
Beberapa jam berlalu, kini Hanna dan Siwan sedang dalam perjalanan menuju rumah Hanna di salah satu daerah di kabupaten Bandung. Setelah lelah berjalan - jalan siang hingga sore hari, Hanna mulai merasakan kantuk, apalagi lalu lintas menuju rumahnya setiap sore selalu terkenal padat.
Tanpa di sadari, Siwan dan Hanna tertidur di dalam mobil. Entah berapa lama mereka tertidur, hingga terdengar suara adzan maghrib berkumandang.
Saat Hanna terbangun, dia merasa kaget.
" Astagfirullah, dimana ini ?" tanya Hanna pada Siwan yang ternyata dia pun baru terbangun karena terkejut mendengar suara Hanna.
" Ada apa ?" tanya Siwan.
" Ahjussi, sepertinya ini ( kepala Hanna berkeliling melihat situasi sekitarnya ), sudah dekat dengan rumahku, tapi dimana pak Adi." Hanna membuka kaca jendela samping mobilnya, dia mengenali dengan jelas lokasinya saat itu, mereka ada di sebuah pom bensin terdekat dengan alamat rumah Hanna.
" Mungkin sedang sholat, kau tidak sholat ?" tanya Siwan.
" Aku masih menstruasi. Emh... aku mau ke toilet dulu ya.. !!" Hanna lalu turun dari mobilnya menuju toilet yang ada di lokasi pom bensin.
Saat Hanna selesai dari toilet, tiba - tiba ada seorang pria yang memanggilnya. Dia ternyata seorang teman sewaktu sekolah menengah pertama. Mereka saling menyapa dan mengobrol cukup akrab, Siwan yang melihatnya merasa kesal. Dia lalu turun dari mobilnya namun hanya lewat di depan Hanna yang sedang mengobrol dengan temannya itu. Mata Siwan dan Hanna bertemu, namun pura - pura tidak saling mengenali, Siwan lalu masuk ke dalam toilet, dia hanya mencuci mukanya tidak lama kemudian, dia keluar lagi dari dalam toilet.
Namun, kini dia sudah tidak melihat Hanna dan pria yang tadi mengobrol dengannya. Siwan langsung menuju mobilnya yang terparkir beberapa meter di depannya. Dan di dalam dia menemukan Hanna sudah duduk di dalam, serta pak Adi.
" Siapa, pria tadi ?" tanya Siwan.
" Owh... itu tadi temenku saat di smp, kebetulan baru bertemu setelah sekian lama makanya tadi mengobrol sebentar. " Jawab Hanna.
" Begitu ya... " ucap Siwan.
" Jangan bilang kalau.... " Hanna tidak melanjutkan perkataannya.
" Tidak, aku tidak cemburu, hanya ingin tahu saja." Sahut Siwan.
" Aku tidak bilang begitu, hahaha... " Hanna tertawa melihat wajah kekasihnya yang nampak sedikit muram.
Lalu tiba - tiba pak Adi menyela obrolan mereka.
" Bagaimana, mau di lanjut sekarang ?" tanya pak Adi.
" Iya pak silahkan. " Jawab Siwan.
Lalu, dalam beberapa detik Hanna berpikir, bagaimana kalau seandainya nanti ayahnya sedang berada di luar, biasanya setelah sholat maghrib ayahnya selalu merokok di luar sambil menunggu adzan isya berkumandang.
" Ahjussi, apa kau serius mau mengantarku sampai depan rumah ?" tanya Hanna.
" Memangnya kenapa ?" tanya Siwan.
" Itu, emh.. aku cuma khawatir nanti ayahku berada di luar dan melihatmu. " Ucap Hanna.
" Tidak apa - apa, nanti aku tinggal memperkenalkan diriku saja." Siwan tersenyum jahil pada kekasihnya itu.
" Ish... lalu, kau mau hubungan kita berakhir sampai disini saja ?"
" Baiklah, aku hanya bercanda." Ucap Siwan.
Dari jarak beberapa meter di depan, kini sudah nampak sebuah rumah yang menjadi tempat yang paling ia rindukan. Sebuah rumah dengan cat biru dan pagar hitam, terlihat sepi, membuat Hanna merasa lega.
" Pak Adi, berhenti di depan saja." Ucap Hanna.
" Disini neng ?" tanya pak Adi.
" Iya, disini saja. Ahjussi, rumahku yang di belakang ini." Hanna menunjuk sebuah rumah di belakang mobilnya, dia sengaja berhenti agak maju ke depan karena lokasi rumahnya berada di sebuah belokan, sangat berbahaya kalau ada mobil yang berhenti tepat di depan rumahnya.
" Emh... baiklah, selamat berlibur bersama keluargamu ya. Jangan lupa kabari aku !!" Seru Siwan menggenggam tangan Hanna lalu mencium tangannya itu.
