My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Selingan



" Hihihihihi........ " suara tawa sangat ringkih terdengar jelas di telinga bi Asih dan Hanna, membuat keduanya berteriak bersamaan karena sangat terkejut.


" Aaaaarrrgghhh.... " teriak keduanya.


Siwan dan Aji yang sedang mengobrol di belakang rumah pun berlarian masuk ke dalam lewat pintu dapur.


Sesampainya di dapur, Siwan dan Aji sedang melihat pemandangan yang membuat keduanya terheran - heran.


" Kak, tolong, mereka sangat kasar, mereka mau membuatku mati penasaran... " ucap Austin yang kini sedang melindungi kepalanya takut terkena hantaman sebuah centong nasi dan sutil dari tangan Hanna dan bi Asih.


Hanna dan bi Asih mulai menghentikan aksinya yang sejak beberapa detik hampir satu menit yang lalu menyerang Austin karena membuat mereka yang sedang mengobrol dengan serius terkejut membuat jantung mereka hampir copot.


" Ada apa ?" tanya Siwan yang kini sudah berdiri di samping Hanna.


" Hampir saja jantungku copot gara - gara dia nih, bi Asih juga sama terkejutnya di buatnya !!" jawab Hanna dengan nada kesal.


" Aku cuma bercanda, kalian saja yang terlalu serius " ucap Oz.


" Bibi panggil lagi suruh dia diem di kamar mu mau ora ?" tanya bi Asih.


" Ampun bi ampun... " Austin bersembunyi di belakang lengan Aji.


" Ish... diam kau jangan pegang - pegang " ucap Aji lalu meninggalkan dapur kembali untuk membereskan pekerjaannya di belakang rumah.


Siwan dan Hanna pun berjalan menuju ruang tv dan duduk di sofa, di susul oleh Austin di belakang mereka.


" Eh... beneran tahu, aku tadi pagi merinding banget, kupikir dia ' menunjuk Hanna ' yang menangis lalu tertawa cekikikan, tahunya ternyata kamar itu kosong " ucap Austin yang tiba - tiba duduk di sofa dan nyerocos berbicara tak karuan.


" Ada apa sih emangnya tadi pagi ?" tanya Hanna.


" Kau tidak dengar, owh... kalian terlalu fokus bercinta di pagi hari yaa, makanya telinga kalian tertutup rapat, hahaha... " Oz yang tidak jelas di mata Hanna nampak semakin aneh.


" Sialan... " Siwan melemparkan bantal pada Austin.


" Aji saja yang jauh dari kamarnya dia sampai keluar dan berlarian, masa kalian yang dekat tidak dengar sih... " Austin masih terus membahas suara tadi pagi.


" Aku dengar, cuma aku tidak mau keluar, mengganggu pagi indahku saja " sahut Siwan.


" Dengar suara apa sih, ahjussi, memangnya tadi pagi ada apa ?" tanya Hanna.


Dan, tanpa di minta, Austin dengan penuh semangat menceritakan kejadian tadi pagi pada Hanna dan Siwan.


" Begitu ceritanya...." Austin yang kehausan langsung menuang air putih ke gelas dan meminumnya seketika.


" Sudahlah, dia sudah pergi, tadi bi Asih sudah memastikannya " sahut Hanna.


" Kalian pasti punya sixth sense kan... ?" tanya Aji pada Hanna dan bi Asih maksudnya.


" Apa...., tidak, biasa saja, aku hanya merasa auranya tidak enak, itu saja !" tegas Hanna, tidak mau membocorkan rahasianya.


" Cih... bohong " Austin tidak percaya jawaban Hanna.


" Chagiya, kita pergi jalan - jalan saja, kau tunggu disini, aku ganti baju dulu " ucap Siwan.


Beberapa menit kemudian....


Kini Hanna dan Siwan sudah berada di perjalanan menuju sebuah lokasi. Saat itu Siwan menggunakan mobil yang biasa di pakai mengantar jemput Hanna dulu karena pintu mobil Siwan semalam di bobol Aji dan dirinya saat berusaha mengeluarkan Hanna dari dalam.


" Ahjussi... " Hanna mulai kembali mengajak Siwan bercakap - cakap lagi.


" Ya, kenapa ?" tanya Siwan.


