
" Hai... apa kabar ?" pria itu bangkit dari kursinya, berdiri tegak dan berjalan perlahan menghampiri Hanna yang mematung di samping sofa yang Siwan duduki.
" A Rey... " Hanna berjalan dua langkah menuju Rayhan yang mendekat padanya, dan mereka berpelukan di depan Siwan.
Siwan membelalak, " beraninya mereka berpelukan di depanku, apalagi kalau belakangku !!" gumam Siwan.
" Cih... " sudut bibir atas nya terangkat sebelah, mata Siwan mengerling dan membuang muka di hadapan mereka berdua.
" Silahkan duduk a, aku buatkan dulu minuman ya, mau teh, kopi atau susu ?" Hanna nampak bersemangat.
" Teh saja... " jawab Rayhan.
" Manis atau tawar ?" tanya Hanna kembali.
Mata Siwan membulat menatap wajah kekasihnya yang penuh senyuman terhadap pria di hadapannya. Dia tidak suka melihatnya. Ingin rasanya Siwan menarik kekasihnya saat itu juga dan membungkam mulutnya dengan masker supaya tidak bisa menebar kembali senyum manisnya yang Siwan inginkan hanya untuknya.
Rayhan merasa kikuk, dia tahu Siwan sedang menatapnya tajam, bahkan bulu kudu nya jadi berdiri karena suasana yang mendung di luar, namun nampaknya petir akan segera menyambarnya di dalam rumah itu.
" Ta-tawar saja, Han... !" jawab Rayhan tersenyum namun kaku.
Hanna pun pergi ke dapur tanpa menoleh pada Siwan sedikit pun. Ia bahkan tidak bertanya pada Siwan apa yang ingin dia minum juga saat itu.
Saat Hanna kembali, dia membawa 3 berisi gelas air teh hangat, dan kembali lagi ke dapur membawa nampan berisi mini tea potnya dan satu piring berisi beberapa slice brownies coklat yang ada di kulkas.
Saat Hanna akan memulai pembicaraan, Siwan melihat hpnya yang ada di atas meja menyala, seseorang mencoba meneleponnya.
" Aku ke belakang dulu sebentar ya !!" ucap Siwan sambil membawa hpnya.
Hanna dan Rayhan pun mengobrol dengan tenang tanpa Siwan, mereka bahkan sesekali tertawa terbahak - bahak membahas hal - hal lucu yang Rayhan buat, dan entah ide konyol darimana ia dapatkan.
Siwan yang sudah selesai menerima telepon nya pun berjalan mendekat hendak menghampiri mereka. Namun, beberapa langkah menuju ruang tengah, ia malah bersembunyi di balik dinding dan menguping pembicaraan mereka.
" Mereka sedang membahas apa sih... ?" gumam Siwan. Wajahnya nampak curiga, alisnya berkerut, ia tak paham arti obrolan mereka karena memakai bahasa daerah mereka, bahasa sunda.
" Ekhem... " Siwan mengetes tenggorokannya dan pura - pura mengelusnya sambil kembali menghampiri sofa dan duduk di samping Hanna.
" Minumlah, ahjussi !!" ucap Hanna.
Siwan tersenyum ke arah kekasihnya lalu mengambil gelas miliknya dan meminum tehnya yang sudah dingin.
Suasana kembali sunyi. Bila ada jangkrik di sekitarnya pasti suaranya akan terdengar, bahkan suara lalatpun mungkin akan menjadi back songs keheningan di antara ketiganya.
Namun, tiba - tiba Rayhan membuka mulutnya.
" Baiklah, Hanna, aku harus pulang sekarang !!" ucap Rayhan.
" Loh.. kok buru - buru " Hanna terlihat begitu kecewa.
" Hahahaha... dia sepertinya tidak tahan berada di dekatku " gumam Siwan merasa menang
" Cuaca sangat mendung, aku kemari naik motor, kalau terlalu sore hujan selalu turun akhir - akhir ini " jawab Rayhan.
" Iya, nanti saja padahal, kalian kan jarang bertemu, pasti banyak sekali yang mau kalian bicarakan, santai saja lah dulu... " ucap Siwan penuh senyum tipu muslihat.
