My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Perubahan sudut pandang



Setelah masuk ke dalam rumah. Ahjussi membawaku ke lantai dua, ke dalam sebuah kamar, sepertinya kamar tamu. Dia menyuruhku menunggu dan duduk di kursi sudut dekat sebuah meja.


Paman keluar dari kamar. Lalu tidak lama dia masuk kembali sambil membawa sebuah handuk piyama berwarna putih. Dia mengantarku masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamar tersebut.


" Disini ada shower air panas, ( paman menghampiri shower dan memencet tombol mesin pengaturnya), sudah ku atur suhunya tidak terlalu panas. Kamu bisa membersihkan badanmu disini dengan air hangat, lalu pakai piyama ini. "


" Ahjussi, kau juga basah kuyup. " Tukasku.


" Tidak usah khawatir kan aku. Sekarang, kau saja yang duluan membersihkan badanmu, aku takut kau masuk angin. Nanti aku akan menyuruh asisten rumah tanggaku untuk cepat - cepat mencuci dan mengeringkan pakaianmu. "


" Baiklah nanti kau tunggu saja aku disini. Kamarku ada di pintu ke dua sebelah kamar ini. Aku akan berganti baju lagi. "


Paman pun keluar dari kamar mandi. Aku langsung membuka baju dan membersihkan badanku dengan guyuran air hangat. Tidak lupa memakai shampoo dan bodywash yang sudah ada di dalam sana. Ku lihat sekeliling kamar mandi yang luas ruangannya sebesar kamar tidur di tempat kostku.


Setelah selesai, aku menunggu dan bersandar di atas tumpukan bantal di ranjang.


Dan, tiba - tiba seseorang mengetuk kamarku. Aku langsung bangun dan membuka pintu, ternyata dia paman. Dan seorang wanita paruh baya berdiri di belakangnya. Mereka berdua langsung masuk ke dalan kamarku. Namun, wanita paruh baya itu langsung masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa sebuah ember.


" Kau sudah selesai? " tanya paman.


" Sudah. Hanya saja, apa disini ada hairdryer, rambutku sangat basah. "


Paman lalu berbicara pada wanita paruh baya itu saat dia keluar dari kamar mandi, ternyata dia asisten rumah tangga di sana.


" Bi Asih, tolong ambilkan hairdryer kemari. " Ucap paman.


" Baik den, tunggu sebentar. "


Bi Asih pun keluar dari kamar sambil menjinjing sebuah ember yang sudah berisikan baju - baju basahku.


Aku duduk di pinggir ranjang sambil menunggu bi Asih kembali membawa hairdryer. Dan paman, dia duduk di sebuah kursi sudut di dekat meja, dekat pintu kamar mandi, hanya beberapa langkah dari ranjang.


Benar - benar suasana yang awkward sekali saat itu. Untungnya, tidak lama kemudian bi Asih datang membawa hairdryer dan satu gelas air teh hangat dan memberikan nya pada paman. Setelah itu, bi Asih pun keluar lagi dan menutup pintu kamarnya.


" Ini, minumlah dulu, teh hangat untukmu. " Paman mendekat padaku dan memberikan gelas nya.


" Terima kasih. " Aku langsung menerimanya dan menyeruput teh hangat tersebut.


" Kau duduk disini, biar ku bantu keringkan rambutmu !!" Paman memanggilku untuk duduk si sebuah kursi di depan meja rias.


" Apa ini, kamar tamu ?" tanyaku penasaran.


" Ibuku, kalau beliau menginap disini, selalu tidur di kamar ini. Makanya ada meja riasnya. " jawab paman.


" Lalu, sekarang ibumu, ada dimana, ahjussi ??"


" Ibuku, dia tinggal di salah satu panti asuhan di daerah kabupaten, sejak zaman aku sma, dia lebih senang tinggal di sana, mengurus dan mendidik anak - anak orang di banding anaknya sendiri. " Jawab paman, sambil mencolokkan kabel hairdryer ke kontak listrik. Dan dia memulainya, mengeringkan sambil menyisiri rambutku.


