
Tiga hari kemudian...
Siwan sedang terbaring di sebuah ranjang rumah sakit terbaik di negara Singapura hari itu.
Setelah bu Shinta mendapat telepon beberapa hari yang lalu dari Aji, ia langsung bergegas pergi ke Nusa Tenggara Timur untuk melihat kondisi anaknya.
Melihat kondisinya yang begitu rapuh, bu Shinta langsung menyuruh Aji mempersiapkan keberangkatan Siwan dan dirinya di keesokan harinya. Ia akan membawa dan merawat Siwan di negara Singapura hingga kondisi tubuhnya benar - benar pulih kembali.
Dan Aji di perintahkan untuk kembali memegang kendali beberapa bisnis Siwan yang sempat ia tinggalkan karena masalah yang terjadi terakhir kalinya.
Hari itu, hari minggu di awal bulan maret tahun 2018, sekitar pukul 10.00 di negara Singapura.
Siwan mulai membuka matanya.
Bu Shinta yang menjaganya mulai memanggil dokter dan perawat, menelponnya dari ruang kamar royal suite yang di tempati oleh Siwan saat itu. Sebuah ruang kamar rumah sakit yang sangat mewah dengan fasilitas lengkap yang berada di salah satu rumah sakit terbaik di negara Singapura.
Tak lama kemudian dokter dan dua orang perawat masuk untuk melakukan penanganan terhadap Siwan. Diketahui bahwa sudah hampir dua hari Siwan mengalami koma, dan di hari ketiga dimana ia di selamatkan dari hutan itu, ia baru bisa membuka matanya kembali.
Setelah dokter memeriksa dan menjelaskan kondisi Siwan pada ibunya, dokter dan para perawat pun pamit keluar.
Bu Shinta menghampiri Siwan dan duduk di dekatnya sambil menggenggam tangannya.
"Nak, bagaimana sekarang, apa yang kau rasakan saat ini ?" tanya bu Shinta.
"A-aku, hanya merasakan kesedihan, maafkan aku bu, maaf aku membuatmu sedih untuk waktu yang sangat lama, " Siwan menitikkan air mata dari sudut matanya.
Bu Shinta tidak menyahutnya kembali, ia pun larut dalam rasa harunya, ia menangis tersedu - sedu di hadapan anaknya saat itu.
Beberapa menit kemudian, seseorang masuk ke dalam ruang kamar inap tersebut.
"Abeoji... " artinya ayah dalam bahasa Korea.
Bu Shinta menghapus air matanya, dan berdiri dari kursinya.
"Aku memanggil ayahmu, dia berhak tahu bahwa anaknya masih hidup !" ucap bu Shinta.
Dan selanjutnya, percakapan mereka beralih bahasa menjadi bahasa Korea.
"Siwan, bagaimana keadaanmu nak ?" tanya Mr. Im yang menghampiri Siwan dengan langkahnya yang sangat perlahan meskipun sudah di bantu dengan tongkat alat bantu berjalannya.
"Seperti yang kau lihat, aku seperti ini, sungguh sangat memprihatinkan bukan ?" Siwan terlihat sangat ketus menjawab pertanyaan ayahnya.
"Dia baru siuman beberapa menit yang lalu, tolong maklumi lah !" bu Shinta menyela percakapan keduanya.
"Aku senang ternyata kau masih hidup, syukurlah, aku masih bisa melihatmu dengan kedua mata kepalaku sendiri, Siwan, hanya keajaiban dan kuasa Tuhan yang mampu mengubah semua rencananya tanpa ada satupun umat-Nya yang mengetahuinya, "
Siwan seolah tak mendengarkan ucapan ayahnya, pandangannya beralih lurus ke atas langit - langit kamar inapnya.
Kembali bu Shinta yang berusaha mencairkan suasana di sekitarnya.
"Kau pergi dari Seoul sendirian ?" tanya bu Shinta pada Mr. Im.
"Asistenku menunggu di luar, tidak ada yang tahu tujuanku kemari untuk bertemu dengan anak bungsuku, mereka mengira aku datang kemari hanya untuk berobat, sampai kapan kau akan menyembunyikan kabar gembira ini dari keluargamu ?" tanya Mr. Im.
Siwan menghembuskan nafas kasar.
