
Hari berganti hari, Hanna, semakin hampa tanpa adanya Siwan di dekatnya. Bulan berganti bulan, tanpa terasa sudah hampir menginjak bulan ketiga Siwan pergi meninggalkan nya.
" Udah dong Han, think positive oke, gak mungkin lah menurutku dia mengkhianatimu disana. Ya, meskipun kemungkinannya besar, tapi dia sepertinya bukan tipe seperti itu, percaya deh sama aku.. " Ucap Siska yang mencoba menenangkan Hanna yang sedang menangis tersedu - sedu di hadapannya.
Hanna tak mampu mengeluarkan satu patah kata pun dari bibirnya. Wajahnya terlihat basah bergelimangan ait mata.
" Udah dong, sebentar lagi kan mau bulan puasa, kamu harus jaga stamina, ya, jangan sampai kamu sakit dong. Aku sedih nih.. !!" Siska terus mengusap punggung dan kepala Hanna.
Tidak lama terdengar suara ketukan pintu dari luar. Siska bergegas membuka pintunya. Dia terlihat seperti mengobrol dengan seseorang di ambang pintu. Dan ternyata dia adalah Austin. Siska menelponnya karena khawatir dengan kondisi Hanna yang terlihat lemas karena jarang makan dan susah tidur, pulang kerja pun yang dia lakukan hanya melamun dan menangis.
Austin membawa alat kerjanya dan sebuah tas berisi obat - obatan dan alat lainnya. Sebelum memeriksa Hanna, Austin mencoba menenangkannya terlebih dahulu.
Lalu, setelah agak tenang, Hanna bersedia untuk di periksa oleh Austin. Mereka bertiga berkumpul di dalam kamar, Hanna berbaring perlahan di bantu oleh Siska.
Austin mengecek kondisinya, lalu menyuntikkan sesuatu padanya. Terlihat Hanna begitu tenang, dan tidak lama kemudian dia langsung tertidur.
" Kau menyuntikkan obat penenang padanya?" tanya Siska.
" Iya, dia butuh istirahat, tenang saja, dosis nya aman kok. " Ucap Austin.
" Emh... oke, kita mengobrol di luar saja. " Ucap Siska lalu menyelimuti Hanna dan keluar dari kamarnya.
" Aku sudah menyiapkan vitamin, ini hanya sebagai pendukung untuk staminanya saja, dia harus tetap makan dan tidur teratur." Ucap Austin.
" Lalu, tidak ada resep obat lainnya ?" tanya Siska.
Austin menghela nafas dan membuangnya perlahan. " Tidak ada obat untuk patah hati. Hanya waktu yang bisa menyembuhkan lukanya. " Ucapnya.
Siska hanya tersenyum.
" Aku akan menunggu disini sampai dia bangun. " Ucap Austin.
" Eh.. ini sudah hampir malam, tidak apa kau pulang saja, aku akan disini menemaninya. " Ucap Siska.
" Kau mengusirku ?" tanya Austin yang sedang berbaring di atas bean bag chair milik Hanna.
" Tidak, bukan begitu, aku hanya takut kau lelah, kau baru pulang kerja kan." Ucap Siska gelagapan takut Austin salah paham.
" Aku sudah menelpon Aji untuk kemari, sebentar lagi dia akan membawa makanan untuk kita. Kau tunggu saja, aku mau istirahat dulu disini. Aku bahkan sudah terbiasa tidur sambil terduduk di rumah sakit. " Ucap Austin lalu memejamkan matanya.
" Terserah kau saja. " Jawab Siska.
Saat Siska berlalu menuju dapur, sesaat Austin terlihat membuka matanya sebelah seraya mengintip Siska dari kejauhan. Lalu dia tersenyum dan menutup matanya kembali.
Dua jam kemudian, kini Siska, Austin dan Aji sudah berkumpul di ruang tv milik Hanna. Mereka asyik makan malam dengan ayam kaepsi dan beberapa float di sampingnya.
" Aku boleh nanya gak, tapi jawab jujur ya, plist.. aku gak bakal bilang sama Hanna kok " Ucap Siska.
Aji menyahut " Apa ?"
" Sebetulnya kak Wan disana beneran cuma ngurus bisnis gak sih, atau jangan - jangan dia disana diam - diam nikah."
Aji dan Austin saling berpandangan, lalu sepersekian detik mereka tertawa.
" Apa sih ? kenapa malah ketawa ih, jangan berisik tahu nanti Hanna bangun. " Ucap Siska.
" Oh.. aku tahu, pasti si Hanna juga berpikir seperti itu kan, makanya dia jadi galau ampe lupa makan lupa tidur.. " Sahut Austin.
" Ya wajar lah, cewe kan hampir semua kaya gitu, kalau jauh dari cowonya kan istilahnya LDR an, pasti sistem kepercayaan mereka lagi di uji kan. Aku juga pasti mikir gitu kalau di posisi Hanna. Tapi itu sih kembali lagi sama cowonya, bisa gak tetep ngeyakinin kita sebagai cewe buat tetep saling percaya dan menjaga dari kejauhan. "
" Perempuan memang kreatif, isi otaknya pasti beraneka ragam, nyangka ini lah nyangka itu lah, padahal belum tentu apa yang di pikirkannya itu benar adanya. " Ucap Aji.
