My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 Asal muasal dendam Austin



Sore hari itu...


Setelah berhasil menemukan orang yang paling ia cari selama beberapa bulan ke belakang, Aji dan timnya pun kembali melanjutkan perjalanan pulang ke mansion yang mereka tempati sebelumnya.


Jangan tanya mansion itu milik siapa, karrna meskipun bukan milik Siwan, namun ia di perlakukan seperti sang pemilik oleh para penghuni dan pengurus mansion di negara itu.


Faktanya, mansion tersebut merupakan milik rekan bisnis Siwan yang selalu mengagnggapnya bos besar. Karena jasa Siwan di masa lalunya, temannya itu kini menjadi orang sukses dan bergelimangan harta serta saat ini dia hidup dengan tenteram, menikmati hasil usahanya itu bersama keluarganya tercinta. Dan ia bukanlah golongan orang yang termasuk kacang lupa akan kulitnya. Dia masih selalu menghargai Siwan hingga detik ini.


Bahkan ketika Siwan mendatangi kediaman pribadinya untuk meminta izin menginap di mansionnya selama beberapa hari, ia sangat terkejut ketika Siwan menceritakan tentang hal yang menimpanya selama satu tahun ke belakang kemarin.


Bahkan dia berkata, seandainya saja ada yang memberitahunya, maka dia dan timnya akan mengusut tuntas tentang kecelakaan rekayasa itu.


Sesampainya di mansion itu, Austin yang wajahnya penuh luka, lebam dan darah yang sudah mengering di seret oleh Aji ke dalam sebuah ruangan sempit dan gelap di ruang bawah tanah.


Siwan di kamarnya pun kini sedang mengobati lukanya sendiri. Dengan hanya mengenakan celana cargo sedangkan tubuh bagian atasnya tidak mengenakan baju sehelaipun sehingha nampak dengan jelas dari bagian belakanh tubuhnya, tatto miliknya yang bergambar kepala harimau Gunung Baekdu itu tercetak di atas punggungnya.


Di depan cermin wastafel di kamar mandi, ia menatap wajahnya begitu dalam. Api yang membara di pelupuk matanya perlahan menghilang.


Tok tok tok...


Terdengar suara pintu kamar mandinya di ketuk.


Siwan pun mengelap wajahnya yang basah dengan handuk kecil perlahan, lalu keluar dari kamar mandi.


"Apa dia sudah mengatakannya ?" Siwan bertanya sambil berjalan melewati Aji yang masih mematung di depan pintu kamar mandi.


Siwan duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya.


"Belum kak, dia masih terus menutup mulutnya !" jawab Aji.


Siwan menghela nafas dan membuangnya perlahan.


"Kau istirahat lah, obati juga lukamu !" perintah Siwan.


Aji yang melihat Siwan sangat kelelahan pun menganggukkan kepalanya, lalu kakinya mulai terangkat mencoba melangkah untuk meninggalkan kamar Siwan saat itu.


"Tunggu... !" ucap Siwan.


"Patricia, apa kau masih menyimpan nomor teleponnya ?" tanya Siwan.


Aji tanpa banyak bertanya langsung mengeluarkan hp dari saku jaketnya dan mulai menyentuh hpnya.


"Sudah ku kirimkan !" jawab Aji, singkat, lalu keluar dari kamar Siwan.


Siwan kembali menarik nafasnya yang kali ini terasa sangat berat, sambil melihat rentetan angka yang tertera di layar hpnya, ia menyentuh tombol call dan mencoba menghubungi nomor tersebut.


Tuut.. tuut... bunyi yang terdengar di telinga Siwan sebelum akhirnya suara lembut wanita di seberang sana menggantikannya.


"Hello, who is this ?"


Perempuan itu berbicara dengan bahasa Inggrisnya. Dan selanjutnya percakapan antara Siwan dan wanita itu pun dengan bahasa Inggris.


"Ini aku, Siwan !" ucap Siwan.


"Siwan, siapa, Siwan yang mana ?" tanya wanita di seberang sana itu, terdengar ragu.


"Ayolah Petty, ini aku, Siwan, Im Siwan !" tegas Siwan.


Wanita itu malah menutup sambungan telepon mereka.


Siwan mengernyitkan wajahnya.


Namun, selang beberapa detik, sambungan video call masuk di layar hpnya.


Siwan pun menerima panggilan video call itu.


