My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Cekcok



Beberapa jam kemudian...


Kini, kita lihat Hanna sedang menangis sesenggukan sambil tersungkur di kursi belakang kemudi sebuah mobil yang sedang melaju dengan kecepatan sedang.


Air matanya membajiri hampir seluruh boneka leher yang ia jadikan penopang wajahnya saat menangis dengan posisi tersungkur itu.


Di kursi kemudi, seorang pria tengah fokus pada setirnya agar bisa membawa mobilnya tetap pada jalurnya dan tetap aman.


Meskipun sesekali ia selalu melihat ke arah Hanna dan memastikan dia baik - baik saja lewat kaca spion tengah di dalam mobilnya.


Pria itu Aji. Sang tangan kanan Siwan yang berotak cerdas dan pandai berkelahi.


Dia sangat khawatir dan merasa iba dengan apa yang terjadi pada Hanna. Namun dia tak bisa ikut campur, dia hanya bisa jadi penonton dan pendengar setia di antara keduanya.


2 Jam kemudian....


Nampaknya Aji sudah berhasil membawa Hanna pulang dengan selamat ke rumahnya. Mesin mobilnya ia matikan, dan ia turun lebih dahulu untuk mengeluarkan koper dan tas milik Hanna, lalu ia taruh di depan pintu masuk rumahnya.


Kemudian Aji membuka pintu belakang mobilnya dan membangunkan Hanna perlahan.


" Han, udah sampe nih.. " Aji menepuk pundak Hanna perlahan.


Hanna pun mulai bergerak perlahan dan memutar lehernya ke kanan dan ke kiri secara lembut, ia mulai merasakan pegal dari bagian atas karena tertidur saat menangis dengan posisi masih tersungkur di kursi belakang.


Aji sangat terkejut melihat wajah Hanna yang nampak bengkak dan matanya merah. Tangisannya benar - benar pecah sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya kali ini.


" Sini, pegang tanganku, hati - hati, jangan ampe kejedot kepalanya " Aji membantu Hanna turun dari mobilnya.


Karena kembali merasa sedih, matanya kembali berkaca - kaca, tanpa aba - aba Hanna langsung memeluk Aji sangat erat. Ia melingkarkan kedua tangannya dan membenamkan wajah di dada Aji yang berotot.


Karena merasa kasihan, Aji pun mencoba menenangkan Hanna dengan cara mengusap - usap rambutnya dan menepuk punggung Hanna dengan lembut.


" Udah, masuk dulu yuk, kamu harus istirahat, kamu juga belum makan siang lagi kan, udah mau jam 1 nih " ucap Aji.


Setelah menutup pintu mobil, mereka pun berjalan perlahan mendekati pintu rumah Hanna dengan posisi Aji dan Hanna masih saling merangkul meskipun hanya sebelah tangan mereka.


Hanna membuka pintu rumahnya, dan kemudian masuk duluan ke dalamnya dan langsung menuju sofa ruang tengahnya.


Hanna kembali tersungkur di atas sofa dan menangis kembali di atas bantal kotak yang ada di sofa.


Aji menyusulnya dengan menenteng koper dan tas milik Hanna di tangannya.


Melihat Hanna kembali menangis, dia pergi ke dapur mencari gelas dan menuangkan air putih ke dalamnya, lalu ia bawa dan ia serahkan pada Hanna.


" Nih... minum dulu biar tenang !"


Hanna pun terbangun dan meminum air yang Aji berikan untuknya.


Hanna mulai merasa tenang.


Aji duduk di seberang Hanna di sofa lainnya.


Hanna mulai mengeluarkan kembali suara merdunya lewat bibir sexy nya.


" Bli, memangnya aku salah ? apa ini semua salahku ?" tanya Hanna yang masih terlihat kesulitan mengatur nafasnya.


" Enggak Han, kamu gak salah, cuma cara penyampaian nya aja kurang tepat !" jawab Aji.


