
Setelah kejadian hari itu, Aji tidak pernah kembali pulang ke kediaman Siwan. Aji bahkan di istirahatkan oleh bu Shinta dalam seluruh kegiatan pekerjaan demi menetralkan situasi.
Ia sudah di bebas tugaskan dari seluruh kegiatan seperti biasanya, berkomunikasi dengan Hanna pun tidak di izinkan. Namun, ia selalu memantau mereka dari kejauhan.
Bu Shinta semakin kerepotan mengurus bisnis sendirian. Ia bahkan menyerahkan tugas yang ia kelola di panti asuhan miliknya pada orang kepercayaannya.
Bu Shinta memutuskan untuk tinggal bersama Hanna dan Hwan di kediaman Siwan.
Tidak ada yang berbeda sedikitpun, perlakuan bu Shinta pada mereka berdua tetap sama, bahkan ia terlihat lebih menyayangi Hwan di bandingkan hari - hari sebelumnya, karena intensitas pertemuan mereka yang semakin sering.
Setiap pulang bekerja, meskipun lelah, ia selalu mencari Hwan. Dia berkata, Hwan adalah obat baginya.
Bagaimana Hanna tega memisahkan Hwan dengannya. Niatnya untuk pergi meninggalkan Bali, dan keluarga Siwan, selalu ia urungkan karena tidak tega memisahkan bu Shinta dan anaknya.
"Bu, apa ibu sangat kerepotan mengurus pekerjaan ?"
"Jujur saja, sebetulnya aku yang sudah tua ini, hanya ingin beristirahat dengan damai di rumah, bermain bersama cucuku setiap harinya, "
"Maaf, semua ini gara - gara aku, ibu jadi harus turun tangan mengurus semua ini sendirian, "
"Apa kau masih marah padanya ?" tanya bu Shinta.
Hanna menundukkan kepalanya.
"Masalah ini lebih baik jangan di biarkan berlarut - larut, kalaupun memang benar Aji ayah dari Hwan, kau harus menerima kenyataannya, cepat atau lambat, Hwan akan tumbuh besar dan merindukan sosok ayah dalam kehidupannya, jadi, bicaralah dengannya, meskipun hanya lewat telepon, kau harus selesaikan kehidupan pribadimu sendiri, aku tidak akan mencampuri kehidupan pribadimu,"
Kadang, Hanna begitu curiga pada bu Shinta, bagaimana bisa ia setenang ini. Bahkan ia tidak terlihat merasa marah sedikitpun saat mengetahui jika Hwan bukan cucu dari anaknya, bukan darah dagingnya.
Apa karena bu Shinta sudah menganggap Aji pun sebagai anaknya sendiri, atau mungkin karena umurnya yang sudah setengah abad ini, membuat ketenangan hati dan kedewasaannya di luar batas kemampuan berpikir Hanna.
Bahkan Hanna sendiri masih merasa kecewa, merasa di khianati.
"Beri aku waktu untuk berpikir kembali bu, jujur aku... entah harus bagaimana aku bersikap padanya, aku bingung, aku tidak tahu apa aku bisa berhadapan lagi dengannya, dia sungguh terlalu mengecewakanku, "
"Aku paham, tapi, maafkan aku, aku hanya ingin bertanya sekali lagi padamu, tolong jawab dengan sejujurnya !!" ucap bu Shinta yang saat itu duduk di samping Hanna di ruang tengah.
"Tanyakan saja bu, "
"Siapa yang lebih kau percayai ?" tanya bu Shinta.
"Maksud ibu, siapa ? aku tidak mengerti, "
"Aji atau aku ?" bu Shinta menatap Hanna dengan serius kali ini.
"Bu, maksud ibu apa bertanya seperti ini, tentu saja aku sangat percaya padamu, untuk apa aku masih bertahan disini kalau bukan karena ibu yang meminta, "
"Tapi aku melihatmu sangat kecewa pada Aji, itu artinya kau lebih mempercayai dia di bandingkan aku,"
"Mengapa aku harus kecewa padamu bu, selama ini tidak ada keputusan bahkan perbuatan ibu yang mengecewakanku, sikapmu padaku dan Hwan tidak pernah berubah, kasih sayangmu pada kami seperti kasih sayang seorang ibu pada anak dan cucunya sendiri, bagaimana bisa aku kecewa padamu, itu tidak mungkin, "
"Apa aku harus memberitahunya sekarang ? tentang fakta yang selama ini aku sembunyikan darinya ?" gumam bu Shinta.