Padahal di hatinya dia berkata, " bagus, pergilah cepat sana, kau sangat mengganggu... "
" Tidak apa, lain kali aku mampir lagi, aku merasa sangat senang kalau Hanna sehat dan bahagia !!" ucapan Rayhan terdengar biasa saja di telinga Hanna, namun tidak bagi Siwan, ia yakin kalau ada arti di balik kata - kata manisnya itu.
Setelah mengantar Rayhan ke depan halaman rumahnya, saat motor matic yang di kendarainya pergi menjauh, Siwan duluan masuk ke dalam rumah dan kembali duduk di sofa.
" Kau kenapa ? tidak senang ada yang mengunjungi ku ?" tanya Hanna melihat Siwan yang duduk di sofa dengan kondisi kedua -tangan terlipat di dada dan bibirnya maju 5 senti.
" Tidak juga, baguslah kalau masih ada orang lain yang peduli padamu !!" ucap Siwan tanpa menoleh sedikitpun pada kekasihnya itu.
" Kau tidak takut ?" Hanna duduk di sampingnya, menggoda Siwan yang nampak cemberut.
" Takut kenapa, memangnya dia hantu, jin, zombie, dracula, vampire atau tukang tagih hutang ?" Siwan meracau.
Ekspresi cemburunya nampak begitu menggemaskan di mata Hanna. Bayangkan saja, di umurnya yang sudah terbilang tua, dia masih bisa berkelakuan seperti bocah ingusan.
" Hahaha.... " Hanna tidak tahan lagi, ia tertawa terpingkal - pingkal sendirian di depan Siwan yang nampak sedang komat kamit entah apa yang di ucapkannya, Hanna tidak dapat mendengar nya karena berisik oleh suara tawanya sendiri.
Karena Siwan tidak menghiraukannya, Hanna pun mengehentikan tawanya.
" Ahjussi, ayo kita pergi jalan - jalan, kalau terus berduaan di rumah seperti ini bisa - bisa kau terus membuatku kesal !!" Hanna berbicara tanpa beban.
" Apa...? yang ada nanti aku yang darah tinggi karena kesal melihat sofa bekas di duduki pria itu, aku masih merasa arwahnya masih menempel di sana " tunjuk Siwan pada sofa di sebrangnya.
Hanna melirik ke arah ujung telunjuk Siwan, lalu kembali tepingkal - pingkal di atas sofa tanpa menghiraukan Siwan yang nampak keanehan melihat kekasihnya terus tertawa.
" Sudah ah, aku mau ganti baju dulu " Hanna pun melengos pergi ke kamar.
Dan, dari kejauhan ia cekikikan meniru suara kuntilanak untuk menakuti Siwan.
Siwan yang mendengarnya bergidik ngeri.
" Apa dia kerasukan mahluk halus ?" ucap Siwan tanpa sadar.
Hanya sebentar, Hanna mengganti bajunya dan mentouch up makeup nya. Dia sudah nampak cantik dan wangi. Dress putih v neck selutut berlengan panjang ia padukan dengan celana jeans biru 3/4 karena cuaca sedang dingin di luaran sana. Tak lupa ia memakai sneakers favoritnya berwarna putih pemberian Siwan zaman dia kost dulu.
" Ayo, aku sudah siap !!" Hanna sudah berdiri dengan anggunnya di samping sofa.
Siwan terpana melihat wajah cantik dan anggun kekasihnya, ia berdiri dan menghampiri Hanna lalu memeluk nya dengan erat.
" Cantiknya, wanita ku... " ucap Siwan sambil mengecup bibir Hanna.
" Ahjussi, lipstikku belum kering, lihat bibirmu " Hanna ingin menghapus lipstik yang menempel di bibir Siwan, namun Siwan menjegal tangannya.
" Biarkan saja, tanda darimu " ucap Siwan lalu pergi menuju kamar untuk mengganti celananya.
Hanna merasa tercengang, ia ambruk di sofa dengan kasar.
" Kenapa dia jadi aneh sekali, apa dia kerasukan !!" Hanna bergidik merasa seram sendirian.
Saat Siwan keluar dari kamar, dia sudah terlihat mempesona dengan penampilannya, ia memakai pants berwarna hitam dan t-shirt longneck berwarna biru senada dengan warna jeans yang Hanna pakai. Tak lupa ia menenteng mantel berwarna dark gray miliknya dan milik Hanna.