" Cih... apa bedanya, bilang aja aku yang salah " sahut Hanna.


" Engga Han, coba kalo kamu ungkapin semua perasaan kamu di waktu yang tepat, pas kalian lagi berdua dan dalam kondisi yang tenang, kak Wan pasti mau ngerti kok aku yakin, kalo caranya meledak - ledak kayak tadi, aku gak tahu ya, aku udah tau sifat dan karakter dia kayak gimana, jadi ya... aku cuma berharap ya mudah - mudahan secepatnya lah dia mau mencari solusi masalah kalian ini " ucap Aji panjang lebar.


Saat berdua, Hanna dan Aji berbicara secara informal atau santai, namun masih dalam batas yang sopan. Tapi bila ada Siwan di samping Hanna, Aji pasti berbicara cenderung formal karena menghargai Siwan. Semua ini atas inisiatif Aji, padahal Hanna sering menyuruhnya untuk bersikap biasa saja padanya meskipun ada Siwan di sampingnya, namun hal itu tidak bisa di lakukan oleh Aji, maupun Bram dan Tio.


Dan kembali lagi pada masalah yang sedang di hadapi Hanna kali ini, apa yang menjadi penyebabnya menangis sepanjang perjalanan pulang hingga dia hanya di antarkan oleh Aji saja, lalu dimana Siwan ?


Di sisi lain...


Siwan pun kini sudah sampai di kediamannya di antarkan oleh Bram.


Siwan langsung bergegas menuju kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya.


Ia menutup wajahnya dengan menyilangkan sebelah lengan ke atasnya, kemudian ia kembali memikirkan kejadian yang terjadi di villa beberapa jam yang lalu. Lebih tepatnya mungkin pertengkaran antara Hanna dan Siwan saat itu.


...***...


Hari itu, di villa xxx milik Siwan yang lokasinya tidak terlalu jauh dari area pantai xxx di salah satu kota di Pulau Bali, sekitar pukul 08.00 wita Hanna yang sudah selesai makan pagi langsung bergegas mencari Siwan kembali.


Hanna menghampiri Aji yang sedang bersandar di sofa ruang tengah sambil bermain gawai miliknya. Dan ada Bram juga tidak jauh dari Aji sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa.


" Bli... ahjussi dimana ?" tanya Hanna.


" Kau sudah makan ? obat pengarnya sudah kau minum ?" Aji malah kembali bertanya.


Hanna hanya menganggukan kepalanya.


" Dia ada di kamar atas di samping kamarmu, naiklah kesana, selesaikan masalah kalian " pinta Aji.


Hanna pun bergegas kembali naik ke atas menuju kamar yang di maksud.


Tanpa mengetuk pintu, Hanna masuk ke dalam kamarnya perlahan.


Dia melihat Siwan kini sedang berbaring di atas ranjangnya sambil menutup wajahnya dengan menyilangkan sebelah lengannya.


Hanna berjalan menghampiri Siwan dan duduk di bibir ranjang.


" Ahjussi, apa kau tidur ?" tanya Hanna, tidak berani menatap wajahnya, malahan dia membelakangi Siwan.


Siwan langsung terbangun dan menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal di belakangnya.


" Kemarilah... " Siwan menarik lengan Hanna agar mendekat padanya.


Hanna bergeser sedikit mendekati Siwan, namun belum berani menatap wajahnya.


" Kenapa kau berbohong padaku ?" tanya Siwan tanpa basa basi.


" I-itu... " Hanna semakin menundukkan kepalanya dan terus meremas ujung bajunya.


Siwan menarik dagu Hanna agar mau menatapnya.


" Maaf... ini salahku, jangan salahkan temanku, mereka tidak salah, aku yang tidak kuat iman... " ucap Hanna.


" Lalu, kenapa kau berbohong ? apa alasannya ?" tanya Siwan kembali.


Hanna tidak menjawabnya, dia malah menitikan air mata buayanya berharap Siwan kembali luluh padanya dan menghentikan pertanyaannya.


