Asih di ruang tengah.


" Kenapa dia tidur disini ?" tanya Aji pada bi Asih.


" Dia tadi tidak mau pergi ke kamar, katanya dia sedang menunggu mu ! mbak yu sudah istirahat ?" tanya bi Asih.


" Belum, sebentar lagi katanya, masih harus mengecek laporan " jawab Aji.


" Kalau gitu tolong bawa non Hanna ke kamarnya, jangan bangunkan dia, kasihan !" bi Asih berbicara pada Aji, namun kedua netranya tetap lurus ke depan menatap layar datar tv berukuran 50 inch.


Aji menghembuskan nafas kasar, dia sekuat tenaga menghindari kontak fisik dengan Hanna, tapi selalu saja ada hal yang mengharuskannya melakukan hal tersebut.


Ia pun terpaksa memangku Hanna dan membawanya ke lantai 2 menuju kamar Siwan, dengan sekuat tenaga.


Bi Asih pun tersenyum saat melihat Aji menjauh dan mengangkat tubuh Hanna dengan sepenuh hatinya, ia langsung menaikan kembali volume tv yang sejak tadi ia kecilkan saat Hanna terlelap.


Sesampainya di dalam kamar, ia langsung menidurkan Hanna di atas ranjangnya, menyelimutinya dan untuk sesaat ia terduduk di sampingnya, di bibir ranjang.


Ia menatap wajah Hanna dengan penuh haru, mengelus kepalanya, kemudian mengelus pipinya dan, tanpa mendengarkan bisikan - bisikan setan yang terus membujuknya untuk melakukan hal romantis pada seorang wanita yang tengah tertidur, Aji malah beranjak lalu pergi meninggalkan Hanna agar tertidur dengan tenang di kamar kekasihnya.


Sepertinya Hanna dan bi Asih sengaja bekerja sama untuk membuat Aji melakukan hal tersebut.


Keesokan harinya, selesai melakukan rutinitas seperti biasanya, Hanna langsung turun untuk sarapan bersama bu Shinta, Aji dan bi Asih.


Namun, saat menuju meja makan, ia hanya melihat bu Shinta yang sudah mulai menyantap sarapan paginya, dan bi Asih yang berada di dapur menyiapkan teh hangat untuk Hanna.


" Hanna, ayo sini, duduklah, sarapan dulu... !" ucap bu Shinta.


Hanna pun duduk di kursi sebrangnya.


" Ibu sudah rapih sekali, mau kemana ?" tanya Hanna, sambil menuangkan menu sarapan di piringnya.


" Ada rapat penting para pemegang saham, aku akan pergi mewakili Siwan bersama Aji hari ini, jadi kita belum bisa kembali ke panti hari ini, tidak apa kan ?" tanya bu Shinta.


" Iya bu, tidak apa, aku akan menunggu disini dengan bi Asih " jawab Hanna.


" Kalau kau bosan, kau pergi saja jalan - jalan keluar, Bram akan kusuruh menjaga dan mengantarmu, sebentar lagi dia akan kemari " sahut bu Shinta.


" Baik bu, terima kasih ! emh... bli Aji kemana, apa dia belum bangun ?" tanya Hanna.


" Dia sedang bersiap, tadi dia hanya sarapan sedikit " jawab bu Shinta.


" Owh... " Hanna terlihat kecewa karena ketidak hadiran Aji di meja makan.


" Ibu sudah selesai, ibu mau ke atas dulu ya, kau makan yang banyak, jangan lupa makan vitamin mu !" ucap bu Shinta.


" Iya bu " jawab Hanna.


Beberapa menit kemudian, selesai sarapan, Hanna langsung naik ke atas, menuju kamar Aji.


Tok... tok... tok...


Dan, pintu kamar Aji pun terbuka.


Hanna melihat Aji kini sudah mengenakan sebuah kemea berwarna putih dan celana formal hitam.


" Wah... kau terlihat seperti seorang pria kantoran hari ini !" ucap Hanna merasa takjub, meskipun penampilan Aji saat itu masih berantakan.


" Ada apa ? kau datang kesini sengaja mau mengejekku ?" tanya Aji, di ambang pintu kamarnya.


Hanna langsung menerobos masuk ke dalam kamar Aji dan meneliti setiap sudut ruangan kamar pria yang kini berada di belakangnya yang tengah sibuk mengancingkan kancing di lengan kemejanya.


Suasana kamar Aji terlihat lebih simpel dan terang dengan cat dinding berwarna cream dan tirai bernuansa mocca. Tidak ada ornamen maupun lukisan yang menghiasi dinding kamarnya, membuat kamarnya tidak terlihat hidup, lebih mirip seperti sebuah kamar rumah sakit.


" Hihihi... " Hanna menahan tawanya.


" Kenapa kau ?" tanya Aji, yang menyadari sikap aneh Hanna.