"Hemh... kabar gembira, justru sebaliknya, kematianku lah kabar gembira itu sendiri, mengetahui aku masih hidup mungkin malah akan menjadi kabar duka bagi mereka,!" Tegas Siwan, ia berbicara sambil menutup matanya, seolah ingin menyudahi percakapan dengan ayahnya.
Bu Shinta menyela, sebelum Mr. Im melontarkan kata - kata dari mulutnya kembali, bu Shinta lebih dahulu menyela karena ia tahu apa yang akan di ucapkan pria tua itu.
"Oppa, kau pasti lelah, sebaiknya kau beristirahat dulu sejenak, Siwan pun masih dalam pengaruh obat, dia harus banyak istirahat dulu, ayo ku antarkan kau ke ruanganmu !" ucap bu Shinta, dan menggiring Mr. Im keluar dari kamar inap Siwan sebelum terjadi percekcokan kembali diantara ayah dan anak hari itu.
Siwan memang tidak pernah bisa akrab dengan ayahnya, sejak perceraian kedua orangtuanya terjadi, Siwan seringkali menutup diri dari keluarga.
Saat bersekolah, sepulang sekolah ia selalu mempersibuk diri di luar rumah. Bolak - balik pergi dari Korea ke Indonesia, nongkrong dengan teman - temannya, berlatih judo, karate, bermain band, karaokean, balapan liar, semua kegiatan remaja dan anak muda dimasanya, ia lakukan demi melupakan masalah yang ada di rumahnya.
Bahkan setelah ia lulus kuliah pun dari Amerika dia tidak pulang ke Korea, Siwan malah mengembangkan bakat bermain kartunya dari Taiwan, berpindah ke Hongkong dan Macau.
Ia selalu menolak perintah dari ayahnya di Seoul untuk mengambil alih bisnis dan perusahaan yang di kelola oleh keluarga saat itu.
Siwan lebih bahagia hidup mandiri tanpa bantuan keluarganya yang berada di Seoul. Bahkan bisnisnya yang sudah berjalan selama ini merupakan hasil jerih payahnya sendiri, tanpa ada bantuan dari ayahnya.
Siwan lebih bahagia tinggal bersama ibunya, ia hanya menganggap keluarganya hanyalah ibunya seorang, tidak ada yang lain.
...****...
Satu minggu kemudian...
Aji datang berkunjung ke Singapura untuk melihat kondisi Siwan dan melaporkan pekerjaan pada bu Shinta.
Saat Siwan sedang makan siang, tiba - tiba pintu kamarnya terbuka perlahan.
"Kak... " Aji menghampiri Siwan.
Siwan yang sedang menyuap satu sendok terakhir nasi ke mulutnya pun menyudahi acara makan siangnya dengan tiga tegukan air putih menghidrasi kerongkongannya.
Kini keduanya sedang mengobrol di sofa ruang tamu kamar royal suite rumah sakit xxx yang berada di Singapura itu.
"Bagaimana keadaanmu sekarang kak ?" tanya Aji.
"Aku, hemh... seperti yang kau lihat sekarang, tubuhku sangat lemah, untuk mencerna makananpun aku merasa kesulitan, " jawab Siwan sambil tersenyum.
"Kau tidak perlu mengasihaniku seperti itu," sambung Siwan, melirik ke arah Aji yang ternyata memang sedang berkaca - kaca.
Aji memalingkan wajahnya sambil tersenyum dan mencoba menghapus air mata yang sudah terlanjur menetes ke pipinya.
"Aku terharu, masih bisa melihatmu dalam kondisi utuh seperti ini, " bela Aji.
"Hahahaha... " Siwan tertawa lepas, baru kali ini ia menerbitkan senyuman dan tawa di wajahnya setelah beberapa minggu meringkuk di rumah sakit.
"Dimana bibi ?" tanya Aji.
"Dia mungkin sedang shopping, setelah beberapa waktu menemaniku, dia pasti merasa bosan, aku menyuruhnya pergi untuk bersantai !" jawab Siwan.
Selama beberapa saat mereka terdiam dan larut dalam pikiran masing - masing.
Banyak sekali yang ingin Siwan tanyakan, namun ia merasa belum siap menerima kenyataan yang mungkin akan pahit ia rasa.
Dan juga, banyak sekali yang ingin Aji ceritakan, namun ia masih mengira bahwa waktunya mungkin belum tepat.
"Ji, apa dia baik - baik saja ?" tanya Siwan secara tiba - tiba.