" Aku sekuat tenaga melindungi mu, aku juga ingin percaya padamu, tapi apa buktinya, kau berbohong padaku, apa kau melakukannya karena ingin terus mengujiku ?" tanya Siwan.


Siwan mulai bangun dan turun dari ranjangnya menjauh dari Hanna.


Hanna ingin menghampiri nya, namun baru juga berdiri dari duduknya, Siwan langsung mencegahnya.


" Stop.... jangan mendekat, aku takut tidak bisa mengendalikan tanganku " ucap Siwan.


Hanna merasa tercengang mendengarnya. Juga ada rasa takut kembali tersirat di wajahnya kala ia melihat sorot mata Siwan yang penuh rasa kecewa dan amarah.


" Apa aku tidak boleh pergi ke tempat seperti itu ?" tiba - tiba pertanyaan bodoh itu terlontar begitu saja dari mulut Hanna yang terlihat sudah basah oleh air mata.


Hanna menyeka air matanya.


Siwan bersandar pada dinding di belakangnya, ia melipat kedua tangan di dadanya.


" Lanjutkan... " ucap Siwan.


" Kau siapa, kau melarangku ini itu, kau bukan suamiku... " ucap Hanna merasa terpancing untuk mengungkapkan isi hatinya yang selama ini ia pendam sendirian.


" Oke, aku hanya pria yang hanya ingin melindungimu dengan caraku, apa itu salah ?" tanya Siwan.


" Kau mengurungku, seolah aku ini burung di dalam sangkar, aku ingin pergi bermain kemanapun bersama teman - temanku juga, apa itu salah... ?" tanya Hanna yang kepalanya sudah mulai berasap.


" Lalu, kalau aku mengizinkanmu pergi dengan temanmu, kau akan sering datang ke tempat seperti itu ? aku bahkan tidak berani mengajakmu pergi kesana, dimanapun itu " ucap Siwan.


" Aku baru pertama kali ahjussi, aku hanya penasaran, aku tidak akan masuk lagi ke tempat seperti itu apalagi sampai menenggak kembali minuman seperti itu, plist... aku lelah, ayo kita pulang saja " ucap Hanna yang sudah mulai mau mengibarkan bedera putih di tangannya.


" Aku kecewa padamu, kau membohongiku dalam hal ini, padahal aku sudah berusaha percaya padamu " ucap Siwan.


" Percaya.... dengan mengirim beberapa orang yang kau tugaskan untuk membuntutiku kau bilang percaya padaku ? apa maksud kata percaya itu ?" Hanna mulai kembali tersulut emosi. Dia berjalan menghampiri Siwan perlahan.


Siwan tidak mengomentari pertanyaan Hanna kali ini.


" Aku bukan putri raja, aku bukan anak pejabat, untuk apa, aku tidak butuh perlindungan semacam itu, teman - temanku malah jadi berpikir ulang saat ingin mengajakku pergi jalan, kau terlalu mengekangku, aku jadi tidak bisa menikmati kehidupan normalku " ucap Hanna.


Siwan mulai mengangkat alisnya sebelah dan kemudian berbicara kembali.


" Oh... jadi aku tidak berarti bagimu, teman - temanmu lebih penting di bandingkan aku " Siwan maju perlahan menyerang Hanna denga tatapannya, membuat Hanna mundur perlahan pula karena Siwan terus melayangkan ekspresi menakutkan di wajahnya.


" Bukan begitu ahjussi, aku hanya ingin seimbang, aku juga butuh privacy karena aku hanya pacarmu, aku juga punya kehidupanku sendiri yang ingin ku jalani tanpa campur tangan orang lain, sekalipun itu dirimu " ucap Hanna.