Percakapan mereka terpaksa terhenti karena suara tangisan Hwan dari dalam kamar membuat Hanna berlarian menghampiri kamar untuk melihat kondisi anaknya saat itu.
Padahal, saat itu sepertinya bu Shinta sudah bersiap hendak mengatakan sesuatu pada Hanna.
Tanpa terasa, sudah satu bulan lamanya Hanna benar - benar lost contac dengan Aji. Jangankan bertemu, berkirim kabar saja tidak pernah.
Meskipun banyak sekali pertanyaan yang belum terjawab, Hanna harus terus menahan rasa egonya karena masih belum bisa memaafkan Aji yang ternyata adalah ayah dari anaknya.
Suatu hari, ketika Hanna pergi ke kantor Wood Art Studio, di antarkan oleh Bram, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Austin, saat ia sedang dalam perjalanan pulang ke rumah.
Saat itu, ia melihat Austin di pinggir jalan sedang membongkar ban belakang mobilnya yang bocor.
"Pak, pak Bram, stop pak, mundur sedikit.. !! pinta Hanna.
Bram pun menuruti permintaan Hanna.
Hanna membuka kaca jendela mobilnya dan mendongkakkan kepala keluar lalu mencoba memastikan sesuatu.
"Kak Oz..." teriak Hanna.
Dan, Austin yang sedang berjongkok pun menengok ke belakang.
"Hai, Han, darimana ?" tanya Austin dengan wajah cengengesan.
Hanna pun turun dari mobil dan menghampiri Austin saat itu.
"Aku habis dari Woods Studio, kenapa kak ?" tanya Hanna.
Austin kini sudah berdiri, sambil menenteng kunci di tangannya.
"Ini, ban nya tiba - tiba meletus, untung bawa ban cadangan " jawab Austin.
Dan Bram pun menawarkan diri untuk membantu Austin memasangkan Ban pada mobilnya.
Beberapa menit kemudian...
"Oke, selesai, thanks ya, bro Bram " ucap Austin.
"Sama - sama bro " jawab pak Bram.
"Eh, kalian udah makan siang belum, makan bareng yuk, aku traktir nih, ucapan terima kasih sama bro Bram " sahut Austin.
"Gak usah lah bro, jangan sungkan gitu lah " timpal Bram.
"Iya kak Oz, maaf nih, aku harus buru - buru pulang nih, aku mau makan siang di rumah aja " ucap Hanna.
"Emh... oke, next time ya, soalnya aku udah kelamaan pergi hari ini " ucap Hanna.
"Eh Han, tapi aku ada yang pengen di obrolin nih sama kamu, aku anter pulang ya, kita bis ngobrol sepanjang perjalanan pulang, gimana ?"
"Apa sih kak, serius amat, ada apaan sih ?" Hanna terlihat penasaran.
"Ntar aja di obrolinnya di dalem, yuk masuk, di luar panas banget !! ajak Austin, membukakan pintu mobilnya untuk Hanna.
Sebelum masuk ke dalam mobil Austin, Hanna memandang Bram, dan menganggukkan kepala dan mengedipkan kedua matanya pada Bram agar tidak usah mencemaskannya.
Bram tidak bisa melarang, dia hanya menatap Hanna sambil menghela nafas, juga mulai masuk ke dalam mobilnya dan membuntuti mobil Austin dari belakang.
Di dalam mobil Austin.
"Kak, aku juga sebenernya ada yang mau ditanyakan lho, aku penasaran soalnya "
"Ada apa Han ?"
"Hari itu, apa kak Oz sengaja pulang lebih awal demi mencaritahu hasil DNA Hwan ? bukannya tugas kak Oz satu minggu kemudian baru selesai, memangnya bisa pulang dulu ?"
"Emh... tentu saja, aku bahkan sengaja menukar hari liburku supaya aku bisa pulang lebih cepat " jawab Austin.
"Oh... gitu ya !" nada bicara Hanna terlihat kurang begitu puas dengan jawaban Austin.
"Kenapa memangnya ?" Austin melirik Hanna yang terlihat kecewa.
"Gapapa kok kak, aku cuma heran aja, demi aku dan Hwan, kak Oz sampai rela melakukan itu, "
"Itu karena aku kangen banget sama kalian tahu, masih belum ngerti juga ?"
"Tapi, kenapa kak Oz gak pernah berkunjung ke rumah buat ketemu Hwan, selama ini kak Oz cuma liat Hwan lewat video call aja, kenapa sih ?"
