
Pada siang hari menjelang sore, Hanna sedang kembali di periksa oleh dokter. Kali ini, dokter masuk bersama seorang perawat untuk mengganti perban di kepala Hanna.
Kali ini, dokter tidak banyak berbicara, tidak seperti tadi pagi, Hanna malah merasa sedang di wawancara olehnya.
Kali ini, sang dokter hanya menyebutkan beberapa poin penting tentang kondisinya. Raut wajahnya pun berbeda, ia seperti sedang tegang. Berbeda dengan sang perawat yang melakukan tugasnya dengan penuh senyuman.
Saat Hanna menoleh pada Siwan, ternyata kekasihnya itu sedang menatap sang dokter dengan tatapan mengintimidasi dari samping.
Barulah Hanna paham mengapa sang dokter berkelakuan seperti itu. Hanna pikir pasti sang dokter maupun kekasihnya itu saling mengenal.
Setelah pemeriksaan dan penggantian perban selesai, dokter dan perawat pamit dan melangkah pergi dari ruangan.
Hanna nampak penasaran, ia pun bertanya pada Siwan.
" Ahjussi, apa kau mengenalnya ?" tanya Hanna.
" Siapa ?" ucap Siwan yang kini sudah duduk di bibir ranjang di samping kekasihnya.
" Dokter itu... !!" jawab Hanna meengangkat alisnya sebelah.
" Entahlah... " jawab Siwan terdengar ambigu.
" Ish... " Hanna mendelik.
Siwan hanya tersenyum lalu mengusap kepala Hanna dan memainkan ujung rambut yang terlihat seperti kuas blush on. Bahkan Siwan sempat berkali - kali mengusap ujung rambut Hanna pada pipinya dan pipi Hanna sendiri, menggodanya lalu tertawa karena berhasil menggoda kekasihnya.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pintu membuat netra mereka tertuju ke arah pintu yang kini berdiri seorang pria berpostur tinggi, bermata biru, berwajah bule berambut pirang dan bergelombang.
" Boleh aku masuk dan mengganggu acara romantis kalian ?" tanya Austin.
Hanna tersenyum lalu memeletkan lidahnya seperti sedang meledek Austin.
" Apa kabar Os ?" ucap Siwan yang kini sudah berdiri dan menghampiri Austin yang berjalan mendekat padanya.
Keduanya berpelukan.
" Baik kak, ini pesananmu !!" Austin menyerahkan 2 kantong makanan dan minuman.
" Terima kasih yaa... !!" ucap Siwan, dan " chagiya, aku mau makan dulu ya...!!" ucap Siwan menengok pada kekasihnya.
" Iya, makanlah yang banyak " jawab Hanna.
Siwan pun berjalan menuju meja makan dan menata kotak makanan dan beberapa botol air mineral dan minuman soda di meja makan
" Bagaimana kondisimu ?" tanya Austin yang kini sudah duduk di kursi samping ranjangnya Hanna.
Hanna pun menceritakan apa saja yang dia rasakan saat ini pada Austin. Dan..
" Kak Oz, apa kau kenal dokter Jo ?" tanya Hanna dengan suara pelan.
" Tentu saja, dia rekan kerja dan temanku !!" jawab Austin dengan nada keras sehingga Siwan pun pasti mendengarnya.
" Lalu, apa mereka juga saling kenal ?" tanya Hanna masih dengan suara pelan.
" Mereka, sebetulnya ia, mereka punya sejarah romantis di masa lalu !!" jawab Austin setengah berbisik dan menutup nya dengan punggung tangannya supaya Siwan dari kejauhan tidak melihat pergerakan bibirnya.
" Apa, maksudmu, mereka itu... " ucapan Hanna menggantung. Dia mengadukan kedua telunjuknya di depan wajah Austin.
Dan, seketika Austin pun tertawa terbahak - bahak. Siwan yang sedang asyik melahap makanan pun terlihat melotot padanya dari kejauhan.
" Ucapanmu sangat ambigu, membuat aku jadi berpikir yang tidak - tidak..." sahut Hanna.
Saat mereka sedang bersitatap dan menahan tawa, tiba - tiba mereka menatap Siwan yang sedang menerima telepon dari seseorang.
Seketika mereka berdua membungkam mulutnya. Telinga mereka terlihat kembang kempis mencoba menguping pembicaraan Siwan.