" Oke... baiklah, silahkan, nikmati hidupmu mulai sekarang, maaf aku sudah lancang mengatur hidupmu dan mengekang sayapmu sehingga kau tidak bisa terbang kemanapun yang kau mau, oke... fine... silahkan, aku sudah tidak akan mencampuri urusanmu lagi " ucap Siwan.


" Apa aku salah berusaha melindungi dirimu, apa caraku memang salah ? aku hanya takut kehilanganmu, kau tidak mengerti betapa aku mencintaimu !" gumam Siwan sambil menatap Hanna yang kini kembali terduduk di bibir ranjang sambil menopang kepalanya dengan kedua tangannya.


" Beri aku waktu, aku ingin menyendiri " ucap Hanna.


" Apa, ' Siwan terkejut ' apa maksudmu ? kau mau berpisah dan pergi dariku ?" tanya Siwan.


" Apa itu yang kau tangkap dari perkataanku ?" tanya Hanna.


" Lalu apa maksudmu ?" katakan dengan jelas ?" Siwan menarik dagu Hanna agak kasar.


" Lepaskan, aku merasa sesak, kau selalu memberikan segalanya untukku, itu semua jadi beban tersendiri bagiku, kau selalu melarangku pergi sendirian, aku juga butuh privasi seperti yang sudah ku bilang, aku mencintaimu, aku juga tahu kau sangat mencintaiku, tapi kau terlalu membuatku tercekik, aku juga ingin kebebasan, bukan artinya aku akan terus pergi ke klub malam dan mabuk - mabukan, tidak seperti itu, aku juga tahu aku salah karena berbohong padamu semalam, maafkan aku... " ucap Hanna lalu menangis terisak - isak dengan posisi tengkurap di atas ranjang.


Siwan ingin memeluknya dan menenangkan kekasihnya, namun dia hanya menatapnya dari kejauhan, kali ini rasa egonya karena merasa kecewa dan marah dengan apa yang terjadi kali ini.


" Sudahlah, lakukan apapun yang kau mau, maafkan aku, semua ini salahku, aku terlalu protektif padamu " ucap Siwan saat Hanna sudah mulai tenang dan kembali duduk di bibir ranjang.


" Kau mau putus dariku ?" tanya Hanna.


" Apa itu yang kau tangkap dari perkataanku ?" tanya Siwan.


" Aku kesal padamu... sudah, lebih baik kita akhiri saja semua ini, cepat atau lambat semua akan berakhir kan, ayo, kita sudahi semua ini, jalani saja kehidupan kita masing - masing" ucap Hanna lalu pergi keluar dari kamar itu.


Dan saat Hanna sudah berada di luar kamar dan bersandar di pintunya, terdengar suara pecahan kaca atau benda lainnya dari kamar Siwan.


Aji dan Bram yang sedang duduk di sofa bergegas berlarian menuju tangga dan naik ke atas.


" Kau tidak apa - apa ?" tanya Aji dengan nafas terengah - engah karena khawatir terjadi sesuatu pada Hanna.


Hanna hanya menggelengkan kepalanya dan pergi meninggalkan Aji dan Bram, dia masuk ke dalam kamarnya dan pergi memberesakan barangnya lalu keluar dari kamarnya dengan membawa koper dan travel bag miliknya.


Aji dan Bram yang sudah masuk ke dalam kamar Siwan sangat terkejut melihat satu vas bunga berukuran besar yang berada di sudut kamar itu kini sudah pecah berkeping - keping.


" Dimana dia ?" tanya Siwan.


" Di kamarnya " ucap Aji.


Siwan pun keluar dari kamarnya dan menghampiri kamar Hanna, namun ia terkejut karena Hanna tidak ada di dalamnya, koper dan tasnya pun sudah tidak ada.


Saat keluar dari kamar, masih di lantai 2, dari atas Siwan melihat Hanna sudah berada di ambang pintu hendak keluar dari villa itu.


" Chagiya... " teriak Siwan dari tangga. Hanna tidak menoleh sedikitpun padanya.


Siwan bergegas menuruni tangga untuk menyusul Hanna.


