
Setelah selesai makan, kali ini giliran Hanna yang mencuci piring dan merapihkan semuanya. Siwan menunggu Hanna sambil menonton acara komedi di tv.
Selesai mencuci piring, Hanna melihat rak bumbu di dapurnya terlihat penuh. Ternyata, dia melihat di meja dan rak bumbu ada tambahan minyak goreng, kecap ikan, minyak wijen, kecap dan saus inggris, juga wadah garam dan kaldu penuh. Stok bumbu seperti lengkuas, jahe, kunyit, daun salam, serai dan bumbu lainnya memenuhi rak kecil Hanna. Meskipun semuanya tidak dalam jumlah yang banyak, tapi karena semua lengkap jadi terlihat semakin penuh.
Dan saat membuka kulkas pun sangat penuh, di mulai dari susu cair dan kental, keju, youghurt, telur, cabe merah hijau dan cabe rawit, sayur, buah, minuman, dan masih banyak lainnya.
Di dalam freezer pun terlihat ada stock fast food, udang, daging sapi dan ayam yang sudah di cuci bersih tertata rapih di dalam kotak food preparation milik Hanna. Bahkan di rak selanjutnya terlihat ada berbagai macam tepung dan stok margarin juga selai dan ceres untuk persiapan sarapan temannya roti.
" Ya ampun, apa dia berniat menjadikanku tukang masak.. semuanya terlihat sangat komplit. " Ucap Hanna setengah berbisik. Lalu Hanna menghampiri Siwan yang sedang terlihat tertawa terbahak - bahak menonton acara komedi di tv.
" Ahjussi, kenapa kau memenuhi seluruh ruang penyimpanan di dapurku ? Aku pikir tidak sebanyak itu. " Ucap Hanna.
" Tidak apa - apa, kau jadi tidak perlu pergi ke pasar dalam waktu dekat ini. " Ucap Siwan mengelus rambut panjang Hanna.
" Tapi, kau bilang tadi bli Aji yang pergi belanja, apa kau tidak kasihan, dia pasti kewalahan dengan belanjaan sebanyak itu. " Ucap Hanna.
" Tidak usah khawatir, dia pasti meminta bantuan seseorang yang sangat handal di bidang perbelanjaan seperti itu. " Ucap Siwan lalu tertawa kembali melihat acara di tv.
" Bidang perbelanjaan, apa maksudnya, dan siapa ? apa bi asih ?" tanya Hanna.
" Bukan, dia pasti mengajak pegawai di resto, tadi dia sedang berada di sana, tidak jauh dari sini, itu resto Jepang dekat toko kue. " Ucap Siwan yang masih fokus dengan acara favorit nya.
" Oh... iya aku tahu, memangnya dia sedang apa disana? apa bli Aji bekerja disana?" tanya Hanna penasaran.
" Tidak, dia sedang mengecek resto dan para karyawan disana, mewakiliku. " Ucap Siwan masih belum sadar dengan perkataannya karena masih fokus melihat lawakan komedian di acara tv yang mengocok perut nya.
" Mewakilimu ? maksudnya?" tanya Hanna.
" Iya, mewakili... " Siwan tidak melanjutkan perkataannya, dan dia baru tersadar kalau dia sudah membocorkan sesuatu. Lalu menatap mata kekasihnya itu.
" Kenapa, tidak melanjutkan perkataanmu ?" Hanna menatap Siwan sambil mengangkat kedua halisnya seperti mencurigai sesuatu.
" Itu... a-ku.. tadi bicara apa ya, aku lupa lagi. " Siwan pura - pura lupa.
" Baiklah, tidak apa - apa, kalau kau tidak mau memberitahu ku. " Hanna terlihat kesal tapi menahannya agar terlihat biasa saja.
" Emh.. maaf, aku tidak mengatakan nya karena kau tidak pernah bertanya. Kalau aku yang duluan memberitahu mu nanti terkesan bahwa aku ini sombong. " Ucap Siwan memegang kedua tangan kekasihnya.
Hanna masih terdiam karena masih merasa kesal.
" Baiklah, sebagai permintaan maaf dariku, karena pasti ada yang ingin kau ketahui dariku, kali ini, tanyakan saja, semuanya, aku akan menjawabnya secara jujur. " Ucap Siwan.
" Benarkah ?" tanya Hanna tidak percaya.
