My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
how are you...



Beberapa waktu berlalu, kini, sudah hampir 2 bulan lamanya Siwan pergi dan belum juga kembali.


Namun, hubungan nya bersama Hanna masih tetap penuh kemesraan walau hanya bertatap muka lewat video call. Mereka selalu saling mempercayai satu sama lainnya.


Siwan sedang fokus mengawasi sebuah proyek dan merancang pembangunan di sana. Sebetulnya, dia merupakan seorang arsitek, makanya, keluarganya di Korea selalu meminta bantuan Siwan untuk merancang dan melakukan pengawasan secara langsung saat sedang mengerjakan sebuah proyek besar. Karena dia merupakan orang yang bisa di percaya dan di andalkan oleh keluarga maupun rekan bisnisnya.


Selama dua bulan terakhir pula, Hanna semakin giat belajar karate bersama Mina, sang mentor, yang usia nya 4 tahun di atas Hanna, namun tidak mau di panggil kakak. Dia lebih suka di panggil Mina saja.


Kini, Hanna sudah dapat memahami teknik dasar sebagai pemula, teknik memukul dan tendangan. Dia sudah mengalami peningkatan yang lumayan menurut Aji. Selama latihan, saat sedang tidak sibuk, Aji selalu datang untuk menyemangati Hanna.


Bahkan, dia sempat memperlihatkan keahliannya, bertanding bersama Mina dan beberapa temannya di sana. Aji sudah memakai sabuk hitam dengan banyak strip. Makanya, dia sulit untuk menerima kekalahan dari teman sejawatnya yang baru memakai sabuk coklat, ungu ataupun hitam dengan strip yang baru sedikit.


Selama itu pula kedekatan antara Hanna dan Aji semakin intens. Tak jarang mereka makan siang atau malam bersama di luar, atau hanya sekedar mengobrol di ruang latihan saat istirahat ataupun selesai latihan. Pergi menemani Hanna berbelanja atau sekadar mengantar jemputnya bekerja atau pulang pergi latihan.


Namun, bagi Hanna, tidak ada perasaan lain selain hanya menganggapnya sebagai seorang teman bahkan kakak, kedekatannya ia anggap sama saja seperti perlakuannya pada Rayhan.


Tak jarang Hanna selalu curhat tentang pekerjaan, keluarga, dan temannya. Kalau tentang hubungannya dengan Siwan, dia tidak pernah membicarakan hal itu pada Aji, karena dia menjaga batasan akan hal itu. Cukup Hanna dan Siwan yang tahu, paling, kalau masalah percintaan, Hanna selalu curhat atau sekadar meminta saran pada sahabatnya, anggota geng KERANG.


Suatu hari, saat Hanna sedang libur, saat itu tepat pukul 14.30 wita, dia baru selesai latihan karate bersama Mina. Datanglah Aji menghampiri ruang latihan mereka.


" Han, ada yang ingin bertemu !!" ucap Aji.


Melihat raut wajah Aji saat itu, Hanna tidak menjawabnya, dia hanya memasang raut wajah penasaran. Lalu ia mengakhiri sesi latihannya bersama Mina dan mengikuti Aji dari belakang menuju balkon lantai dua.


Dari kejauhan, Hanna sudah bisa melihat pria itu yang sedang membelakanginya. Seorang pria berbadan tinggi memakai jeans hitam dan jaket kulit hitam, serta memakai topi hitam, apa dia sedang berkabung.!!


Saat Aji dan Hanna sudah semakin mendekat, karena mendengar suara langkah mereka, pria itu pun membalikkan badannya, lalu membuka topinya dan menatap Hanna.


Hanna sangat terkejut, lalu tersenyum pada pria itu.


" Bang Andre !!" ucap Hanna setengah berteriak.


" Hallo nona manis, lama tidak berjumpa !!" ucap Andre yang kini berdiri semakin dekat dengan Hanna.


Aji yang mendengarnya memanggil Hanna seperti itu pun merasa sedikit risih, ada sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya.


" Bang Andre, ada apa ? sengaja mau bertemu denganku ? atau hanya kebetulan lewat ?" tanya Hanna.


" Aku sengaja, ingin menemui mu, bisakah kita mengobrol sebentar ?" tanya Andre pada Hanna.


Lalu, Hanna melirik Aji sesaat, setelah medapat isyarat dari Aji yang seperti mengizinkannya, ia pun langsung menjawab "oke" pada Andre. Tapi Hanna menyuruh Andre menunggunya, dia akan membersihkan dulu dirinya sebentar.


Hanna pun buru - buru pergi meninggalkan Andre bersama Aji di balkon, dia berlari menuju ruang latihan dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Beberapa menit kemudian, kini, Hanna, Aji dan Andre sudah berada di cafetaria dekat healthy and fitness centre milik Siwan.


