My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Makan malam



Setelah membantu Hanna menata makan malamnya di atas meja lipat berukuran 90x60 dan tinggi sekitar 35 cm, Siwan menggulung lengan bajunya ke atas.


Sebelumnya, Hanna sempat menghangatkan kembali sop buntut yang sudah dingin karena terlalu lama menunggu Siwan bangun dari tidurnya.


" Ahjussi, maaf ya, di tempatku tidak ada meja makan, aku hanya punya meja lipat lesehan ini. " Ucap Hanna.


" Tidak apa - apa, begini juga aku merasa nyaman. " Siwan mengelus punggung lengan kekasihnya itu seraya menenangkan hatinya.


Lalu Hanna mengisi nasi pada piring Siwan dan meletakkannya kembali di hadapan Siwan.


" Ahjussi, apa kau jarang memakai sumpit ? Bukannya orang Korea terbiasa makan dengan sumpit ?"


" Aku sudah menjadi warga campuran sepertinya, selama di Indonesia, bahkan kadang aku makan menggunakan tangan saja. " Siwan tersenyum.


" Itu lebih nikmat sebetulnya, tapi tergantung menu makan, masa sekarang kita mau makan sop pakai tangan." Hihi.. Hanna nyengir.


Sebelum makan, mereka berdoa menurut kepercayaan masing - masing.


" Wah... kuahnya enak, kau pandai memasak ternyata?" Siwan terlebih dahulu mencicipi kuah sop buntutnya, lalu memakan sayur nya, wortel dan kentang potong yang ada di dalam kuah sop.


" Ini karena aku sering bereksperimen, semenjak jauh dari orangtua, aku lebih sering pergi ke dapur dan memasak makananku sendiri. " Ucap Hanna lalu menyendok nasi ke mulutnya.


" Wah, dagingnya juga sangat empuk, dan ini, kentang kering ini, rasanya juga sangat kriuk, seperti ada rasa bau daun jeruk nya. " Siwan berlagak bagaikan juri master chef.


" Ahjussi, kau seperti juri master chef saja, lidahmu sangat tajam ya. Aku menambahkan potongan daun jeruk saat menumis bumbu mustopa nya, itu namanya mustopa. " Hanna menunjuk pada wadah mustopa.


" Kenapa namanya mustopa ? seperti nama seseorang yang ku dengar di sebuah lagu.. lagu apa yaa... aku lupa judulnya."


" Ahjussi, kau penggemar Ayu ting - ting ? geboy mujair, itu judulnya, baru di rilis lagunya sudah booming kemana - mana. "


" Nah itu, iya, Bi Asih sering memutar lagunya saat sedang menyetrika baju. Lalu, apa ada hubungannya dengan kentang bernama mustopa ini ? apa ada kisah di balik nama kentang mustopa ini ?" Siwan merasa penasaran.


" Entahlah, ahjussi, kau fokus makan saja, aku tidak mau pusing - pusing memikirkan nya. Aku juga tahu nama makanan ini dari ibuku. Ini makanan favorit ayahku di rumah, kadang dia memakan ini hanya sebagai camilan selain teman nasi. " Hanna menjelaskan dengan menahan pedas di mulutnya.


" Kau makan sambal ? apa sangat pedas ? hati - hati nanti kau sakit perut."


" Memangnya kau tidak pakai sambal? Sop buntut itu lebih nikmat kalau rasanya pedas. Emh.. sop yang lainnya juga, sebetulnya pada dasarnya, aku memang suka pedas. " Hihi.. Hanna tersenyum.


" Aku, tidak terlalu suka makanan pedas. Aku jadi tidak fokus mencicipi rasa original makanannya kalau mulutku terasa panas, jadi terganggu oleh rasa pedasnya. "


" Emh... kebanyakan orang Bandung, orang Sunda, mereka sangat suka makan sambal. Berbagai macam sambal, aku pernah membuatnya dan mencicipinya. " Hanna menjelaskan dengan penuh semangat.


" Sayangilah usus dan lambungmu. " Ucap Siwan meringis.


" Ah.. aku benar - benar kangen Bandung, aku kangen makan seblak, lotek, rujak, batagor, baso tahu, cuanki... Aaarrrgghhh... aku tidak sabar ingin pulang." Hanna menepuk jidatnya dan menggelengkan kepalanya.


" Memangnya kapan, kau akan pulang ?" tanya Siwan menatap Hanna.


" Emh... rencananya sih, bulan januari nanti, setelah mendapatkan hak cuti, aku akan pulang ke Bandung."