" Wah.. ahjussi, kau juga telaten dalam hal ini.. !!" pujiku padanya.


Dan dia hanya tersenyum.


" Di lemari pakaian sana, ada beberapa baju ibuku yang selalu dia tinggalkan disini, setelah ini, kau pilih saja, baju mana yang akan kau pakai sementara. Sambil menunggu baju mu kering."


" Baiklah. Terima kasih yaa, maaf merepotkan. "


" Tidak apa. "


" Ahjussi, apa disini kau tinggal sendiri an ?" tanyaku penasaran.


" Tidak, aku tinggal bersama dua orang temanku, dia orang - orang yang aku percaya selama tinggal di Indonesia. "


" Lalu, kenapa aku tidak melihat mereka tadi ?"


" Mereka selalu pulang malam, yang satu sibuk mengurus klub latihan di sanggar olahraga dan yang satunya lagi, dia seorang dokter."


" Sudah selesai, sekarang aku akan keluar dulu menyiapkan sesuatu di dapur, nanti kau turun saja ya kalau sudah memakai baju. Aku tunggu di dapurku. Kau pilih saja baju yang ada di sana, ok... !!"


Paman lalu keluar kamar setelah selesai membantuku mengeringkan rambut. Dan aku memilih satu dari beberapa pakaian yang ada di sana, aku memilih sebuah kemeja lengan panjang berukuran besar dariku. Berwarna merah jambu, panjangnya selutut. Tapi belum juga kupakai, aku memegangnya sambil duduk di atas ranjang.


Menurutku hanya kemeja ini yang bisa menolongku saat ini, diantara tumpukan kaos dan baju tidur lainnya. Aku tidak bisa memakai baju berbahan kaos, tidak ada bra yang bisa ku pakai, terbayang olehku bagaimana kalau aku turun dari kamar ini nanti, sambil memegang payudara ku. Juga tidak ada celana dalam atau sekedar celana panjang yang tertinggal, semua hanya tumpukan kaos, daster, satu stel baju kebaya dan kemeja ini.


" Duh.. bagaimana ini, aku malu kalau harus turun ke bawah dalam keadaan seperti ini. " Tukasku sambil terduduk memandangi kemeja yang sedang ku pegang.


Dan dalam beberapa detik aku merasa sangat mengantuk, sempat menguap beberapa kali dan karena sangat tidak tahan melihat bantal menganggur, aku memutuskan untuk tidur saja atas ranjang. Masih dengan piyama handuk berwarna putih yang ku pakai.


Di sisi lain, di lantai 1, di sebuah dapur.


" Den, sini biar bibi saja yang menyiapkan semuanya !!" Seru bi Asih.


" Tidak apa bi, biar aku saja, bibi lanjutkan saja mencuci baju nya. " Jawab seorang pria berperangai gagah dan sangar itu.


Dia adalah seorang pria berdarah Asia, campuran antara Indonesia dan Korea. Dia seorang duda berusia 40 tahun. Istrinya meninggal satu minggu setelah hari pernikahan mereka.


Dia merupakan seorang pengusaha sukses , mengelola beberapa resort di Bali, membawahi beberapa usaha di bidang kuliner di beberapa kota di Bali, menjadi investor dan memiliki saham di beberapa jenis usaha transportasi disana, dan masih banyak lainnya. Semua jenis usaha yang sedang dia geluti, belum di ketahui oleh sang wanita pemeran utama di cerita ini.


Dia seorang pria berwatak keras sebetulnya, namun, menjadi lembut bila sudah berhadapan dengan seorang wanita yang menarik hatinya. Dia juga sangat menghormati orang yang lebih tua. Baik itu kedua orangtua nya atau bukan.


Pria itu, sibuk menyiapkan sesuatu di dapur. Ternyata, dia sedang membuat sebuah hidangan, lasagna. Dia terlihat seperti seorang chef profesional, gaya nya saat memotong bawang bombay dan tomat, sangat cepat dan lihai. Dan dia tetap berkharisma walaupun sedang memakai celemek/apron dan mengendalikan sutil saat sedang menumis sesuatu di atas wajan.