Membuat Aji terperanjat kemudian tersadar dari lamunannya.
"Dia baik - baik saja kak, jangan khawatir !" Aji sudah tahu siapa maksud dari pertanyaan Siwan.
"Dia pasti sudah menganggapku tiada, benar kan ?"
Aji tidak bisa menjawab pertanyaan Siwan kali ini.
"Apa aku masih berhak menemuinya ?" sambung Siwan.
"Kalau kau mau, aku akan membawanya kemari saat ini juga !" jawab Aji.
Siwan kembali tersenyum.
"Tidak, aku tidak bisa menemuinya dalam keadaan seperti ini, aku tidak mau dia mengasihaniku seperti yang kau lakukan tadi !" Siwan menyunggingkan senyum tipis, wajahnya menunjukkan ekspresi menyedihkan bagi siapa saja yang melihatnya.
"Seandainya dia tahu, bahwa selain Hanna ada sosok yang lain yang kini sedang menantikan kehadirannya, dia sendiri yang pastinya ingin segera pergi menemuinya saat ini juga, apa aku beritahu sekarang saja tentang Hwan ?" gumam Aji.
Saat Aji hendak mengatakan sesuatu, tiba - tiba seseorang masuk ke dalam ruangan.
Seorang perawat masuk dan memberitahu Siwan bahwa sudah waktunya ia meminum obatnya dan beristirahat kembali.
"Aku akan menunggu sampai bibi kembali kemari, kau beristirahatlah kak !" ucap Aji.
"Ya, terserah kau saja, kalau kau mau tidur, tidur saja di ranjang sana !" Siwan menunjuk pada sebuah ruangan kecil di salah satu sudut kamar inapnya.
Siwan memejamkan matanya.
Aji pun beranjak dari kursinya dan melangkah menuju sudut ruangan yang di tunjukan oleh Siwan tadi. Namun, baru saja tiga langkah, ia kembali terhenti dan berbalik arah saat mendengar pertanyaan dari Siwan.
"Apa kau sudah menemukannya ?" tanya Siwan.
Deg... Jantung Aji berdebar kencang, ia paham apa yang di maksudkan oleh atasan sekaligus orang yang sudah ia anggap sebagai kakaknya itu.
"Maafkan aku, dia masih belum bisa kutemukan !" jawab Aji.
"Secepatnya, aku ingin secepatnya !" ucap Siwan lalu kembali menutup matanya.
"Serahkan saja padaku !"
...***...
Di negara lainnya...
"Mbak Hanna, ini makan siangnya kenapa masih utuh !" ucap seorang wanita yang usianya lebih tua dari Hanna, kira - kira sepantaran dengan ibunya.
"Eh, iya mbak Yu, aku masih belum kelar ini, bentaran lagi aku makan kok !" jawab Hanna yang kedua matanya masih terfokuskan pada layar laptop di depannya.
"Udah dingin mbak, mau aku angetin lagi gak ?" tanya mbak Yu.
"Gak usah mbak, nanti biar aku aja yang kerjain, mbak kerjain aja kerjaan mbak yang lainnya ya, makasih loh udah ingetin !" ucap Hanna.
Mbak Yu itu pun keluar dari ruangan Hanna sambil menggelengkan kepalanya.
Di luar ruangan Hanna, seorang wanita muda menghadang mbak Yu.
"Gimana mbak, udah makan siang belum kak Hanna ?" tanya wanita muda itu.
"Belum de Rin, mbak Hanna masih fokus sama kerjaannya !" jawab mbak Yu.
"Ya ampun, udah jam setengah dua ini, bahaya kalo sampai tante Hani tahu, mana obatnya kayaknya belum di sentuh sama sekali, bisa - bisa tante Hani ngomelin aku ini mah !"
Wanita muda itu bernama Rindy, dia merupakan sepupu dari anak kakanya ibu Hani, ibunya Hanna. Rindy sudah bekerja dengan Hanna selama beberapa bulan, semenjak Hanna merintis karir dan bisnisnya.
"Assalamualaikum...."
Suara seorang pria dari pintu masuk ruang kantor mereka menjadi oksigen tambahan bagi keduanya yang tengah begitu sesak karena kecemasan.
"Waalaikum salam, nah, pas banget kak Rey datang... !" ucap Rindy, lalu berjalan menghampiri Rey yang masih berjalan perlahan ke arahnya.