Siwan terdiam sebentar, dan berkata..


" Tapi, apa kau akan kembali lagi kemari ?"


" Tentu saja, aku kan bilang akan cuti, bukan berhenti bekerja. Ahjussi, apa kau takut aku tidak kembali dan meninggalkan mu disini ?"


" Maaf, aku kurang fokus mendengarnya tadi." Siwan menghindari tatapan Hanna.


" Kenapa, malu ya mengakuinya, kau takut aku pulang dan tidak kembali lagi kemari... " Hanna menggoda Siwan.


Setelah selesai makan, Hanna di bantu Siwan membereskan tempat mereka makan malam tadi. Bahkan Siwan membantu Hanna mencuci piring di dapur, walau sudah di larang berkali - kali tapi Siwan tetap melakukannya. Hanna menatap Siwan yang sedang fokus mencuci piring dari arah sampingnya sambil menyender ke belakang meja dapur.


" Ahjussi, apa kau tahu, aku, dari galeri tadi bertemu siapa ?" Hanna terlihat ragu.


" Siapa memangnya?" tanya Siwan melirik Hanna.


" Sammy. "


" Sammy.. " Siwan mencoba mengingat nama Sammy itu siapa.


" Oh... mantan pacarmu di SMA. "


" Iya, dia." Hanna menatap Siwan yang sedang mengelap tangannya karena sudah selesai mencuci piring.


" Sejak kapan, dia di Bali ?" tanya Siwan sambil menyentuh rambutnya.


" Dari awal desember, dia bekerja sebagai seniman di galeri seni."


" Lalu... " Siwan mengangkat alis sebelahnya.


" Aku hanya takut ada seseorang yang mengadu padamu, makanya aku lebih baik jujur sekarang, daripada terjadi salah paham nantinya. " Ucap Hanna.


" Oke.. aku percaya padamu." Siwan mencium kening Hanna.


" Terimakasih, ahjussi. " Lalu mereka berciuman hanya beberapa detik.


" Kalau begitu, aku pulang sekarang ya, sudah malam, besok kau masih harus kerja pagi kan ? " tanya Siwan.


" Iya, kalau begitu, aku ingin mengantarmu sampai ke bawah. "


" Baiklah, kau pasti masih merindukan ku kan ?" Siwan menggoda Hanna.


" Ih.. apa sih... " Hanna mencubit pinggang Siwan.


Lalu mereka berdua turun ke bawah menuju parkiran mobil.


Saat mereka sampai di depan mobil Siwan, karena penasaran, lalu Siwan berbalik dan bertanya. Padahal dia sudah berpamitan pada kekasihnya itu.


" Emh... bukannya galeri sedang tutup karena tanggal merah ?" tanya Siwan.


" I-iya, memang sedang tutup, tapi karena dia bekerja disana dan sudah meminta izin pemiliknya, jadi dia mengajakku berkeliling dan membuat karya seni di sana. " Hanna menjelaskan secara hati - hati.


" Lalu... " Siwan terlihat masih belum puas dengan jawaban Hanna.


" Lalu, siangnya kami berdua jajan bakso di dekat sana, dan jalan - jalan ke pasar tradisional tidak jauh dari sana."


" Baiklah, lain kali, katakan saja padaku, aku tidak akan marah, aku hanya ingin kau juga percaya padaku. Kalau ada apa - apa, cerita saja, aku pasti akan mendengarkannya. "


" Terimakasih ya, ahjussi, kau sangat pengertian."


Siwan tersenyum dan pamit kembali pulang. Dia berjalan menjauh dari Hanna dan masuk ke dalam mobilnya.


Setelah melihat mobil Siwan pergi, lalu Hanna pun masuk menuju lantai dua kamar kostnya. Lalu dia merebahkan tubuhnya di atas kasur, dia mencium ada bau parfum dari tubuh kekasihnya di bantalnya.


Meskipun tadi Siwan sempat menyemprotkan parfum milik Hanna pada kemejanya, tapi nyatanya bau parfum dari tubuhnya yang menempel dengan kuat di kasur dan bantalnya, apalagi tadi dia sempat membuka bajunya. Mungkin karena parfum mahal yang Siwan pakai, asli dari Paris yang sangat terkenal itu. Wanginya sangat tahan lama. Membuat Hanna sangat senang memeluk bantalnya, karena dia merasa bahwa kekasihnya sedang berada di sampingnya. Dia merasa sangat nyaman sehingga dia pun tertidur lelap hanya dalam hitungan detik.