" Oke, jangan nakal ya di luar !! Hihi.. " Lalu Hanna pun turun dari mobil di iringi oleh pak Adi yang akan membantu mengeluarkan koper dan tas milik Hanna di bagasi.
"Terima kasih banyak ya, pak Adi. Nanti di depan ada belokan, kalau mau putar arah di situ saja !!" Seru Hanna.
" Iya neng, sama - sama. Mau saya bantu bawakan ke dalam tas dan kopernya ?" tanya pak Adi.
" Tidak usah pak, biar saya sendiri saja. " Jawab Hanna dengan cepat.
" Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu ya. " Ucap Pak Adi lalu kembali masuk ke dalam mobilnya.
Hanna pun masuk ke dalam rumahnya, dia membuka pagar rumah perlahan supaya tidak ketahuan orang rumah. Lalu dia berdiri di luar sebentar untuk menunggu mobil Siwan melewati rumahnya kembali setelah berputar arah di depan.
Saat mobil Siwan melintasi rumahnya, terlihat Hanna menatap kaca mobil yang terbuka sedikit lalu melambaikan tangannya ke arah Siwan.
Lalu, dari belakang, tiba - tiba ada suara seseorang yang membuatnya terkejut.
" Teh, kenapa baru nyampe ?"
" Astagfirullah, kaget sumpah, ih Abdul, lagi ngapain lu di luar.. ?" tanya Hanna pada adiknya.
" Dih, ya situ ngapain dari tadi matung disitu, bukannya cepetan masuk ke dalem rumah." Sahut adiknya.
" Bantuin bawain nih.. " Hanna menyerahkan kopernya pada adiknya lalu pergi masuk ke dalam rumah.
Setelah mengucapkan salam, nampak tak ada satu orang pun di dalam rumah yang menjawabnya, hanya adiknya seorang yang berada di belakangnya yang menjawab.
" Pada kemana mamah sama bapak ?" tanya Hanna pada adiknya.
" Tadi abis maghrib pergi ke rumah temen bapak, katanya mau melayad ada yang meninggal anaknya." Jawab adiknya.
" Innalillahi wa innailaihi rojiun, mendadak ?" tanya Hanna.
" Yaiya atuh teh, masa mau meninggal janjian dulu gitu ? pertanyaan nya aneh banget sih, napa lu ? linglung ya ?" tanya adiknya pada Hanna.
" Ih... apa sih, udah ah, gerah nih, mau mandi dulu... " ucap Hanna lalu masuk ke dalam kamarnya menyimpan tas dan kopernya.
Di sisi lain, karena merasa penasaran, pak Adi bertanya pada Siwan.
" Maaf mister, apa non Hanna pacarnya ?" tanya pak Adi menatap Siwan lewat kaca spion tengah mobilnya.
" Iya pak, kami berhubungan hampir mau satu tahun, sebelumnya kami sempat pendekatan selama hampir sepuluh bulan." Jawab Siwan.
" Oh... lumayan lama ya, non Hanna tinggal di Bali ?" tanya pak Adi kembali.
" Iya, dia bekerja disana, dia pulang ke Bandung saat mendapat jatah cuti tahunan saja." Jawab Siwan.
" Dia seorang muslimah ?" tanya pak Adi.
" Iya, kami berhubungan tanpa sepengetahuan orangtua nya, dia tidak mau mengenalkanku pada keluarganya, karena dia tahu, kami pasti akan di pisahkan oleh mereka. Kami belum siap, walaupun sebetulnya kami sudah tahu, lambat laun pasti hubungan ini akan berakhir." Jawab Siwan terdengar sedih.
" Tidak apa, kalau memang sudah berjodoh, tidak akan kemana. Hanya saja memang sangat sulit, kalau saja faktanya terbalik, misalnya perempuannya yang beragama selain islam, dan pria nya beragama islam, itu masih di perbolehkan menurut hukum agama, karena pria itu seorang pemimpin keluarga, lambat laun dia harus bisa memimpin istrinya untuk bisa seiman dengannya." Ucap pak Adi.
" Begitu ya, hemh... aku masih belum yakin, tapi, aku masih mencari jalan keluarnya." Siwan menghela nafasnya lebih dalam dan menghembuskannya perlahan sambil menutup mata mengingat wajah kekasihnya di dalam pikirannya.
Satu jam kemudian, setelah Hanna selesai mandi dan makan malam, barulah ayah dan ibunya pulang ke rumah. Hanna dengan buru - buru menyambutnya dan mencium tangan mereka.
" Kenapa baru pulang jam segini ?" tanya ayahnya.
" Macet pak, dari mulai Jakarta ampe sini udah gak ketulungan macetnya. " Ucap Hanna terpaksa berbohong.
" Udah makan belum ?" tanya ibunya.