" Kau belum bilang padaku tentang Luca " jawab Hanna. Dia tahu kalau Luca sudah meninggal dari Austin saat Siwan sedang mengganti bajunya di kamar, Hanna bertanya tentang Luca yang tidak terdengar suaranya sedikitpun saat itu.


Biasanya kalau ada Hanna, Siwan memang selalu mengunci luka di dalam kandangnya yang besar supaya tidak berinteraksi bersama Hanna.


" Ah... iya, dia meninggal beberapa bulan yang lalu !" Siwan tetap tak mengalihkan pandangannya dari jalanan di depannya.


" Kau pasti merasa kehilangan dia, maaf aku tidak ada di sampingmu saat itu " ujar Hanna.


" Tidak apa, aku sudah mengikhlaskannya " ucap Siwan.


" Lalu, kalau aku yang pergi, kenapa kau belum mengikhlaskannya, kau terus mencariku tanpa rasa lelah, kenapa.. ?" tanya Hanna.


" Kau meninggalkanku tanpa sebab, dan aku masih merasa belum melepaskanmu dengan caraku, aku tidak terima alasanmu yang berbuat seperti itu padaku, ada apa ? semua bisa kita bicarakan baik - baik kan ?" Siwan menatap Hanna sejenak saat mobil mereka berhenti di stopan lampu merah.


" Maaf, aku hanya terbawa suasana, kupikir saat itu waktu yang tepat, tapi ternyata aku juga merasa tersiksa, maaf... " ucap Hanna.


Siwan meraih pergelangan lengan Hanna dan mencium tangan kekasihnya itu.


" Sudahlah, ayo kita mulai lagi dari awal, 4 bulan kan ? waktu kita hanya sedikit, ayo kita manfaatkan sebaik mungkin " ucap Siwan.


Menjalin kasih dengan pasangan kita yang berbeda agama itu sangat berat. Kita harus memilih antara mengkhianati dirinya atau Tuhan kita, atau pun sebaliknya, membuatnya mengkhianati Tuhan nya atau mengkhianati kita sebagai pasangan.


Setelah itu restu orang tua, yang pasti menjadi hambatan nomor ke dua yang paling di rasakan oleh para pasangan berbeda agama.


Lalu, komitmen, kalaupun kita berkomitmen harus mengakhiri semuanya pada waktu yang telah di tentukan, akankah komitmen itu terealisasi semudah bayangan kita. Hanya tinggal say goodbye dan berpisah menuju jalan masing - masing, begitukah ? Akankah Hanna dan Siwan mengakhiri semuanya dengan baik - baik saja nantinya ?


*


*


Sebelum sampai di depan rumah kost, karena akses masuk ke dalamnya hanya masuk kendaraan roda dua, Siwan memarkirkan mobilnya di bawah dan berjalan kaki menuju rumah kostan Hanna.


" Chagiya, aku masih penasaran, bagaimana ceritanya kau bisa bernyanyi di cafe Eriko !" Siwan menoleh ke samping kekasihnya. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan.


" Owh... itu karena pemilik rumah kostku yang sekarang pacar koh Erik " ucap Hanna dengan pelan lalu menutup mulutnya sambil tertawa.


" Kenapa ? ada yang aneh ?" tanya Siwan terheran - heran.


" Tidak... itu karena... " belum juga Hanna menyelesaikan ucapannya, dari belakang suara klakson motor membuat mereka harus menyingkir dari jalanan. Motor itu berhenti di hadapan Hanna dan Siwan.


" Hanna, baru pulang ?" tanya seorang pria yang sedang naik motor matic sore itu.


" Ah, iya bli, aku baru pulang. Eh iya, perkenalkan bli, dia pacarku " ucap Hanna, namun dia semakin merapatkan tubuhnya pada Siwan.


" Saya Siwan... " Siwan mengulurkan tangannya pada pria itu.


" Saya Giri, pemilik rumah kost Hanna dan Reni, salam kenal " sahut pria itu yang ternyata Giri alias pria berwajah putih dan glowing pemilik rumah kost Hanna dan Reni.


Siwan tercengang mendengarnya, dia seakan tidak percaya ternyata pacar Eriko adalah...


" Sudah dulu ya, saya bawa ikan ini, harus segera di urus takut keburu bau... " ucap Giri dan mulai kembali menyalakan motornya, " kalau ada waktu ayo kita makan malam bersama malam ini di rumahku, saya masakkan ikan bakar nanti " ujar Giri.