Siwan nampak terburu - buru menyelesaikan makannya setelah menutup sambungan teleponnya. Setelah minum, ia pun pamit minta izin untuk keluar sebentar karena ada masalah pekerjaan yang harus ia selesaikan. Ia bahkan meminjam kunci mobil Austin.
" Aku akan kembali secepatnya, yaa... !!" ucap Siwan.
" Tidak usah terburu - buru, berhati - hatilah, ahjussi !!" seru Hanna.
Siwan tersenyum dan menganggukan kepalanya, lalu mencium kening Hanna.
" Aku akan menemaninya di sini supaya dia tidak bete... !!" ujar Austin masih terduduk dengan santainya.
" Aku titip ya... " ucap Siwan menatap Austin, lalu melengos pergi meninggalkan ruangan.
Setelah Siwan pergi, Hanna menagih penjelasan dari obrolan mereka tadi tentang dokter Jo. Austin pun dengan sukarela menceritakannya, daripada kehabisan bahan obrolan, pikirnya.
Ternyata beberapa tahun lalu, Siwan pernah di rawat karena babak belur dan hampir kehabisan darah setelah di serang oleh musuhnya, ia di rawat di rumah sakit lain, dan dokter Jo masih menjadi asisten dokter saat itu di rumah sakit tersebut.
Dokter Jo yang belum berpengalaman masih merasa gugup saat hendak menyuntikkan jarum infusan pada pergelangan lengannya. Bagaimana ia tidak merasa gugup, saat itu di belakangnya berjejer anak buah Siwan menatap tajam ke arahnya.
Dokter Jo berkali - kali salah meraba pembuluh vena pada lengan Siwan, hingga Siwan merasa kesakitan.
" Kau, cari mati ya !!" ucap Siwan.
Dokter Jo yang mendengar ancaman Siwan membelalak, keringat dingin bercucuran, tangannya bergetar.
Salah seorang anak buah Siwan melengos keluar, lalu membawa seorang perawat ke dalam ruangan.
Dan, pada akhirnya sang perawat lah yang berhasil memasangkan infusan pada Siwan.
" Aku tidak ingin melihat lagi wajah nya !!" ucap Siwan pada sang perawat.
" Tolong maafkan beliau bos, dokter Jo baru di sini !!" ucap perawat itu.
Siwan pun memberi isyarat agar mereka, maksudnya dokter Jo dan perawat keluar dari ruangan.
" Hahahahahaha.... " Hanna tertawa terpingkal - pingkal.
" Sejak saat itu, si Jo selalu mengingat wajah dan nama Siwan, dia bahkan terkejut saat tahu bahwa aku tinggal bersama nya " ujar Austin.
" Jadi, dia juniormu di sini ?" tanya Hanna.
" Yap... dia bahkan minta tolong padaku untuk menyampaikan kata maaf padanya, dia tahu bahwa Siwan orang yang punya power di lingkungan sini, jadi dia merasa hidupnya terancam saat berhubungan kurang baik dengan Siwan " jawab Austin.
" Begitu ceritanya, pantas saja, saat yang kedua kalinya dia memeriksa ku, raut wajahnya berbanding terbalik dengan saat dia memeriksa ku pagi tadi " ucap Hanna.
" Aku bisa membayangkan bagaimana wajah Jo tadi saat di tatap dingin oleh Siwan, hahaha... seandainya tadi aku sudah ada di sini, aku pasti mengabadikannya dan membagikannta di grup !!" ucap Austin dengan senyuman devil nya.
" Ish... iseng sekali... " ucap Hanna, dan ia baru teringat, kenapa Austin terus menemaninya bukannya bekerja.
" Kak Oz, kau sedang shift malam ?" tanya Hanna.
" Tidak, aku sedang libur hari ini " jawab Austin dengan ringan.
" Ck... pasti si Jo yang ember, sudahlah... " ucap Oz sambil mengayunkan tangannya sebelah.
Hanna tersenyum, bahkan ia mengeluarkan senyuman yang paling manisnya untuk Asutin.
" Astaga... kau malah terlihat menyeramkan !!" ucap Austin lalu tertawa.
Raut wajah Hanna mendadak menjadi berkerut dan cemberut.
" Eh... aku masih penasaran, kau dan ahjussi, pertemuan pertama kalian seperti apa ?" tanya Hanna terlihat penasaran.