Wangi parfumnya pun tercium kemana - mana. Ia berjalan mendekat pada kekasihnya yang sedang menunggunya di sofa.
" Wah... tampan sekali pria ku ini, bak aktor korea idamanku, kau mau mengajakku jalan atau mau tebar pesona !!" mata Hanna mengerling lalu ia berdiri dari duduknya.
Siwan hanya tersenyum, lalu saat sudah semakin dekat, tiba - tiba ia mengalungkan sesuatu di leher Hanna.
" Tutuplah, belahan dadamu pasti jadi pusat perhatian buaya di luaran sana, aku tidak suka !!" ucap Siwan yang masih membetulkan lilitan syal merah di leher kekasihnya. " Lagi pula di luar pasti dingin sekali, pakai mantelmu " Siwan juga memakaikan mantel di tubuh tipis kekasihnya itu.
Hanna nampak pasrah, namun ia cukup senang karena perhatian yang di lakukan oleh kekasihnya.
" Sudah siap, lets go... !!" Hanna mengagandeng lengan Siwan hingga menuju mobil yang terparkir di luar.
Di perjalanan...
" Kau mau pergi kemana ?" tanya Siwan.
" Emh... aku sedang ingin makan fast food, aku ingin makan kulit ayam krispy, aku ingin makan burger, aku ingin pizza, minum cola, makan sundae.... bla... bla... bla... " Hanna terus meracau sepanjang perjalanannya.
Hanna bukan tipe wanita yang gampang mengucapkan kata terserah, saat Siwan bertanya padanya, mau pergi kemana ? mau makan apa ? Hanna pasti selalu menjawab bla bla bla...
Siwan lebih senang seperti itu daripada dia harus menebak apa yang di inginkan kekasihnya, hanya dari satu kata, yaitu TERSERAH.
Namun, jika saat kata - kata itu muncul dari mulut manis Hanna, berarti dia sedang dalam keadaan marah dan kesal padanya.
Siwan pun menghentikan mobilnya di parkiran plaza yang lumayan cukup jauh dari lokasi rumah.
Mereka langsung menuju ke booth resto ayam goreng kaepsi. Hanna memesan makanannya, Siwan yang membayarnya. Hanna yang mencari tempat duduknya, Siwan yang membawa nampan dan makanannya. So sweet...
Hari sudah menjelang malam, setelah makan mereka hanya nongkrong di kursi depan eskalator dan memperhatikan anak kecil yang sedang bermain di area kids play. Perut mereka terasa penuh meskipun hanya makan satu burger dan dua ayam krispy, lalu satu sundae dan satu gelas cola ukuran medium masing - masing. Hehe.
Saat sedang bersandar pada kaca pembatas, tiba - tiba Hanna dan Siwan di kagetkan oleh seorang anak perempuan berusia sekitar 4 tahun sedang berjalan mendekat pada mereka sambil menangis.
" Ya ampun, kenapa adek ? ayah ibunya mana ?" tanya Hanna.
Anak itu terus menangis tak menjawab pertanyaan Hanna.
Hanna menarik anak tersebut dan mendudukkannya di sampingnya.
" Adik mau permen ?" tanya Hanna menundukkan kepalanya, dan merogoh sesuatu di dalam tasnya " lihat, kakak punya permen jelly yang bentuknya boneka beruang, mau ?" wajah Hanna berbinar menarik perhatian sang anak.
Anak itu berhenti menangis, lalu menerima satu bungkus permen yang Hanna berikan.
Dan, dengan polosnya, anak kecil itu mengangkat dua jari nya.
Ternyata dia ingin dua bungkus permen.
Hanna merasa terkejut sekaligus gemas, namun ia menahan tawanya agar tidak pecah di hadapan anak kecil yang imut itu. Nanti anaknya jadi takut melihat tawa Hanna.
Ia pun merogoh lagi ke dalam tasnya dan mengambil satu bungkus permen jelly lagi, " Ini, karena kamu udah berhenti nangisnya, kakak kasih kamu 2 yaa, mau di buka sekarang ?" tanya Hanna.
Anak kecil itu menggelengkan kepalanya, " aku harus bilang dulu sama ibu " ucap anak itu.