Aji yang mendengar teriakan Siwan pun bergegas keluar dari kamar Siwan dan meminta Bram membereskan semua serpihan keramik sendirian.


Aji berlari di belakang Siwan.


Siwan kini berhasil menarik Hanna yang sudah berada di depan pagar villa tersebut.


" Lepaskan aku... aku tidak mau lagi melihatmu !" ucap Hanna.


Siwan dengan nafas terengah - engah malah memeluk Hanna, dia takut kehilangan Hanna.


" Chagiya, maafkan aku, jangan pergi " ucap Siwan.


" Ahjussi, aku tidak bisa bernapas " ucap Hanna.


Siwan pun melonggarkan pelukannya.


" Chagiya, jangan pergi kumohon, tetaplah bersamaku !" ucap Siwan.


Aji menjaga jarak dari keduanya, dari kejauhan dia memperhatikan keduanya yang kini sedang berpelukan.


" Ahjussi, mungkin ini sudah saatnya kita berpisah, lepaskanlah aku, kita tidak bisa meneruskan hubungan kita ini, perbedaan yang menjadi kendala kita selama ini, hal itu selalu menghantuiku, aku tidak mau kau terluka lebih dalam karena pada kenyataannya aku tidak bisa memilihmu dan tetap bersamamu " ucap Hanna.


" Kau, tidak bisakah bersabar sebentar lagi saja, beri aku kesempatan, chagiya... " mata Siwan mulai berkaca - kaca.


" Ahjussi, aku tidak mau kau jadi anak yang durhaka pada ibumu, aku tahu ibumu yang sedang mencoba menguji hubungan kita beberapa waktu kemarin, beliau hanya ingin kau bisa cepat menikah dan membangun keluarga mu sendiri, siapapun wanita yang kau pilih, tapi mungkin bukan aku, ibumu pun nampaknya tidak merestui hubungan kita, apalagi kedua orangtuaku, kita tidak sejalan ahjussi, di negaraku ini pernikahan berbeda agama itu tidak sah, terlebih lagi aku seorang wanita muslim, mungkin akan berbeda lagi apabila keadaanya terbalik " Hanna kembali terisak - isak.


" Bisakah kau tidak menghubungkan masalah ibu terhadap hubungan kita ?" tanya Siwan.


" Bagaimana tidak bisa ahjussi, beliau keluargamu, yang berhak memberi arahan dan menasehatimu juga meski kau sudah dewasa " sekuat tenaga Hanna mengucapkan kalimat tersebut.


Di bawah matahari yang terik siang itu, mereka tidak peduli meski keringat bercucuran begitu deras seperti air mata yang mengalir di kedua mata mereka.


" Kau sudah bosan padaku kan, katakan saja ?" tanya Siwan.


Dan... plak.... tangan Hanna mendarat di pipi Siwan.


Siwan maupun Aji yang melihatnya nampak terkejut.


" Cukup, tidak usah mencari - cari kesalahan yang tidak ada kaitannya, kau terlalu berpikir negatif terhadapku " tatapan Hanna berubah menjadi tatapan kebencian.


" Baiklah, pergilah, aku tidak akan melarangmu lagi, silahkan, kalau memang kau sudah bosan padaku, pergi saja " ucap Siwan, lalu berbalik dan meninggalkan Hanna sendirian di deoan pagar.


Siwan yang melihat Aji berdiri beberapa meter di depannya pun menghampirinya.


" Antarkan dia pulang " pinta Siwan pada Aji.


Dan Aji pun berlari menghampiri Hanna dan mengajaknya masuk ke dalam mobil.


Awalnya Hanna menolak, namun Aji terus menarik koper yang di pegang oleh Hanna hingga Hanna merasa kesakitan karena tenaga Aji lebih besar di banding dirinya.


Hanna pun di antarkan pulang oleh Aji dengan salah satu mobil milik Siwan yang di bawa oleh Bram kemarin.