Dan, terlihat sangat jelas, bahwa wanita di layar telepon itu adalah Patricia Olivia Rodrigues, mantan pacar Austin.


"OMG, bagaimana bisa, benarkah ini dirimu ? bukannya kau sudah... " ucapan Pat terpotong karena di sela oleh Siwan.


"MATI," sela Siwan dengan penuh penekanan.


"Maaf, aku hanya benar - benar merasa bingung, aku hanya terkejut, jadi ini benar dirimu ?" tanya Pat kembali.


"Seperti yang kau lihat, aku yang satu tahun ke belakang sudah mati, kini hidup kembali !" jawab Siwan.


"Benarkah, apa yang terjadi, aku jadi penasaran sekali, terakhir aku ke Bali dan bertemu dengan Aji dia menceritakan kalau kau kecelakaan helikopter, apa itu benar ?" tanya Patricia, mencoba memastikan sesuatu.


"Iya, itu juga benar, tapi faktanya, aku masih hidup !" jawab Siwan.


"Hah... syukurlah, aku senang kalau memang benar begitu, hidupmu memang selalu penuh kejutan !" ucap Pat.


Siwan tersenyum, begitu juga dengan Patricia.


"Pat, aku ingin mengatakan sesuatu padamu, mungkin ini terlambat, tapi aku harus mengatakannya," ucap Siwan.


"Apa ?" tanya Pat.


"Aku ingin meminta maaf padamu, dari hatiku yang paling dalam, sungguh, aku minta maaf !" ucap Siwan.


"Ada apa ini ? kau kenapa sebenarnya ?" Patricia terlihat kebingungan sendiri.


"Untuk apa yang menimpa dirimu, aku sungguh minta maaf ! aku tidak tahu harus menebusnya dengan cara apa, sungguh, aku baru mengetahui hal ini sekarang, kejadian 7 tahun yang lalu,!"


Patricia nampaknya baru mengerti apa yang di katakan oleh Siwan.


"Dimana dia ?" tanya Patricia. Maksudnya adalah Austin.


"Dia bersamaku, hanya saja... !" ucapan Siwan terhenti.


"Apa yang telah ia lakukan padamu ?" tanya Patricia.


Siwan tidak menjawabnya.


"Kak, apa kecelakaanmu itu, dia yang melakukannya ?" tanya Patricia.


Lagi - lagi Siwan hanya diam seribu bahasa.


"Baiklah, aku akan segera menyusul kalian, tunggu aku !"


Klik... Panggilan video call itu berakhir seiring dengan Siwan yang baru saja membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu pada Patricia.


Siwan menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia lalu mundur ke belakang, menyandarkan tubuhnya di sofa. Ia menutup matanya lalu mengepalkan tangan kanannya. Berkali - kali ia menekan kepalan tangannya pada keningnya itu.


Ia kembali mengingat pembicaraannya dengan Austin beberapa jam yang lalu.


FLASHBACK


Di gua itu, kini tinggal hanya Aji yang mengawasi perkelahian antara Siwan dan Austin.


Sedangkan tim Alpha berada di luar mengurus hal lainnya, anak buah Austin sudah di seret keluar dan di kembalikan ke markas mereka oleh tim Alpha.


Di luar gua, hanya tinggal dua orang anak buah Siwan yang berjaga.


"Katakan padaku, apa alasanmu melakukan hal ini padaku ?" Siwan menarik kerah baju Austin sekencangnya.


"Hahaha... kau, ingin tahu ? kupikir kau memang tidak akan pernah sadar, karena kau sangatlah egois !"


Dari arah samping, Aji meninju wajah Austin. Ia nampaknya sudah sangat tidak tahan pada Austin karena dia sejak tadi hanya mempermainkan Siwan.


Austin pun terjungkal kembali ke lantai saat Siwan melepaskan cengkeraman tangannya dari baju Austin.


Siwan terlihat agak lelah setelah memberi pelajaran pada Austin selama beberapa menit ini.


"Katakan dengan jelas, brengsek, apa maksudmu ?" tanya Aji kembali sambil menendang perut Austin berkali - kali.


"Karenamu aku kehilangan bayiku, karenamu orang yang aku sayangi harus kehilangan masa depan yang sangat ia impikan, kau tahu, 7 tahun lalu, Pat mengalami nasib tragis harus kehilangan bayinya dan rahimnya sekaligus !"