" Udah mah, alhamdulillah." Jawab Hanna.
Lalu kini mereka bertiga duduk berkumpul di ruang keluarga, ibunya menceritakan tentang anak teman ayahnya Hanna yang meninggal tadi sore. Katanya itu gara - gara putus cinta, jadi katanya mereka hubungan sudah lama, tapi orangtua perempuannya tidak setuju gara - gara pacarnya itu beda agama.
" Kata siapa mah?" tanya ayahnya.
" Itu, tadi kata bibinya yang duduk di pinggir mamah, dia cerita kalau sebelumnya si neng almarhumah itu sempet hubungan lama sama cowo beda agama, terus pas ketahuan di suruh putus sama bapaknya, temenmu itu loh pak, nah si neng sempet sakit kondisinya drop apalagi pas denger mau di jodohin sama keluarganya, dia gak mau nikah sama cowo lain, makanya kondisinya tambah drop, sempet keluar masuk rumah sakit dan gak tertolong. " Ucap ibunya.
" Ih, dasar ibu - ibu, masih sempet ya ngegosip di saat orang lain berduka. " Timpal ayah.
Seketika Hanna merasa pucat pasi mendengar cerita ibunya tersebut. Dia mulai berpikir bahwa bagaimana kalau seandainya kedua orangtua nya juga tahu kalau anaknya pun sedang menjalin kasih dengan seorang pria yang tidak seiman dengannya. Apa yang akan mereka lakukan terhadapnya ? apa mungkin mereka pun akan menyuruhnya untuk berpisah dengan Siwan, dan menjodohkan dia dengan pria pilihan orang tuanya. Hanna jadi tidak fokus, pikirannya jadi melayang - layang, seketika hilang kesadaran. Di saat ayah dan ibunya masih ribut membicarakan tentang keluaraga teman mereka, Hanna merasa jauh, pikirannya pergi entah kemana.
Lalu, tiba - tiba, suara jentikan jari ibunya membuatnya kembali tersadar.
" Teh ? kunaon ? ( kenapa ?)" tanya ibunya.
" Ah, engga mah, ini lagi mikirin temen teteh." Jawab Hanna.
" Kenapa emangnya temenmu ?" tanya ayahnya.
Lalu Hanna pun menceritakan kejadian pernikahan Siska yang gagal kemarin. Kedua orangtua nya mendengarkan dengan seksama, Hanna menceritakannya secara detail.
" Ya ampun, terus, kemana perginya itu temenmu ?" tanya ibu.
" Justru itu mah, hpnya belum bisa di hubungi, keluarganya juga cuma dapet sepucuk surat permintaan maaf aja dari kak Siska. Aku khawatir mah, mana dia lagi dalam kondisi hamil muda." Ucap Hanna.
" Astagfirullah, hamil ? sama calon suaminya ?" tanya ibunya terlihat terkejut.
" Bukan, entah siapa bu, awalnya dia mengaku kalau itu anak calon suaminya, tapi pada akhirnya dia juga mengakui sendiri kalau itu bukan anaknya Austin." Jawab Hanna.
" Nah, ini nih yang ibu takutkan, di luaran sana jauh dari orang tua, pasti hidupnya bebas, lupa aturan lupa dosa, awas ya kalau kamu kaya gitu !!" Ucap ibu sedikit mengancam.
" Ih, mamah, percaya lah sama anakmu ini mah, aku masih perawan tau !!" Ucap Hanna menutupi badannya dengan tangannya yang menyilang.
" Iya, kamu bisa jaga diri, nanti gimana kalau ada yang nyulik, terus kamu di sekap, di cekok sama minuman biar mabuk terus gak sadarkan diri terus kamu di apa - apain gitu, aduh... ngeri ibu dengernya gak sanggup. " Ucap ibunya meringis.
" Ih, mah, bukannya doain yang baik - baik sama teteh malah mikir yang jelek - jelek gitu, jangan sampai lah kaya gitu, lagian temen - temen aku tuh orangnya baik - baik, meskipun ada yang tukang mabok tapi mereka masih menghargai aku yang seorang muslim, lagian kan ada Rayhan disana yang selalu jagain dan ngingetin teteh." Ucap Hanna.
" Owh... jadi, masih nih sama Rayhan, belum berpindah ke lain hati ?" tanya ibunya.
" Engga juga sih, ya.. kita cuma temenan deket dan saling menjaga, itu saja sih... " Jawab Hanna mencurigakan.
" Owh... jadi udah dapet cowo pengganti si Rey ?" tanya ibunya merasa curiga.
" Apa sih mah, udah ah, kenapa jadi ganti topik pembicaraan gini. " Ucap Hanna.
" Hahaha... ketahuan, kamu gak bisa bohong dari mamah, pasti kamu udah punya pacar kan disana ?" tanya ibunya.