" Ih... ya bisa aja kan, cowo kan banyak yang titisan buaya darat, gak bisa di kasih umpan dikit, pasti langsung nyaut. " Ucap Siska.
" Apa sih, aku gak ngerti maksudnya. " Timpal Austin.
" Udah kamu diem aja, sama kamu juga titisan buaya darat. Emangnya aku gak tahu kelakuanmu.." Ucap Siska agak emosi.
" Kenapa jadi aku yang kena, aku disini cuma mau jadi komentator diantara kalian. " Sahut Austin.
" Nih ya, aku udah kenal kak Wan dari dulu, kalau ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku, aku pasti tahu sikapnya bagaimana. Aku pasti bisa menebaknya. " Ucap Aji.
" Kak Wan itu orangnya setia, kalau suka pada seseorang, dia tidak akan mudah berpaling." Jawab Aji.
" Nah, itu yang mau aku katakan, sama seperti dia. " Austin menunjuk Aji.
" Halah... gak usah di tutup - tutupi lah, kalian pasti di ancam kan sama kak Wan ?" Ucap Siska.
" Sumpah, aku gak lagi nutupin apapun darimu atau dari Hanna. Aku bicara sesuai fakta. " Jawab Aji.
" Oke, aku akan percaya. Awas ya kalau kalian berbohong. Aku gak akan tinggal diam liat adikku tersakiti seperti ini. " Ucap Siska.
" Terserah kau saja. " Jawab Aji.
Tanpa mereka ketahui, Hanna mendengar percakapan mereka sedari tadi di ambang pintu. Ada segurat senyum tersungging di bibirnya. Dia merasa lega, mudah - mudahan semuanya sesuai seperti yang mereka bicarakan.
Tidak lama kemudian, Hanna keluar dari kamarnya, dia duduk di hadapan mereka.
" Aku lapar !!" ucap Hanna.
" Nah, gitu dong. Makan dulu ya, nih masih banyak ayamnya. " Austin menyiapkan piring untuk Hanna.
" Terima kasih ya kak Os, makasih juga ya buat kalian selalu ada buat aku, terutama kak Siska. " Ucap Hanna.
" Semangat dong, bentar lagi kan mau puasa, kamu harus tetap sehat ya !!" Seru Siska.
Hanna tersenyum mendengar ucapan Siska.
" Oh iya, bulan depan ya, satu bulan penuh berpuasa. Aku akan beri tambahan vitamin untukmu, supaya tetap prima saat berpuasa nanti. " Ucap Austin.
" Wah, makasih banyak ya kak. " Hanna merasa senang.
" Untukku ?" tanya Siska.
" Memangnya kau berpuasa ?" tanya Austin.
" Hehe... memangnya, kalau gak puasa, gak boleh makan vitamin, gitu ?" Siska memasang muka jutek.
" Perbanyak makan buah dan sayur, makanan dengan gizi yang seimbang, lihat badanmu, kurus begini pasti makannya selalu sembarangan." Jawab Austin.
" Iya kak, seringnya makan mie tuh. " Timpal Hanna ikut memojokkan Siska.
" Ish.. jangan buka rahasia dong Han. " Siska merasa kesal.
" Hanna pasti khawatir padamu, memangnya kau tidak pernah memasak ? jangan bilang sibuk, Hanna juga pasti sama sibuk bekerja, tapi dia masih sempat memasak sayur dan makanan bergizi lainnya." Ucap Austin.
" Tahu darimana ?" tanya Hanna.
" Ya dari pacarmu lah, dia bilang masakanmu enak. " Austin mengacungkan kedua jempolnya.
" Ahjussi sering menceritakan tentangku padamu ?" tanya Hanna.
" Tidak juga, yang kuingat dia hanya menceritakan tentang masakanmu saja. " Jawab Austin.
" Itu saja ?" tanya Hanna kembali.
" Iya, itu saaa... " Austin tidak meneruskan perkataannya karena di senggol oleh Aji. Austin lalu menatap Siska dan Aji bergantian. Siska memasang wajah menyeramkan dengan mengkerutkan kedua alisnya. Lalu Aji memberi isyarat pada Austin lewat kedipan mata. Maksudnya agar Austin berhenti membicarakan Siwan di depan Hanna.
Suasana pun berubah menjadi hening. Mereka mengira Hanna menjadi sedih kembali karena mengingat Siwan. Tapi nyatanya tidak.
" Kenapa kalian diam, apa kalian lelah ?" tanya Hanna.
" Ah.. tidak kok, aku hanya merasa kenyang. " Jawab Siska.
" Iya nih, aku juga kenyang banget. " Jawab Austin.
" Kalau kalian mau pulang, tidak apa - apa, nanti aku saja yang membereskan semuanya. " Ucap Hanna.
" Ah tidak, emh.. sebentar lagi saja, tunggu sampai makannya turun sampai ke bawah. " Jawan Austin.
Lalu mereka kembali bercanda tawa di malam hari sambil menikmati chiken kaepsi yang tanpa di sadari buketnya kini sudah kosong, yang tersisa hanya tinggal tulang belulangnya.