Mereka bertiga nampak berbicara santai awalnya, sambil sesekali melahap camilan yang ada di depan mereka.


Namun, saat Andre mengatakan sesuatu yang membuat Hanna terkejut, Hanna pun tersedak oleh air jus mangga nya yang sedang ia minum lewat sedotan saat itu.


" Siapa bang ?" tanya Hanna setelah meredakan tenggorokan nya.


" Siska, kau kenal dia kan ?" tanya Andre.


" Siska Dwi Pratiwi ? tentu saja, dulu, dia teman di kostan ku, kau kenal dia ? dimana dia sekarang ?" tanya Hanna tidak sabaran.


" Santai dong nona." Ucap Andre pada Hanna.


Satu jam kemudian, kini, Hanna, Aji dan Andre sedang berada di lorong rumah sakit. Hanna nampak terburu - buru dan sudah tidak sabaran ingin bertemu seseorang di sana.


Sesampainya di depan pintu sebuah kamar vip no 03, nampak ada dua orang yang menjaganya dari luar.


Mereka mengizinkan Hanna masuk atas perintah Andre.


Saat Hanna masuk, di temani Aji dan Andre, dia langsung memasang wajah sedih, tanpa terasa air matanya menetes melihat seseorang berbaring di atas ranjang dengan penuh luka lebam di wajahnya.


Siska, dia temannya yang sempat menghilang beberapa bulan yang lalu setelah acara pernikahan nya yang gagal.


Perlahan Hanna menghampiri dan meneliti wajah Siska yang kini sedang menutup matanya seperti sedang tertidur pulas.


Beberapa detik kemudian, Siska mulai membuka matanya, ia terbangun karena merasakan ada seseorang yang menyentuh pipinya, dan ia langsung menoleh pada Hanna yang sedang berada di sampingnya kini.


" Han-na... " ucap Siska perlahan dengan suara yang terdengar parau.


" Iya kak, ini aku, Hanna. " Hanna menyeka air matanya lalu meraih tangan Siska.


" Syukurlah, aku bisa bertemu lagi denganmu, maaf ya, dulu aku pergi tanpa pamit." Ucap Siska.


" Sstt... udah, gak usah banyak bicara dulu ya, kakak harus banyak istirahat." Sahut Hanna.


Siska pun mulai melirik pada Aji dan Andre.


" Bli, apa kabar ?" tanya Siska.


" Baik Sis." Jawab Aji sambil mendekat pada ranjang Siska.


Siska terlihat tersenyum dan kembali menatap Hanna.


" Bagaimana hubungan mu sama kak Wan ?" tanya Siska pada Hanna.


" Aku senang mendengarnya." Ucap Siska lalu mencoba terbangun dari posisi tidurnya, akan tetapi, dia merasakan sakit di tubuhnya.


" Udah kak, gak usah bangun dulu, kakak harus banyak istirahat !!" Seru Hanna.


Setelah hampir satu jam lamanya, kini Hanna pun pamit pulang pada Siska. Dia berjanji akan kembali untuk menjenguk Siska saat ada waktu. Dia juga merasa berduka atasnya yang kehilangan bayinya. Dia mendoakan Siska agar lekas sehat kembali.


Hanna, Aji dan Andre pun keluar dari kamarnya.


Di luar, Hanna merasa sangat marah dan kesal, dia bertanya pada Andre apa yang sebenarnya terjadi pada Siska hingga dia babak belur seperti itu. Karena yang Andre katakan saat di cafetaria tadi hanya bahwa Siska keguguran dan kehilangan bayinya.


Kini Hanna sedang berada di dalam mobil bersama Aji. Mereka sedang dalam perjalanan pulang ke rumah Hanna saat itu.


Sepanjang perjalanan, mereka hanya terdiam tanpa kata, baik Hanna maupun Aji seperti memiliki kesibukan masing - masing di dalam pikirannya.


Sesampainya di rumah...


Aji mengikuti Hanna dari belakang, dan kini mereka sedang duduk di sofa, bersebrangan.


" Aku masih belum paham bli, tolong jelaskan padaku !!" Ucap Hanna.


Aji pun menceritakan kembali hal yang di beritahu Andre saja pada Hanna.


Dia bilang bahwa Andre menemukan Siska di semak belukar daerah xxx sedang terkapar lemah penuh darah merintih kesakitan. Wajahnya penuh luka lebam. Waktu itu kondisinya malam hari, bahkan hampir tengah malam.


Saat itu Andre dan timnya sedang berpatroli, saat menemukan Siska, dia buru - buru membawanya ke rumah sakit.


" Tunggu dulu, berpatroli, apa bang Andre seorang polisi atau tentara ?" tanya Hanna.