" Tidak... " jawab Siwan secepat kilat " maksudku tidak bisa, aku harus segera pergi setelah mengantarnya ke rumah " sambung Siwan.


" Baiklah, mungkin lain kali ya.. mari... " Giri pun melengos pergi dengan motornya menuju rumahnya yang berada beberapa meter di sebrang rumah kost Hanna.


Setelah Giri pergi meninggalkan mereka berdua..


" Sudah paham kan sekarang ?" tanya Hanna sambil tertawa cekikikan.


" Si Erik, kurang ajar dia, ternyata dia belok " Siwan terlihat sangat kesal.


" Sudahlah, biarkan saja, itu urusan mereka, ahjussi, kau tidak boleh ikut campur " ucap Hanna.


" Tapi kan.... bla bla bla.... " Siwan terus menggerutu sampai mereka tiba di depan rumah kostan mereka.


" Sudahlah ahjussi, duduk di sini, kau pasti lelah kan, aku ambilkan minum dulu ya, kau tunggu disini " Hanna memasang karpet di teras rumah kostnya agar Siwan tidak kedinginan saat duduk lesehan di lantai.


Setelah itu Hanna masuk ke dalam rumah dan membuatkan teh hangat untuk Siwan.


Saat Hanna dan Siwan sedang menikmati sore hari mereka dengan secangkir teh hangat di tangan masing - masing, Reni yang baru pulang bekerja menghampiri mereka dengan ragu - ragu.


" Kak Ren, baru pulang ?" tanya Hanna yang kegirangan melihat wajah Reni.


" I-iya Han, loe juga ?" tanya Reni.


Hanna hanya menganggukan kepalanya dan...


" Hallo, apa kabar Reni ? senang bisa bertemu kembali !" ucap Siwan.


" Aanu... hallo kak, aku baik, senang juga bisa bertemu lagi " Reni terlihat gugup di depan Siwan.


" Kalau begitu aku pamit pergi ya, chagiya, temanmu sudah pulang kan " ucap Siwan, lalu berdiri dari duduknya.


" Tidak apa kak, santai saja, aku tidak akan mengganggu kalian kok, silahkan lanjutkan " sahut Reni.


" Tidak, aku sudah cukup lama bersamanya, dia juga harus istirahat, aku pergi dulu ya " Siwan pun pergi setelah sebelumnya mengecup kening Hanna di depan Reni.


" Hati - hati ya, kabari aku kalau sudah sampai di rumah " ucap Hanna.


Siwan mengangguk dan tersenyum, lalu pergi dari hadapan keduanya.


" Huh... gue gugup banget, aura pacar loe membuat gue jadi keluar keringet dingin gini " Reni mulai bernafas dengan lega kembali.


" Ish... biasa aja kali kak, dia gak bakalan gigit kali " sahut Hanna.


Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah.


" Semalem tidur dimana loe ? gak pulang, mentang - mentang udah rujuk, mulai lagi yaa *** - *** sama pacar loe !!" Reni mulai mengorek kehidupan Hanna lagi.


" Ish... jangan ngaco deh, aku terpaksa pulang ke rumahnya soalnya ada yang mau ikut semalam, daripada ku bawa kesini ntar dia betah kaya yang sebelumnya, nanti kak Reni jadi gak mau pulang lagi deh... " ujar Hanna.


" Loe sih kebangetan, udah tau gue penakut, malah berteman sama mahluk begituan " sahut Reni.


" Cih... aku gak berteman ya, mereka sendiri yang mau ikut sama aku " timpal Hanna.


" Ya loe usir dong Han, terus sekarang gimana, ada yang ikut juga gak ?" tanya Reni.


" Itu, di belakang... " tunjuk Hanna.


" Aaaarrrggghhh.... " Reni berteriak dan berlari ke arah Hanna bersembunyi di belakang ketiak Hanna.


Sedangkan Hanna sendiri tertawa begitu puasnya karena berhasil menjahili Reni, membuatnya ketakutan setengah mati.


" Malah ketawa... buruan usir, gue mau pipis nih" ucap Melly yang hampir mau menangis.


" Hahaha... bercanda kali, gak ada, udah balik ke asalnya dia, buruan sana ke wc, kalo pipis di celana pel semua lantainya ya, awas, bau pesing " Hanna pun masuk ke dalam kamar sedangkan Reni masuk ke dalam kamar mandi.