My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Live musik



Hanna masih terlihat berpikir, dia sedang mengingat kapan tanggal dan bulan saat dia dan Siwan mulai meresmikan hubungannya.


Lalu, tiba - tiba mobil berhenti. Tak terasa perjalanan mereka sudah sampai di tempat tujuan.


Sebelum keluar dari mobil, setelah membuka sabuk pengamannya, Siwan berkata, " 30 oktober, saat itu 30 oktober, hari ulang tahunku. " Ucapnya lalu tersenyum sambil membuka pintu mobilnya dan turun keluar.


Hanna merasa sangat bersalah karena tidak mengingatnya sama sekali, bahkan dia pun baru tahu kalau saat itu merupakan hari ulang tahun kekasihnya.


Untuk beberapa saat Hanna masih terdiam di dalam mobil. Lalu, pintu di sampingnya pun terbuka.


" Kau tidak mau turun ?" tanya Siwan, lalu membuka seatbelt kekasihnya.


" Ah.. iya.. " Hanna jadi nampak seperti orang bodoh.


Lalu mereka berdua berjalan menuju sebuah restoran di pinggiran pantai yang berjarak beberapa meter dari tempat parkir.


" Ahjussi, maafkan aku, aku bahkan tidak tahu kalau hari itu adalah hari ulang tahunmu." Ucap Hanna merasa menyesal.


" Tidak apa - apa, apa aku terlihat marah ? tidak kan ?" Lalu Siwan tersenyum menatap kekasihnya.


" Sungguh, aku tidak ingat tanggal berapa saat itu. Aku hanya mengingat kejadiannya saja. " Ucap Hanna.


" Iya, sudah tidak usah di bahas lagi. Yang penting sekarang kau sudah tahu kan. "


" Hehe.. lalu ahjussi, apa kau tahu kapan ulang tahunku?" tanya Hanna.


" Sejujurnya, aku juga tidak ingat, padahal aku sudah pernah melihat ktpmu waktu itu. "


" 1 oktober, ingat ya.. jangan lupa beri aku kado nanti.. " Ucap Hanna.


" Siyap, akan aku siapkan dari sekarang." Ucap Siwan menggoda kekasihnya.


Kini mereka sudah berada di dalam restoran, makanan pesanan mereka sudah tersedia di atas meja, hanya saja belum tiba waktu berbuka bagi Hanna. Mereka pun dengan sabar menanti hingga adzan magrib berkumandang di aplikasi hp kekasihnya.


Lima menit kemudian, akhirnya tibalah waktu Hanna untuk menyudahi puasanya. Sebelumnya tidak lupa dia berdoa, lalu minum dan menyendok makanan ke mulutnya.


Selesai makan, Hanna dan Siwan buru - buru pergi keluar mencari masjid terdekat di sekitar lokasi, tapi tidak menemukannya sama sekali, namun untung saja ada seseorang yang memberitahu bahwa ada mushola kecil di sekitar lokasi beberapa meter dari arah depan mereka.


Setelah selesai menunaikan sholat maghrib, mereka berjalan - jalan sebentar di lokasi sekitar pantai, menikmati malam hari yang indah di bawah sinar rembulan yang terang.


" Chagiya, beberapa waktu lalu, aku pernah melihat Siska dan aji makan di sebuah restoran." Ucap Siwan.


" Emh... lalu, kenapa memangnya..? " tanya Hanna.


" Tidak, aku hanya ingin tahu, apa mereka menjalin hubungan seperti kita ?" tanya Siwan.


" Kak Siska belum pernah bercerita padaku tentang hal itu, jadi, aku tidak tahu, kalaupun mereka menjalin hubungan, mungkin mereka belum siap memberitahu kita. Jadi, mari kita tunggu saja waktunya, pasti kak Siska akan menceritakannya padaku. " Ucap Hanna.


" Aku sih tidak masalah, mereka sama - sama berstatus single, hanya saja, aku hanya belum siap kehilangan Aji, dia orang yang paling bisa aku andalkan dan aku percaya. "


" Memangnya bli Aji mau pergi kemana ?" tanya Hanna.