" Baiklah, di mana ibumu, apa kau tahu ?" tanya Hanna mencoba mengorek informasi.
" Ta-tadi i-ibu ada di kursi sana... " anak itu menunjuk ke arah salah satu kursi sudut di dalam area kids play dekat mandi bola. Namun, kursi itu sudah kosong. Hanya ada dua orang dewasa yang sedang menempel di jaring pemisah area permainan mandi bola memeprhatikan anak mereka yang ada di dalamnya.
Siwan yang mendengarnya pun langsung terlintas ide cemerlang di kepalanya.
" Mau om bantu cari ibumu tidak ? kamu naik ke pundak om ' Siwan menepuk pundaknya, ' supaya kamu jadi tinggi, jadi ibumu bisa melihatmu dari jauh, mau ?" ucap Siwan.
" Setinggi ini.... " anak itu merentangkan kedua tangannya ke atas.
" Tidak, tapi setinggi ini... " ucap Siwan merentangkan kedua tangannya juga.
Anak itu mengangguk dan mulai berdiri. Siwan pun berjongkok dan menyiapkan kuda - kuda supaya anak kecil itu naik ke pundaknya dengan nyaman.
Hanna membantunya naik ke pundak Siwan. Lalu mereka mulai berjalan masuk menuju area kids play, mencoba mencari ibu anak tersebut.
Baru saja masuk tiga langkah, dari kejauhan anak itu berteriak, " ibu.... " dan melambaikan tangannya.
" Dimana dek, sebelah mana ?" tanya Hanna.
Anak itu menunjuk ke samping mereka, dan tidak lama kemudian, ibu anak itu pun sudah berada di dekat mereka, dengan seorang anak laki - laki kira - kira usia 7 tahun.
Ibu itu terengah - engah, dia berlari menghampiri mereka. Mungkin di campur dengan rasa panik makanya dia seperti berlari dari lintasan berjarak 1 kilometer.
" Larissa... " pekik ibunya yang masih bisa menahan air mata agar tidak tumpah, padahal matanya sudah berkaca - kaca.
Siwan kembali berjongkok agar anak bernama Larissa itu dapat turun menghampiri ibunya.
" Ibu.... " ucap Larissa yang polos disertai senyum manisnya.
" Maaf bu, tadi anaknya keluar dari area kids play sambil menangis, kami tadi kebetulan ada di dekat eskalator sana " ucap Hanna mencoba menjelaskan agar ibunya tidak salah paham. Ia takut di kira menculik anak bersama Siwan.
" Iya mbak, terima kasih banyak ya, tadi saya ke toilet sebentar, padahal dia bersama kakaknya sedang bermain di area mandi bola, lalu dia keluar dari area mungkin mau mencari saya " sahut sang ibu.
Hanna dan Siwan hanya tersenyum sambil mendengarkan omelan sang ibu pada kedua anaknya.
" Ibu bilang kan diam saja di dalam, ibu mau ke toilet dulu sebentar, kakak malah asyik main lagi, bukannya perhatiin adiknya " omel sang ibu.
" Kakak mau ini, aku punya dua, di kasih sama kakak cantik " ucap Larissa dengan polosnya tidak mengindahkan omelan ibunya, berbeda dengan kakaknya yang nampak diam dan cemberut mendengar omelan ibunya.
" Sudah bilang makasih belum ?" tanya sang ibu.
Kedua anak itu pun langsung mengucapkan terima kasih pada Hanna dan Siwan.
" Sama - sama ya dek, lain kali jangan keluar tanpa sepengetahuan ibu ya, lihat, ibu pasti sedih kalau sampai tidak bisa bertemu lagi sama kamu !!" ucap Hanna.
Larissa menganggukkan kepalanya lalu kembali memeluk pinggang ibunya.
Setelah mereka pamitan dan berpisah, Hanna dan Siwan keluar dari arena kids play sambil sesekali tersenyum pada anak - anak kecil yang ada di sekitar sana.
" Lihat, mereka sangat lucu sekali ya... !!" ucap Hanna.
" Ayo kita buat !!" ucap Siwan, menggoda kekasihnya.
" Ish... mana bisa, harus menikah dulu !!" tegas Hanna.