Setelah selesai menata lasagna dan memasukkannya ke dalam oven, dia merasa heran, kenapa orang yang sedang dia tunggu tidak nampak kunjung tiba. Beberapa kali dia melihat ke atas, ke lantai 2, ke arah salah satu pintu kamar yang berada di atas sana.


Lalu di melepas celemek nya, memutuskan untuk menyusulnya ke atas.


" Bi, aku titip ini ya ( menunjuk ke arah oven ), kalau sudah matang tolong keluarkan. "


" Siap, den Wan !!" Seru bi Asih. Asisten rumah tangga kepercayaan nya dan sebenarnya sudah dia anggap seperti ibunya sendiri.


Lalu pria itu berjalan menaiki tangga menuju arah lantai dua.


Saat dia mengetuk pintu dan tidak terdengar ada jawaban dari dalam kamar tersebut, dia memutuskan untuk masuk ke dalamnya, perlahan dia membuka pintu, dan, dia melihat seorang wanita sedang tertidur di atas ranjang.


Dia lalu menghampiri nya, melihat kemeja yang sedang wanita itu pegangi lalu menaruh kemeja itu di atas nakas. Membetulkan posisi tidur wanita itu dan menyelimuti nya.


Sambil duduk di sampingnya, pria itu menatap wajah wanita cantik yang ada di hadapannya. Dia mengelus pipi mulusnya, menyentuh helaian rambutnya dan menyentuh bibirnya lalu mengecup bibirnya itu. Bibir yang sangat tipis berwarna merah jambu, yang selama ini selalu ia tatap dan perhatikan saat sang pemilik bibir itu berbicara sepatah, dua patah, bahakn beribu - ribu kata.


Pria itu, terlihat sangat jatuh hati pada wanita tersebut.


Flashback..


Selama ini, semenjak dia bertemu dengan wanita itu, dia selalu mencari informasi tentang asal usul keluarganya, temannya, pekerjaannya, kesehariannya, dimana lokasi keberadaannya, pria itu sudah seperti seorang stalker bagi wanita itu.


Tanpa sepengetahuan wanita cantik itu, dia telihat beberapa kali selalu mengikutinya kemanapun wanita itu pergi, kemana dan dengan siapa.


Dari kejauhan dia pula yang mencoba melindungi nya saat hendak di copet, kejadiannya terjadi saat ia berada di pasar tradisional sedang sibuk berbelanja.


Pria itu, bersama temannya, buru - buru mengepung si pencopet saat hendak memasukkan jarinya untuk mengambil dompet dari dalam tas wanita itu yang sedang sibuk memilih sayuran pada salah satu pedagang disana.


Tanpa sepengetahuan wanita nya, pria itu bersama temannya berhasil menyeret si pencopet saat hendak mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Si pencopet kaget dan refleks dia bertatapan dengan pria yang menjegal tangannya itu, dia mundur secara perlahan dan berlari tunggang langgang saat menatap sepasang mata pria yang mengenakan jaket hoodie berwarna hitam itu.


Sepasang mata yang terlihat sangat marah dan menakutkan membuat nyalinya menciut. Dia berlari dan di kejar oleh teman pria itu. Si pencopet lari terbirit - birit menyusuri gang sempit jauh dari area pasar tadi. Teman pria tadi, berhasil menyusulnya dan menghajar habis - habisan si pencopet itu.


Sementara si pria tadi masih membuntuti wanita itu dari kejauhan, dia melihat wanitanya menaiki sebuah bus sambil menjinjing dua kantong keresek belanjaan. Sepertinya, si pria ingin sekali menghampiri nya dan membantu sang wanita membawakan dua kantong belanjaannya yang terlihat berat itu.


Dia mengejar bus tersebut, mengendarai sebuah mobil sedan berwarna putih dengan kaca jendela yang hitam pekat. Mobil melaju perlahan berdampingan dengan bus di sampingnya.


Dia hanya ingin memastikan bahwa wanitanya itu sampai di rumahnya dengan selamat dan aman. Itu saja.