" Chagiya, mereka sudah dewasa, lagipula Aji pernah berkata kalau dia sudah siap berumah tangga, walaupun saat itu belum ada jodohnya, tapi aku merasa belum rela melepaskannya."


" Ish.. ahjussi, jangan begitu, dia kan masih tetap bisa bekerja bersamamu, walaupun mungkin tidak akan satu rumah lagi dengannya. Dia tidak mungkin meninggalkan mu saat dia tahu kau masih membutuhkannya. "


" Sebetulnya aku bukan hanya menganggapnya sebagai seorang bawahanku saja, sejujurnya dia sudah ku anggap seperti adikku sendiri. Austin pun sama. "


" Iya, aku sudah tahu, caramu memperlakukan mereka, begitu penuh kasih sayang walaupun kadang kau sangat keras pada mereka. "


" Kalaupun dia masih bersamaku, saat dia sudah berumah tangga, dia pasti akan lebih mengutamakan keluarganya. "


" Tentu saja, kau pun harus seperti itu, keluarga harus menjadi prioritas utama." Ucap Hanna.


" Entahlah, bahkan aku masih belum tahu kelanjutan hubungan kita, aku tidak pernah, sekalipun tidak pernah berpikir untuk menjalin hubungan rumah tangga, dengan wanita lain, selain dirimu. Aku hanya terus memikirkan cara, bagaimana agar kita masih akan tetap selalu bersama."


" Ahjussi, maafkan aku, aku tidak bisa berkorban demi cinta kita. Anggap saja aku egois. Apa kau masih bisa bertahan dengan keadaan kita yang seperti ini ?"


Siwan menghentikan langkahnya, lalu dia menatap kekasihnya, dan menggenggam kedua tangannya. " Tetaplah bersamaku, sampai takdir benar - benar memisahkan kita. Untuk saat ini, ku anggap takdir masih berpihak pada kita. "


Tanpa terasa, air mata mengalir di pipi Hanna, Siwan yang melihatnya langsung mengusapnya dengan kedua tangannya.


" Saranghae, ahjussi !!" Ucap Hanna.


Lalu Siwan memeluknya dengan erat. Beberapa detik kemudian mereka berdua saling melepaskan pelukan karena mendengar ada alunan musik di telinga mereka.


Saat mereka mencari dimana sumber suara tersebut, ternyata berasal dari live musik akustik di sebuah cafe outdoor pinggiran pantai yang tidak jauh dari mereka.


" Wah, bagaimana kabarmu ? sudah lama tidak berjumpa, akhirnya kau berani membawa wanitamu kemari.. " Ucap pria berbadan kurus, berambut keriting sebahu, memakai kemeja pantai dan celana panjang berwarna cream, yang terlihat seumuran dengannya.


Siwan tersenyum lebar mendengarnya " Baik, kau sehat kan ?" tanya Siwan.


" Ya, aku sehat, setelah berpisah dengan wanita itu aku jadi tidak sering pusing lagi. " Ucap pria itu.


" Kenalkan, dia Hanna, " Siwan menatap Hanna, lalu berbisik pada pria itu "pacarku. " Ucap Siwan.


" Iya, tentu saja, dia pasti pacarmu. Hallo, aku Eriko, temannya. " Dia mengulurkan tangan pada Hanna.


" Hanna. " Ucapnya lalu menjabat uluran tangan Eriko.


" Kalian mau makan disini, aku traktir, santai saja, kalian pesanlah sepuasnya." Ucap Eriko.


" Wah, terima kasih sekali, tapi kami baru selesai makan di sana, aku lupa kalau cafemu ada di sekitar sini. Lain kali saja ya.. " Ucap Siwan.


" Kalau begitu mampir dulu lah, minum kopi atau lainnya, masa sudah lama bertemu tidak mau mengobrol dulu. Kita nikmati dulu live musik disini sebentar saja, yuk.. mau kan nona Hanna ?" Eriko meminta persetujuan Hanna.