" Yes, of course !!"
" Oke, tadi maksudnya soal restoran Jepang, apa ?" pertanyaan pertama dari Hanna sudah meluncur dari bibirnya.
" Iya, harusnya tadi aku yang pergi mengecek laporan bulanan dari manager resto disana." Jawab Siwan.
" Memangnya, apa resto itu milikmu ?" tanya Hanna.
Siwan hanya menganggukan kepalanya.
" Apa itu saja? maksudku bagaimana dengan kedai kopi dan toko kue di sana ?" tanya Hanna.
" Itu juga. " Ucap Siwan.
" Itu juga milikmu, maksudnya begitu. "
Dan Siwan kembali menganggukan kepalanya.
" Wah, sudah kuduga, tapi, kupikir hanya toko kue nya saja. Aku curiga soalnya beberapa kali pernah melihatmu masuk ke dalam toko kue itu. " Ucap Hanna.
Siwan tersenyum dan menarik Hanna ke dalam pelukannya.
" Apa masih ada pertanyaan lagi?" tanya Siwan..
" Sebetulnya dari dulu aku ingin bertanya, tentang apa pekerjaan utama mu, tentang keluargamu, dimana keluargamu tinggal, dan masih banyak lainnya. Tapi, aku tidak ingin kau menjawabnya hanya karena terpaksa dan karena takut aku menjadi kesal, aku tidak mau seperti itu. Aku hanya berfikir, mungkin belum saatnya. " Ucap Hanna memeluk erat pinggang Siwan.
" Aku hanya seorang pebisnis, aku bekerja sama dengan beberapa teman atau rekan bisnisku di Indonesia. Kalau di Korea, keluargaku yang mengelolanya, aku hanya sebagi salah satu pemegang saham saja."
" Ibuku tinggal di salah satu panti asuhan di Bali, di daerah xxx. Setelah bercerai, ibu kembali ke Bali dan mendirikan sebuah panti asuhan, karena dia sudah tidak memiliki keluarga lagi disini, aku bahkan jarang menemaninya, makanya, agar tidak kesepian, dia mengajak temannya mengelola dan mengurus anak - anak yang terlantar atau yatim piatu, menciptakan keluarga baru untuknya. Sebetulnya, ibuku punya seorang adik, hanya saja, dulu saat adiknya berusia dua tahun, dia di adopsi oleh salah satu teman nenekku. Dan di bawa keluar dari pulau Bali. "
" Lalu ayahmu ?"
" Ayahku menikah lagi setelah satu tahun perceraiannya, dan aku punya dua orang adik dari hasil pernikahan kedua ayah. Yang pertama, laki - laki, dia sudah bekerja mengelola salah satu perusahaan ayah di Seoul, yang kedua, adik perempuanku, dia masih kuliah jurusan seni di Amerika, dia bilang ingin menjadi seorang seniman. "
Beberapa detik tidak terdengar lagi pertanyaan dari mulut Hanna. Dia hanya fokus melihat tv sambil masih memeluk Siwan.
" Tidak ada lagi pertanyaan? " tanya Siwan.
" Kurasa, kali ini cukup." Hanna menatap Siwan sambil tersenyum puas. Lalu Siwan mengecup bibirnya.
" Aku merindukanmu, aku ingin pergi jalan - jalan lagi mengelilingi pulau ini bersamamu. Setelah kakimu benar - benar sembuh, ayo kita pergi berlibur. Apa kau pernah menyelam ?" tanya Siwan.
" Belum, ahjussi, sebetulnya aku agak takut dengan laut, aku hanya berani bermain air di pinggiran nya saja. " Ucap Hanna menyesalkan.
" Tapi kau belum pernah mencobanya kan, setidaknya cobalah dulu walau hanya satu kali seumur hidupmu. Supaya kau tidak penasaran."
" Iya, sebetulnya aku ingin sekali, apalagi di pulau ini banyak terumbu karang, flora dan fauna yang cantik, aku hanya bisa melihat video nya di yucup." Ucap Hanna.
" Ada aku yang akan menjagamu, nanti aku akan mengajak penyelam profesional untuk mengajari mu dulu, temanku banyak seorang penyelam dan pemain surfing di laut. "
" Benarkah, ahjussi, apa kau bisa bermain surfing ?"
" Tentu saja, apa kau tahu siapa yang mengajariku ?" tanya Siwan.