"Oke, maafkan aku Hanna, aku masih merasa sedih, aku masih merasa gak sanggup, aku masih merasa kak Wan masih berada disana, namun begitu aku menyadari kenyataan kalo kak Wan ternyata udah gak ada, sakit banget Han, sakit banget rasanya, aku gak sanggup melangkahkan lagi kakiku disana, di rumah itu, saking aku sedihnya, "
Hanna merasa tertegun dengan ucapan Austin.
Sekaligus merasa tertohok, Austin yang notabene nya hanya sebagai seorang teman, sahabat, saudara, tidak sanggup menginjakkan kakinya kembali di rumah itu karena rasa sedihnya, lalu kenapa dengan dirinya sendiri, yang masih bebas berlalu lalang keluar masuk rumah itu bahkan ia tidur di ranjang milik almarhum kekasihnya itu.
"Han, maaf, bukan maksud aku menyinggungmu, sungguh aku tidak bermaksud begitu kok !"
Austin sepertinya menyadari bahwa perkataannya sedikit menyinggung perasaan Hanna.
"Gapapa kok kak, aku paham !"
"Serius kamu gak tersinggung ? lagipula Han, cara seseorang menghilangkan kesedihan itu berbeda - beda, aku ya seperti ini, lebih baik menghindari semua kenangan, daripada harus hidup di dalam kenangan, mungkin aku dan kamu sangat berbeda, jadi, mohon jangan tersinggung yaa !!"
"Begitu ya... " ucap Hanna dengan lirih.
"Eh Han, aku jadi lupa mau ngomong sesuatu "
"Oh iya, mau ngomong apaan sih, udah mau sampai nih "
Dan, ketika mobil Austin sampai di depan gerbang kediaman Siwan, hpnya berbunyi, seseorang menelponnya.
Ternyata itu telepon dari rumah sakit, ia harus segera ke rumah sakit karena ada operasi dadakan yang harus ia tangani.
"Han, maaf aku gak bisa masuk ketemu Hwan lagi, aku harus segera pergi nih, buru - buru "
"Oke, gapapa kak, hati - hati yaa,"
Hanna pun keluar dari mobil Austin, tepat di depan pintu gerbang masuk kediaman Siwan.
Saat Bram sampai di dalam, ia bertanya pada Hanna kenapa Austin hanya menurunkan Hanna di depan pagar, lalu Hanna menjawab apa adanya. Namun Bram terlihat tidak mempercayai alasannya. Ia terlihat mengerutkan keningnya hingga kedua alisnya bertemu.
"Kenapa memangnya, pak Bram ?"
"Ah, gapapa neng, cuma penasaran aja, gak sopan kan kesannya, " Bram menepis rasa curiganya.
"Gapapa kok pak, dia kan lagi buru - buru, tadinya juga dia mau ketemu Hwan cuma dia harus segera ke rumah sakit lagi, "
Beberapa jam kemudian...
Malam harinya, sebelum tidur, Hanna kembali mengingat perkataan Austin, bahkan kata - katanya selalu terngiang - ngiang di otaknya.
"Lebih baik menghindari semua kenangan, daripada harus hidup di dalam kenangan "
"Apa maksud dari ucapannya itu ya ? apa dia pikir selama ini aku selalu hidup di bawah bayang - bayang kenangan ajjushi ? gak di pungkiri juga sih, aku agak tersinggung sama perkataannya tadi, tapi dia kan udah jelasin kalo maksudnya bukan sengaja menyinggungku, aarrggghhh... apa sih, kok aku jadi baper yaa !!"
Lalu, dengan waktu yang sangat bertepatan, kali itu, sebuah pesan chat whatsupp masuk kedalam hpnya.
Ia melihat kalau Austin yang mengirimnya pesan.
"Huh.. " Hanna membuang nafas kasar, merasa kecewa.
"Sudah tidur ?"
Hanya bertanya seperti itu, sungguh mengecewakan.
Hanna tidak segera membalas pesannya, ia hanya menatap layar hpnya saat itu.
"Apa sih, kok aku kesel gini !"
Sebetulnya, hal yang membuatnya kesal bukan karena isi pesan yang di kirim oleh Austin saat itu. Tapi, sepertinya Hanna mengharapkan seseorang menghubunginya, selain Austin.
"Where are you ?" gumam Hanna, lalu berbaring dan mulai bersiap untuk tidur. Ia bahkan tidak menghiraukan pesan yang Austin kirim saat itu.