"Ada apa ?" tanya Rayhan.
"Kak, itu kak Hanna belum makan siang, belum minum obat lagi, aku sama mbak Yu udah ingetin padahal, ini tante Hani juga ngewhatsupp aku terus nih, kayaknya kak Hanna sengaja matiin hpnya biar gak di gangguin tante " Rindy mengadu dan merajuk pada Rayhan.
"Oke, nanti aku coba bujuk dia," jawab Rayhan.
"Iya, cepat sana masuk ka Rey, buat dia makan dan meminum obatnya !" Rindy mendorong tubuh Rayhan hingga ke depan pintu ruang kerja Hanna.
Rayhan membuka pintunya...
"Assalamualaikum, Han... "
"Waalaikum salam, ' Hanna mendongak melihat ke depan menatap Rayhan sebentar, ' mashklah kak !" sambungnya.
"Han, sudah jam segini, kamu belum minum obatnya ?" tanya Rayhan.
"Hehehe.... "
Hanna hanya memperlihatkan barisan gigi putih rapihnya.
"Han, kamu gak kapok nginep di rumah sakit seminggu ?" Rayhan mencoba menyindir Hanna.
Selama hampir satu minggu kemarin Hanna di rawat di rumah sakit karena kelelahan bekerja sehingga menyebabkan trombositnya turun dan terkena demam berdarah.
"Oke, oke, aku makan sekarang !"
Hanna menutup laptopnya dan menggeliatkan badannya sebelum akhirnya berdiri dari kursinya dan menghampiri Rayhan yang sudah duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya.
Hanna mulai menyentuh kotak makanan yang ada di depan matanya, dan tersimpan di atas meja.
"Kak Rey udah makan ?" tanya Hanna.
"Udah, tadinya aku mau kesini sebelum jam makan siang, pengen makan siang bareng, tapi tadi ada temen kuliah mampir ke rumah, jadinya aku makan siang sama dia,"
"Gimana kedai dimsumnya, makin rame aja kulihat, admin instagremnya juga aktif banget tiap hari update terus di storygremnya, "
"Coba tebak, adminnya siapa sekarang ?"
"Siapa sih ? bukannya karyawanmu yang masih magang itu kan ?" Hanna terlihat penasaran.
"Bukan, tapi si Kezia !"
"Wah, sejak kapan ? dia kerja sekarang ?"
"Yupz... sambil bantu jadi bagian kasir, dia jd admin kedaiku saat ini !" jawab Rayhan, ia membuka penutup botol air mineral untuk Hanna dan satu lagi untuknya, lalu meminumnya karena merasa haus dan kepanasan.
"Si Kezia pasti jadi nyicil perumahan yang baru itu ya, yang dekat jalan tol yang hampir rampung itu ?"
"Yupz... makanya dia cari tambahan buat bayar cicilan perumahan !"
"A Rey, kenapa gak ambil juga perumahan disana ? strategis lho lokasinya, kulihat prospek ke depannya cukup nyaman juga tinggal di lingkungan sana !"
"Kamu mau tinggal disana ? kalau kamu mau, aku bakal beli satu unit buat kita, gimana ?"
Tiba - tiba Hanna yang sedang mengunyah makanan pun tersedak mendengar ucapan Rayhan.
"Ish... kau ini, hati - hati dong, nih minum dulu !" Rayhan menyerahkan satu botol air mineral pada Hanna.
Saat meneguk air lewat mulutnya, kedua mata Hanna membulat melihat Rayhan yang tersenyum manis di sampingnya.
"Ya Alloh, aku harus bagaimana menjawabnya kalau dia bertanya seperti itu lagi !" gumam Hanna yang masih meneguk air ke dalam kerongkongannya.
Rayhan menepuk - nepuk punggung Hanna perlahan, membantunya menormalkan kembali laju pernafasannya.
"Cepet habisin makannya, aku gak akan pergi sebelum kamu habisikan makan siangmu dan minum obat, aku bakal plototin kamu sampe kamu gak bisa berkutik lagi !"
"Dih... apaan sih ah, jangan lebay kali... !"
Hanna mulai menyendok kembali nasi ke mulutnya, siang itu, ia di temani oleh Rayhan yang dengan asiknya berbagi berbagai cerita, dan bercanda ria, untuk mencairkan suasana disaat mereka bersama.