Saat Austin baru membuka mulut, tiba - tiba terdengar suara ketukan di pintu. Dan perlahan pintu pun di geser dan terbuka lebar. Beberapa orang masuk ke dalamnya.
Tanpa di sadari, waktu memang sudah sore, sudah masuk jam besuk bagi pasien.
" Hanna, cintaku, bagaimana keadaanmu sekarang ?" tanya Melly yang berjalan setengah berlari menghampiri Hanna.
" Alhamdulillah kak, tidak terlalu parah " jawab Hanna sambil tersenyum.
Saat itu, Melly, Reni, Teguh dan Rama membesuk Hanna. Seperti biasa Hanna meminta maaf karena tidak bisa masuk bekerja seperti biasanya pada Rama, setelah sebelumnya mengabarinya lewat telepon tadi pagi. Rama memaklumi nya, dia meminta Hanna untuk tetap fokus pada pemulihannya.
Austin yang sejak kedatangan rekan kerja Hanna, dia pergi keluar dari ruangan tersebut. Dia memilih menunggu Hanna di bangku luar kamar sambil mencoba mengingat pertemuan pertama nya dengan Siwan.
...****...
Beberapa tahun lalu...
Di sebuah negara Asia, hiruk pikuk lautan manusia di malam hari di sebuah kasino yang berada di lantai 2, di mana beberapa meja di penuhi oleh kerumunan orang yang sedang terlihat fokus memegang kartu, dan saling menatap dengan tatapan tajam dan senyum jahat, membuat suasana menjadi tegang.
Hingga saat seseorang melayangkan sebuah kartunya di meja lalu tersenyum penuh kemenangan, ia berdiri dari kursinya dan berbicara dengan bahasa mandarin.
" Aku pergi dulu, selanjutnya, anak buahku yang akan mengurus nya !!" ucap Siwan muda, dia pun menepuk bahu seorang anak buahnya yang berdiri dengan tegap di belakangnya, lalu pergi meninggalkan mejanya dengan siulan di mulutnya.
Seseorang yang berada di meja tersebut nampak begitu marah, dia menatap punggung gagah Siwan yang semakin menjauh dari pandangannya.
Siwan turun ke bawah melewati kerumunan lautan manusia yang sedang menari mengikuti alunan musik dj, dan sebagian terlihat sudah dalam kondisi mabuk.
Beberapa gadis cantik dan sexy terlihat mengerumuni Siwan yang baru sampai di anak tangga terakhir.
" Bos... mau bersenang - senang denganku..." tanga salah seorang wanita cantik dan sexy itu merangkul pundak Siwan dan menggodanya.
Siwan hanya tersenyum lalu mengangkat tangannya mengisyaratkan agar mereka segera pergi dan memberinya jalan keluar.
Setelah para wanita penggoda itu pergi, Siwan pun melanjutkan perjalanan nya menuju pintu keluar.
Di luar, Siwan langsung di hampiri oleh sebuah mobil mercy berwarna hitam. Ia pun masuk ke dalamnya. Ia duduk di kursi belakang sang pengemudi.
Tiba - tiba, di perjalanan, beberapa meter dari kasino, di sebuah jalanan yang nampak sepi dan hanya di sinari oleh cahaya rembulan di langit dua buah mobil mercy lainnya menghadang Siwan saat baru keluar melewati sebuah terowongan.
" Bos... " ucap seseorang yang duduk di samping kemudi sang supir menatap Siwan dan memberinya isyarat.
Siwan keluar dan anak buahnya, seorang supir dan orang yang duduk di samping kemudi itu juga ikut keluar.
Dan, tiba - tiba saja mereka bertiga di keroyok habis - habisan oleh beberapa orang yang keluar dari dua mobil tersebut.
Sebelum nya, Siwan dan kedua orang anak buahnya sempat membela diri dengan beberapa jurus, hanya saja karena mereka kalah banyak dan lawannya membawa senjata, Siwan dan kedua anak buahnya kalah telak.
Siwan merangkak dan berlari setelah dua anak buahnya menyuruhnya pergi dan berlari secepat mungkin.
Dua anak buahnya mampu menahan serangan untuk memastikan Siwan pergi dari pandangan mereka.
Setelah Siwan berhasil pergi dan bersembunyi, pertarungan pun berakhir, kedua anak buahnya sudah terkapar tak berdaya di jalanan.