" Iya, mana calon mantu buat bapak ?" tanya ayahnya menyela.
" Dih, apa sih, aku kan belum habis kontrak kerja, belum ada kepikiran sama sekali lah buat nikah." Jawab Hanna.
" Ya harusnya dari sekarang lah cari dulu, kenalan dulu, pedekate dulu, kenalin sama orang tua, jadi nanti beres kontrak kerja langsung nikah." Ucap ayah.
" Iya, betul itu, atau mau langsung di jodohin aja gitu, langsung di nikahin sama calon yang udah di pilihin sama mamah atau bapak, mau gitu ?" tanya ibu.
" Ih... ya gak gitu juga kali, pernikahan itu harus di bangun karena ada chemistry, gak mau ah aku di jodoh - jodohin kaya gitu, aku bukan Siti Nurbaya atulah... " Ucap Hanna.
" Ya terus, mana, kenapa belum ada cowo yang kamu kenalin sama orangtuamu ini ?" tanya ibu.
" Ish... mah, sabar napa, ini juga lagi usaha, kayaknya ngebet banget ya pengen cepet nimang cucu. " Ucap Hanna sedikit kesal.
" Lah, yaiya atuh, temenmu itu disini udah pada nikah, udah pada punya anak, terus sobat - sobatmu itu si Yasmin tahun depan nikah, si Karina juga udah punya calonnya kan, terus si Audrey... " ibu tidak melanjutkan perkataannya.
" Jomblo mah, si Audrey juga masih jomblo, tapi orangtua nya gak heboh kayak gini." Jawab Hanna.
" Udah lah mah, biarin aja dulu, kasih dia waktu sampai nanti pulang lagi kesini, pokonya habis kontrak kerja cepet pulang kesini, awas ya !!" ucap ayah dengan nada sedikit mengancam.
" Oke, deal ya, gak usah banyak nanya lagi sebelum aku pulang lagi kesini, dua tahun lagi oke !!" Ucap Hanna.
" Ya sudah, terserah kamu saja lah. " Jawab ibu terlihat kesal.
Setelah mengobrol dan berdebat dengan kedua orangtua nya, Hanna pun masuk ke dalam kamarnya. Dia merebahkan dirinya di atas ranjang dan memeriksa hpnya. Ternyata ada pesan masuk dari kekasihnya itu sekitar satu jam yang lalu. Hanna pun buru - buru membalasnya. Tapi, Siwan bukannya kembali membalas pesannya malah menelponnya.
Hanna menyalakan radionya supaya percakapan mereka tidak terlalu terdengar ke luar oleh orang yang berada di rumahnya.
" Hallo, ahjussi, kau belum tidur ?" tanya Hanna setengah berbisik.
" Belum, kenapa suaramu ?" tanya Siwan di sebrang sana.
" Aku takut ada yang mendengar, tapi sudah kunyalakan radio, jadi lumayan aman." Jawab Hanna.
" Hihihi... kau ini, bagaimana keadaan kedua orang tuamu dan adikmu ?" tanya Siwan.
" Sehat, alhamdulillah. Ahjussi, apa kau sudah makan malam ?"
" Sudah, tadi bersama pak Adi." Jawab Siwan.
" Pak Adi menginap di hotel denganmu ? ku pikir hanya mengantar jemput saja. "
" Iya, dia menginap disini, aku memesan kamar dengan dua kamar tidur, kasihan kalau pak Adi harus bolak - balik, lokasi rumahnya cukup jauh dari sini. " Jawab Siwan.
" Emh... gitu, bagus lah, aku jadi merasa tenang kalau kau ada yang menemani. Eh iya, temanmu yang di Bandung itu, kau tidak mau menemuinya ?" tanya Hanna.
" Besok, aku akan pergi mengunjunginya dengan pak Adi. Ku usahakan tidak lama ya, nanti kita bertemu lagi setelahnya, bisa kan ?" tanya Siwan.
" Oke, nanti kita atur lagi jadwalnya ya. Ahjussi, jangan tidur terlalu malam ya." Ucap Hanna terdengar manja.
" Iya, kau juga, kalau begitu cepatlah tidur, kau pasti lelah setelah seharian pergi denganku." Ucap Siwan.
" Oke, kalau begitu aku mau tidur dulu ya, good night ahjussi, saranghaeyo, muach... " Ucap Hanna mengakhiri percakapannya dengan sebuah ciuman yang mendarat di ujung hpnya.
Terdengar suara cekikikan Siwan dari ujung sana, " Oke, bye... i love you too !!" setelah itu Siwan menutup teleponnya.
Kini Hanna pun bersiap untuk tidur dengan di iringi musik dari radio kesayangannya. Dia tersenyum lalu memejamkan matanya, berharap hari esok akan lebih baik lagi dari hari sebelumnya.