Flasback Austin


Saat itu, Austin dan Patricia yang sedang berada di dalam mobil menikmati sejuknya udara pagi hari, serta indahnya hamparan sawah hijau di kiri dan kanan mereka yang sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat.


Austin dan Patricia berada di Bali, dan sedang dalam perjalanan menuju sebuah villa di lokasi pinggiran hutan.


Mereka akan menikmati liburan beberapa hari selama masa cuti Austin dari tugasnya. Siwan tentu saja memfasilitasinya, karena mereka berlibut di salah satu villa milik Siwan.


Sesampainya disana, ia dan Patricia tentu saja sangat senang, bahagia menyelimuti keduanya.


Austin berlarian keluar dari mobilnya setelah mematikan mesin mobilnya. Ia ingin membukakan pintu mobil di samping Pat dan memperlakukannya bak putri raja.


"Silahkan nona, hati - hati !" ucap Austin.


Pat tertawa melihat raut wajah dan tingkah Austin yang lucu baginya.


"Turunlah dengan perlahan, hati - hati, ada benih cinta kita di dalamnya !" Austin mengelus perut Patricia dengan lembut saat Pat sudah berhasil keluar dari mobil.


"Kau ini, jangan berlebihan, aku baik - baik saja kan !" sahut Pat.


Keduanya pun masuk ke dalam villa yang berukuran cukup luas itu. Meskipun tidak terlihat mewah, namun, suasana sejuknya udara hutan membuat mereka terasa menyatu dengan alam.


Malam harinya, ketika Pat dan Austin sedang tertidur, salah satu hp mereka menyala dan bergetar.


"Hallo !" Austin dengan terpaksa mengangkat telepon dari seseorang.


"Ada apa kak ?" tanya Austin.


"Baiklah, aku coba ingat - ingat dulu !" Austin menutup panggilan telepon yang ternyata dari Siwan.


Ia pun turun dari ranjangnya dan melangkah keluar kamar.


Lalu Austin mencoba mencari sesuatu dari dalam tasnya yang masih ada di sofa ruang tengah.


"Aha... ketemu !" ucapnya, lalu ia mencoba menelpon Siwan kembali dan memberitahukan bahwa barang yang sedang Siwan cari sudah ketemu.


Siwan menjelaskan lewat telepon bahwa barang itu adalah flashdisk yang sedang dicari oleh musuhnya saat ini, dan Austin sepertinya salah membawanya. Sebelumnya ia sempat menghampiri Siwan di dalam ruang kerjanya untuk meminta beberapa file foto untuk di salin ke dalam flashdisknya.


Namun sayang, setelah selesai, Austin malah salah mengambil Flashdisk di atas meja Siwan, karena benda itu sangat mirip, hanya berbeda warna saja.


"Kau masih di villa xxx kan ?" tanya Siwan lewat teleponnya.


"Iya, aku disini, ada apa ?" tanya Austin.


"Cepat kemasi barangmu, aku akan menyusulmu kesana, kau bersembunyilah di tempat bla bla bla.... !" Siwan menerangkan harus pergi kemana dan berbuat apa Austin saat itu juga.


Austin dan Pat sedang dalam bahaya, musuh Siwan kini sedang mengincarnya.


Saat itu, sebelum Siwan mengenal Hanna, situasi di kubu Siwan memang belum kondusif, pengkhianatan dari tubuh timnya masih merajalela. Bahkan mata - mata itu sempat bekerja di rumah Siwan. Dan nampaknya saat itu mata - mata dari musuh Siwan sudah mengetahui bahwa flashdisk itu berada di tangan Austin karena ia pernah melihat Austin menentengnya saat ia baru keluar dari ruang kerja Siwan.


Setelah menutup teleponnya, Austin buru - buru naik ke lantai dua untuk membangunkan Patricia dan mengemasi barang mereka yang ada di kamar.


Namun terlambat, nampaknya musuhnya sudah sampai ketika ia turun ke bawah.


Tas Patricia dan Austin sudah berantakan, dan yang lebih mengejutkan Austin adalah Patricia sudah tidak ada di dalam kamar.


Austin hanya menemukan secarik kertas bertuliskan.


"BAWA BARANG ITU KE XXXXX ( alamat penculik Patricia),"


"Sial, aku lengah !"


Austin langsung menelpon Siwan dan memberitahunya bahwa Patricia di culik.