" Siapa ?" tanya Hanna.
" Aji." Jawab Siwan singkat.
" Wah.. masa sih.." Hanna seperti tidak percaya.
" Kau tahu, dulu, kulit Aji lebih gelap dari sekarang, hobinya berselancar di laut. Aku pertama kali kenal dengannya juga di laut, aku memintanya mengajariku berselancar, kala itu, dia masih seorang mahasiswa, dan dia juga seorang petinju yang hebat. Kau lihat kan badannya tinggi dan kekar. "
" Pantas saja, tangannya berotot." Ucap Hanna.
" Jadi, bagaimana, lain kali apa kau mau mencobanya ?" tanya Siwan.
" Berselancar ? ah tidak mau, melihat ombak dari jauh saja aku merasa jantungku mau copot. Tidak ah, aku tidak mau. "
" Bukan, tapi menyelam. Kita menyelam di lautan, tanpa adanya ombak, lautnya tenang. Tapi, apa kau bisa berenang?" tanya Siwan.
" Tentu saja, aku pertama kali mencoba berenang di air setinggi 1,5 meter, aku panik dan hampir tenggelam, teman - temanku malah mentertawakanku bukannya menolong, aku yang saat itu tidak melihat kedalaman airnya tiba - tiba dengan percaya diri menceburkan diri ke dalam air. Bayangkan saja, waktu itu aku kelas 5 SD, tinggiku di bawah 100 cm. Untungnya saat itu guruku yang baru selesai dari kamar mandi buru - buru masuk ke dalam kolam menyelamatkanku. Sejak saat itu, aku terus berlatih supaya bisa menaklukan kolam sedalam 1,5 meter itu. "
" Kau sangat gigih rupanya. " Ucap Siwan.
Hanna hanya menganggukan kepalanya, dia mengambil nafas dalam - dalam, menghembuskannya perlahan, lalu berkata,
" ahjussi, besok aku akan mulai bekerja lagi !!" ucap Hanna membuat Siwan kaget.
" Kenapa secepat itu, lagi pula, seragammu masih di rumah ku di bawa Aji saat itu. " Siwan kaget mendengarnya.
" Surat dokter ku hanya 3 hari sampai hari ini, lagi pula, aku sudah bisa berjalan sendiri kan walau masih agak sakit, aku bisa mengatasi nya. Aku tidak bisa bolos bekerja, perusahaan memiliki aturan tersendiri bagi karyawan nya saat mengambil izin sakit ataupun cuti. Kondisiku tidak parah, walau perusahaan memaklumi nya, tapi aku harus sadar diri dengan kondisiku yang hanya karyawan kontrak. "
" Seperti itu ya, mau bagaimana lagi, aku tidak bisa mengatur kehidupanmu, aku hanya bisa mendukung mu dan menyemangatimu. " Ucap Siwan berusaha tersenyum.
" Kalau masalah seragam, kan aku punya dua, jadi tidak usah khawatir ya, lagi pula, pak Rama sudah memberiku izin memakai sepatu tanpa hak tinggi. "
" Baiklah, kalau begitu karena sudah malam, aku pulang dulu, besok pagi aku jemput ya, aku akan mengantarmu pergi bekerja. " Ucap Siwan.
" Aku masuk shift siang kok, tidak usah terlalu pagi, ahjussi, kau istirahat saja. " Ucap Hanna.
" Lalu bagaimana denganmu disini, kau tidak takut ku tinggalkan sendirian. Penghuni yang lainnya kan sedang tidak ada. "
" Aku, sudah terbiasa ahjussi, ada cctv di setiap sudut, juga, apa kau tidak melihat tadi ada satpam musiman menjaga di pos depan gerbang, setiap penghuninya pulang kampung, pasti pemilik gedung memperketat keamanan. Lagi pula, ada Tuhanku yang akan melindungi ku. Jadi, percayalah, aku akan baik - baik saja. "
" Baiklah, aku nanti akan berbicara dengan satpamnya di bawah. " Ucap Siwan lalu beranjak dari duduknya.
Sebelum pergi, mereka sempat berpelukan dan berciuman di depan pintu. Rasanya sangat berat sekali bagi Siwan untuk pulang, tapi, karena dia sadar bahwa mereka masih berpacaran, dia harus bisa menjaga dan mengendalikan nafsu nya untuk menghormati Hanna.