" Oke, boleh saja. " Jawab Hanna pada Eriko. Lalu berpaling pada Siwan. " Tidak apa, ahjussi, sebentar saja, ya.. "


" Baiklah, aku pasrah. " Ucap Siwan.


" Good, yuk, duduklah disana '. ( Menunjuk salah satu meja kosong di deretan paling depan dekat dengan panggung live musik, ' aku akan pesankan minuman dulu ya, kalian mau kopi atau jus atau sesuatu yang hangat lainnya ?" tanya Eriko, lalu kembali menyela, tunggu sebentar. Dia mengambil list menu dari karyawannya yang baru saja lewat di sampingnya.


" Ini, kalian pilih saja. " Eriko menyerahkan list menu pada Siwan dan Hanna. Lalu mereka memilih salah satu menu yang ada disana.


" Ini saja ? benar tidak mau pesan makanan lainnya ?" tanya Eriko.


" Terima kasih banyak, bli, aku masih kenyang. " Ucap Hanna.


" Baiklah, kalau begitu." Lalu Eriko menyuruh pegawainya untuk mempersiapkan pesanan Siwan dan Hanna.


" Kau tinggal dimana sekarang ?" tanya Siwan.


" Aku di dekat sini, menyewa sebuah gedung untukku dan beberapa pegawai di cafe. Aku meninggalkan rumahku untuk mantan istriku dan anak - anakku. " Ucap Eriko.


" Kau terlihat sangat kurus sekarang, apa hidupmu baik - baik saja setelah berpisah dengannya ?" tanya Siwan.


" Yah.. aku lebih suka seperti ini, daripada setiap hari terus bertengkar dan membuat anak - anakku menjadi membenci ayah dan ibu mereka, lebih baik kita mengakhiri semuanya. " Ucap Eriko.


" Baiklah, aku hanya akan mendoakan semoga hidupmu sehat dan terus berbahagia. " Ucap Siwan.


" Amin." Lalu tidak lama kemudian datanglah pesanan minuman Siwan dan Hanna.


" Oh iya, nona, kau tinggal dimana ?" tanya Eriko pada Hanna.


" Aku kost di jalan xxx, aku dari Bandung. " Jawab Hanna.


" Wah, sama dengan istriku, eh maksudku mantan istriku, dia juga dari Bandung, kalau aku dari Jakarta." Ucap Eriko.


" Wah, ku pikir asli dari Bali. " Ucap Hanna.


" Hihi.. pacarmu juga warga asing disini. " Ucap Eriko.


Lalu, tiba - tiba Siwan menyela obrolan mereka.


" Kau mau menyanyi ? sepertinya kau tertarik dengan live musik, dari tadi mulutmu tidak berhenti bergerak saat menontonnya. " Ucap Siwan.


" Kau mau ? aku akan koordinasikan dengan pengiring musiknya." Ucap Eriko.


" Bolehkah.. ?" tanya Hanna.


" Tentu saja. Disini bebas, mau ikut bernyanyi atau request lagu, tinggal bilang saja. Yuk, ikut denganku.." Ucap Eriko lalu berdiri dari kursinya.


" Ahjussi, tunggu aku ya.. " Hanna pun berdiri dari kursinya mengikuti Eriko dari belakang.


Lalu Eriko memberi tahu sang gitaris bahwa Hanna ingin menyumbangkan suaranya di panggung. Dan kini Hanna dan sang gitaris yang berkoordinasi, tentang lagu apa yang akan Hanna bawakan.


Setelah siap, Hanna mulai duduk di atas kursi di samping sang gitaris. Lalu saat sang gitaris memetik gitarnya, mulailah Hanna mengeluarkan suara merdunya. Dia menyanyikan lagu Justin Timberlake berjudul mirrors versi akustik.


Siwan dan beberapa pengunjung cafe terlihat sangat terhibur dengan suara merdu antara Hanna dan sang vokalis utama. Hanna berduet dengan sang vokalis utama pria yang sebelumnya sudah sempat membawakan beberapa lagu di panggung.


Siwan begitu terpesona melihat kekasihnya bernyanyi dengan begitu percaya diri, terlebih lagi suaranya sangat nyaman di dengar oleh telinga.