" Kalau begitu ayo kita menikah !!" Siwan kembali memancing reaksi Hanna.
Jantung Hanna kembali berdegup kencang, di sisi lain ia merasa senang, namun di sisi lain, ia kembali teringat apa yang menjadi kendala hubungan mereka selama ini. Campur aduk rasanya.
Hanna hanya menatap Siwan dengan senyuman yang hambar.
Siwan pun tidak memperpanjang percakapan di antara mereka. Ia nampaknya mengerti betul apa yang di rasakan oleh Hanna saat itu.
Mereka berdua pun berjalan beriringan mengikuti langkah kaki yang entah kemana tujuannya. Mereka berjalan dalam diam. Sambil menikmati suasana ramai di sekitar mall, oleh orang - orang yang diantaranya kebanyakan pasangan, keluarga dan anak - anak mereka.
Tanpa terasa, kini mereka sudah berada di lantai 1.
" Kita mau kemana ?" tanya Siwan.
" Hah, kok di sini, tadinya aku mau ke toko hiasan, mau membeli hiasan untuk area kamar tamu " ucap Hanna.
" Kalau begitu ayo kita kembali ke atas " ajak Siwan.
" Emh... tidak usah, kita pulang saja, aku lelah !!" pungkas Hanna.
Mereka pun berjalan menuju parkiran. Masuk ke dalam mobil dan pulang.
Selama di dalam mobil, Hanna kembali mengingat perkataan ibu Siwan beberapa minggu yang lalu.
" Ahjussi, apa kau tidak mau berkeluarga ? di usiamu yang sangat matang aku rasa kau harusnya sudah mencari calon istri !!" ucap Hanna.
Hanna melirik pada Siwan sebentar, lalu oa kembali meluruskan pandangannya pada jalanan di depan sana.
Siwan terlihat tidak senang mendengar pertanyaan dan pernyataan kekasihnya itu. Kedua alisnya bertemu, namun dia tetap diam tak mengeluarkan satu patah katapun.
Hanna pun diam, tidak banyak bicara lagi, ia merasa takut Siwan tidak fokus menyetir dan terjadi kecelakaan.
Sesampainya di depan rumah Hanna.
" Ap ibu yang menyuruhmu ?" tanya Siwan.
" Ahjussi, tidak seperti itu " jawab Hanna.
" Lalu bagaimana ? sudah jelas ucapan kalian sama, apa kalian sedang bersekongkol di belakang ku ?" Siwan menatap Hanna dengam tajam.
" Kita tidak bisa bersama, aku tidak bisa mewujudkan impian itu bersamamu !!" Hanna menundukkan kepalanya lagi.
" Impian apa ? memangnya kalian tahu apa yang aku inginkan ?" tanya Siwan.
Kedua tangan Hanna meremas ujung mantelnya, tangannya tiba - tiba gemetar, ia takut bertemu mata Siwan.
" Sudahlah, kau masuk saja, besok kau kerja pagi kan ?" Siwan membuka seatbelt Hanna lalu membuka kunci pintu. Turun dari mobil dan membuka pintu untuk Hanna.
Hanna keluar dari mobil perlahan tanpa menatap wajah Siwan.
Setelah Hanna keluar, Siwan menutup pintunya dengan keras, dan masuk kembali memegang kemudinya. Ia menyalakan mesin mobilnya dan pergi tanpa pamit pada Hanna.
Setelah mobil Siwan pergi menjauh, Hanna pun berjalan menuju pintu sambil cemberut.
Namun, saat di ambang pintu, saat sedang memencet tombol untuk membuka pasword rumahnya, tiba - tiba dari belakang terdengar suara mobil berhenti di depan rumah Hanna.
Dua orang pria berpakaian hitam berkacamata menghampiri Hanna dan menyeretnya secara paksa.
" Kalian siapa... ? lepaskan aku !!" Hanna mencoba memberontak, dan saat mulutnya kembali di buka dan hendak berteriak minta tolong, seorang pria keluar dari mobil dan membekap mulutnya.
Hanna terkulai lemas, sepertinya sapu tangan yang di pakai membekap mulut dan hidungnya sudah di beri obat bius.
Ketiga pria itu memasukkan Hanna ke dalam mobil, lalu membawa Hanna pergi entah kemana.
Siapakah mereka ???