Austin pun bergerak sesuai perintah Siwan, kemana ia harus pergi dan harus berbuat apa, Austin terus berkomunikasi dengan Siwan lewat earphone sepanjang perjalanannya menuju suatu tempat.


Karena lokasi Austin yang lebih dekat, dia sampai lebih dahulu sebelum Siwan dan timnya datang.


Saat Austin tiba di depan pagar villa yang di tempati musuh Siwan.


"Wah... wah... wah... sendiri saja ? dimana bosmu ? ternyata kau sangat pemberani anak muda !"


Ucap seorang pria yang terlihat memang lebih tua dan sudah berumur di bandingkan Austin.


Pria itu menyuruh Austin langsung memberikan apa yang ia inginkan.


"Dimana dia ? aku ingin melihatnya dulu !" ucap Austin.


"Kau sangat mengkhawatirkan kekasihmu rupanya ! tenang saja, dia aman, seandainya saja kau datang lebih lama, mungkin dia sedang melayani beberapa anak buahku,!"


"Anj*ng, brengsek, baj*ngan kau !" Austin terlihat emosi, ingin meninju pria tua bangka itu. Namun, dia di hadang oleh anak buah pria tua itu.


"Hahaha... santai, santailah, bercanda, aku ataupun mereka mana berani menyentuh wanita yang sedang hamil, benar begitu bukan ?"


Austin langsung terlihat pucat. "Darimana dia tahu Pat sedang hamil !" gumam Austin.


"Sudahlah, ayo kita selesaikan secepatnya ! Bimo, bawa kemari wanita cantik itu !" perintah pria tua itu.


Selama beberapa menit Austin menunggu kedatangan Pat, kekasihnya. Dan, saat ia melihat wajah cantik dari kekasihnya itu, senyum dan rasa lega tercetak di wajahnya.


"Bagaimana, dia aman bukan ?" tanya sang pria tua.


Patricia masih berada di tangan anak buah si tua bangka itu.


Austin pun mengeluarkan flashdisk dari saku celananya.


"Ini kan yang kau inginkan ?" tanya Austin, lalu melemparkannya ke tanah.


Pria tua itu memberi kode pada anak buahnya agar melepaskan Patricia dan mengambil flashdisk itu.


Setelah Pat meraih tangan Austin, mereka langsung pergi tanpa menoleh kembali ke belakang.


"Kau tidak apa - apa kan ?" tanya Austin, sambil berjalan terburu - buru menuju mobil mereka.


"Aku baik - baik saja, Oz !" jawabnya.


Saat keduanya sudah masuk ke dalam mobil, dan saat Austin menyalakan mesin mobilnya, tiba - tiba terdengar suara tembakan. Dan, tembakan itu mengenai salah satu ban mobil Austin. Bukan, tapi dua ban depannya meletus karena tembakan.


Anak buah pria tua itu menghampiri mereka dan menodongkan senjata.


Ternyata Austin sempat menghapus satu bagian file penting yang ada di flashdisk itu saat dalam perjalanan menjemput Pat. Dia membawa laptop dan menyalakannya di dalam mobil.


Dan nampaknya musuhnya itu mengetahui apa yang di lakukan oleh Austin karena saat Austin melirik ke belakang sesaat, ia melihat di posisisnya, pria tua bangka itu mengecek file flashdisk itu pada laptopnya.


Jendela mobilnya di bobol dengan cara di tembak dari luar, sehingga Pat maupun Austin merunduk di dalamnya.


Pat dan Austim di seret keluar, Austin di keroyok oleh anak buah pria tua itu, sedangkan Pat di seret di pisahkan dari Austin.


Pat berhasil lepas dari cengkraman kedua pria sangar itu, ia meronta dan menggigit serta menendang kepunyaan sang pria satunya lagi.


Namun nahas, saat ia berbalik arah, ia terjatuh dan berguling - guling ke bawah karena jalanan disana saat itu bukan dataran, namun mereka berada di sebuat perbukitan.


"Aaaaa.... " teriak Patricia.


Austin yang melihatnya ikut terkejut, begitu pula dengan pria tua bangka itu dan anak buahnya.


"No... Pat... noooooo.... " teriak Austin dan berlari mengejar Patricia.


Anak buah pria tua itu menatap bosnya, dan, bosnya memberi isyarat agar mereka mundur membiarkan Austin dan Patricia bersama kembali.