" Tidak ada, emh... bli, apa rapatnya lama ?" tanya Hanna, kemudian berbalik dan kini berhadapan dengan Aji.


" Ya.... lumayan, biasanya sekitar 4 jam, baru kami kembali pulang " jawab Aji.


" Apa ? rapat macam apa berlangsung selama 4 jam ? lama amat... " sahut Hanna.


" Ya maksudnya, dari mulai datang, menyapa, mengobrol, rapat, lalu makan bersama, mengobrol lagi, ya... membutuhkan waktu kurang lebig sekitar 4 jam biasanya, maklum kan, bagi seorang pebisnis, selain membahas pekerjaan, mengobrol pun merupakan acara yang penting, yang di bahas pun bukan hanya sekedar gosip belaka, kau akan mengerti kalau kau terjun ke dunia bisnis itu sendiri " ucap Aji.


" Ah... aku sudah pusing dengan kehidupanku, aku tidak tertarik dengan dunia bisnis " ucap Hanna dengan lirih.


Dan, saat ia melirik Aji, ternyata, sudut matanya menangkap momen lucu, Aji sepertinya sedang kesulitan memakai dasi, terlihat dari lilitan dasinya yang malah membuat simpul ikatan di lehernya.


" Hahaha... kau tidak bisa memakai dasi ? sini, ku pakaikan, bilang dong kalau kau tidak bisa, minta tolong kek... " Hanna mendorong tubuh Aji agar ia terduduk di ranjangnya karena Aji terlalu tinggi untuknya.


Lalu, setelah itu, Hanna membuka simpul dasi yang mengikat di leher Aji, kemudian memakaikan dasi yang melingkar dengan benar.


Aji harus menatap wajah Hanna sangat dekat, membuat dadanya berdebar begitu kencang di pagi hari, berkali - kali ia mencoba menghindari Hanna, memalingkan tatapannya ketika kedua mata mereka tidak sengaja bertemu.


Hanna hanya tersenyum kala melihat wajah merah Aji yang nampak gugup di dekatnya. Hanna dengan sengajanya memperlama durasi, sekalian merapihkan kerah kemeja Aji, membuatnya harus melingkarkan kedua lengannya di leher Aji.


" Sudah... beres... " ucap Hanna.


Aji pun langsung berdiri dan menghampiri cermin yang menempel di salah satu pintu lemarinya.


" Sudah, kau sudah sangat tampan, jangan lupa pakai jas mu " ucap Hanna, mengintip lewat kaca, dari balik tubuh Aji.


" Terima kasih ya !" Aji membalikkan tubuhnya menatap Hanna.


" Tidak gratis loh... kau harus membayarnya " sahut Hanna.


" Baiklah, apa yang kau inginkan ? akan ku berikan !" ucap Aji yang tengah sibuk memakai jas di tubuhnya.


" Benarkah ?" tanya Hanna, lalu kembali menghampiri Aji.


" Tentu saja, katakan saja !" jawab Aji.


" Oke, sini, ku beritahu, tapi jangan ribut yaa... !" ucap Hanna.


Aji pun menunduk dan mendekatkan telinganya pada Hanna.


Setelah itu, kemudian Hanna berbisik di telinga Aji...


" Aku, ingin, kau... membelikanku jagung rebus "


Cuup.... Hanna mencium pipi Aji, kemudian ia pergi dari kamar Aji secepatnya.


Aji yang merasa terkejut hanya bisa menatap punggung Hanna yang menjauh dan menghilang dari balik pintu kamarnya.


Saat suara pintu tertutup ia baru tersadar, lalu menyentuh pipinya yang masih terdapat tanda hangat dari bibir Hanna yang mendarat di pipinya beberapa detik yang lalu.


Wajah Aji langsung memerah, lalu ia tersenyum senang.


Beberapa menit kemudian...


Hanna, bi Asih dan Bram sudah berdiri di samping mobil untuk mengantar kepergian bu Shinta dan Aji.


" Aku pergi dulu ya, tolong jaga Hanna !" ucap bu Shinta pada bi Asih dan Bram.


" Tenang saja mbak yu, kami akan menjaganya " jawab bi Asih.


Bu Shinta pun naik ke dalam mobil yang sudah di siapkan oleh supirnya.


Namun, saat Aji hendak masuk juga ke dalam mobil, Hanna menahannya dan berkata...


" Bli, jangan lupa pesanku ya !" ucap Hanna, lalu mengedipkan sebelah matanya.


Aji yang nampak terlihat gugup menatap bi Asih sesaat lalu kembali menatap Hanna dan menjawabnya dengan perasaan canggung.


" Iya akan ku bawakan !" Aji pun langsung masuk ke dalam mobil dan berekspresi biasa saja, karena di belakangnya ada bu Shinta yang memperhatikan.


Padahal, ia sangat ingin tersenyum karena merasa kegirangan melihat keluguan Hanna yang terlihat begitu menggemaskan di matanya.