Sang lawan pun masuk ke dalam mobil dan mencoba mengejar Siwan ke arah dimana tadi Siwan berlari terbirit - birit.
Karena merasa kelelahan setelah menghabiskan seluruh tenaganya melawan musuh, dan juga karena darah mulai bercucuran di pelipisnya, pandangan Siwan menjadi kabur, dia terlalu lemah untuk melanjutkan perjalanan. Kakinya seakan tak bertulang, berkali - kali ia mencoba bangkit namun tetap gagal, dan akhirnya ia jatuh tersungkur dan matanya mulai tertutup. Ia tak sadarkan diri.
Hingga keesokan harinya ia membuka mata, ia pun baru tersadar kalau dia sudah berada di sebuah ruangan yang nampak asing baginya.
Dia mencoba terduduk dari kasurnya, retina matanya bergerak menelaah setiap inchi sudut ruangan.
Seseorang membuka pintu, dan masuk ke dalam kamar yang Siwan tempati beberapa jam ke belakang.
Pria itu berjalan mendekat pada Siwan, dan berbicara dengan bahasa mandarin yang terdengar kaku.
" K-kau su-dah sadar ?" tanya pria itu.
" Kau siapa ?" tanya Siwan.
" A-aku, Austin panggil saja aku Oz " jawab Austin.
" Apa yang terjadi ?" tanya Siwan dengan bahasa enggres. Dia mengubah bahasanya karena mendengar Austin yang berbicara bahasa mandarin tapi nampak belum fasih. Dan melihat postur Austin dan wajahnya yang nampak seperti bule sejati, Siwan sudah bisa menebak bahwa Austin bukanlah warga asli negara tersebut.
Austin pun menjawab dengan bahasa inggris, bahasa ibunya. Dia menjelaskan bahwa semalam ia dan kekasihnya menemikan Siwan yang sudah tak sadarkan diri dan bersimbah darah di kepalanya dan di beberapa bagian tubuhnya.
Siwan mencoba mengingat kejadian semalam. Dan, setelah ingat dia pun mencoba turun dari ranjangnya dan hendak melangkah, namun dia langsung ambruk kembali karena merasa pusing.
" Istirahat lah dulu beberapa waktu, tenang saja, aku seorang dokter, jadi aku sudah ahli merawat luka seperti itu !!" ucap Austin.
Begitulah pertemuan pertama mereka yang berlangsung beberapa tahun lalu di Makau, Austin yang saat itu masih belajar bahasa mandarin, dan Siwan yang masih nampak agak muda dan menyandang predikat raja judi, mereka bertemu dalam situasi yang cukup menegangkan awalnya.
...****...
Austin terlihat membuang nafas kasar ke udara sambil masih menutup matanya. Lalu, seseorang mendekat padanya, dan duduk di sampingnya.
" Kau sedang apa di sini ?" tanya Siwan yang tiba - tiba sudah ada di sampingnya membuat Austin terkejut.
" Di dalam ada rekan kerja nya menjenguk, kai darimana ?" tanya Austin.
" Di kantor, ada Gubernur kita ingin bertemu dan mengajak berbisnis !!" jawab Siwan.
" Bisnis apa ?" tanya Austin terlihat penasaran.
Dan, Siwan pun membisikkan sesuatu di telinga Austin, entah apa itu, yang pasti membuat Austin membelalakkan matanya merasa terkejut mendengar penuturan Siwan.
Tidak lama kemudian, rekan kerja Hanna sudah keluar dari ruangan, mereka yang melihat Austin dan Siwan duduk di kursi luar pun berpamitan pada merka berdua.
Austin dan Siwan pun masuk ke dalam kamar setelah rekan kerja Hanna pulang.
" Kalian dari mana ?" tanya Hanna.
" Aku menunggu di luar !!" jawab Austin.
" Maaf, aku baru kembali, tadi ada klien ingin bertemu !!" jawab Siwan.
" Owh... baiklah, kalau begitu, aku mau tidur dulu ya..., mataku sudah sangat rapat, tadi habis minum obat sebelum temanku datang kesini !!" ucap Hanna.
Dan, Siwanpun membantu memperbaiki posisi ranjangnya dan menyelimuti nya. Setelah mencium kening kekasihnya, Siwan pun berjalan menghampiri Austin yang sudah duduk di sofa.