" Lebih tepatnya dia seorang anggota BIN." Jawab Aji.


" Apa ? yang benar saja !!" ucap Hanna merasa tidak percaya apa yang ia dengar barusan.


" Kenapa ? memangnya selama ini kau tidak tahu, bukannya kalian saling kenal." Ucap Aji.


" Ya, kami hanya kenal saja, tidak terlalu dekat, malah pertemuan pertama kami pun penuh ketegangan. Ahjussi pun tahu ceritanya... cih, sungguh tidak bisa di percaya !!" Ucap Hanna terdengar meledek.


" Kak Wan, memangnya ada apa di antara kalian ?" tanya Aji penasaran.


Lalu, Hanna menceritakan kronologis kejadian pertemuan pertama antara dirinya dan Andre yang kebetulan juga ada Siwan di sana. Lalu menceritakan soal pertemuan kedua, ketiga dan seterusnya antara dirinya dan Andre.


" Begitu bli, jadi, aku hanya kenal saja, jujur, aku belum bisa mempercayai nya selama ini karena pertemuan awal kami yang seperti itu. " Ucap Hanna mengakhiri ceritanya.


" Hahahahaha...." Aji mendadak tertawa tebahak - bahak.


" Idih... malah tertawa. Tapi bli, siapa ya kira - kira orang yang yang tega melakukan hal kejam itu pada kak Siska ?" tanya Hanna.


" Dari hasil investigasi Andre pada Siska, dia bilang ayah calon bayinya yang melakukannya. Tapi, dia masih belum mau mengatakan siapa orangnya. Dan Andre melimpahkan kasus ini pada kepolisian terdekat. Aku kenal beberapa orang, nanti aku akan bantu carikan informasi nya untukmu. Bersabarlah... " Ucap Aji menatap Hanna.


Hanna yang membalas tatapan Aji saat itu merasakan ada suatu getaran di dadanya. Namun, ia langsung mengalihkan tatapannya ke arah lain dan pura - pura menawari Aji minuman. Dan menjadi salah tingkah.


Namun, Aji pun yang merasakan kecanggungan di antara mereka, langsung buru - buru pamit pulang. Dia tidak ingin terjadi hal - hal di luar kendalinya saat bersama Hanna.


Setelah Aji berpamitan, kini Hanna sendirian di rumahnya.


Hanna masih terduduk di sofa. Ia menyentuh dadanya.


" Ada apa ini, kenapa aku jadi salah tingkah di depannya." Ucap Hanna perlahan.


" Ah... tidak boleh, aku tidak boleh ada perasaan yang lebih padanya. Kita hanya dekat sebagai adik dan kakak, sama seperti aku dan kak Os. " Ucapnya menegaskan kembali statusnya bersama Aji.


Beberapa waktu berlalu, tanpa terasa, kini hari sudah berada di penghujung bulan september, saat itu, hari rabu, Hanna sedang bekerja shift pagi.


Saat sedang istirahat, seperti biasa, Satria selalu menghampiri Hanna yang sedang menikmati makan siang bersama teman - temannya. Dia selalu membuat Hanna tidak nyaman semenjak ia bergabung di tempatnya bekerja. Bukan karena dia memperlihatkan kekuasaannya sebagai atasan Hanna yang semena - mena, tapi, itu karena perhatiannya yang berlebihan padanya.


" Hai, makan apa nih, boleh gabung ?" tanya Satria menghampiri meja Hanna, Melly dan Teguh.


" Boleh pak, duduk aja !!" Seru Melly.


Hanna hanya tersenyum pada Satria dan kembali melanjutkan makan siangnya.


Lalu, selesai makan siang, Satria mengumumkan sesuatu pada mereka bertiga.


" Eh, udah tau belum, nanti malam acara pesta ultah bu Merry ( sang manager toko tempat mereka bekerja ) jangan lupa pada datang ya... !!" Ucap Satria.


" Wah, memangnya kita di undang juga pak ?" tanya Teguh.


" Tentu saja, bu Merry sudah titip pesan sama saya, dari lantai 1 sampai lantai 3, harus hadir bagi yang shift pagi, katanya, dia sambil mengadakan pesta ulang tahun pernikahan nya yang pertama. Dia juga ingin mengundang karyawan di toko." Ucap Satria.


Hanna sebetulnya sudah tahu, dan dia terlihat enggan menghadiri acaranya, tapi, karena Satria sudah berkata seperti itu, mau tidak mau ya dia harus menghadiri acaranya nanti malam. Terlebih lagi, Melly dan Teguh juga akan hadir.


" Kamu mau hadir kan, Han ?" tanya Satria.


" Iya, baiklah, aku usahakan." Ucap Hanna sambil tersenyum.


Satria nampak bahagia mendengarnya.